
Nathan berdiri di barisan terdepan lagi untuk mempersiapkan peserta mengikuti perjalanan malam. "Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Kalian semua berdiri dan bersiap-siap melakukan perjalanan malam. Siap grak!" instruksinya.
Semua peserta berdiri dan mulai menyiapkan perjalanan malamnya. "Jika ada yang sakit jangan sungkan memberi tahu senior. Ingat jangan main-main dengan kesehatan dan keselamatan kalian. Perjalanan malam sudah dimulai. Ayo kelompok satu mulai jalan."
Kelompok satu mulai berjalan meninggalkan lapangan. Hannah mendadak diserang ketakutan. "Kenapa kamu tertarik hal beginian sih? Di sini juga gak ada Kak Roy. Sebel."
Elsa semakin tak sabar bertemu hutan dan sungai. Dia terlihat antusias dengan perjalanan malamnya. Dia tak peduli dengan ketakutan Hannah. Toh, dia tidak menyuruhnya ikut. Hannah hanya berinisiatif karena dirinya ikut.
Kini tiba kelompok dua mulai berjalan keluar Koramil Pacet. Mereka berjalan mengikuti kakak senior sampai mendekati jalan setapak masuk hutan. "Apa kalian sudah tahu teka-tekinya?"
"Siap. Tahu." jawab peserta kelompok dua kompak. Mereka mulai menutup mata dengan hasduk. Setelah itu mereka saling berpegangan di pundak teman depannya. Elsa agak tak nyaman pundaknya di pegang peserta belakang barisnya. Begitu juga dia tak nyaman memegang pundak Hannah yang berada di depannya. Namun dia harus melakukan agar tak tersesat.
"Aduh mas. Tinggi amat pundaknya. Susah nih pegang pundaknya." Hannah mulai mengomel. Hannah memang kesulitan menggapai pundak Johan, si ketua kelompok. Johan memiliki tinggi sekitar 180 cm sedangkan Hannah tingginya sekitar 150 cm. "Pegang pinggang aja kalo gitu. Beres kan."
"Ih gak mau. Kamu bukan Kak Roy." ketus Hannah. Semua anggota kelompok dua pun kesal. "Tuh cewek. Ini masih teka-teki pertama udah bawel." Rio menggerutu. "Hannah, kamu mau di belakang aja? Sini tukar tempat." saran Joe.
"Ih. Gak mau. Ya udah iya. Eh kamu jangan ada rasa sama aku. Rasaku cuma buat kak Roy aja." pinta Hannah ke Johan.
"Bodo amat." balas Johan seketika.
Mereka mulai memasuki hutan. Jika dilihat dari peta, perjalanannya hanya lurus saja sudah pos pertama. Namun tak semudah itu ferguso. "Awas lubang. Satu langkah ke kanan. Grak!" Johan memberi aba-aba. Seketika peserta melangkah ke kanan satu kali. "Mulai merunduk ada ranting." Semua peserta berjalan sambil merunduk melewati ranting yang tingginya hanya sekitar satu meter dari tanah. Setelah peserta sudah melewati ranting, baru Johan menyuruh berjalan seperti biasanya.
Jarak yang tak begitu lama ditempuh menjadi sangat lama karena mereka berjalan pelan. Sang ketua juga berkali-kali mengintruksikan agar barisan tak sampai putus. Berjalan dengan mata tertutup benar-benar mengesalkan. Dua puluh menit mereka baru tiba di pos kedua dan semua tak sabar membuka penutup mata. "Ampun pinggangkuu." keluh peserta.
Andi dan Niken yang menjadi kakak senior sudah sedari tadi menunggu kedatangan mereka. "Selamat untuk kelompok dua. Kalian berhasil menjalankan tugas dengan baik dan sesuai petunjuk. Di pos satu ini kalian akan mendapatkan materi tentang Saka Wira Kartika. Kalian duduklah terlebih dahulu." Andi mempersilahkan peserta duduk di tanah hutan yang lembab.
"Saka Wira Kartika merupakan salah satu Satuan Karya Pramuka yang bersifat nasional. Saka yang dibentuk lewat kerjasama antara Kwartir Nasional dengan TNI Angkatan Darat ini bertujuan untuk mengembangkan pendidikan bela negara dengan keterampilan di darat." Kak Andi mulai menjelaskan tentang saka Wira Kartika.
Elsa tak begitu memperhatikan penjelasannya. Dia hanya menyadari sesuatu bahwa dia sudah sampai di hutan. Dia menengadahkan kepalanya. Tampak bulan berseri menerangi ujung-ujung pohon Pinus yang menjulang amat tinggi. Meski benar-benar malam, hutan tak begitu tampak menyeramkan. Hutan lebih tenang dengan cahaya bulan. Elsa merasakan kesejukan yang menerobos ke parunya. Malam tampak dingin dari malam yang biasa dia lewati sehingga membuat pipinya memerah karena dingin hawa hutan. Elsa tetap setia menikmati. Sering sekali Elsa menghirup dalam-dalam udara hutan. Ini malam pertama kalinya Elsa di hutan dan tak begitu buruk baginya.
