
Nathan baru tiba di restoran pukul dua belas setelah evaluasi sejenak di Gudep Makoramil. "Mama, Nathan pulang." Nathan mulai mencari mamanya ke dapur. Wulan menyambut anak kesayangannya lalu memberikan pelukan hangat. "Tumben baru pulang. Biasanya jam sepuluh sudah pulang." Wulan mencium bau Nathan. "Belum mandi tapi selalu wangi. Anak nakal." Wulan mengetuk pelan jidat Nathan membuat si pemilik jidat pura-pura meringis.
Nathan kembali memeluk mamanya sembari tersenyum. Wulan menangkap ada perasaan berbeda dalam diri Nathan dibanding hari sebelum-sebelumnya. "Mama lihat hari ini Nathan senang sekali. Kenapa ya?"
Tentu saja. Siapa yang tak senang mendapatkan pelukan dari orang yang dia sayangi, Elsa. Nathan hanya tersenyum menanggapi pernyataan mamanya. Dia bergelanyut manja di punggung mamanya. Dia memeluk mamanya penuh kasih sayang. "Heemmm. Gak mau cerita ke mama nih. Ya sudah cepat mandi dan makan siang yang banyak saja. Cepat cepat!" perintah Wulan.
Dalam kamar mandi Nathan masih senyum sendiri. Dia melepas kaos Gudepnya lalu mengamati kaos yang barusaja dia kenakan saat Elsa memeluk dirinya. "Astaga hanya melihat kaos yang biasa aku pakai untuk kegiatan, aku bisa sebahagia ini. Ada apa dengan baju apek ini?" Nathan mencium aroma apek bajunya. "Ah, kamu Elsa." kata Nathan ke dirinya yang sedang kasmaran.
Kran shower itu sudah menyala membasahi tubuh Nathan. Dia sangat berat menghapus bekas dekapan Elsa di tubuhnya. Dia membiarkan air itu mengaliri otot-otot lengan dan badannya yang sudah tampak seperti roti sobek. Nathan sudah berotot karena aktifitas kerjanya sering mengangkat keranjang yang penuh tumpukan piring dan perabotan dapur. "Elsa, aku mencintaimu." Nathan berbicara sendiri sambil tersenyum tak jelas dalam guyuran shower.
Wulan mulai menyiapkan makan siang. Dia membuatkan menu koloke ayam untuk Nathan. Setelah mengenakan pakaian, Nathan menuju dapur untuk menghirup aroma paprika di koloke ayam buatan mama. "Masakan mama harum sekali. Nathan pasti menghabiskan semua." Nathan duduk mengambil nasi dengan semangat dan mulai menuangkan koloke itu di nasinya.
Wulan mengamati Nathan. Dia tampak lebih ceria dari biasanya. Pandangan mata Nathan juga lebih teduh. Dia mulai menebak apa yang membuat putra semata wayangnya sebahagia ini. Namun dia tak ingin menanyakan segera. Biarkan Nathan makan siang dulu. Wulan tersenyum menyaksikan Nathan begitu lahap menyantap masakannya. Perasaan bahagia Nathan juga menular ke Wulan.
Pengunjung cafe sangat ramai di hari minggu membuat Wulan tak bisa lama-lama menemani Nathan. Wulan mulai beranjak dari duduknya, "Setelah makan, istirahatlah. Mama kembali kerja dulu ya sayang." Wulan mengecup ubun Nathan dan meninggalkan putranya menikmati makan siang sendiri.
Nathan masih menikmati makan siang plus sarapannya. Sesekali dia melihat jarinya. Dia masih merasakan pipi Elsa yang begitu lembut di punggung jarinya. Lagi-lagi Nathan tersenyum dan jantungnya juga berdegup kencang. Nathan meletakkan tangannya di dada. "Elsa, kenapa jantungku berdegup keras setiap mengingatmu? Apakah sekarang kamu juga mengingatku? Apakah jantungmu berdegup kencang seperti ini juga? Ah, kenapa aku jadi cerewet." gerutu Nathan pada dirinya.
