
Hannah mulai berani menunjukkan eksistensinya. Dulu yang hanya sibuk mengintip Kak Roy kini mulai membuat surat atau puisi. Dia memilih cara ini agar lebih berkesan di zaman sekarang. Kini tugas Elsa bukan lagi menemani mengintip, dia juga yang nantinya akan mengantarkan puisi yang ditulis Hannah untuk diletakkan di tas Kak Roy. Jadwal beraksinya ketika istirahat dan tak ada satupun anak di kelas.
Hannah melipat suratnya dengan sangat hati-hati. Lalu memasukkan ke dalam amplop pink buatannya sendiri. Tak lupa menuliskan, 'Dari Pengagum rahasiamu'. Dia memberikan amplop pink itu kepada Hannah. "Jangan dibaca! Langsung taruh dibukunya!" perintah Hannah tanpa ampun.
Elsa sangat berat sekali menerima surat ini. Elsa sangat terpaksa melakukan semuanya karena dia peduli jantungnya. Waktu yang sudah dijadwalkan telah tiba, mereka berdua mulai beraksi. Hannah mengawasi dari pintu ketika Elsa sibuk memasukkan surat cinta Hannah di tas dalam buku Kak Roy. Setelah melakukan dengan benar, Elsa menghampiri Hannah dan mengangguk sebagai kode telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Hannah kegirangan.
Hannah langsung mengajak Elsa ke kantin untuk memesan minuman. "Hari ini aku lagi kaya dan bahagia. Aku pesan jus alpukat dua." ucap Hannah ke penjual. Si penjual tertawa mendengar kata Hannah. "Punya goceng saja sudah pengen foya-foya. Dasar bocah." Hannah membalas kata-kata penjual dengan tawa. Ya begitulah dirinya ketika sedang berbunga-bunga.
Sesampai di meja, Hannah mulai menceritakan banyak hal kepada Elsa. "Duh, aku gak sabar Kak Roy baca puisi ku. Kamu udah taruh dengan aman kan?" Hannah mendelik ke Elsa. Elsa mengangguk. Hannah kembali sumringah, "Kau memang bisa diandalkan. Aku bangga jadi sahabatmu."
Elsa terpaksa senyum mendengar kata Hannah. Dia tak ingin merusak suasana Hannah dengan sikap acuhnya. Hannah mulai bercerita lagi. Elsa mulai menyeruput jus alpukat gratisan.
"Nanti temenin aku cari kado buat Kak Roy ya. Di toko dekat-dekat sini saja. Aku pengen ngasih Kak Roy kado besok. Besok Kak Roy ada turnamen basket. Enaknya dikasih kado apa ya?" Belum tau besok menang atau tidak, Hannah sudah memikirkan kado untuk kemenangan Kak Roy.
"Jam tangan cocok gak sih? Atau sepatu basket aja kali ya? Atau jaket?" Hannah bertanya ke Elsa.
Elsa menggeleng tak tahu-menahu soal kado. Dia sama sekali tak pernah memberikan kado ke teman. Apalagi teman cowok. Hannah kesal seketika. "Ya udah yang penting nanti ikut aja biar aku ada teman."
__ADS_1
---
Hannah dan Elsa sudah tiba di toko sepatu. Hannah mantap memilih kado sepatu basket. Hannah meminta bantuan Elsa mencarikan sepatu basket seperti di gambar smartphonenya. Mereka mulai berpencar mengelilingi rak toko.
Sayangnya Elsa lupa dengan apa yang disuruh Hannah. Dia sibuk memandang flat shoes warna pink nude dengan acessories pita mutiara di atasnya. Dia menyentuh sepatu cantik itu dan melihat ukurannya. Kebetulan sekali ukuran sepatu itu sesuai dengan kaki mungil Elsa. Dia memberanikan diri untuk mencoba sepasang sepatu itu. Matanya berbinar saat melihat kakinya sangat pas dan cocok dengan sepatu cantik itu.
Elsa memberanikan diri melihat label harganya dan terkejut mendapati angka dua ratus ribu rupiah untuk sepatu cantik ini. Tak ingin berlama-lama terluka, Elsa segera meletakkan kembali di rak dengan rapi dan mencari Hannah.