__ADS_1
Tak terasa Kak Andi selesai memberi materi saka Wira Kartika. Elsa mulai membenarkan posisi kaca matanya lalu berdiri merapikan barisan. "Kalian sudah lulus di pos pertama. Selanjutnya kalian akan menuju pos kedua sesuai petunjuk yang kalian pelajari tadi. Tetap semangat. Hilangkan kebiasaan mengeluh agar kalian tangguh."
Elsa dan kelompoknya melanjutkan perjalanan ke pos kedua. Di pos kedua mereka harus mendapatkan sampah untuk dikumpulkan. Sungguh mencari sampah di malam hari sangatlah sulit. Tak cukup mereka mengandalkan senter smartphone mereka. Mereka terpaksa berjongkok untuk mendapatkan satu sampah saja. "Buseeeet buseeeet. Kenapa gak siang hari aja sih." Johan frustasi.
Hannah tak kehabisan akal. Dia mengambil permen di sakunya. Dia membuka permennya dan memakan. Dia menyimpan bungkusan itu untuk tugas teka-teki ini. "Ini kan sampah." kata Hannah sembari menyimpan rapat-rapat bungkusan kecil tadi. Sayangnya Hannah cuma punya satu permen. Dia benar-benar payah tak bisa membantu Elsa.
Elsa terus mencari sampah meski dia tak mengenakan smartphone karena baterainya lowbate sehingga tak bisa difungsikan untuk senter. Padahal Elsa sudah menyiapkan sedetail mungkin persiapan Diklat ini tapi dia lupa membawa power bank. Tangannya tak berhenti meraba tanah ke sana kemari. Tak disangka sepatunya seperti menginjak sesuatu. Dia mengangkat sepatunya dan mendengar bunyi seperti suara gelas plastik. Elsa kegirangan. Dia mengambil gelas plastik itu untuk tugas di pos kedua.
Setengah jam mereka semua baru mendapatkan sampah plastik itu. Hanya satu sampah masing-masing satu anak. "Oke, sudah dapat semua. Mari kita lanjutkan dengan tenang perjalanan ke pos kedua." pinta Joe ke anggotanya agar bisa segera menyelesaikan tugas di pos empat yaitu tidurr.
Setiba di pos kedua mereka langsung menuju tempat sampah untuk membuang sampah itu yang dipegang kak Natalia. "Kenapa masing-masing cuma dapat satu?" tanya Kak Devan.
"Karena sudah banyak manusia yang cinta bumi." jawab Rio kesal tapi masuk akal.
"Bagus sekali. Setelah kalian mendapatkan tugas seperti ini, jangan kesal dan ingin membuang sampah sembarangan. Itu bukan tujuan kami. Kami hanya ingin membiasakan kalian untuk memungut sampah jika kalian melihat sampah di depan kalian. Dalam suasana gelap saja kalian masih mau mencari dan mengambilnya. Seharusnya di tempat yang sangat tampak kalian juga harus mengambilnya." sambutan Devan untuk mengawali materi saka Wana Bakti.
"Jadi, Saka Wana Bakti adalah wadah bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk melaksanakan kegiatan nyata, produktif dan bermanfaat dalam rangka menanamkan rasa tanggungjawab terhadap pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup." Semua peserta mulai mendengarkan penjelasannya.
Revan dan Rani menyuruh mereka membersihkan tangan mereka. Sebagian ada yang mencuci muka untuk menghilangkan serangan kantuk tapi yang didapat malah kedinginan. Air sungai di malah hari benar-benar dingin. Hannah sedari tadi mengeluh. "Telah kau saksikan sendiri Elsa." diksinya dalam kekesalan.
Elsa tak terlalu menggubris. Dia menyerahkan minyak telon untuk penghangat diri. Hannah pun mengambil minyak itu dengan rakus. Dia mengolesi ke seluruh badannya. Dia mendengus badan Elsa. Bau minyak telon yang menyengat. Akhirnya dia tau kenapa Elsa tak mengeluh dingin sama sekali. Benar-benar Elsa menyebalkan baru berbagi.
Di pos ketiga ini, Rani menjelaskan Saka Kencana. "Saka Kencana adalah wadah kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang kependudukan dan keluarga berencana yang dapat diterapkan pada diri, keluarga, dan lingkungan."Rani menjelaskan.
