Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
SETELAH KENCAN


__ADS_3

"Ooh, jadi namanya Nathan. Ganteng juga dia." ucap bibi sembari menyetir mobil.


Mendengar kata bibi Andre, Elsa tersipu malu. Elsa sampai tak berani mengangkat kepalanya karena pipinya pasti sedang merona.


"Bibi heran kenapa Nathan bisa mengenalimu dengan dandanan super cantik ini?"


Elsa mulai mengangkat kepalanya dan berfikir sejenak. Dia juga heran bagaimana bisa Nathan dengan mudah mengenali dirinya. Padahal dia sangat yakin tak ada yang bisa mengenali dirinya dengan dandanan hari ini. Terlebih jika itu Nathan. Elsa hanya pernah bertemu Nathan dua kali, di diklat dan sekolah.


"Jangan-jangan Elsa sudah pernah kencan sebelumnya ya." ledek bibi Andre yang membuat Elsa menggeleng kepala dengan muka heran.


"Gak usah malu mengajak ke rumah. Dia sudah bibi kasih kartu nama. Besok Nathan pasti main ke rumah."


Elsa mendelik ke arah bibi. Elsa benar-benar tak bisa menghadapi Nathan jika benar itu terjadi. Dekat dengan Nathan saja dia tak tahu harus bicara apa. Bahkan dia sudah mulai pusing jika benar Nathan akan main ke rumah.


"Cukup buatkan teh dan tawari masakan Elsa jika belum makan!" saran bibi yang melihat Elsa kebingungan.


Elsa tersenyum dan menatap ke depan untuk menikmati perjalanan. Dia mulai mengingat suasana di taman cafe. Dia benar-benar menyukai kata-kata Nathan jika dirinya adalah pelangi. Meskipun dirinya masih heran kenapa Nathan berkata demikian. Apa dia sama gugupnya dengan dirinya. Seketika Elsa mengulas senyum kecil di bibirnya.


Bibi Andre yang melihat Elsa tersenyum mulai memutar lagu Ed Sheeran, Thinking out loud. "Biarkan lagu ini menemani perjalanan kita!" ucap bibi Andre kepada Elsa. Lantunan lagunya mulai menemani mereka. Elsa bersandar rileks di kursi mobil. Dia mulai menikmati lagu yang menenangkan itu sembari memikirkan jika Elsa dan Nathan seakan sama-sama sedang jatuh cinta. Mereka sama-sama menikmati perasaan ini. Lalu mereka sama-sama mengungkapkan semua pikirannya. Mungkin sembari ditemani bintang-bintang, mereka bercerita semuanya sampai terlelap.


*Darlin' I will


Be lovin' you


Till we're seventy


Baby my heart


Could still fall as hard

__ADS_1


At twenty three


I'm thinkin' bout how


People fall in love in mysterious ways


Maybe it's all part of a plan


Me I fall in love with you every single day


I just wanna tell you I am


So honey now take me into your lovin' arms


Kiss me under the light of a thousand stars


I'm thinking out loud


Maybe we found love right where we are*


~


Akhirnya setelah seharian berkutat dengan cucian dapur, Nathan baru bisa merebahkan diri petang hari. Dia belum bisa membuka buku pelajaran sekolah. Fokusnya terganggu dengan foto tadi. Dia masih sibuk dengan smartphone di tangan dan tak henti-hentinya tersenyum sendiri melihat foto dirinya dengan Elsa. "Tadi beneran Elsa kan?" tanya Nathan pada dirinya.


Nathan masih sulit mempercayai jika Elsa bisa secantik putri. Benar-benar cantik pake banget. Nathan mulai mengambil kotak kado di almarinya. Dia mengeluarkan sepatu cantik itu dan mulai memandangi sangat lama. "Kenapa kamu jadi cantik sekali sih." ucap Nathan kepada flatshoes pink nude itu. Nathan mulai membayangkan sepatu itu adalah Elsa. Dia memeluk sangat erat sepatunya sambil senyum-senyum gila.


