Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
TERTARIK?


__ADS_3

Bel istirahat yang dinanti telah berbunyi. Wajah-wajah lega lebih mendominan karena mereka mulai menutup pelajaran matematika. Mereka sudah tak sabar ingin keluar dari kelasnya. Berbeda dengan cowok yang duduk di bangku depan paling ujung. Dia masih berkutat dengan rumus-rumus matematika yang ingin segera dituntaskan. Namun, dia tak bisa melanjutkan lebih banyak lagi. Hari ini cowok itu yang tak lain Nathan sudah menyiapkan diri untuk menghadap pembina Pramuka sekolahnya. Dia mulai mengeluarkan gulungan seukuran A3 dan selembar undangan yang sudah dilipat tiga. Nathan merapikan dirinya. Dia membenarkan dasi dan ikat pinggang.


Setelah dirasa sudah rapi, Nathan menuju ruang guru untuk menghampiri Pak Doni, guru agama sekaligus pembina Pramuka. Bukan Nathan jika tak mampu mengundang perhatian. Sepanjang perjalanan mata para hawa tak hentinya menatap Nathan. Dibelakang Nathan, para hawa mulai berbisik banyak hal soal Nathan. Nathan keren banget di pelajaran matematika tadi. Nathan lebih cool dan rapi. Nathan sosok murid teladan sekaligus cowok idaman. Ada yang penasaran dengan gulungan yang dibawanya, dan lain sebagainya.


Nathan sudah tiba di ruang guru. Dia mencari Pak Doni dan mendapati di mejanya. "Selamat siang Pak Doni, saya boleh minta waktunya sebentar?"


"Ya silahkan." Pak Doni memberi tempat duduk kepada Nathan.


"Nama saya Nathan, murid X-4. Saya perwakilan dari Gudep Makoramil, ingin mengundang SMA NEGERI 1 Mojokerto untuk mengikuti Diklatgab SAKA di Gudep Makoramil. Ini undangannya dan ini brosurnya pak. Acaranya akan berlangsung hari Sabtu dan Minggu."


"Oh iya. Kegiatan positif ini. Nanti saya akan mengirim beberapa peserta Pramuka untuk mengikuti Diklat ini. Untuk sementara ini saya runding dulu ya. Terima kasih undangannya." Pak Doni menerima undangan dan brosurnya dengan antusias. Nathan izin permisi meninggalkan ruangan guru.


Di perjalanan menuju kelas, Nathan melihat kumpulan anak yang kemarin dihukum di awal MOS sedang berkumpul di kantin. Nathan tak jadi berjalan ke kelasnya. Dia berbelok menghampiri mereka, "Wah, kalian sudah main di belakang denganku rupanya."


Seketika semuanya menoleh. "Woy, Nathan. Dari tadi kita cariin. Dari mana?" sapa Joe.


"Dari Pak Doni ngasih undangan."


"Undangan apa nih?"


"Diklat Pramuka."

__ADS_1


"Undangan pramuka? Gak seru. Gak ada cewek cakep." tukas Eric


"Eh, norak nih. Undangan ini gak ada larangan cewek gak boleh gabung. Cewek yang ikut Pramuka kebanyakan gak cuma cakep tapi tangguh. Gunung aja diperjuangkan apalagi cowok gombalan macam kalian. Mikiir." canda Nathan.


"Serius banyak cewek cakepnya?" Rio mendekat.


"Idih, kamu jomblo udah akut banget. Denger cewek langsung serobot." ledek Evan.


"Kayak gak butuh cewek brooo. Kalo normal yang banyak sekalian." balas Joe.


"Jadi kalian tertarik?" tanya Nathan sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Ya pastilah. Kita kan para normaal." sahut Eric mewakili temannya. Mereka mulai menamai gengnya 'leyeh-leyeh' yang terinspirasi dari pertemuan pertama sama-sama bersandar di pohon ketika habis menyelesaikan hukuman MOS.