"Saka kencana ini cocok banget buat cewek atau cowok yang pengen jadi istri idaman atau suami idaman." Di malam yang suntuk ini, Rani dengan gaya genitnya masih saja mengajak bergurau dan membuat suasana tak jenuh. Bahkan Rio menimpali, "Demi jadi suami idaman kakak, aku mau deh ikut saka kencana." Tawa pecah seketika dan kantuk juga sedikit lenyap dari mereka. "Ih bisa aja." Rani menimpali dan mulai menjelaskan kembali Saka Kencana.
---
Jam sudah menunjukkan pukul 3.30 subuh. Nathan mengamati kelompok satu yang sudah mulai mencari tempat untuk tidur. Meski dia sedang mengamati peserta tidur, tapi tidak dengan pikiran dan hatinya. Entah apa yang dia rasakan, dia hanya ingin menunggu Elsa. Dia tidak tahu jika dirinya sedang merindukan Elsa. Baru tiga jam lebih tiga puluh menit berpisah. Dia berpisah di jalan setapak tadi. Kini perasaan rindu yang tak dimengerti Nathan menjadi. Dia tahu Elsa di kelompok dua yang sebentar lagi akan tiba. Dia benar-benar tak sabar menyambut kelompok dua, lebih tepatnya menyambut Elsa.
__ADS_1
Loretta yang menemani Nathan di pos terakhir seperti tak terlihat baginya. Nathan hanya melihat peserta dan sekali-kali melihat ke jalan setapak menunggu peserta berikutnya datang. Loretta mulai kesal. Dia mendekati Nathan memeluk dan bersandar di bahunya. Nathan sigap membalikkan badan. "Hentikan. Kau semakin tak tahu diri. Di depan peserta kau masih saja berulah."
"Mereka sudah tidur kok." jawab Loretta manja dan berani memeluk Nathan.
"Hentikan Loretta. Aku benar-benar tidak bisa denganmu." tegas Nathan dengan suara pelan.
Loretta marah. "Kenapa? Aku kurang cantik? Kurang baik? Kurang sayang? Kamu mau apa? Aku kasih Nathan. Kamu bilang aja mau apa?" emosi Loretta dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Baiklah, jauhi aku. Jika kau tak bisa berteman. Jauhi aku." pinta Nathan tegas lalu melenggang menuju pos. Loretta tampak frustasi. Tak mudah baginya menyerah. "Oke. Tidak hari ini."
Kelompok dua mulai datang di pos terakhir. Jantung Nathan berdetak begitu kencang. Dia tahu Elsa datang. Johan membawa anggotanya termasuk Elsa untuk melapor ke Nathan.
Nathan begitu sangat bahagia kelompok dua telah tiba. Elsa, sosok yang dirindukan berada di depannya. Hanya berjarak satu langkah. Hatinya tak karuan, bahagianya juga tak karuan. Dia menyuruh mereka duduk bersila untuk memulai materi yang akan disampaikan Loretta.
Nathan mengamati Elsa dari jarak jauh. Berat mengamati Elsa dari jarak jauh tapi dia tak berani berjarak dekat dengan Elsa di keadaan seperti ini. Nathan memperhatikan Elsa yang berkali-kali mengucek mata dan membenarkan kacamata.
Loretta mulai mengambil tempat Nathan di depan peserta. Meski suasana hatinya kacau Loretta mulai menjelaskan saka Bakti Husada. "Saka Bakti Husada adalah wadah pengembangan pengetahuan pembinaan keterampilan, penambahan pengalaman dan pemberian kesempatan untuk membaktikan dirinya kepada masyarakat dalam bidang kesehatan."
Setelah materi dirasa cukup, mereka mulai mencari tempat untuk berbaring. Hannah sangat berterima kasih untuk minyak telonnya. Dia tidak kedinginan ketika embun mulai membasahi dedaunan. "Selamat malam Elsa. Tidur nyenyak. Mimpi indah."
begitulah sapanya sebelum tidur.
Elsa rupanya sudah terlelap duluan. Dia benar-benar kecapekan. Bahkan dia tak sadar bahwa Nathan tadi sangat dekat dengannya. Dia merasakan ada yang berbeda tapi dia merasakan ngantuk hebat. Mungkin yang berbeda itu karena dia lelah, jika dia tau yang sebenarnya dia pasti leleh.
Nathan mulai mengamati satu per satu peserta dari kelompok dua. Dia berhenti sejenak di dekat Elsa. Elsa tak mengenakan kacamatanya. Nathan begitu tenang melihat Elsa tidur. Baginya, Elsa selalu tampak cantik bahkan lebih cantik ketika dia sedang tidur seperti ini. Dia berjongkok mendekati Elsa. Tangannya ingin sekali menyentuh pipi Elsa yang memerah. Namun yang dia bisa hanya ucapan selamat malam. "Selamat malam Elsa. Mimpi indah." ucap Nathan pelan sambil tersenyum, kemudian berdiri dan bersiap-siap untuk menyambut kelompok tiga dan seterusnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Nih, Author kasih petanya lagi.🤗
__ADS_1