
Hari ini, sepulang sekolah, Nathan tak langsung ke restoran. Dia menuju basecamp Pramuka di Gugus Depan (Gudep) Makoramil yang berjarak dekat dari restorannya. Dia salah satu anggota aktif di Gudep Makoramil. Siang itu, dia menghadiri rapat pembentukan sangga kerja (sangker) untuk kegiatan Diklatgab SAKA (Pendidikan dan Latihan Gabungan Satuan Karya) yang diadakan tiap tahun sekali. Tujuannya untuk mengajak siswa dari sekolah lain bergabung di Pramuka Makoramil.
"Baru nyampe?" tanya Devan dengan suara keras khasnya.
"Yoi. Penutupan MOS." ucap Nathan sambil turun dari motor Revan. Mereka bersamaan ke Gudep karena satu sekolah.
"Apa kabar sayangku?" tanya Revan kepada kekasihnya yang masih di atas motor Devan.
"Sudah pasti kangen kamu." jawab Natalia mulai mendekati Revan.
Loretta yang bersama Niken ke Gudep sedari tadi menunggu Nathan langsung menghampiri. "Nathan, kangeen." ucapnya manja. Nathan tak merespon.
Rani dan Andi baru datang. Seperti biasa mereka sama-sama cuek satu lain. "Datang-datang udah cemberut aja nih putri. Abis kamu apain sih?" tanya Revan ke Andi.
"Cemberut apanya? Kan dari tadi dia menggoda cowok di sepanjang jalan."
"Salah?" tanya Rani ketus.
Andi cuma buang muka dan menatap ke arah Niken. "Hai Niken. Aku kangen." kata Andi seperti penggemar Niken.
Niken memutar bola matanya dengan malas.
Akhirnya, lengkap sudah anggota Gudep itu. Ada delapan anak yang hadir di rapat siang itu.
Pertama Revan, tingginya tak jauh beda dari Nathan sekitar 170 cm, tampan, dan juga perhatian. Dia masih satu sekolah dengan Nathan di SMA NEGERI 1 Mojokerto. Namun mereka jarang bertemu jika tak ada urusan Pramuka. Nathan lebih sibuk membantu mamanya. Sedangkan Revan memilih menyibukkan diri mengikuti ekstra lain.
Natalia, gadis cantik yang memiliki tinggi bak model dan merupakan kekasih Revan. Sebelumnya Natalia dan Revan satu SMP. Ketika melanjutkan jenjang SMA, Natalia tak lolos di SMA NEGERI 1 Mojokerto, namun lolos tes di SMA NEGERI 2 Mojokerto. Meski beda sekolah hubungan mereka tak renggang dan masih dalam batas sewajarnya sepasang kekasih hingga sekarang.
Devan, tukang ojek Natalia ke Gudep. Bukan lagi Revan yang sekelas bersama Natalia melainkan Devan. Devan cowok yang serius, berpenampilan rapi, dan suaranya paling lantang, karena itu dia yang paling ditakuti para junior terutama cewek di Gudep.
Andi, cowok santuy, humoris, dan terkenal paling suka menggoda junior. Banyak cewek junior yang dipermainkan perasaannya padahal jelas-jelas dia sedang bercanda. Dia perwakilan dari SMKN 1 Mojokerto.
Rani, cewek cantik yang suka mencari perhatian terutama cowok. Dulu Rani juga termasuk korban perasaan Andi. Setelah lama mengetahui kebiasaan Andi, Rani mulai menjauh. Rupanya keberuntungan tak berpihak padanya. Setelah lulus SMP, Rani malah bertemu Andi di sekolah baru. Rani bersikap cuek kepada Andi. Namun tak pernah berhenti menebar perhatian kepada cowok di SMK.
__ADS_1
Loretta, manja dan genit. Suka make up berlebihan. Suaranya juga dibuat-buat agar tampak menggoda. Loretta mengklaim dirinya pacar Nathan. Bukannya menggemaskan, Nathan malah risih dengan kelakuan Loretta. berkali-kali pula Nathan menjelaskan dia tak tertarik, just friend. no more..
