
Pukul 5.00 masih terlalu cepat menuntaskan lelah dari aktifitas Diklat semalam. Pagi itu, Elsa bangun seperti biasanya namun di tempat berbeda. Dia baru saja bermimpi bahwa dirinya tidur di hutan dan pangeran tampan Nathan mengucapkan selamat malam. Elsa seketika tersenyum menutup wajahnya.
Elsa menggerakkan badannya untuk melemaskan otot tubuh. Dia masih tak lupa tujuannya mengikuti Diklat ini. Dia ingin ke hutan dan sungai. Kini dia tiba di hutan dan ingin mencari sungai yang jaraknya dekat dari pos terakhir. Dia berdiri mengabaikan peserta yang masih tertidur lelap bahkan tak terpikirkan sama sekali untuk membangunkan Hannah yang tidur di sampingnya.
Elsa berjalan kembali ke pos tiga sesuai petunjuk di lembaran kemarin. Dia sudah mulai dekat dengan sungai. Wajahnya sumringah seperti anak kecil yang mendapat hadiah es krim. Dia melepas sepatu dan kaos kaki. Elsa mulai menenggelamkan telapaknya ke tengah sungai. Dia duduk di batuan besar. Tangannya mulai bermain-main dengan air. Ini masih terlalu pagi dan sangat dingin untuk bermain air tapi Elsa menyukainya.
Tanpa disadari Elsa, Nathan sudah tiba terlebih dahulu di sungai. Dia berada sekitar lima meter dari Elsa. Elsa tak mengetahui Nathan karena terhalang ranting yang lumayan rendah. Nathan sedang membasuh wajahnya agar terlihat segar kembali. Nathan yang mengetahui ada seseorang yang datang di sungai itu segera bergegas mencari orangnya.
Nathan membalikkan badan dan menyibak ranting di belakang tubuhnya. Alangkah terkejutnya Nathan mengetahui siapa yang datang. Dia melihat Elsa, gadis yang membuat dirinya menjadi aneh berkali-kali. Dia mengamati Elsa yang sedang membiarkan tangan kanannya tersibak air yang mengalir sambil tersenyum begitu manis. Lagi-lagi jantungnya berdetak kencang. Kenapa Elsa sudah bermain-main air sepagi ini, batin Nathan.
Cahaya matahari masih setengah malu menampakkan diri. Elsa melihat sekeliling sambil tersenyum lebar dan tiba-tiba menangkap sosok Nathan di sampingnya. Seketika Elsa reflek berdiri dan menepi di batuan. "Maaf kak."
Mereka saling bertemu dan tanpa disadari juga melepas rindu. "Maaf untuk apa?" tanya Nathan sekedar mengulur waktu.
Elsa masih bingung dengan keberadaan Nathan. Dia juga tak tahu harus menjawab apa. Nathan pun melanjutkan kalimatnya, "Yang pasti setelah bangun tidur semuanya mencari air untuk membasuh muka dan itu bukan kesalahan. Jadi tak perlu meminta maaf dan menundukkan kepala seperti itu." Nathan memberi penjelasan dengan maksud ingin melihat wajah Elsa.
Tak mendapat balasan dari Elsa, Nathan melanjutkan, "Atau mungkin kau hanya ingin bermain air?" tebak Nathan yang sukses membuat tingkah Elsa semakin gelisah.
Elsa semakin melebarkan pupilnya. Itu memang tujuannya dan sebenarnya dia tidak ingin diganggu. Namun dia tak bisa memungkiri dirinya bahagia ditemani Nathan. Dia memang merasa nyaman di dekat Nathan tapi dia juga takut berhadapan dengan Nathan. "Apa perlu aku temani?" gurau Nathan.
__ADS_1
Sepagi ini, Nathan ingin menjahili Elsa. Dia melangkah semakin mendekat ke Elsa yang sedang ketakutan. Elsa berusaha mundur pelan-pelan karena mendadak jantungnya mulai berdegup tak karuan. Dia tak berani mengangkat kepalanya.
Begitu juga yang dirasakan Nathan, padahal dia hanya ingin menjahili Elsa tapi kenapa jantungnya menjadi berdetak begitu sangat kencang. Namun langkah Nathan terhenti dan tangannya menarik tangan Elsa ketika gadis berkacamata itu hendak melangkah ke sungai yang dalamnya di atas lutut.
"Awas!" teriak Nathan sembari menarik kencang tangan Elsa.
Seketika Elsa terkejut dan tanpa diketahui bagaimana bisa dia sudah berada di pelukan Nathan. Elsa hanya memperlebar matanya. Dia tak menyangka bisa sedekat ini dengan Nathan. Sebenarnya Elsa juga menyukai kedekatan ini dan dia juga bingung kenapa menyukainya.
Nathan berhasil mendekap Elsa di dadanya. Elsa merasakan kehangatan menyeruak di tubuhnya. Dekapan Nathan sangat erat membuat Elsa hanya bisa mematung di dadanya. Elsa mulai mencium wangi parfum Nathan yang sukses membuat dia tak ingin berpindah.