__ADS_1
Nathan kemudian mencuci piringnya lalu beranjak ke tempat tidur. Dia berdiri di cermin sambil menata rambutnya. "Elsa, kau harus lihat ketampananku agar kau tak bisa melupakanku." gumamnya percaya diri. Dia lalu tersenyum. Dia mulai bersandar di ranjang kasurnya. Dia mulai membayangkan Elsa lagi. "Baru beberapa jam kita berpisah, aku sudah merindukanmu. Sedang apa kamu Elsa?"
Tak bisa dipungkiri, Nathan benar-benar kasmaran. Dia tak bisa berfikir lainnya. Hanya Elsa, Elsa, dan Elsa. Kemudian dia mengobrak-abrik berkas peserta diklat di map samping ranselnya. Dia mulai untuk stalking Elsa.
Ketika Nathan menemukan biodata Elsa rautnya berubah datar. Elsa tidak mengisi biodatanya dengan lengkap. Tak ada alamat rumah, nomor telpon ataupun sosmed yang tertulis di biodata. Hanya nama lengkap dan tanggal lahir serta nama sekolah untuk berkas wajib sertifikat. Bisa-bisanya biodata seperti ini disetujui sewaktu check in peserta. Dia memandang biodata Elsa kembali. Hanya ada tambahan foto yang terkena coretan tanda tangan di bagian paling bawah biodata. Rupanya bukan hanya Nathan saja yang tak suka mengisi lengkap biodata. Elsa lebih parah dalam mengisi biodata. Nathan mengacak rambutnya dan menjerit frustasi karena tak bisa memulai stalking Elsa. "Baiklah. Setidaknya aku sudah mendapatkan fotomu, Elsa." ungkap Nathan.
Nathan memotret kembali foto Elsa. Dipandangi lama sekali foto Elsa yang sudah berpindah di smartphonenya. Nathan melihat gadis sederhana nan cupu karena gaya rambut kepang. Tak ada sentuhan make up ataupun acessoris lain di wajah Elsa, hanya kacamata sebagai alat bantu penglihatan saja. Dia melihat mata Elsa begitu jernih, bibirnya mungil merah muda, alisnya melengkung sempurna, pipinya tirus, dia manis dengan poni. Hanya saja rambut kepang dan kacamata agak sedikit mengganggu wajahnya.
Nathan kembali tersenyum. Dia bingung sendiri melihat dirinya begitu mencintai Elsa. Dia juga tak tahu alasan kenapa dia mencintainya. Dia hanya tahu satu hal, dirinya selalu nyaman di dekat Elsa bahkan ketika mendekapnya. Elsa sudah mengacaukan akal dan hatinya. Bahkan sulit untuk tidak memikirkannya. Di hari itu pula Elsa membuat Nathan mulai tertarik dengan seseorang.
~
Elsa tersenyum dan menganggukan kepala. Bibi Andre membenarkan poni Elsa dengan penuh perhatian. "Sekali-sekali kamu memang perlu keluar berkumpul dengan temanmu. Jangan takut untuk mengajak temanmu main ke rumah juga. Ingat Elsa! Kamu harus percaya di sini kamu baik-baik saja! Kamu anak yang baik. Jadilah gadis pemberani!" pesan bibi Andre sembari memegang pipinya.
Elsa tersenyum dan memasuki kamarnya. Bibi Andre menatap lama ke pintu kamar Elsa. "Kenapa Elsa yang sekarang tak banyak cerita? Dulu Elsa selalu ceria dan banyak bercerita. Dia memang Elsa tapi aku merindukan Elsa kecil." guman bibi Andre dengan raut sedih. "Tak mudah untuk melupakan kejadian-kejadian yang membuat dirinya berubah seperti ini. Tapi Percayalah Elsa gadis yang luar biasa. Dia pasti bisa melupakan masa lalunya. Dia pasti akan ceria kembali seperti sediakala." kata Andre meyakinkan istrinya.