Niken teman sekelas Loretta. Penampilannya hampir mirip anak tomboy padahal sebenarnya tidak. Itu karena rambutnya yang pendek menyerupai laki-laki alasannya tidak suka rambut panjang, ribet. Dia penyayang binatang, dan menyukai alam terbuka. Loretta dan Niken murid SMA NEGERI 3 Mojokerto. Mereka juga sekelas dengan Elsa dan Hannah.
Peserta terakhir atau ke delapan adalah Nathan. Tampan, agak dingin, tapi peduli.
"Untuk diklat ini bagaimana jika Nathan yang menjadi ketua?" saran Revan dalam rapat.
"Aku setuju. Selama ini Nathan juga bisa memanage waktunya dan komunikasinya juga baik." ucap Andi melengkapi saran Revan.
"Oke."
Hasil rapat siang itu, Nathan resmi ditunjuk sebagai ketua sangker (sangga kerja).
"Kegiatan diklat ini kita agendakan Sabtu sore dan selesai Minggu siang di hutan Pacet." ucap Nathan sambil membagi tugas seksi-seksi.
"Hari ini kita akan membuat undangan dan brosur untuk pengumuman kegiatan."
Rapat berakhir sore hari setelah brosur sudah dicetak dan undangan sudah dilipat rapi. "Untuk selanjutnya, kita komunikasi terus lewat grup. Ingat kawan, aku butuh kekompakan dalam kegiatan ini." pinta Nathan.
"Pasti sayangku." sahut Loretta. Nathan sama sekali tak menatap Loretta.
"Kamu makin aneh." ucap Niken di samping Loretta.
"Yang penting ngomong!"
"Baiklah hati-hati di jalan. Jangan lupa tetap semangat." ucap Nathan menutup rapat.
Nathan dan teman-temannya kembali ke rumah masing-masing. Tak seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya, Nathan merasakan ada yang berbeda dengan kegiatan ini. Namun dia sendiri juga tak tahu apa yang dimaksud hal berbeda itu.
Melalui smartphone, Nathan terus berkoordinasi dan mengintruksikan kegiatan-kegiatan apa saja yang perlu disajikan dalam diklat nanti. Lagi-lagi Nathan merasakan ada hal yang berbeda, dia bingung terhadap persiapan kegiatan ini, seperti memang harus disiapkan sangat baik. Setelah dirasa cukup Nathan memutus sambungan aplikasi WhatsApp nya. Dia mulai belajar materi untuk esok.
~
__ADS_1
Setibanya di rumah, Elsa menuju kamar mandi. Dia merehatkan dirinya ke dalam bathtub kecil. Masa MOS sudah berakhir. Dia mulai beralih memikirkan hal di kantin yang sedikit mengganggu terutama soal Hannah. Jika diamati sekilas Hannah tidak ada niatan ingin membully dirinya. Namun ketakutan masa lalunya masih belum sirna semudah itu.
Hannah gadis yang sedikit berisik. Sangat berbeda dengan dirinya yang pendiam. Bisakah Hannah menjadi temannya jika ada orang yang ingin membully. Haruskah berteman dengan Hannah dengan niatan itu. Prasangka buruk tentang Hannah juga terlintas di otaknya. Jangan-jangan Hannah cuma ingin memanfaatkan dirinya untuk pr atau tugas sekolah seperti lainnya. Ataukah itu awalan Hannah akan mulai memalak dirinya jika dia mengajak ke kantin lagi. Oh, seburuk itukah dirinya mulai menilai orang baru, keluhnya frustasi.
Elsa mulai berdandan di cermin. Sebenarnya Elsa gadis yang cantik. Bibirnya merah muda tipis, matanya memiliki sorot yang tajam, alisnya pun terbentuk sendiri tanpa harus bersusah payah menyulam, kulitnya halus terawat, belum lagi lentik bulu matanya, dan rambut panjang lebat yang menjadi mahkotanya pun melengkapi kecantikannya.
