
"Oke. It's so easy."
Hannah begitu semangat menyambut hukumannya. Seketika dia mengambil posisi awalan push up. "Kalo dihukum seperti ini jadi kangen Kak Roy. Duh Kak Roy tahu gak aku ikut kegiatan gila ini. Kak Roy lagi mikirin aku gak. aaaaa. kesel kesel. Duh kapan Senin." Hannah berbicara pada dirinya sendiri sambil push up.
Berbeda dengan Elsa. Elsa mulai gugup bahkan tangannya gemetaran. Elsa juga tak tahu gerakan push up itu seperti apa. Dia melihat Hannah mulai tidur dalam keadaan tengkurap. Lalu mulai mengangkat badannya dengan bantuan kedua tangan dan jika sudah terangkat Hannah berkata, "Satu."
Elsa kemudian meniru. Baginya ini hukuman baru selain menjambak rambut, menyiram saos, sengaja menjegal kakinya sampai jatuh atau hukuman bully lainnya. Elsa merasakan berat mengangkat badannya dengan kedua tangan. Namun dia berhasil menyelesaikan sampai hitungan kelima dan tubuhnya masih gemetar bahkan lebih gemetar dari tadi. Elsa ketakutan. Dia tak berani membuka matanya. Dia berdiri dan spontan berlari keluar dari kelompoknya segera.
Sedari tadi Nathan mengamati dua gadis itu. Dia tak berhasil melihat wajah mereka. Nathan ingat betul di tempat kedua gadis itu dia merasakan sesuatu, kenyamanan. Seketika, hati dan pikirannya berkata di situ ada Elsa. Dia sontak mengangkat telapak kakinya namun segera menapakkan di tempat sediakala. Dia harus belajar bertanggung jawab menjadi ketua. Dia harus mengesampingkan keingintahuannya pada sosok Elsa.
Namun melihat Elsa yang tiba-tiba lari setelah menjalani push up membuat dia tak bisa berdiam diri. Nathan mengamati dan reflek mulai mengejar Elsa dengan sigap.
"Mau kemana?" tanya Nathan menyembunyikan gugupnya. Langkah Elsa terhenti. Meski dilanda ketakutan, Elsa masih mengenal suara sosok yang memberikan kenyamanan itu. Entah keberanian dari mana Elsa memandang Nathan. Elsa mendadak kehilangan ketakutan. Nathan mendadak diam seribu bahasa. Perasaan nyaman itu datang. Suasananya begitu tenang. Kunang-kunang imajinasi mulai menghiasi malam. Mereka sama-sama tak ingin teralihkan. Kenapa dunia ini begitu indah di dekatnya? batin Nathan. Bahkan hari itu Nathan ingin melakukan banyak hal dengan Elsa. Termasuk menikmati kesejukan hutan dan sungai dengan gemericiknya seperti keinginan Elsa. Apakah dia benar-benar menginginkan Elsa.
Lagi-lagi, sesuatu yang tak diinginkan itu datang. Andi menghampiri mereka membubarkan suasana hati Nathan seketika. "Kak Nathan, tolong beri junior pengarahan untuk perjalanan malam nanti. Aku minta izin mengatur pembagian tugas senior di pos." Nathan beralih ke Andi. Dia ingin marah dan terima kasih. Suasana kunang-kunangnya terusik. Tapi dia juga ingin berterima kasih sudah menyadarkan tugasnya. Nathan hanya memberikan anggukan meskipun wajahnya berekspresi tak ingin diganggu. Dia bersyukur malam tak begitu menampakkan wajahnya.
"Jika tak ada kepentingan, kembalilah ke barisan." perintah Nathan ke Elsa dengan suara yang ingin dilembutkan tapi gagal. Elsa mengangguk dan menundukkan kepala segera. Dia mendahului Nathan dan berjalan menuju kelompoknya.
