
Rabu sudah menyambut pagi dengan kehangatan. Turnamen basket antar sekolah se Mojokerto akan digelar di SMA 3. Elsa dan Hannah sudah datang di depan kelas Kak Roy sebelum bel berdering. Hari ini tugas Elsa harus memberikan sepatu itu ke Kak Roy langsung. Hannah tak ingin kadonya diletakkan di tas seperti surat kemarin. Dia khawatir nanti sepatunya tidak akan dikenakan untuk turnamen. Dia merubah niatnya membelikan sepatu bukan untuk ucapan selamat menang atau selamat sudah berusaha maksimal melainkan ingin dikenakan turnamen basket .
Hannah mendorong Elsa ketika melihat Kak Roy mulai berjalan ke kelas. Elsa ingin memprotes tindakan Hannah tapi sudah sangat terlambat karena dia sudah di depan Kak Roy. Elsa segera menyodorkan kado itu ke Kak Roy agar tugasnya segera selesai. Kak Roy menghentikan langkahnya melihat Elsa menyerahkan kado kepadanya. "Untukku?"
Elsa mengangguk.
"Dari kamu?"
Elsa menggeleng. Dia menoleh dan menunjuk ke belakang untuk memberi tahu bahwa Hannah yang memberikan.
Sayangnya Hannah tidak ada di belakangnya. Elsa mencari Hannah dan langsung mengabaikan Kak Roy sendirian yang masih belum mengucapkan terima kasih. Elsa berlari kecil untuk kembali ke kelasnya. Hannah segera menarik Elsa ke toilet saat Elsa melewati toilet cewek. "Hampir aja ketahuan. Kamu lupa ya pesanku. Jangan kasih tau Kak Roy!"
Elsa hanya diam. Seharusnya Elsa mendapatkan ucapan terima kasih karena dirinya sudah memberikan kado ke Kak Roy.
Kak Roy memandangi kotak kado yang baru saja ia dapat. Dia mulai membuka isi kadonya dan sangat terpukau dengan sepatu basket itu. Dia mengenakan sepatu itu dan terlihat pas di kakinya. Tidak longgar ataupun sempit. Dia melihat catatan kecil di kotak kado itu. Lagi-lagi dari pengagum rahasia. Dia membacanya dengan penuh bahagia.
__ADS_1
Semoga Kak Roy suka dan memenangkan turnamen ini. Aku akan sangat senang jika Kak Roy memakainya di turnamen.
Hari ini Roy akan bertanding mengenakan sepatu ini. Mungkin dengan ini dia bisa tahu siapa pengagum rahasianya. Selama ini dia juga tahu bahwa dirinya selalu diperhatikan seseorang ketika jam istirahat. Hanya saja dia selalu kesulitan menangkap basah siapa pengagumnya.
Para peserta turnamen sudah mulai berdatangan di SMA 3. Hari itu semua kelas jam kosong, sehingga banyak sekali siswa berpartisipasi menjadi penonton di turnamen basket. Kaum leyeh-leyeh juga sudah hadir di lapangan itu. Nathan, Evan, dan Rio membawa banner klub basket SMA 1 dan poster-poster gila pemain basket dari sekolahnya. Poster foto Eric bergaya Koboy dengan tulisan Eric tersadis, Joe berselancar dengan tulisan Joe tertampan.
Suasana di bagian penonton begitu sesak. Tak hanya siswa SMA 3 saja yang menonton. Banyak sekali supporter dari SMA lainnya berdatangan menyemangati klub basket mereka. Hannah dan Elsa mengalah tidak menonton di awal pertandingan. Mereka menunggu berjam-jam di kantin sambil makan bakso. Suasana mulai bosan, Elsa memilih ke perpustakaan membaca dongeng sebelum tidur. Hannah pun ikut, dia ingin tidur tanpa membaca apapun. Benar saja Hannah langsung tertidur di ruang baca paling ujung. Elsa yang duduk bersebelahan dengan Hannah masih sibuk membaca lembar tiap lembar bukunya.
Tanpa terasa turnamen sudah selesai. Elsa masih asik membaca sampai lupa dengan Hannah di sampingnya. Alarm smartphone Hannah berbunyi. "Turnamennya sudah bubar. Ayok kita ke lapangan!" Hannah langsung menarik lengan Elsa yang masih asik membaca buku. Elsa kesal bukan main.