Elsa memilih berpenampilan culun karena tak ingin menjadi bahan cemburu siswa. Pernah dulu teman sekelas dan senior Elsa banyak yang iri dengan kecantikannya. Dulu banyak cowok yang menyukai Elsa tapi bukan berarti itu hal bagus, dia menjadi sasaran para cewek karena dianggap menggoda cowok sekolah.
"Kamu mau merebut cowokku hah?!"
"Mau kupotong rambutmu?" ucap mereka sembari menjambak rambut Elsa dengan keras. Elsa selalu menggeleng mendengarkan suara-suara mereka. Padahal untuk urusan cinta, Elsa sendiri tak pernah tertarik dengan cowok manapun sedari dulu. Karena cinta pertamanya sekaligus papanya sudah mengabaikan Elsa terlalu lama.
---
Setelah bercermin cukup lama, Elsa keluar kamar. "Semangat semangat." ucap Elsa sebelum mengawali pekerjaan rumah.
Dia mulai menyapu seluruh ruangan, menata buku-buku yang berseraka, mengganti sarung bantal yang sudah satu minggu belum diganti, mengambil piring dan gelas yang kadang berada di teras depan dan ruang tengah. Setelah rapi, Elsa mulai mengepel seluruh lantai rumah.
Selanjutnya Elsa mulai membuat makan malam untuk paman dan bibinya. Elsa tidak pandai memasak tapi dia pandai membaca resep. Hasilnya selalu sempurna untuk masakan anak baru SMA.
Elsa mulai mengambil beberapa sayuran segar dari kulkas, lalu mengecek persediaan ikan di freezer. Hari ini ada ikan nila. Elsa mengambil smartphone pemberian paman. Dia mulai browsing cara mencuci ikan nila dan segera mempraktekkan. Selanjutnya dia mencari resep sambal nila segar. Sayuran yang diambil hanya selada dan bahan untuk sambal. Segera Elsa mengikuti semua instruksi resepnya. Elsa sangat teliti dengan takaran.
Setelah selesai memasak nila, Elsa mulai mencicipi ikan nila buatannya. "Mungkin nanti aku akan punya restoran." ucap Elsa memuji masakannya sendiri.
Elsa mulai makan terlebih dahulu karena dia nyaman sendiri. Elsa benar-benar berubah tanpa disadari dirinya. Kini, Elsa segan duduk di meja makan bersama paman dan bibi Andre bahkan kepada siapapun. Dirinya selalu asyik sendiri, berbicara sendiri, dan menyimpulkan sendiri.
Sewaktu masih di Jakarta, Paman dan Bibi Andre adalah tetangga Elsa yang sangat baik. Namun Tuhan belum memberi kesempatan untuk memiliki buah hati. Ketika melihat Elsa sering main ke rumahnya, mereka sangat senang. Jika mengingat Elsa masih kecil, dirinya tak pernah segan meminta es krim. "Paman, es krim yang banyak ya." ucap Elsa sambil menunjukkan sepuluh jarinya.
Bahkan Elsa seperti anak kandung pada umumnya, sering ambil makan di rumah bibi, sering membuka kulkas dan menghabiskan satu liter susu, lalu tertidur pulas di depan tv yang sedang menyala.
Sekarang itu hanya sebuah memori indah. Sebuah peristiwa bisa merubah karakter seseorang begitu cepat. Kini Elsa bukan gadis periang lagi, bahkan menjadi gadis berani adalah keinginan yang sulit dia raih.
Setelah menuntaskan suapan terakhir, Elsa bergegas ke wastafel. Dia mencuci semua perabot masak, lalu meletakkan dengan sangat hati-hati. Kemudian dia mulai ke kamar lagi dan membuka buku pelajaran untuk menyiapkan materi hari esok.
__ADS_1