
SMA NEGERI 1 MOJOKERTO
Gedung selanjutnya yang dipilih Nathan untuk menuntaskan jenjang pendidikan SMA. Bangunan kokoh dengan sarana dan prasarana yang lebih lengkap dari sekolah lainnya di Mojokerto. Ribuan anak dari berbagai kalangan ingin menjadi bagian dari sekolah yang disebut favorit ini. Bangunan bercat oranye ini tak berbeda jauh dari sekolah lainnya. Hanya ukurannya lebih besar. Biaya masuknya yang lumayan mahal sebanding dengan fasilitas yang didapat. Beruntung Nathan bisa masuk sekolah ini dengan jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa penuh.
Nathan baru tiba pukul 6.20 WIB. Nathan sudah ketinggalan upacara pembukaan MOS yang di mulai pukul 5.45 WIB. Penyebabnya tidur larut malam karena sibuk dengan atribut MOS yang harus disiapkan. Kedatangan Nathan mencuri perhatian kaum hawa. Dia sudah mengenakan setelan seragam SMA di hari pertama. Itu karena mamanya yang menjahit sendiri seragam Nathan. Karena penampilannya itu, banyak dari mereka mengira Nathan kakak senior ataupun murid pindahan.
"Ampuuun ganteng banget. Kok aku gak pernah liat. Apa dia murid pindahan ya." begitulah tafsir mereka.
Di hari pertama pula, Nathan sudah mendapatkan hukuman atas keterlambatan. Tak hanya Nathan, ada sekitar puluhan anak. Melihat Nathan yang baru saja bergabung, membuat banyak siswi MOS yang terlambat seperti mendapat anugerah luar biasa dari Tuhan. Padahal mereka harus siap-siap berkeliling lapangan upacara seusai upacara pembukaan.
"Pemandangan apa ini? Mimpi apa aku kok bisa dekat dengan pangeran?" bisik-bisik siswa MOS.
Setelah upacara pembukaan MOS selesai, kakak OSIS memimpin barisan kecil. Nathan dengan sigap mengikuti instruksi baris-berbaris. Sebelum memulai hukuman, mereka diharuskan mengenakan atribut lengkap MOS.
"Karena kalian terlambat di awal MOS, kalian harus keliling lapangan tiga kali putaran. Kerjakan!" perintah kakak OSIS.
Nathan beserta kelompok kecilnya mulai berlari mengelilingi lapangan. Nathan menjadi sorotan semua gadis di sekolah. Tubuhnya benar-benar atletis, kulitnya putih manis, rahangnya begitu tegas menjelaskan dia kharismatis, matanya yang tajam dengan retina coklat yang mampu meluluhkan hati para gadis, benar-benar pangeran tampan dari paradise. Para gadis yang mendapatkan hukuman pun juga menikmati hukumannya. Sama sekali tak ada beban. Bahkan setelah 3 kali melakukan putaran.
Setelah putaran terakhir, Nathan mulai berkeringat, tubuhnya gerah karena atribut MOS. Lapangan upacaranya benar-benar luas. Dia bersandar di sebuah pohon lalu meneguk air. Persis orang yang baru bertani. Nathan masih mengenakan atribut lengkap. Capil Gunung, dan rompi dari karung semen serta tanda pengenal dengan foto power rangers, dan rok rumbai dari tali rafia hitam. Meski terlihat aneh, atribut itu masih tak mampu mengurangi pesona Nathan. Karena gerah, capilnya beralih fungsi menjadi kipas tangan.
Beberapa siswa laki-laki mengikuti jejak Nathan untuk bersandar dan meneguk air yang disediakan kakak OSIS di dekat pohon. Sisanya lari ke toilet dan masuk ke kelas, para siswi kebanyakan memilih masuk ruangan karena penampilannya sudah acak-acakan.
"Rio."
"Nathan."
"Joe."
"Evan."
"Eric."
Mereka memperkenalkan diri dalam keadaan payah lalu mereka tertawa bersama.
__ADS_1
"Ini lapangan upacara apa GOR? Gede amat." celetuk Evan, siswa tampan berambut lebat dan bermata tajam serta memiliki tinggi 175 cm.
"Entahlah. Yang jelas ini parkiran UFO." sahut Eric, pria manis berkulit hitam dan mempunyai tinggi 180 cm. Dirinya juga seorang pebasket yang bisa diandalkan.
Kelima orang tadi tertawa bersamaan dan obrolan-obrolan mengalir pun terjadi.
"Curhat dong. Kenapa kalian telat?" Joe, tampan, cowok pebasket, sering berlagak sok cool untuk mencari perhatian cewek karena jomblonya sudah tak tertahankan mulai mencari topik.
"Biasa, begadang game." sahut Rio, si tampan dengan postur tubuh kurus seperti kekurangan tidur dan vitamin.
"Gak niat ikut MOS." alasan Evan.
"Ane tadi udah mau berangkat tapi kepagian terus tidur lagi, bablas dah." timpal Eric.
