
Nathan baru sadar dia belum menghubungi mamanya. Di daerah dekat hutan sinyal sangat susah. Dia hanya mengirim pesan wa saja ke mamanya. Sebelum mengirim wa, Nathan melihat panggilan tak terjawab dari mama. Lalu membaca chat mamanya.
Nathan, kok belum menghubungi mama. Jaga diri baik-baik. Mama sayang Nathan.
Nathan membalas chat tersebut.
Maaf ma, dari tadi Nathan belum ada waktu untuk balas wa mama. Nathan sudah sampai di Pacet. Nathan baik-baik saja. Jaga diri mama juga di sana. Nathan juga sayang mama.
Setelah mengirim chat, Nathan menaruh Smartphonenya di tas pinggang. Dia melihat mobil angkutan peserta Diklat sudah sampai d depan. Natalia dan Loretta mengawal peserta cewek. Niken dan Andi mengawal peserta cowok, Devan dan Revan memilih mengamankan jalan, Rani siaga dengan kotak P3K dan perlengkapan kecil lainnya.
Setiba semua peserta berkumpul di lapangan, Devan langsung memimpin apel kecil dan menjelaskan kegiatan selanjutnya.
"Seperti yang dijelaskan Kak Nathan tadi bahwa saka adalah wadah pendidikan guna menyalurkan minat dan bakat para Pramuka dalam berbagai bidang kejuruan. Dan di Gudep Makoramil kita ada empat saka, yaitu saka Wira Kartika, saka Kencana, saka Wana Bakti, dan saka Bakti Husada. Masing-masing saka ini akan di jelaskan pada tiap-tiap pos. Jadi nanti pukul 12 malam kalian mulai jalan ke hutan sesuai arahan para senior. Untuk mencapai pos-pos saka, kalian harus melaksanakan tugas sesuai teka-teki tiap-tiap pos. Ada juga tantangan yang harus dikerjakan. Jika kalian tidak bisa mengerjakan tantangan di tiap-tiap pos, kalian tidak akan mendapatkan materi saka dan tidak bisa melanjutkan ke pos selanjutnya."
"Perlu diperhatikan. Jangan sekali-sekali melanggar aturan dalam kegiatan SAKA. Ikuti dengan baik-baik semua instruksi Kakak Senior. Untuk perjalanan malam nanti kalian hanya mengandalkan cahaya bulan. Baca baik-baik petunjuk perjalanan malam ini. Petunjuk ini akan kita bagikan setelah istirahat. Setelah ini kalian tentukan anggota kalian. Masing-masing kelompok 7-8 anggota. Dan bagi kalian yang ingin ke toilet atau keperluan lain, jam 7 sampai jam 8 bisa istirahat. Ingat. Jangan keluar Koramil Pacet."
__ADS_1
Apel kecil telah selesai. Peserta langsung ribut mencari kelompok. Elsa sudah dikondisikan Hannah akan bergabung dengan kelompok dari sekolah lain. Hannah memilih bersama dengan anggota cewek semua, cantik-cantik pula. Kelompok mereka mirip girl band yang bubar karena penampilan Elsa. "Oke fix kita udah dapat kelompok. Kamu diem kayak biasanya aja. Gak usah ngomong. Udah! Kayak biasanya pokoknya. Sekarang aku minta soff*l. Nyamuk sudah mulai ngrumpi di kepala. Jajan kamu mana? Aku gak mau makan rumput. Terus lagi kamu harus jalan di nomor urut 2, aku di nomor 3. Aku gak mau jalan di depan atau belakang. Terus kalo ada kuntilanak kamu harus nyuruh aku merem dan kamu harus ngelawan kuntilanak tanpa ampun kalo perlu kamu robek dasternya. Biar jadi bukti kalo kamu ngalahin kuntilanak. Udah gitu aja gak banyak-banyak. Intinya aku gak mau tambah kesal lagi. Enough." celatu Hannah.
Elsa tak terlalu menggubris kata-kata Hannah. Baginya banyak kata yang tidak penting diucapkan Hannah. Elsa langsung memberikan ranselnya ke Hannah. Hannah mengobrak-abrik isi ransel dan sangat menyesal hanya menemukan makanan roti,selai, serta susu kotak. Dia langsung beralih mencari soff*l untuk mengurangi kekesalan dan mengoleskan ke seluruh tubuhnya. "Selamaat."