Setiba di lapangan, Hannah tak tahu sekolah apa yang memenangkan turnamen. Dia hanya mencari Kak Roy untuk melihat apa Kak Roy mengenakan sepatu pemberiannya atau tidak. Kak Roy sedang berteduh di tepi lapangan. Hannah seketika fokus kepada kakinya. Dia benar-benar senang bukan kepalang ketika melihat Kak Roy mengenakan sepatu pemberiannya.
Elsa menebarkan pandang ke semua siswa. Dia ingin memastikan bahwa mereka menjadi pusat perhatian. Benar saja, dari kejauhan Nathan melihat Hannah melompat-lompat dan mendapati Elsa di dekatnya. Nathan tersenyum begitu merekah. Sosok yang dicarinya sedari tadi kini di depan mata. Bahkan tanpa sengaja Elsa juga menatap ke arahnya. Suatu pertemuan yang sangat dirindukan. Nathan begitu terobati dengan kehadiran Elsa.
Begitu pula dengan Elsa. Dia begitu nyaman bertemu Nathan. Tampak Nathan beranjak dari tempat duduknya. Elsa ingin Nathan menghampirinya. Elsa benar-benar bahagia. Dia tak memperdulikan perhatian orang tentang keanehan Hannah di sampingnya. Dia sungguh mengharapkan Nathan menghampirinya. Elsa juga membiarkan jantungnya berdegup kencang. Tak ada ketakutan akan kesehatan jantung seperti sebelumnya.
__ADS_1
Namun kejadian tiba-tiba juga mengguncang jiwa Elsa. Loretta tanpa diketahui kedatangannya memeluk Nathan dari belakang. Benar-benar sangat erat seperti Elsa memeluk Nathan ketika sedang ketakutan. Perasaan marah menyeruak dalam diri Elsa. Seketika air mata Elsa jatuh tanpa dirinya sadari. Dadanya mendadak sesak seperti ada yang menusuk. Hannah yang sedari tadi melompat-lompat senang melihat Kak Roy memakai sepatu pemberiannya berubah kebingungan melihat Elsa menangis. "Elsa, kamu kenapa? Kok nangis."
Elsa segera menghapus air matanya dan berlari meninggalkan lapangan. Dia tak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Dia merasa sangat sakit bahkan lebih sakit dari bully yang pernah dia terima. Dia menuju toilet dan menumpahkan tangisnya. "Tuhan, kenapa aku sangat sakit?" rintih Elsa.
Tampak dari jauh, Nathan melihat Elsa menangis dan berlari menghilang dari lapangan. Sedang Loretta masih sibuk memeluk dirinya. "Kamu kok gak bilang sih datang ke sini. Tau gitu aku liat turnamen." kata Loretta sembari memeluk Nathan mesra.
Nathan benar-benar kehilangan kesabaran. Dia menepis kasar tangan Loretta sampai yang punya tangan meringis kesakitan. Joe yang sedari tadi cemburu melihat Loretta memeluk Nathan berdiri seketika. "Jangan kasar sama cewek." Joe meraih kerah Nathan dan memberikan tatapan tajam.
Nathan mengacuhkan peringatan Joe. Dia menepis tangan Joe dari kerahnya dan berlari ingin mencari Elsa. Joe tak terima dengan balasan Nathan. Dia ingin memberi pelajaran ke Nathan, dengan sigap Evan dan Rio memegang Joe. Mereka melihat Nathan berlari keluar lapangan.
Hannah tak menemukan Elsa di luar lapangan. Dia kembali ke lapangan mungkin Elsa berlari tak jauh dari lapangan. Hannah berlari tak memperdulikan apapun. Tanpa sengaja dia menabrak Kak Roy sampai terjatuh. "Kamu gak apa-apa?" Hannah terkejut bukan kepalang. Seharusnya dia bahagia mendapatkan perhatian Kak Roy. Tapi situasinya berbeda. "Kakak liat Elsa gak?"
"Elsa siapa?" tanya Roy.
"Itu yang aku suruh ngasih sepatu ke kakak tadi." ucap Hannah tanpa disadari.
__ADS_1
Roy terkejut mendengar ucapan Hannah.
Hannah segera mengabaikan Kak Roy untuk mencari Elsa. Dia benar-benar panik mencari Elsa. "Kenapa kamu mesti lari tiba-tiba sih?" gerutu Hannah.