Nathan melangkahkan kakinya menuju barisan depan. Dia mengamati seksama kelompok yang sudah berbaris rapi di depannya. Ada delapan kelompok. Satu per satu dia menyusuri kelompok itu. Matanya tersorot pada dua kelompok yang perlu diubah. "Untuk kelompok urutan dua yang anggotanya perempuan semua harus ada tiga anggota berpindah ke kelompok tujuh yang anggotanya laki-laki semua. Begitu juga kelompok tujuh harus ada tiga anggota pindah ke kelompok dua. Tujuan saya pindahkan agar yang laki-laki bisa melindungi perempuan dan posisinya harus di depan dan belakang barisan. Ini untuk keamanan bersama karena beberapa dari kalian pasti ada yang baru mengikuti kegiatan semacam ini. Jadi barisan depan dan belakang harus diisi laki-laki. Segera laksanakan!" instruksi Nathan.
Dari kejauhan wajah kaum leyeh-leyeh begitu sumringah. "Nathaaan, kamu selalu terbaaaiik. Eh, ane ke kelompok dua ya." pinta Joe. "Oke, sama Rio saja. Evan sama ane di sini." Eric meminta. "Oi bro." Rio menimpali. Mereka menuju kelompok dua bersama dengan salah satu cowok dari sekolah lain. "Ingat. Tetap santuy." ucap Rio sambil merangkul Joe.
"Kamu gak usah kemana-mana. Tetap di kelompok ini. Biar mereka ke sana." Hannah berkata ke Elsa sambil menunjuk tiga cewek yang mulai berjalan ke kelompok tujuh.
Seketika semua kelompok mengubah formasi barisannya. Para cowok menempati barisan depan dan belakang. Termasuk juga di kelompok Elsa. Seketika Elsa memberi jarak jauh melihat cowok menempati baris depan. Hannah langsung bergerak menggantikan tempat barisan Elsa. "Sama kuntilanak gak takut, sama cowok hidup takut. Payah amat hidupmu." ledek Hannah. Cowok di depannya menoleh kepada Hannah. "Abaikan." kata Hannah berusaha senyum.
Rio dan Joe sudah di barisan kelompok dua. Dia sangat kegirangan di bagian belakang. "Kenalin, Rio. Jomblo mau nyari istri. Wadidaw." canda Rio mengakrabkan diri.
"Joe dari SMA Negeri 1." Joe memperkenalkan diri dengan tegas untuk menunjukkan dia cowok elegan dan tak murahan.
"Sinta dari SMK 7." menyalami Rio dan Joe sambil menunjukkan gaya tertariknya.
"Luna dari SMK 7 juga." bergantian Luna menyalami Rio dan Joe.
"Eh, kalian di sini masih jomblo gak?" tanya Rio main cap cus anti basa basi.
"Kok tanyanya gitu sih. Mau jawab tapi malu." cengingis Luna.
"Ehem. Ingat. Kita di sini lagi diklat nyari ilmu." tegur Joe sok cool yang sebenarnya punya maksud agar tidak didahului dan ingin terlihat lebih. Benar saja, kedua cewek itu langsung terpesona dengan Joe. Bagi mereka, Joe sosok yang keren.
Kenapa jadi menyebalkan nih anak? batin Rio melihat sosok Joe di depan cewek.
__ADS_1
"Itu yang depan belum kamu sapa." Kata Rio mengkode agar dua cewek lagi d barisan itu untuk Joe. Joe menatap cewek di depan yang tak lain Elsa dan Hannah. Seganteng ini masak sama si cupu dan si aneh itu? Begitulah protes Joe. Joe melotot ke arah Rio. Dua cewek di depan lebih cocok dengan Rio dari pada dirinya. Sombongnyaaaa.
