Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
DERMOLEN


__ADS_3

"Mau lanjut jalan-jalan?" tanya Nathan sembari mengulurkan tangannya.


Elsa mengangguk dan menerima uluran tangan Nathan. Seketika Nathan menggenggam erat tangan Elsa. Elsa berusaha menyembunyikan senyumnya tapi tetap saja Nathan melihat. Nathan memilih mengalihkan pandangan ke depan saking bahagianya bersama Elsa. Dia berjalan ke dalam pasar malam itu sembari tak melepaskan genggamannya.


Nathan berhenti sejenak di gerai aksesoris. Pandangan Nathan tertuju pada jepit korea putih yang cantik di gerai tersebut. Dengan segera dia mengambil dan membayar dengan harga yang tertulis di label. "Kau suka?"


Elsa hanya memberi senyum merekah dengan mata berbinar-binar melihat japit manis itu. Nathan mengenakan dengan hati-hati pada rambut Elsa. "Cantik." puji Nathan yang sukses membuat Elsa malu-malu kucing.


Suasana pasar malam begitu ramai, banyak sekali wahana bermain dan lampu-lampu menerangi di setiap jalanan. Tampak lalu lalang orang-orang melewati mereka. Elsa melihat pemandangan pasar malam dengan senyum tanpa henti di bibirnya. Matanya tertuju pada dermolen di depannya. Elsa berjalan menuju dermolen itu diikuti Nathan.


Nathan tiba terlebih dahulu di depan pintu salah satu dermolen dan bersiap membukakan pintu. "Silahkan naik, Tuan Putri!" ucap Nathan sembari bergaya seperti pangeran yang membukakan pintu kereta. Elsa tertawa kecil lalu menerima uluran tangan Nathan untuk membantunya naik ke dermolen.


Mereka berdua telah masuk dan dermolen mulai bergerak. Elsa benar-benar menikmati suasana ini, terlebih dengan Nathan. Meski cahaya tak begitu terang karena dermolen mulai naik, Elsa tetap terlihat menakjubkan. Nathan tak teralihkan sedikitpun pandangannya ke Elsa. Dia benar-benar jatuh cinta pada Elsa.


Elsa mulai menatap Nathan karena perasaan bahagia ini. Pandangan mereka bertemu. Seketika desiran itu datang dan jantungnya berdegup sangat kencang. Meski mereka duduk di kursi berhadapan, tapi jaraknya sangat dekat. Membuat mereka tanpa sadar saling menatap intens.


Entah dorongan dari mana, Nathan semakin mendekatkan dirinya ke Elsa dan tanpa keraguan mulai mencium bibir Elsa. Elsa pun demikian. Dia sendiri juga tak mampu menolak Nathan yang menciumnya. Dia mulai memejamkan mata dan menikmati sentuhan di bibirnya. Bak seperti lampu hijau, kini Nathan semakin berani mencium Elsa lebih. Dia ******* bibirnya berkali-kali dan memberikan beberapa gigitan lembut di sekitar bibir Elsa.


Elsa sangat menikmati ciuman pertamanya. Ragu-ragu, Elsa mulai membalas ciuman Nathan. Dia menirukan apa yang dilakukan Nathan dan mulai mengikuti instingnya. Dia menggigit bibir Nathan dengan sangat pelan. Seketika Nathan membuka matanya dan melihat Elsa yang masih memejamkan mata. Tangan Nathan mulai semakin mendorong Elsa lebih dekat ke wajahnya. Kini mereka saling membalas ciuman. Mereka sama-sama terhanyut dalam ciuman lembut itu.


Dermolen itu mulai berputar ke bawah dan Nathan melepaskan segera ciumannya karena sudah mulai menampakkan cahaya lampu dimana-mana. Tampak nafas Elsa memburu dan pelan-pelan dia mulai membuka mata. Nathan mengusap bibir Elsa dengan lembut dan menarik Elsa dalam pelukannya.


Mereka sama-sama diam dan saling mendengarkan degupan jantung mereka. Mereka menikmati perasaan dan desiran dalam diri masing-masing dan tak ingin melepaskan pelukan ini. Dermolen itu mulai naik ke atas lagi, memberikan pemandangan indah lagi dari atas.

__ADS_1


"Maafkan kelancanganku!" ucap Nathan pelan dengan nada penyesalan.


Elsa tak berani berkata apa-apa. Dia tidak marah dengan tindakan Nathan yang tiba-tiba menciumnya. Rasanya malu jika Elsa mengatakan bahwa dirinya menikmati ciuman itu. Pikirannya berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Seperti inikah ciuman? Ciuman pertama dengan Nathan**? Elsa semakin mendekatkan pelukannya ke Nathan. Nathan membalasnya dengan erat. Mereka sama-sama tak bicara kembali.