Beruntung Nathan menarik Elsa segera. Hampir saja Elsa terperosok ke sungai di belakangnya. Seketika Nathan menyadari sesuatu tentang dirinya. Hanya bermula dari dekapan, dia seakan-akan ingin memberikan segalanya kepada Elsa. Termasuk kasih sayang seperti dia ingin selalu melindungi mamanya.
Entah kenapa Nathan begitu sangat bahagia. Dia semakin merapatkan dekapannya karena tak ingin Elsa pergi dari dirinya. Bahkan di sepagi itu, dia ingin sekali menjadi sosok yang berarti untuk Elsa.
"Kamu nyaris terperosok ke sungai yang dalamnya selutut." jelas Nathan lembut dengan penuh perhatian. Mata Nathan pun tak lepas dari kepala Elsa.
Di hari itu, Nathan menyadari sesuatu yang sedari kemarin mengganggu. Dia mulai mengerti apa yang dimaksud hati dan pikirannya. Ya, dirinya mulai mencintai Elsa. Dia ingin selalu di dekat Elsa seperti ini karena dia tak pernah sebahagia ini dengan orang lain. Elsa seperti puzzle yang melengkapi kekosongannya.
Berbeda dengan Elsa. Dia sama sekali tak menyadari perasaannya yang sama dengan Nathan. Dia hanya tahu dirinya tak ingin beranjak dari keadaan ini. Dia ingin menikmati getaran yang belum pernah dia rasakan.
__ADS_1
Anehnya, Karena rasa nyaman ini, Elsa mulai takut dengan Nathan. Entah kenapa dia benar-benar takut. Tapi dia sendiri tak tahu apa yang ditakutkan.
Elsa berusaha melepaskan dekapan Nathan. Nathan pun mulai merenggangkan dekapannya. Elsa segera menjauhkan diri dari Nathan. Nathan dengan berat hati melepaskan pelukannya.
"Hati-hati". Ucap Nathan melihat Elsa meninggalkan sungai. Elsa mulai menjauh dari matanya. Seketika Nathan merasakan kesunyian. Matanya tak setajam seperti biasanya. Tatapannya sayup tersirat dia sedang berbeda hari ini. Dia benar-benar mulai menyayangi Elsa bahkan cepat sekali untuk memberikan cinta kepada sosok berkacamata itu.
Elsa berlari menerobos hutan. Air matanya jatuh tanpa dipinta. Ada apa dengannya? Kenapa dia begitu nyaman dengan Nathan? Kenapa juga dia ingin selalu bersamanya? Siapa dia? Apa ini? Bertubi-tubi pertanyaan yang tak tau jawabannya menimpa di kepala.
Akhirnya Elsa tiba di pos empat. Semua peserta dan senior yang berjaga di pos empat masih tidur. Elsa bergegas kembali membaringkan diri di samping Hannah. Dia menangisi seseorang, yaitu Nathan. Di pagi itu, dia benar-benar ingin terlelap kembali dan memastikan itu hanya mimpi saja.
---
Di sungai Nathan duduk di batuan tempat Elsa berdiri. Dia menirukan Elsa menyibakkan tangannya bermain air. Nathan sungguh merasakan kehampaan setelah Elsa pergi. Dia memegang dadanya dan masih merasakan Elsa dalam dekapannya. Apa boleh jatuh cinta secepat ini?
Dia menertawakan dirinya. Entah ini karena kebodohan atau takdirnya mencintai Elsa. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala dan tanpa sengaja retinanya mendapati sepasang sepatu hitam yang mulai kusan. Sepatu itu sudah jelas milik Elsa. Gadis itu rupanya bodoh juga. Dia berlari tanpa memperdulikan sepatunya.
Nathan mengambil sepatu Elsa dan melihat nomor sepatu mungil itu. "Tiga puluh enam." Nathan tersenyum. Dia berdiri dan menyudahi aktifitas di sungai. Dia berjalan menuju pos keempat sambil menenteng sepatu Elsa. Pelan-pelan sekali Nathan melangkah sambil tersenyum. Dia benar-benar mulai menyukai Elsa. Imajinasinya juga mulai berani membayangkan Elsa. Bahkan dia ingin sekali memasangkan sepatunya ke kaki mungil gadis itu.
Nathan sudah berkali-kali ke hutan mengikuti kegiatan ini, namun baru kali ini dia merasakan hutan begitu sangat indah. Udaranya benar-benar segar seperti ingatan tentang Elsa yang terus mengenang. Burung-burung seolah menyemangati dirinya untuk mendapatkan Elsa. Bunga juga rela dipetik untuk diberikan ke Elsa. Hutan benar-benar indah.
__ADS_1
Sungai yang barusan dia lewati juga begitu terasa menyejukkan sampai hatinya. Jernihnya seperti perasaan dirinya ke Elsa. Dia berkali-kali memegang dadanya. Merasakan Elsa masih memeluknya. Sekali-kali dia menengadahkan ke atas. Tuhan, jangan jadikan aku orang gila yang terus tersenyum di hutan. Pintanya dalam hati.