Setelah semua sudah menjalankan perintah, Nathan meneruskan instruksinya. "Perhatian. Masing-masing kelompok harus ada ketua yang harus bertanggung jawab dengan anggota nya. Saya tunjuk yang berada di barisan depan adalah ketua. Jangan menolak. Ini kesempatan kalian untuk belajar bertanggung jawab." tegas Nathan. "Setelah ini Kak Niken akan membagikan petunjuk perjalanan malam kepada masing-masing ketua. Silahkan kalian pelajari bersama dengan anggota kelompok kalian. Jika menemui kesulitan jangan malu bertanya."
Niken mulai membagikan lembaran kepada ketua kelompok. Ketua berembug dengan anggota lainnya. Johan, ketua kelompok dua menyalakan senter smartphonenya untuk menyoroti lembaran tadi. "Ini semacam tantangan apa saja untuk menyelesaikan misi pos."
"Merah putih yang kau punya untuk menyembunyikan sekitarmu. Hanya satu yang tak boleh menyembunyikan dirinya dan kau harus percaya kepadanya. Dia yang paling utama. Dan saling berpegangan pundaklah tanpa keraguan." Joe membaca petunjuk pertamanya.
"Petunjuk apaan sih?" Hannah bertanya.
"Merah putih yang kupunya." kata Elsa sembari berfikir. Dia melihat dirinya dan berfikir apa yang merah putih. Lalu dia mendapati hasduk yang bewarna merah putih. Dia memegang hasduk itu dan melanjutkan petunjuknya. "Untuk menyembunyikan sekitarku." Dia berfikir lagi sejenak. Lalu memejamkan mata. Seketika dia tau apa maksudnya. "Mungkin kita harus menggunakan hasduk kita sebagai penutup mata. Mungkin itu yang dimaksud menyembunyikan sekitar kita." Jelas Elsa tak begitu yakin.
"Iya bisa jadi. Kita hanya punya ini. Merah putih." Kata Rio memegang hasduk.
"Hanya satu yang tak boleh menyembunyikan dirinya dan kau harus percaya kepadanya." Rio melanjutkan petunjuk selanjutnya. "Hanya satu orang yang tidak boleh menutup matanya dan kita harus percaya dia. Dia yang paling utama."
"Ketua." sahut Joe.
"Yap. Bingo. Dan kita harus saling berpegangan." Rio melengkapi teka-teki ini.
"Oke sip. Teka-teki pos pertama selesai."Joe menandakan dan mulai melanjutkan ke teka-teki kedua. "Carilah yang diabaikan. Dia bisa saja hancur tapi bisa jadi tidak hancur. Ketika dia tidak bisa hancur dan terbuang bukan di rumahnya maka dia kelak yang akan menghancurkanmu. Maka dia harus terbuang di rumahnya dan itu adalah tugasmu mengantarkan dia ke pos kami untuk bertemu rumahnya."
"Emang apa yang ada di pos kedua?" tanya Rio. Joe mengangkat pundak dan kedua tangannya lalu berekspresi tak tahu menahu.
"Sampah." jawab Elsa dan Rio bersamaan.
"Emang. Tong sampah buat sampah. Anak SD juga tau." kata Hannah tanpa sadar sedang memberikan jawaban teka-teki kedua.
"Jawaban teka-teki itu adalah sampah. Sampah ada yang bisa hancur sama tidak kan. Yang gak bisa ancur ini kita cari terus dibuang di tong sampah di pos kedua." tebak Rio kegirangan. "Eh, namamu siapa?"
"Hannah." jawab Hannah dengan sejuta kebingungan tentang sampah.
"Kamu keren." jelas Rio.
"Iya dong. Pastinya. Eh, keren kenapa ya? Terus kamu gak tanya nama Elsa?" tanya Hannah sambil menunjuk Elsa. Elsa memutar matanya. Kapan Hannah sadar jika dia yang memberi petunjuk untuk memecahkan teka-teki di pos dua.
"Cewek aneh gitu buat aku?! Sadisnya." bisik Joe ke Rio. "Hey. Setidaknya kita harus berteman tanpa memandang bulu ketiak." ungkap Rio sok bijak.