Setelah setengah jam mengelilingi rak toko, Hannah menemukan pengganti sepatu basket yang tak mirip seperti di gambar. Dia mencari pengganti sepatu yang lebih bagus dari pada pilihan pertamanya. "Kak Roy pasti make sepatunya terus." Hannah memegangi erat sepatunya sembari tersenyum tak jelas lalu menoleh ke Elsa. "Pulang yuk."
Joe mulai mencari-cari sepatu yang berjejer di rak dibantu dengan Evan. Eric mencari sepatu dibantu dengan Rio dan Nathan. "Mbak, saya cari sepatu basket yang awet mbak. Yang modelnya seperti ini." kata Joe sembari menunjukkan gambar ke pramuniaga. Pramuniaga mengamati sepatu yang mirip dengan sepatu yang dibeli Hannah. "Wah maaf mas. Sepatunya baru saja sold."
"Waduuh telat deh. Ya udah sepatu basket di rak mana mbak?" tanya Joe. Pramuniaga memberi arah menuju rak sepatu basket. Joe dan Evan bergegas ke rak tersebut. Tampak Eric sudah terlebih dahulu sampai di rak tersebut. "Sudah dapat?" tanya Joe.
"Sudah. Lagi diambilkan ukuran saja. Model gini."
"Eh, Nathan sama Rio mana?" tanya Joe.
__ADS_1
"Mereka mau liat-liat sepatu sendiri."
Nathan berjalan menyusuri rak-rak sepatu. Datang ke toko ini membuat dia ingat sepatu hitam Elsa. Nathan merasakan jantungnya berdebar lagi ketika mengingat Elsa duduk di belakangnya saat tidur. Dia berhenti sejenak dan mulai memandang sepatu di depannya. Flat shoes warna nude dengan hiasan mutiara berbentuk pita.
Hatinya tergerak mengambil sepatu itu. Dipandangi ukuran sepatu mungil yang baru saja dikenakan Elsa. Dia tersenyum saat melihat angka tiga puluh enam. "Sepatu Elsa." guman Nathan. Seketika Nathan membayangkan dirinya menekuk satu lutut sambil membawa sepasang sepatu di depan Elsa. Dengan pelan, Nathan mengenakan sepatu ini di kaki mungil Elsa. Lalu dia melihat kebahagiaan di wajah Elsa. Kemudian Elsa memberanikan diri untuk mencium pipi Nathan.
Nathan menggeleng untuk menepis imajinasinya. Nathan mulai melihat harga yang tertera di sepatu pink nude itu. Dia meletakkan pelan sepatunya di telapak tangan lalu mengambil smartphone untuk memfoto sepasang sepatu itu. Dia ingin membelikan sepatu cantik Elsa tapi tidak untuk saat ini.
Nathan mulai membawa sepasang sepatu itu ke kasir. "Mbak, boleh minta tolong untuk menyimpan sepatu ini. Minggu depan saya akan kembali membelinya." pinta Nathan.
Petugas kasir itu menerima sepatunya. "Saya simpan ya mas. Kalo Minggu depan tidak ke sini saya akan pasang lagi di rak asalnya." jelas petugas kasir. Nathan mengangguk. Nathan pasti akan mendapatkan sepatu cantik itu untuk Elsa.
Setelah petugas kasir menyimpan baik-baik sepatu Elsa, Joe dan kawan-kawan datang menuju kasir untuk membayar sepatunya. "Wah Nathan dicari-cari ternyata udah di kasir duluan nih. Beli sepatu juga?" tanya Evan yang melihat Nathan berdiri di meja kasir. Nathan menggeleng mendengar pertanyaan evan. Dia menyingkir dari meja kasir untuk memberi kesempatan Joe dan Eric membayar sepatunya. "Bayar sekarang dengan uang pas, bos."
"Oke." Joe dan Eric memberikan sepatu ke petugas kasir untuk dibayar.
Nathan melihat Joe mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribu. Andai dia punya uang hari ini juga. Dia tak segan membayarnya pula.
__ADS_1