Setiba di kamar, Elsa menatap dirinya ke cermin. Mukanya kusam, rambutnya juga acak-acakan. Dia belum mandi sama sekali bahkan belum sempat membasuh muka. Dia meletakkan kacamata di rak rias lalu mengingat-ingat yang sangat perlu diingat. Ketika dia mengingatnya, pupil Elsa langsung membesar. Dia melihat tajam dirinya ke cermin.
__ADS_1
Jantungnya. Ada apa dengan jantungnya.
Seketika Elsa panik dan membuka nakas untuk mencari termometer di kotak P3K. Dia mengapitkan di ketiaknya sekitar sepuluh detik. Dia memungut termometernya dan melihat suhu tertulis 36 derajat. Artinya dia tidak demam. Tapi kenapa jantungnya berdetak sangat kencang sejak kemarin sore.
Elsa mulai mencharger smartphone nya dan menunggu menyala. Elsa berjalan mondar-mandir was-was akan kesehatan jantungnya. Dia mulai menganalisa kapan saja jantungnya mulai berdegup kencang.
Nathan. Benar, jantungnya begini karena Nathan. Dia mengingat pertemuan pertamanya. Saat itu dia melihat bunga-bunga dan senyuman Nathan. Mendadak jantungnya mulai berdegup kencang kembali. Elsa panik. Ada apa ini? Dalam kebingungan Elsa memegangi dadanya. Dia mulai melihat layar smartphonenya mulai menyala. Tak peduli dengan daya baterainya, seketika jari Elsa mulai mencari informasi tentang jantung. Gejala-gejala penyakit jantung, jantung berdebar, angin duduk, koroner, stroke, dan informasi jantung lainnya.
Semakin banyak informasi yang dia baca semakin salah dia menyimpulkan kondisi jantungnya. Dengan keterbatasan pengetahuan tentang jantung, Elsa mulai memvonis dirinya terkena serangan jantung pertama. Elsa tertunduk di samping ranjang. Ini karena Nathan. Kenapa Elsa harus bertemu Nathan jika akan membuat kondisi jantungnya sakit. Ya, Elsa mulai menyalahkan orang lain atas kondisi jantungnya.
kemudian Elsa segera menggeleng ketika dia merasa membuat kesimpulan yang salah. Bukan, bukan Nathan. Nathan tidak melakukan kesalahan apapun. Nathan tidak mengganggu dirinya, justru dirinya sendiri yang mengganggu Nathan berkali-kali. Jantung ini karena kesalahan dirinya sendiri.
Elsa segera berdiri ketika dia berhasil menebak kenapa jantungnya mulai berdetak cepat. Tak salah lagi, ini karena dia jahat kepada Hannah. Hannah selalu diabaikan. Elsa tak menyukai Hannah karena cerewet dan selalu mengganggu ketenangannya. Meskipun cerewet dan menganggu, Hannah terlihat peduli kepada dia. Makanya Tuhan menghukum Elsa dengan gejala awal jantung.
Elsa menyesali sesuatu yang keliru. Dia duduk bersimpuh lesuh. Tangannya menengadah untuk berdoa. "Tuhan, aku tahu Engkau sangat sayang kepadaku. Aku tak sanggup dengan ujian yang kau berikan. Aku tahu aku salah kepada Hannah. Aku janji akan bersikap baik kepada Hannah." harap Elsa. Seketika jantung Elsa mulai berdetak normal seperti sediakala. Elsa langsung senyum kegirangan namun dia tetap menjaga dirinya tak over.
Elsa mulai menuliskan apa yang harus dikerjakan untuk kesehatan jantungnya. Dia juga mulai mengagendakan olahraga rutin. Dan yang paling penting dia harus sering menolong Hannah.
__ADS_1
Seseorang tolong beritahu Elsa dirinya sehat wal afiat. Dirinya sedang kasmaran sama seperti Nathan.