"Hai Elsa." sapa Rio ke Elsa. Elsa langsung mengangguk untuk menyembunyikan kepalanya. Hannah bergantian memutar matanya. Kebiasaan. Mereka kembali berunding menyelesaikan teka-teki.
---
__ADS_1
"Eh mbak-mbak. Dari sekolah mana? Kok cantik-cantik." Evan mulai memberanikan diri berkenalan.
"Kita dari SMK N 5. Ya iyalah mas. Perawatan. Gimana sih?" respon cewek yang baru saja tiba di kelompoknya.
Evan kaget mendengar responnya. "Kita dari SMA N 1 Mojokerto. Kita juga sering perawatan tapi kok gak cantik ya." Evan berbicara sambil meletakkan telunjuknya di dagu.
"Skin care nya murah kali mas." balasnya.
"Bro, kok jadi bahas skincare perawatan murah." bisik Evan ke Eric. Eric mengambil alih, "Mbak, bisa bantu nyelesaikan teka-teki ketiga dan keempat bukan? Kita udah ngerjakan teka-teki pertama dan kedua. Ini tugas kelompok kita. Jadi sekarang giliran mbak-mbak." pinta Eric dengan sangat sopan.
Mereka tercengang seketika dan mulai membaca petunjuk ketiga. "Dia hidup tapi tak mampu berpindah. Hanya tangan kamu yang bisa memindahkan di tempat yang semestinya dia hidup. Dia yang selalu memberikanmu sesuatu yang tampak sepele bagimu. Carilah dia di antara perjalananmu dan letakkan sesuai tandanya, kuning holo."
"Ih, gak tau aku. Merkuri atau pemutih mungkin." sahut salah satu cewek SMK N 5 seketika.
"Mbak, kejauhan nebaknya. Kita nanti main lintas alam mbak, gak main oplosan kosmetik." jelas Eric dengan nada lemah lembut sopan banget.
"Iya mbak cantik. Teka-teki itu jawabannya pasti yang ada hubungannya di hutan yaitu poohooon. Betul mas Eric?" Evan pun menjelaskan tak kalah manis seperti wedang gulo.
"Betul sekali, mas Evan. Kita nanti akan menanam pohon bersama-sama. Itulah maksud teka-tekinya. Mbak-mbak cantik, tangan saya bebas merkuri dan pemutih. Saya boleh kenalan gak mbak?" basa-basi Eric.
Ketiga cewek itu spontan tertawa. "Aku Ina, Ini Jessica dan Dina." kata Rina sembari mengenalkan teman-temannya kemudian mereka ketawa bersama.
"Evan cowok ganteng se Asia Tenggara hanya cewek yang beruntung yang bisa memilikinya." Evan memperkenalkan diri.
"Eric cowok tulen anak mami tidak banyak gaya." Eric pun ikut narsis dengan gaya klasik.
Mereka semua tertawa. "Sebelum perkenalan lebih lanjut, mari kita pecahkan teka-teki ke empat bersama-sama." pinta Evan dengan gaya khas tetua kumpulan duduk lutut bertemu lutut seperti pakai jarik tangan mengepal di sela kaki.
"Tataplah bintang dan bulan sembari berbaring. Dengarkan nyanyian hutan. Terlelaplah dengan angin malam dan bangunlah untuk menyambut aktifitas esok." Evan membaca petunjuknya seksama.
"Itu mah kita disuruh tidur di hutan tanpa selimut atau apapun." Joe berhasil menterjemahkan segera teka-teki keempat itu.
"Cewek juga?" tanya Jessica.
"Semuanya."
"Haaaaahhh." sahut para cewek berbarengan.
\=\=\=\=
Buat yang bingung dan penasaran sama peta perjalanan malamnya, nih Author kasih petanya.🤗
__ADS_1