Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
SOP


__ADS_3

Menjelang sore hari, Elsa sudah menyelesaikan pekerjaan rumah seperti biasa. Kini dia mulai merebus air untuk membuat sop. Padahal dia belum mencuci dan memotong sayurannya. Bahkan baru saja mengeluarkan daging ayam dari freezer. Apa mungkin dirinya akan membuat teh dulu untuk menenangkan pikiran.


Tok tok tok


Elsa mendengar pintu rumah diketuk orang. Dia melihat ke arah jam masih menunjukkan pukul 2.30 WIB. Itu tak mungkin Paman dan bibinya karena mereka memiliki kunci rumah. Secara ini rumah milik mereka. Mungkin itu tamu paman dan bibi Andre. Elsa menaruh celemeknya dan bersiap membukakan pintu.


Dia bercermin sebentar dan memperbaiki penampilannya. Sedangkan pintunya berkali-kali diketuk. Elsa melangkah ke arah pintu itu. "Sebentar." teriak Elsa parau.


Ceklek.


Mata Elsa membelalak lebar saat pintu itu terbuka.


Nathan?


"Hai." sapa Nathan membuyarkan keterkejutan Elsa. Nathan tak kalah terkejutnya melihat Elsa hari ini. Dia sangat cantik meski tak memakai riasan apapun. Rambutnya dibiarkan terurai rapi. Dia melihat Elsa mengenakan kaos navy sepanjang lutut. Seperti biasa jantungnya mulai berdegup kencang tak karuan hanya melihat Elsa.


Elsa seketika menundukkan kepala. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan? batin Elsa melihat kedatangan Nathan tiba-tiba. Sepertinya Nathan juga baru pulang sekolah. Dia masih memakai seragam lengkap dengan dasi.


Nathan mulai masuk ke rumah tanpa menunggu Elsa mempersilahkan. Dia pun juga duduk di sofa. Nathan sibuk memandang sekeliling rumah. Rumahnya benar-benar cantik dengan hiasan chic shabby dimana-mana. Dia melihat ke arah pintu. "Kenapa masih di pintu?" tanya Nathan melihat Elsa berdiam diri di pintu. Elsa seketika melangkahkan kakinya menjauh dari pintu.


"Bibi Andre kemana?" tanya Nathan yang membuat Elsa ingat saran bibi.


Cukup buatkan teh dan tawari masakan Elsa jika belum makan!


"Bibi dan paman masih kerja." ucap Elsa parau.


"Oh, begitu."


"Akan saya buatkan teh untuk Kak Nathan." ucap Elsa segera berlalu ke dapur.


Nathan duduk sambil mengamati Elsa di dapur. Kakinya tak sabar untuk menghampiri Elsa. Dia ingin melihat Elsa di dapur.


"Cepat sekali airnya mendidih." ucap Nathan yang sukses membuat Elsa hampir menumpahkan gula yang dia pegang.

__ADS_1


"Saya sudah mendidihkan dari tadi kak. Sebaiknya Kak Nathan tunggu di ruang tamu saja." pinta Elsa karena jantungnya sedari tadi berdegup kencang karena ada Nathan. Sayangnya Nathan mengabaikan permintaan Elsa.


"Sepertinya kamu mau memasak sop ya." ucap Nathan melihat bahan-bahan sop di westafel.


Elsa mengangguk sembari tangannya mengaduk teh lalu beranjak dari dapur untuk meletakkan ke meja. Setelah itu kembali ke dapur lagi.


"Kau membaca resep untuk memasak sop?" tanya Nathan mengamati resep sop di smartphone Elsa. Ada ide melintas di kepala Nathan. Dia ingin melihat nomor wa dan galeri Elsa. "Aku bantu membaca resepnya. Anggap kamu sedang ujian memasak."


Elsa melihat smartphone nya dibawa Nathan yang kini berjalan menuju kursi dekat dapur. Apa? Ujian? Sedari tadi sudah ujian di dekat Nathan.


Nathan mulai membacakan resep itu untuk Elsa. Sebenarnya dia sangat hafal membuat sop tanpa membaca resep. Dia sering belajar masak-masakan sederhana dari koki restoran. Sembari memberi resep sop ala dirinya, tangannya mulai membuka aplikasi wa.