Begitu pula cowok leyeh-leyeh yang berjumlah empat orang itu rupanya masih tidak berpisah malah menjadi satu kelompok dan kelompoknya full cowok pula. "Kalo kelompok model begini mah kita susah dapat gebetan." frustasi Rio.
"Itu cewek normal semua gak? Belajar kelompok kok mau cewek semua." Evan menunjuk ke kelompok Hannah. "Serius aku mau pulang aja gaess." Joe hendak berdiri meninggalkan kaum leyeh-leyeh itu. "Pulang? Yakin mau jalan? Dah lah, terima saja kondisi begini. Cangkruk di lapangan aja. Semoga senior ngasih kopi juga." Eric menimpali.
"Nih suasana udah gelap tapi di kumpulan cowok semua. Kan pedih." alasan Joe sambil kembali duduk.
"Tapi ane ini tampan bro, tampaan. Gak guna banget di kelompok sini." protes Joe sambil mengacak rambut yang sedari tadi disisir.
Semua mengasihani Joe. Benar-benar kerugian wajah yang lumayan tampan tapi jomblo ditambah lagi satu kawanan dengan jomblo-jomblo lainnya. Menginspirasi tidak, menyedihkan sangat. Mereka sama-sama diam dan hanya bisa mengawasi cewek-cewek di kelompok lainnya. Di sini mereka tak bisa menggoda seperti biasa ketika melihat cewek cakep yang bikin greget. Yang hanya bisa mereka lakukan adalah menerima takdir malam ini. Mereka bergabung dengan ketiga cowok dari sekolah lain. Sungguh cobaan yang berat di malam minggu.
---
__ADS_1
Sedari tadi Nathan berusaha mencari sosok Elsa begitu pula Elsa juga mencarinya. Nathan berusaha berjalan mengelilingi peserta yang sudah membentuk kelompok. Tanpa disadari Nathan melewati punggung Elsa. Seketika, Nathan kembali berdesir, rasa nyaman itu datang lagi. Bahkan sangat nyaman, sehingga Nathan tak ingin beranjak dari tempat itu. Begitu pula Elsa. Dia juga mendadak merasakan kenyamanan. Dia juga tak tahu dari mana datangnya rasa nyaman ini.
Loretta segera membubarkan keadaan itu, "Kak Nathan, waktu sudah pukul 8 malam." Dengan berat, Nathan kembali melangkah ke belakang lapangan, setelah mendengar nama Nathan disebut, Elsa langsung menoleh ke belakang. Itu Nathan. Yang tampak hanya punggungnya. Dia menyadari sesuatu. "Apakah dia yang mengirimkan rasa nyaman itu?" tanya Elsa kepada dirinya sembari mengatur nafasnya yang tiba-tiba tak beraturan. Dia memegang dadanya saat mengingat Nathan yang barusan berada di belakangnya. Hannah melihat Elsa memegang dadanya seperti orang kena asma itu seketika panik. "Elsa kamu kenapa? Kamu kesulitan bernafas? Kamu kedinginan? Kakak, tolong teman saya." panic attack nya bereaksi segera, Hannah seketika berteriak meminta bantuan yang sukses membuat senior siaga satu. Sebuah tindakan bodoh Hannah membuat Elsa menarik lengan Hannah segera. "Gak ada apa-apa. Cuma kedinginan." ketus Elsa yang mulai berani dengan Hannah.
"Eh, serius?" Hannah kembali duduk pelan-pelan sambil mengamati senior menghampirinya.
Rani dan Natalia menghampiri mereka. "Siapa yang sakit?" tanya Rani. "Elsa. Hanya kedinginan." jawab Hannah sambil malu berat. Rani dan Natalia tak bisa melenggang begitu saja mendengar penjelasan Hannah. Elsa diperhatikan seksama. Dipegang tangan dan beberapa anggota tubuhnya. Baru mereka mulai menarik kesimpulan.
"Kamu jangan main-main. Temanmu baik-baik saja. Kalian berdua ambil jatah!" amarah Natalia seketika.
"Jatah?" tanya Hannah heran.
"Iya. Push Up lima kali! Kalian berdua!" jelas Rani.
"Okee. It's so easy."
__ADS_1