Tersadar akan sikap gilanya, Nathan meletakkan sangat hati-hati sepatu itu di meja samping kasur. Dia mulai bersandar di tepi kasur sambil mengamati sepatu Elsa. Dia mulai membayangkan lagi sosok Elsa. Nathan benar-benar tak habis pikir dengan penampilan Elsa hari ini. Kenapa dia berpenampilan begitu cantik dan imut saat ke restoran. Padahal di sekolah dia tak pernah mengijinkan rambutnya terurai seperti tadi. Apa Elsa sudah berubah sangat cepat dalam dua minggu ini.


Nathan mengamati lagi foto Elsa yang sedang memunggungi dirinya. Dia mengamati foto Elsa yang tersenyum kecil menggigit jari. Elsa sangat manis ketika diberi gombalan. Kini Nathan tahu jika dirinya harus menyiapkan gombalan yang banyak agar bisa melihat Elsa malu-malu cantik. "Imutnyaaa." ucap Nathan gemas.

__ADS_1


Benar kata Eric, dari foto itu saja Elsa sepertinya juga menyukai Nathan. Seketika wajah Nathan berbunga-bunga tak karuan. Ada bunga mawar, melati, dahlia, soka, bougenville, bunga bangkai pun juga ada.


Matanya tak teralihkan menatap foto itu. "Elsa, maaf tadi gak bisa ngomong kamu cantik. Kamu terlalu cantik hari ini sampai tenggorokanku mendadak kering. Aku mencintaimu, Elsa." ucap Nathan sembari mengusap foto Elsa.


Nathan memejamkan mata sejenak dan meletakkan smartphone di dadanya. Dia sedang menikmati jantungnya yang berdegup kencang. Dia mulai kembali merindukan Elsa seperti hari-hari sebelumnya. "Sedang apa kamu, Elsa?" tanyanya sembari memandang langit yang mulai bermunculan bintang.


Sejenak, Nathan ingat tentang kartu nama pemberian bibi Andre. Dia bangkit dari ranjangnya dan mulai mencari kartu nama tersebut. Dia membuka laci di meja belajarnya. "Elsa, besok aku akan ke sana ya. Kamu dandan yang cantik lagi ya. Jangan lupa buatin teh manis." ucap Nathan sambil membayangkan sedang merayu Elsa.


Nathan meletakkan kembali kartu nama itu di laci. Sebenarnya dia sudah hafal kartu namanya. Dia hanya ingin memastikan bahwa ingatannya sama dengan kartu nama tadi.


Krucuk krucuk.


Perutnya mulai berbunyi sangat nyaring. Nathan melewatkan makan malam karena sibuk memikirkan Elsa. Nathan bergegas keluar kamar untuk mengambil makan malam. Hari ini dia tak ingin makan di meja makan. Dia ingin makan di kamarnya sembari ditemani sepatu cantik Elsa.


Melihat Nathan tak makan di meja samping dapur, Wulan hanya merespon dengan gelengan kepala. Dia menghampiri Nathan segera. Wulan tertawa kecil melihat kelakuan anaknya yang sedang makan di depan sepatu Elsa. "Jadi ini ceritanya lagi dinner sama sepatu nih." ucap Wulan yang sukses membuat Nathan menoleh ke arah pintu. "Mama kenapa masuk? Ganggu Nathan saja!" kesal Nathan melihat mamanya sudah di depan pintu kamar.


Wulan berusaha menutup mulutnya yang tak berhenti tertawa. "Cantik juga ya si Elsa." ucap Wulan mengejutkan.


Nathan yang masih makan menatap ke mamanya. "Mama udah tau Elsa?"


"Si cantik yang diajak Nathan ke taman belakang tadi kan?" tebak Wulan dengan tepat.


"Pantas aja Nathan kesemsem gak karuan. Dia suka sama bidadari sih." ucap Wulan yang sukses membuat Nathan tak jelas. "Habis makan, jangan lupa piringnya ditaruh di meja makan!" ucap Wulan menyudahi jahilnya.


Nathan hanya bisa tersenyum atas ulah mamanya. "Iya, mama cantik."


Wulan menutup kembali pintu kamar Nathan. Sebelum menutupnya, dia sengaja menjahili Nathan dengan mematikan lampu kamar.


"Mamaaaaa!" teriak Nathan hampir tersedak makanan karena mendadak gelap. Wulan hanya tertawa dari luar kamar.

__ADS_1


__ADS_2