Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
SENIN


__ADS_3

Hari Senin telah tiba, begitu pula Elsa juga sudah tiba di sekolah setelah melakukan gerakan sederhana untuk kesehatan jantung di kamar. Hannah, Loretta, dan Niken sigap menyambut Elsa yang baru saja masuk kelas.


"Sepatumu!" kompak mereka melihat ke arah sepatu Elsa. Mereka masih melihat sepatu Elsa yang warna hitamnya mulai kusam dengan model yang sangat culun. Itu artinya sepatu Elsa ketemu.


"Ketemu dimana?" tanya Niken antusias.


Elsa masih belum siap atas sambutan yang tak terduga dari mereka. Dia juga belum minum atau istirahat dari senam lima belas menit untuk kesehatan jantungnya. Dia mengambil nafas dan meniupnya pelan. "Di tong sampah." jawab Elsa.


"Apa!!" jawab mereka bersamaan.


Seketika Loretta tertawa kencang. "Ahahahah. Iiihh, Nathan benar-benar bikin gemas saja. Eh, terus bagaimana rasanya dibonceng Nathan? Takut?" tanya Loretta menghentikan tawanya.


Elsa mengangguk berkali-kali. Karena dia memang sempat takut ketika Nathan melaju sangat cepat saat menaiki tanjakan. Loretta kembali tertawa sangat keras. "Sudah kuduga Nathan akan mengendarai seperti itu terlebih yang diboncengnya cewek yaaa begitulah." Loretta memandang remeh Elsa lalu melanjutkan tawanya.


Niken dan Hannah sedari tadi tak berekspresi apapun mendengar pernyataan Elsa. Niken yang melihat Loretta yang tertawa kegirangan itu seketika mengerti maksud Loretta yang ingin menggantikan Elsa duduk di mobil angkutan. "Benar-benar licik. Jadi itu ya maksudnya kemarin. Kamu takut dibonceng Nathan dan kamu berusaha mengumpankan Elsa."


Hannah membelalakkan matanya. "What?!! Pantas saja kemarin kamu kayak double lampir cekikikan sendiri di mobil." Hannah memandang Loretta dengan ekspresi tak sukanya. "Elsa, kamu gak apa-apa? Kamu gak sampai jatuhkan kemarin?" Hannah berganti menatap dan memperhatikan Elsa.

__ADS_1


Sedari tadi Elsa bingung melihat Loretta tertawa keras, mendengar pernyataan aneh Niken soal umpan, dan yang terakhir kecemasan Hannah yang berlebihan kepadanya. Elsa sungguh-sungguh gagal paham apa yang dimaksud mereka. Dia memang takut dibonceng Nathan hanya karena Nathan menarik gasnya untuk bisa menaiki tanjakan dan turun mendadak di tanjakan menurun. Selebihnya Nathan mengemudi motornya pelan. Tapi kenapa mereka bereaksi berlebihan.


Elsa mulai mengingat lagi ketika dibonceng. Adakah yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Tapi yang diingat Elsa kemarin adalah dia nyaman memeluk Nathan dengan erat dan sempat tertidur dipundaknya. Elsa tiba-tiba tersenyum ketika berhasil mengingat itu dan mendadak jantungnya berdegup kencang kembali. Elsa spontan duduk dan memegangi dadanya. Hannah panik lagi dan berusaha menenangkan Elsa, "Kamu gak usah ingat-ingat lagi. Besok-besok Loretta saja yang dibonceng Kak Nathan. Kamu tarik nafas panjang dan hembuskan pelan-pelan."


Elsa hanya memandang Hannah. Dia tak begitu paham apa yang dikatakan Hannah dan yang dipikirkan Elsa jantungnya begini karena dia hampir saja mengabaikan Hannah. Elsa harus mengingat baik-baik dia akan mendengarkan Hannah demi kesehatan jantungnya. Dia menarik nafas panjang seperti yang dipinta Hannah dan menghembuskan perlahan lewat mulut. Dia mengulangi berkali-kali. Benar saja jantungnya perlahan kembali berdetak normal.


Niken juga merasa bersalah kepada Elsa atas keterlambatannya memahami maksud Loretta tapi tidak dengan Loretta yang begitu bahagia sebelum jam pelajaran di mulai. Mereka kembali duduk di bangku depan Elsa dan Hannah untuk menyambut bel masuk yang sebentar lagi berdering.


Karena kesalahpahaman yang terjadi, Hannah  mulai takut berbicara soal Nathan dan motornya. Hannah mulai mencari topik yang kebetulan tak jauh soal Kak Roy. "Aku kangen Kak Roy. Nanti ikut aku ngintip Kak Roy ya."


