Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
KENCAN DADAKAN


__ADS_3

Sebuah ikatan punya cara tersendiri menemukan jalannya.


***


Pagi itu perasaan Elsa lebih baik dari sebelumnya. Dia sudah tak terlalu sakit dengan kenyataan bahwa dirinya mencintai Nathan. Dia bersandar di jendela menerawang hal indah yang pernah dia lalui bersama Nathan. Meski dirinya tak tahu apa dia berarti atau tidak bagi Nathan, tapi Elsa pernah memeluk erat Nathan. Bahkan mereka juga pernah berpelukan di sungai. Seperti biasa jantungnya mulai berdegup kencang tak terarah. Dia juga sudah tau dirinya tak diserang penyakit jantung.


Elsa menoleh ketika pintu kamarnya yang diketuk seseorang. Seketika Elsa membuka pintu dan mendapati Bibi Andre sudah berada di depan. "Eh, Elsa mau menemani bibi bertemu client gak?" ajak bibi Andre. Elsa berfikir sejenak ini ide bagus untuk teralihkan dari Nathan. Elsa segera mengangguk sembari mengulum senyum. "Ya udah Elsa siap-siap dulu. Dua puluh menit lagi kita berangkat ya." Elsa mengangguk lagi kepada bibi yang mulai berjalan ke kamar utama. Elsa segera menutup pintu dan bergegas mandi.


Hari ini Elsa ingin membebaskan dirinya. Dia akan berpenampilan seperti keinginannya yang sering dia pendam. Elsa mengeluarkan outfit dari almari. Dia memilih kaos blaster putih, sky blue, dan pink. Bawahnya dia akan mengenakan hotpants jeans bewarna grey. Dia juga menambahkan cardigan rajut dengan motif bunga sakura kecil.


Elsa mulai mengenakan semua outfit yang telah dipilih. Setelah itu, dia mulai memberikan riasan tipis di wajahnya. Tak ketinggalan dia memberikan blush on pink di bagian bawah mata. Bibirnya dioles dengan lip glos yang senada dengan blush on. Bulu matanya juga terolesi maskara sedehana. Kuku-kukunya mulai diberi sentuhan kutek glitter bewarna pink juga. Dia tak ingin mengepang rambutnya sehingga rambutnya terurai panjang setelah dia mencatoknya berulang kali. Elsa juga tak ingin mengenakan kacamatanya. Dia tak mempermasalahkan penglihatannya yang buram. Bahkan melihat orang-orang sekitar dalam keadaan buram akan terasa lebih baik. Elsa mulai membenarkan poni dan menyemprotkan parfum stroberi kesukaannya di seluruh tubuh.


Well, perasaan Elsa menjadi sangat baik setelah berdandan begitu lama dan hasilnya Elsa sangat cantik hari ini. Wajahnya begitu terlihat segar dengan riasan kecil. Dia juga meyakini tak akan ada orang yang bisa mengenali dirinya dengan tampilan seperti ini. Dia melengkapi outfitnya dengan selempang mini rajut buatan Elsa untuk tugas prakarya. Lalu dia mengambil sandal jepit dengan hiasan pita polkadot di bagian tengah. Elsa keluar kamar dan duduk manis di sofa sembari memainkan smartphone.


Bibi Andre yang baru saja keluar kamar langsung menutup mulutnya yang menganga karena melihat penampilan Elsa. Elsa benar-benar cantik dan mirip sekali dengan gadis Korea yang mendapat peran utama. "Elsaa, kamu cantik sekali, sayang. Bibi sampai tidak bisa mengenalimu kalo tak melihat smartphone punyamu." takjub bibi Andre sambil memegangi kepala Elsa.


Elsa tersenyum dan menatap ke bawah.


"Yuk, kita berangkat."

__ADS_1


---


Bibi Andre akan bertemu dengan client di cafe n resto di tengah kota. Sepanjang perjalanan di mobil bibi bertanya banyak hal kepada Elsa. "Elsa cantik sekali jika tak mengepang rambut. Tapi kenapa Elsa selalu mengepang rambut jika ke sekolah?"


Elsa hanya diam dan tersenyum kecut. Dia sama sekali tak ingin mengepang rambut jika akan ke sekolah. Sedari dulu dia suka rambutnya terurai atau terkuncir kuda.


"Elsa, jawab dong!" Bibi meminta Elsa penjelasan.


"Elsa takut rambut Elsa nanti akan dijambak lagi sama teman-teman." jawab Elsa singkat tapi memilukan.


Bibi Andre mendadak diam, matanya fokus ke depan menyetir mobil. Dia Benar terluka mendengar kalimat sederhana Elsa. "Setelah ini tak akan ada yang menjambak lagi rambutmu, Elsa." ucap bibi yang sebenarnya sedang berdoa. Elsa tersenyum dan mengamini. Matanya lalu menatap ke depan pula sembari menikmati suasana yang sepi.


Elsa melangkahkan kakinya ke dalam. Seketika Elsa menjadi pusat perhatian pengunjung cafe. Banyak mata memandang Elsa karena dirinya benar-benar cantik bak model Korea. Bibi Andre yang melihat Elsa menjadi pusat perhatian orang, melirik dan tersenyum ke arah Elsa tapi Elsa tak menyadari apa yang sedang terjadi. Dia tak begitu jelas dengan apa yang dilihat karena dia tak mengenakan kacamata.