"Begadang bikin power rangers." jawab Nathan singkat sambil menunjukkan tanda pengenalnya.
"Bukan jiwa ane datang sekolah pagi-pagi." giliran Joe menjawab dengan menggelengkan kepala. Benar-benar jawaban para laki-laki. Mereka sama-sama bersandar di pohon yang rindang dan berusaha menghilangkan kekesalannya.
Nathan menuju kelas X-4. Saat masuk kelas, semua siswi memandangnya bahkan kakak senior. Nathan tampak lebih tampan dengan keringat bercucuran meski badannya sudah kehilangan parfum. Dia melihat semua bangku penuh terlebih di urutan belakang. Jangan berharap ada yang kosong. Hanya menyisakan satu bangku saja di kelas. Dengan terpaksa dia duduk di meja paling pojok dan menempati paling depan. "Sial, kenapa belakang sudah penuh sih." umpatnya kesal.
"Kayak ente aja yang kesel, ane dari tadi juga pengen bawel. Rey" sahut Rey sambil mengenalkan diri.
"Nathan."
"Kenapa masuk kelas? kan asik di luar?"
"Pak Tatib." dengusnya sambil mengusap keringat dengan sapu tangan.
Nathan pun mengikuti kegiatan MOS seperti umumnya. Sesekali dia mendapatkan hukuman dan hal itu yang dinantikan siswi melihat sosok Nathan ke depan. Tak jauh beda dari sekolah lainnya, hukuman yang tujuannya sangat menghibur hanya saja harus mengorbankan pelaku.
Nathan mendapatkan perintah untuk mengungkapkan perasaan pada seorang yang dicintainya. Tak ambil pusing, dia membayangkan mamanya. Dia hanya perlu mengubah nama mamanya menjadi Siti.
"Ti, aku selalu menyayangimu, menemanimu, tak ingin meninggalkanmu sekalipun, aku akan selalu tampak kuat demi dirimu, kau orang yang selalu ingin kubuat tertawa sampai kesal, kau pula yang selalu berada di bagian utama impianku, kau orang yang selalu ku sebut dalam doaku sebelum kuterlelap, berharap kau selalu menemani hari esokku." ucap Nathan sungguh-sungguh dan sesekali memejamkan mata membayangkan mamanya.
__ADS_1
"Terima kasih selalu menyayangiku, melindungiku, menyemangatiku, Nathan sayang ma-, Siti." Hampir saja Nathan mengucapkan mamanya.
Kata-kata Nathan sukses membuat cewek-cewek melting.
"Nathan sumpah, aku suka kamu."
"Bukannya terlihat memalukan, kamu malah keren. Aduh jantungku, tolong."
"Aku padamu, Nathan."
"Please please, be mine." bla bla bla...
Teriakan itu membuat risih para cowok. Harga dirinya sedikit jatuh dari seorang Nathan.
"Nathan cuma bilang gitu aja kalian klepek-klepek? Bukan tipeku!" begitulah Rey menguatkan.
"Kalau Nathan bisa bilang seperti itu sudah pasti dia punya cewek." hibur salah satu cowok untuk dirinya agar tak merasa tersaingi Nathan.
Nathan kembali duduk. Rey mendadak kepo, "Kamu udah punya cewek?"
"Iya."
"Hot gak?"
"Hot sekali, lebih hot dari panci rebusan."
Rey tertawa cekikikan. "Kau jomblo, bung."
Baru di awal MOS, Nathan sudah mempunyai penggemar. Dari mereka ada yang terang-terangan menyatakan perasaannya. Bukannya senang, Nathan malah risih bahkan ketakutan. Cewek lebih ganas dari pada cowok dalam urusan obsesi. Setiap diminta mengisi biodata kelas, Nathan hanya mengisi nama dan tanggal lahir. Dia selalu beralasan masuk akal dan tak masuk akal. Pennya habis, baru pindah belum hafal alamatnya, gaptek gak punya sosmed, hp gantian sama mama, dan lainnya.
Entah apa yang terjadi dengan diri Nathan. Tak ada gadis yang bisa mencuri perhatiannya. Nathan melihat semuanya sama, ada yang cantik, sederhana, cerewet, pendiam, dan lainnya. Sama. Bukan berarti Nathan tak menyukai cewek, hanya saja tak ada yang bisa membuat menarik dirinya. Nathan hanya melihat mamanya saja yang berbeda. Untuk itulah yang selalu di hatinya hanya mamanya.
Akhirnya MOS pun selesai juga. Selama ini Nathan sanggup melewati MOS dengan semangat mamanya tiap pagi. Banyak hal yang menyenangkan meski juga sedikit menjengkelkan. Namun benar-benar membawa kesan tersendiri bagi Nathan. Serasa mendapatkan kekuatan baru untuk menyambut masa putih abunya. Esok saatnya Nathan bersiap-siap diri menyambut materi-materi yang sudah disiapkan para guru.
__ADS_1