
Elsa mulai masuk ke ruang UKS menunggu Nathan terbangun dari tidur paginya. Elsa memberanikan diri melihat Nathan dari jarak dekat. Jantungnya selalu berpacu dan semakin tak karuan. Wajah Nathan begitu lelah, tidurnya pulas tak terusik apapun bahkan aktifitas pencarian sepatu tadi. Elsa ingin mencoba menyentuh wajah Nathan yang begitu teduh. Namun dia mengurungkan segera. Dia tak sampai hati jika Nathan terbangun. Elsa duduk di bawah kasur Nathan sembari memeluk erat ranselnya. Dia membiarkan waktunya terbuang menunggu Nathan bangun.
Dalam keadaan tertidur, Nathan refleks menggerakkan tangannya ke bawah dan mengenai pipi Elsa. Elsa bersemu memerah dan tak berani memindahkan tangan Nathan karena takut akan menggangu tidurnya. Dalam keadaan tertidur, Nathan mulai mengelus pipi Elsa dengan punggung jarinya. Elsa sendiri juga menikmati sentuhan jari-jari Nathan. Seketika Nathan terbangun dan menoleh ke tangannya. Dia merasakan kehangatan dan kelembutan. Elsa mulai memberanikan berdiri dan menjauh dari tangannya.
"Elsa." Nathan meyakinkan penglihatan matanya bahwa Elsa memang sedang di depannya. Dia duduk di atas kasur dan mengerahkan semua kekuatan untuk memandang Elsa. "Kenapa kamu masih di sini?" Dia melihat ke arloji. "Ini sudah waktunya pulang." kata Nathan sambil menggeliatkan badan untuk memulihkan diri.
"Sepatu saya belum ketemu." Elsa memberanikan diri berkata sambil menunduk. Nathan mengerti seketika. "Apa sampahnya sudah dibuang?" Nathan memberi petunjuk kepada Elsa soal sepatu.
Seperti sebuah alarm berdering di kepalanya, Elsa langsung berlari mencari tong sampah. Dia menebarkan pandangannya ke seluruh lapangan. Tak ada. Lalu berpindah ke ruangan. Tak ada. Terakhir, dia menuju halaman depan, dan mendapati tong sampah di parkiran motor. Elsa bergegas menuju tong sampah itu dan mulai mengobrak-abrik isinya. Dia menemukan kresek hitam dan menyobeknya, lalu membuka bungkus kertas kado dan koran. Sepatunya ketemu dalam keadaan utuh. Perasaan lega menghampiri. Elsa langsung menyandarkan diri di tiang kayu.
Nathan menghampiri Elsa yang bersandar di tiang, "Kupikir kau membuangnya." kekeh Nathan yang sukses membuat Elsa jengkel. Elsa hanya membuang muka. Jangan karena kau tampan kau seenaknya, batin Elsa.
"Jadi semua sudah kembali ke sekolah masing-masing. Kecuali dirimu karena ulah sepatumu. Kemudian aku yang akan mengantarkan kamu ke tempat tinggalmu." tebak Nathan yang diberikan anggukan Elsa. "Baiklah, kenakan sepatumu. Aku cek perlengkapan dulu agar tak ada yang tertinggal." Nathan masuk ke ruangan lagi meninggalkan Elsa yang masih menyandarkan diri di tiang.
Nathan kembali ke parkiran dengan membawa kresek hitam besar. Dia mulai memasukkan sampah ke dalamnya dan meletakkan sampah itu dekat dengan tong sampah di pinggir jalan yang sebentar lagi akan diambil pasukan kuning. Kemudian Nathan mencuci tangan di kran depan. Sedangkan Elsa dari tadi hanya memandang Nathan. "Apa sudah cuci tangan?" tegur Nathan. Elsa hanya mengangguk dan menuju ke kran untuk mencuci tangannya. Nathan hendak memencetkan sabun cair untuk Elsa. Elsa dengan sigap membuka telapak tangannya dan mulai mengusapkan ke jari-jari sampai bersih lalu mengalirinya dengan air yang dingin dari kran. Retina Nathan tak pernah berpaling dari Elsa. Dia tak menyangka akan seberuntung ini hanya karena sepatu Elsa.
__ADS_1
"Ayo kita pulang." ajak Nathan. Elsa hanya mengangguk. Mereka menuju parkiran motor. Elsa ragu menaiki motor Nathan. Elsa duduk menyamping dan berpegang pada tepian motor. "Jangan duduk menyamping. Perjalanan di sini penuh tanjakan tajam. Duduk menyamping berbahaya." pesan Nathan lembut. Elsa dengan canggung mengubah posisi duduknya. Dia memegang pundak Nathan untuk menata posisi duduknya lalu membenarkan rok agar paha putihnya tak terekspos di jalanan.
"Pegangan. Jalanan naik turun." alasan Nathan karena ingin dipeluk Elsa. Elsa tak menurut, dia tak bisa menyentuh Nathan. Itu sangat berbahaya. Dia memberi jarak antara Elsa dan Nathan. Dia harus melakukan itu agar tak ada situasi aneh lagi.
Nathan tersenyum sinis ketika Elsa mengabaikan permintaannya. Dia mulai melajukan motornya dengan kencang. Spontan Elsa memeluknya rapat. Tanjakan naik juga membuat Nathan lebih mempercepat motornya. Setelah itu tanjakan turun membuat Elsa tak bisa memberi jarak lagi. Nathan tersenyum ketika Elsa sudah tak bisa memberi jarak lagi.