Dermolen itu mulai berhenti, Nathan keluar terlebih dahulu dan mulai menggandeng tangan Elsa dengan hati-hati. Kini kesadaran mereka kembali pulih, begitu pula Elsa. Bahkan Elsa tiba-tiba sangat malu dengan apa yang barusan dia lakukan. Tubuhnya memanas mengingat ciuman di dermolen tadi.


Membalas ciuman Nathan? Memeluk erat Nathan? Wajahku kemana tadi? Aaaaarrrghh.


Meskipun tangannya digandeng Nathan, Elsa segera memberi jarak dengannya. Berbeda dengan Nathan yang sedari tadi masih sibuk bahagia dengan apa yang baru saja terjadi.


Nathan berhenti ketika yang digandengnya sedikit menjauh. Dia melihat wajah Elsa yang begitu merah. Seketika Nathan memeriksa keningnya dan berharap Elsa tidak sedang demam.


Elsa semakin malu ketika Nathan memeriksa keningnya. Dia sampai tak mau melihat Nathan. "Ada apa Elsa? Kau sakit?" tanya Nathan khawatir.


Elsa mengangguk dan tak menatap ke arah Nathan. Dia benar-benar canggung dengan Nathan karena ciuman tadi. "Baiklah, tunggulah di sini. Aku akan mengambil motor dulu." ucap Nathan tergesa-gesa. Elsa menuruti ucapan Nathan dan duduk di bangku kosong di sampingnya. Nathan segera berlari menuju parkiran motor.


Melihat Nathan yang tiba-tiba pergi, membuat kaumnya gusar. "Kenapa Nathan tiba-tiba pergi? Apa mereka sudah selesai kencan?" decak Rio frustasi yang menatap mereka dari kejauhan.


"Nanggung nih, tinggal satu produk. Padahal kita mau nyiapin pesta kembang api." ucap Eric.


"Hey, kalian lihat Elsa di sana. Dia seperti ketakutan. Mungkin alasan itu Nathan menghentikan kencannya." prediksi Joe.


Mereka segera melihat ke Elsa. Tampak Elsa seperti orang gelisah. Bahkan Elsa memukul kepalanya sendiri. "Kenapa mendadak bertingkah seperti itu sih?" tanya Evan.

__ADS_1


"Mungkin dia kedinginan karena disiram anak kecil tadi." tebak Joe serius.


"Gak mungkin lah. Kan jaket itu bahannya tebal dan hangat."


"Tapi baju Elsa tipis tadi. Terus dia naik ke dermolen sampai atas. Jelas aja badannya kena angin. Masuk angin dia." simpul Joe.


"Emang masuk angin sampai pukul-pukul kepala? Dia juga gak keliatan meriang. Dia lebih mirip abis liat kuntilanak dari pada masuk angin." protes Rio.


"Yang jelas, Elsa tidak baik-baik saja." tegas Joe.


"Terus semua ini gimana?" tanya Eric sembari menunjukkan petasan dan produk endorse endorse.


"Lupakan! Kita hampiri mereka dan kita antar Elsa pulang!" ucap Joe hendak mulai menuju Elsa.


Seketika Evan dan Rio menghadang Joe. "Oke, kita lupakan endorse. Jangan jerumuskan kita ke amarah Nathan." pinta Evan.


"Iya Joe. Please banget. Biar itu tugas Nathan saja yang mengantar Elsa pulang." melas Rio. Seketika Joe menarik nafas dalam untuk membuang kekesalannya. Evan dan Rio kompak menarik Joe menjauh dari Elsa.


Nathan menuntun Elsa ke atas motornya. Sedari tadi Elsa merasa tidak nyaman dengan sentuhan Nathan karena canggung berlebihan. Dia mulai duduk di atas motor tanpa memegang pinggang Nathan. Dia lebih memilih memeluk dirinya dan berusaha menyembunyikan kepalanya.


Nathan mulai melajukan motornya dengan pelan. Pikirannya penuh dengan perubahan Elsa. Dia khawatir, bingung, cemas melihat Elsa.


Setiba di rumah, Elsa langsung melenggang meninggalkan Nathan. Namun tangannya berhasil diraih Nathan. "Selamat malam, Elsa."

__ADS_1


Elsa baru berani menatap Nathan kemudian dengan segera menundukkan kepala lagi. Dia meninggalkan Nathan tanpa seucap katapun. Nathan melihat Elsa dan memastikan dia benar-benar sudah di dalam rumah. Elsa mulai menutup pintu menyisakan Nathan yang kebingungan melihat perubahan dirinya.


__ADS_2