Grup leyeh-leyeh yang baru diresmikan itu didominasi cowok-cowok keren dan populer. Evan, Rio, dan Nathan sudah terbukti menjadi most wanted di sekolahnya. Eric dan Joe juga pebasket yang sangat diandalkan di sekolahnya. Meskipun terlihat seperti anak urakan mereka tak pernah meremehkan pendidikan sekalipun. Nathan sendiri seorang siswa berprestasi dengan beasiswa penuh, kebanyakan dari mereka diterima dari jalur prestasi. Rio yang sangat menggemari game pun selalu mengerjakan pr sekolah dan buku-buku pekerjaan rumahnya selalu jadi majalah anak-anak di pagi buta.


Bergabungnya Nathan di grup leyeh-leyeh itu membuat kantin menjadi sesak dengan cewek-cewek. Mereka banyak yang terpesona dengan anggota leyeh-leyeh itu terlebih sosok Nathan. Ada yang mencuri foto, mencuri pandang, mencuri perhatian, mencuri minuman es dan cemilan tetangga pun ada.


Ada beberapa dari mereka kepo tentang Diklat yang dijelaskan Nathan. Banyak yang mulai bertanya-tanya terutama Pak Doni punya peran apa kok sampai didatangi seorang Nathan. Sampai pada suatu kesimpulan bahwa para gadis berebut ingin menjadi perwakilan peserta Diklat saka yang diketuai Nathan dan diikuti geng leyeh-leyeh.


---

__ADS_1


Setiba di rumah Elsa mulai antusias menyiapkan perlengkapan. Padahal hari ini masih Rabu. Sebenarnya yang perlu dibawa hanya alat tulis, baju training, mi instan dan beras untuk konsumsi. Namun Elsa merasa tak cukup hanya membawa perlengkapan itu. Dia mulai dengan membuat catatan sedetail mungkin. Harus lengkap tak boleh sampai ada yang ketinggalan.


Elsa mulai semangat. Hanya karena ingin bertemu hutan dia merasa hidupnya akan berwarna. Dia mulai membayangkan tangannya bermain air sungai, beruntung jika dia bisa menangkap ikan, kemudian hidungnya menghirup dalam-dalam oksigen yang sangat bagus untuk paru-paru, beruntung juga dia memetik buah dan memakannya. Paginya dia akan menyapa dan menyentuh embun. Lalu membiarkan dirinya diterpa sinar pagi.


Mungkin dia perlu menghafal beberapa lagu untuk melengkapi suasana hatinya nanti di hutan. Dia mulai dari memilih lagu. Bukan pertama kalinya dia menyiapkan hal bodoh ini. Elsa benar-benar aneh jika berurusan dengan persiapan. Entah karena imajinasinya atau karena hampanya, lagu bisa menjadi begitu prioritas. Semoga Elsa segera sadar bahwa yang prioritas adalah memberi tahu paman dan bibi Andre.


Pikiran Elsa kadang sulit ditebak. Ketika kecil, dia pernah menghafal lagu untuk masa depannya lebih tepatnya jika sudah besar nanti dan punya kekasih. Bahkan dia juga sibuk memilih taman yang cocok untuk mengibarkan selendangnya. Dia juga mendadak pusing ketika memikirkan siapa yang akan mengisi instrumennya, siapa yang akan menabuh gendangnya, siapa yang akan meniup serulingnya. Semua itu karena dia suka melihat film Bollywood yang tak pernah absen dengan lagu-lagu india jika pemainnya saling jatuh cinta dan mulai menari bertemu kekasihnya. Anggapan Elsa semua orang dewasa nanti jika dia sudah menemukan kekasih hatinya, mereka akan menari-nari cantik dengan kekasihnya. Maka dari itu dia wajib menghafal lagu untuk menunjang kesempurnaan cerita cintanya.


Rupanya hal itu masih saja dibawa Elsa. Bahkan dirasa penting untuk kegiatan yang akan diikuti nanti. Elsa memilih lagu Letto sebelum cahaya karena nanti suasananya akan mirip lirik itu. Dia mulai menulis liriknya di buku catatan khusus persiapan Diklatgab SAKA. Padahal Elsa sangat dan sangat menyadari suaranya fales fatales.


*Kuteringat hati yang bertabur mimpi


Kemana kau pergi, cinta...


Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri


Kuatkan lah hati, cinta...


Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja


Yang menemanimu sebelum cahaya...

__ADS_1


Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra


Yang kan membelaimu cinta*....


__ADS_2