Seketika Nathan merasakan kehangatan dalam dirinya. Dia begitu nyaman dengan pelukan Elsa. Baru pertama kali dia merasakan hal semacam ini. Dia menikmati kedekatan ini. Hatinya begitu tenang dan damai. Tak lupa Nathan harus berterima kasih ke Pak Tarno untuk pelicin joknya.
Bibir Elsa gemetar, tangannya memeluk erat Nathan. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya di bahu Nathan. "Aku takut kak." suara Elsa begitu parah karena gemetar. Nathan melihat ke spion. Hanya rambut Elsa yang tampak di spionnya. "Baiklah. Akan kulajukan pelan-pelan. Tapi tetaplah seperti ini. Kita tak tahu lagi kapan bertemu tanjakan."
Nathan sengaja merubah rutenya lebih jauh dari sebelumnya. Dia tak ingin kehangatan ini berakhir dengan cepat. Sesekali dirinya tampak tersenyum dan memandang Elsa dari spion. Dilihatnya Elsa juga mencuri pandang ke dirinya. Nathan tersenyum kecil. Tangannya ingin sekali mengusap wajah Elsa yang berada di pundaknya itu. Tapi dia harus menahan diri. Dia memang sedang jatuh cinta tapi tidak perlu terlalu cepat untuk diungkapkan.
Nathan kembali fokus ke perjalanan. Elsa menikmati wajahnya yang tersentuh angin. Dia begitu merasakan kenyamanan memeluk Nathan. Dia sendiri juga tak ingin melepaskan dan memberi jarak seperti yang dilakukan tadi. Terlepas dari apa yang ditakutkan Elsa terhadap Nathan, dia ingin menikmati perjalanan ini. Dia ingin menghirup parfum Nathan. Dia ingin menikmati getaran dalam dirinya. Dia juga mengabaikan jantungnya yang berdegup kencang.
Perjalanan menjadi begitu sangat lama karena rendahnya kecepatan. Elsa dan Nathan sama-sama tak saling berkata. Nathan sibuk dengan khayalan kecil di kepalanya tentang Elsa. Tidak begitu dengan Elsa. Elsa mulai diserang kantuk. Dia berkali-kali menguap dan mempertahankan matanya agar tetap terjaga. Sampai akhirnya Elsa sendiri tak tahan lagi untuk terlelap.
__ADS_1
Nathan merasakan kepala Elsa bergerak menyamping perlahan. Dia menengok dari spion kirinya. Rupanya Elsa sedang tertidur dengan kacamata yang merosot ke hidung. Nathan tersenyum. Dia semakin memperlambat lajunya. Tangannya mulai memberanikan diri menyentuh wajah Elsa. Lembut dan hangat. Terlebih ketika Elsa menggeliat seakan menikmati sentuhan Nathan. Nathan tak henti-hentinya tersenyum meski dirinya seperti pecundang yang mengambil kesempatan ketika Elsa tidur.
Kini tangannya berpindah di jemari Elsa. Dia melengkapi tiap ruas jari kiri Elsa. Nathan menggenggam jemarinya sangat erat. Seketika dia sadar bahwa dirinya sudah lancang. Dia melepaskan jemarinya dengan berat lalu kembali fokus ke jalanan. Elsa benar-benar membuat dirinya kehilangan kontrol. Beruntung Nathan segera sadar. Dia mulai menaikkan kecepatannya untuk mencegah tak melakukan kembali.
Perjalanan sudah tidak menampakkan pepohonan yang rindang lagi melainkan bangunan-bangunan padat dan menyesakkan. Nathan sudah sampai kota. Dia menepikan motor dan membangunkan Elsa. "Elsa, Elsa, Elsa." Elsa terbangun setelah Nathan memanggil namanya tiga kali. Elsa mengangkat kepalanya dan melepaskan pelukan untuk membenarkan kacamatanya. "Kita sudah tiba di kota. Rumahmu dimana?" tanya Nathan dengan parau.
"Rumah saya dekat dengan SMA 3 kak. Kakak bisa menurunkan saya di situ." ucap Elsa dengan formal.
"Baiklah." Nathan melajukan kembali motornya menuju SMA 3. Hanya sepuluh menit sudah sampai. Elsa mulai turun dari motor Nathan. Wajah Nathan datar seketika. Dia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya ketika Elsa turun dari motor, "Kau yakin tidak keberatan turun di sini. Aku bisa mengantarmu sampai rumah."
"Saya baik-baik saja. Terima kasih tumpangannya." ucap Elsa lalu menundukkan kepala.
"Baiklah. Sampai ketemu minggu depan." ucap Nathan datar dan mulai meninggalkan Elsa.
Elsa mengamati punggung Nathan yang mulai menjauh. Dia memegang dadanya yang terus berdegup. Dia masih heran kenapa jantungnya berdegup kencang jika bersama Nathan. Dia mengingat kembali wajah Nathan yang barusan seperti orang kesal. Elsa mulai menebak-nebak kesalahan apa yang telah dia lakukan. Apa Elsa membuat kesalahan tidur di pundaknya. Dia mulai berjalan ke rumah sambil menundukkan kepala.
__ADS_1