Bel pelajaran masuk mulai berdering. Elsa menyiapkan pelajaran kimia yang akan membahas pengenalan unsur kimia. Seketika kelas mulai hening menyambut sosok guru kimia yang menuntut harus diperhatikan.


~


Nathan datang ke sekolah dengan motor barunya. Dia dengan bangga memarkirkan motornya di parkiran sekolah dekat dengan motor kaum leyeh-leyeh. Sebenarnya ini pemandangan yang sungguh ironi jika diperhatikan covernya. Motor butut Nathan berjajar dengan moge-moge kaum leyeh-leyeh. Bahkan Rio yang masih di atas moge birunya seperti mengucapkan kalimat ejekan saat menyambut Nathan yang datang dengan motornya. "Wuih. Motor baru nih. Bisa dibuat bonceng cewek nih."


Nathan membenarkan apa yang dikatakan Rio. Dia membuktikan sendiri telah berhasil membonceng Elsa dengan motor Pak Tarno. "So pasti, bro. Baru kemarin sudah bonceng cewek." balas Nathan dengan senyuman yang begitu terlihat cetar jika di depan cewek tapi menggelikan di depan kaum leyeh-leyeh.

__ADS_1


"Serius?" tanya Evan bangkit dari mogenya. Dia sedikit tersinggung dengan kelebihan motor Nathan dibandingkan moge merahnya. Sampai detik ini dia belum membonceng cewek dengan mogenya.


Nathan hanya senyum yang sukses membuat iri anggota leyeh-leyeh. Bisa-bisanya hanya modal motor butut Nathan sudah mau melepas jomblonya.


Namun hanya bertahan sejenak saja Nathan mengulum senyum. "Jangan-jangan Loretta ya." tebak Eric yang sukses membuat raut Nathan berubah datar.


"Hemmmm, cewek secantik itu sebenarnya lebih cocok sama aku." kata Joe frustasi yang diam-diam menyukai Loretta." Nathan memandang Joe ketika mendengar kesungguhan kata Joe, "Kamu suka Loretta? Tidak perlu khawatir, bung. Kita hanya berteman saja." jelas Nathan sungguh-sungguh.


"Teman apanya? Kemarin nih aku dengar dari kelompok satu. Benar apa tidak Loretta memeluk kamu di pos empat." Rio menyela. Nathan menggeram mendengarkan perkataan Rio. Hal yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Kesalahpahaman ini yang tak diinginkan Nathan dalam diklat. Loretta memang sudah lebih berani terhadap dirinya.


"Dengar baik-baik. Aku dan Loretta tidak menjalin hubungan apapun. Kita hanya sama-sama anggota di Gudep. Dan cewek yang kumaksud tadi sama sekali bukan Loretta." jawab Nathan dengan tatapan menghunus. Matanya menerawang ke sosok Loretta. Dia harus lebih memperingatkan Loretta untuk menjaga sikapnya.


Sepagi itu, hari Senin Nathan benar-benar kacau. Dia yang tadinya sibuk memikirkan Elsa dan bahagia mendadak berubah menjadi sosok yang lebih dingin dari biasanya. Evan yang merasakan perbedaan Nathan mulai mencairkan suasana. "Joe, kamu dengar sendirikan dari Nathan. Kamu masih punya kesempatan dekati Loretta. Dan please gaes, ini masih pagi untuk terlalu bad mood. Oke gaess, bentar lagi bel masuk. Mari kita buat formasi yang keren menuju kelas masing-masing."


Nathan mulai sedikit merubah raut mukanya. Semua kaum leyeh-leyeh mulai berjalan dengan se cool mungkin. Rio bergaya menenteng tasnya ke bahu. Evan mulai mempermainkan rambutnya. Joe berjalan memimpin kaum. Eric membawa bola basket di pinggangnya. Nathan hanya berwajah datar dan matanya tajam karena sedang badmood.


Semua cewek tertuju pada kaum itu. Mereka mulai mencari perhatian, sibuk merias, menata rambut, merapikan baju, dan ada pula yang memberanikan diri menyapa. Harus diakui, mereka mirip boy band dari berbagai suku dan ras. Sayangnya hari ini mereka hanya fokus dengan pelajaran pertama di kelas masing-masing. Bahkan Rio harus bersiap-siap ulangan fisika di pelajaran pertama. Mulutnya terlihat berkali-kali menghafal rumus.

__ADS_1


__ADS_2