Seseorang yang sedang duduk di meja paling pojok melambai ke mereka. Bibi membalas lambaiannya dan bergegas menuju meja tersebut. Elsa mempercepat langkahnya mengikuti ke arah bibi melangkah. "Wah, cantik sekali putrimu." Irene, client bibi Andre memeluk Elsa. "Tentu saja. Dia Elsa seperti Queen Elsa." ucap bibi mengenalkan Elsa kepada Irene. Mereka duduk kembali dan mulai memesan jus alpukat untuk Elsa dan Jus jeruk untuk bibi Andre.


Sedari tadi Nathan merasakan perasaan yang aneh ketika tanpa dia ketahui Elsa sudah lama memasuki resto. Seperti angin yang berhembus kencang tanpa diketahui arahnya. Dia menghentikan aktifitas mencuci dan menggantungkan celemek yang dia kenakan. Dia melangkah keluar dapur dan mulai menebarkan pandang ke segala arah. Langkahnya juga begitu ringan menuntut Nathan menuju ke suatu tempat.


Elsa mulai bosan dengan suasana ini. Bibi Andre dan Bibi Irene tampak begitu serius membaca lembaran-lembaran yang berseraka di meja. Elsa memandang sekitar. Tampak dari jauh Elsa melihat seseorang tapi penglihatannya buram. Sekilas sosok itu mirip Nathan. Bahkan jantungnya juga mendadak berdegup kencang. Dia melihat sosok itu begitu lama. Sosok itu juga seperti mencari seseorang. Jika itu memang Nathan, dia berharap Nathan mencari dirinya. Tapi Elsa segera menepis semua. Dia berusaha meyakinkan dirinya tak mungkin yang dilihatnya adalah Nathan. Hanya kebetulan saja tinggi dan perawakannya mirip Nathan. Dia kembali menyeruput jus alpukat yang baru saja tiba di meja untuk menepis dugaannya.

__ADS_1


Setelah mencari-cari akhirnya Nathan menemukan ke sosok gadis yang membawa perasaan ini. Gadis itu sangat cantik. Rambutnya terurai begitu indah. Dia sedang meminum jus alpukat yang masih penuh. Nathan tergerak untuk mengamati gadis yang berada jauh di depannya itu.


Nathan melangkah pelan sembari mengamati gadis itu. Seketika Nathan tau bahwa gadis itu Elsa. Meski Elsa sedang merubah penampilannya hari ini Nathan bisa mengetahuinya karena dirinya sering memandangi foto Elsa di smartphone miliknya. Nathan sangat tahu bentuk matanya, bibirnya, hidungnya, pipinya, dan tentu saja poninya. Jantungnya mulai berdetak kencang meyakini gadis di depannya benar-benar Elsa.


Nathan tanpa keraguan berjalan mendekati Elsa yang sedang berubah bak putri cantik jelita. "Elsa." sapanya parau karena gemetar. Nathan tak pernah segemetar ini bertemu dengan seorang gadis. Apa mungkin karena Elsa terlalu cantik hari ini.


Si pemilik nama tak kalah terkejutnya. Yang dilihatnya sekilas tadi benar-benar Nathan sungguhan. Jantungnya mendadak bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia merutuki tak memakai kacamatanya. Namun dia sangat percaya dirinya tak mungkin dikenali dengan semudah ini. Bisa jadi Nathan masih menebak dirinya.


Bibi Andre menoleh sejenak ke Elsa yang dihampiri seseorang. "Eh, kamu masih mengenali Elsa dengan tampilan seperti ini ya?" pertanyaan bibi sukses membuat Elsa tak bisa berpura-pura lagi jika dirinya bukan Elsa. "Wah, kebetulan Elsa sepertinya butuh teman mengobrol. Kamu tampan sekali. Siapa namamu?" tanya bibi membuat Nathan salah tingkah. "Nathan, bibi."


"Nathan, kamu mau menemani Elsa ngobrol sebentar tidak? Bibi sepertinya agak lama urusan ini." pinta bibi Andre yang sebenarnya juga ingin Elsa berinteraksi dengan temannya.


"Baik, bibi. Saya juga sudah menyelesaikan pekerjaan saya dan saya juga butuh teman mengobrol." bohong Nathan yang sebenarnya pekerjaan di minggu ini lebih ramai dari hari biasanya.


"Wah kebetulan sekali. Elsa, cobalah berbincang dengan temanmu. Jangan takut sayang. Bibi yakin Nathan anak yang baik." bibi meyakinkan.


Jantung Elsa benar-benar akan copot. Bagaimana bisa Elsa akan mengobrol dengan Nathan dalam kondisi yang tak terduga seperti. Namun Elsa menurut karena permintaan bibi.


Nathan memberi ruang untuk Elsa keluar dari kursinya. Mereka mulai berjalan ke tempat lain. Hati Nathan benar-benar berdebar tak karuan. Berkali-kali dia mencuri pandang ke Elsa tapi Elsa sibuk menundukkan kepala. Di dalam cafe itu semua orang memandang mereka. Banyak sekali dari mereka berkomentar bahwa mereka benar-benar pasangan serasi.

__ADS_1


Nathan memilih tempat duduk di belakang bangunan utama cafe yang di sampingnya ditumbuhi mawar dan pepohonan rendah. Dia memilih spot di situ agar tak terlalu banyak orang lalu lalang. Tempat ini lumayan romantis untuk orang-orang yang ingin kencan. Baiklah, Nathan merasa ini seperti kencan dadakan. Dia sedari tadi tak bisa menghentikan senyum dan bahagianya. Dirinya seakan meledak saking bahagianya menikmati hari Minggu ini.


__ADS_2