"Pertama, cuci semua bahan sampai bersih." ucap Nathan yang sibuk menyalin nomor wa Elsa.


"Kedua, haluskan bawang putih, bawang merah, gula, dan garam."


Nathan beralih melihat daftar chat Elsa. Dia tak menemukan satupun chat di wa Elsa.


"Lima bawang merah dan 3 bawang putih."


"Besar apa kecil ukurannya?"


Nathan mengalihkan pandangannya dari smartphone Elsa. Dia melihat Elsa yang sedang menimbang-nimbang ukuran bawang. Dia sedikit tertarik dengan cara memasak Elsa. "Besar kecil sama saja. Yang penting rasanya."


Elsa melihat bawang merah dan putih di depannya banyak yang berukuran besar. Dia mengambil yang ukuran besar dan mengupasnya pelan-pelan.


Nathan kini berpindah ke galeri Elsa. Dia melihat ratusan foto Elsa dengan pose imut. Senyumnya tak henti terukir di bibirnya. Dengan sigap dia mengirim ke smartphonenya.


"Done." ucap Nathan ketika foto-foto itu sudah terkirim.


"Done?" tanya Elsa sembari menoleh ke belakang.


"Oh. Aku membaca resepnya sampai selesai. Makanya aku bilang done." bual Nathan. "Setelah aku baca semua sepertinya sop ini kurang sedap menurutku. Lebih baik kita coba resepku." tawar Nathan sembari menyerahkan smartphone Elsa. Elsa menerima smartphonenya. Nathan mulai melepaskan dasi dan kancing di kerah dan kedua lengan. Dia mulai menggulung lengannya.

__ADS_1


"Apa kau bisa memutarkan lagu? Agar suasana di sini tidak canggung." pinta Nathan. Elsa dengan segera memutar lagi di MP3 nya. Lagu The Only Exception dari Paramore mulai terdengar di ruang dapur. Elsa tampak mengikuti beberapa lirik lagu itu.


Nathan mulai mengenakan celemek untuk memasak. Dia begitu semangat di dapur karena bersama Elsa. "Tambahkan airnya. Itu masih kurang." perintah Nathan sambil mulai mengatur irisan sayurnya.


Elsa menuangkan beberapa gelas air ke panci. "Apa Kak Nathan sudah meminum tehnya?" tanya Elsa berusaha ramah.


"Ya. Terlalu manis. Sebaiknya kau menambahkan irisan lemon. Itu akan bagus untuk kesehatan tenggorokan pula." komentar Nathan sembari fokus mengiris sayuran.


"Jika airnya sudah mendidih, baru masukkan dagingnya. Dagingnya akan lebih cepat empuk dan bervolume jika dimasukkan saat air mulai mendidih."


Elsa mengambil daging ayam yang sedang ditiriskan. Dia akan memasukkan daging ayam ke air panci yang baru saja mendidih.


"Hati-hati." ucap Nathan tiba-tiba sembari memegang lengan Elsa.


Jantung Elsa mendadak berdegup sangat cepat ketika Nathan memegang lengannya. Dia menghentikan aktifitasnya dan memberanikan diri mengalihkan pandangannya ke Nathan. Elsa juga melihat Nathan yang sedang memandangnya. Mata Nathan begitu teduh. Wajahnya begitu tampak khawatir. Mereka saling berpandang lama. Rasa bahagia, sayang, dan rindu mulai memenuhi mereka. Jantung mereka sama-sama berdegup sangat kencang. Mereka sama-sama menikmati suasana ini.


But you are the only exception


you are the only exception


Lagu Paramore mengalun dengan pelan. Elsa melihat lengannya yang masih dipegang Nathan. Nathan juga mengalihkan pandangannya ke lengan Elsa. Dengan berat hati dia melepaskan genggamannya. Elsa mulai memasukkan pelan-pelan daging ayam. Kemudian Nathan mulai memasukkan bumbu dan sayurnya ke panci dan menutupnya.


"Aku tidak menemukan merica bubuknya."


Elsa membuka rak di atasnya sambil jinjit. Nathan melihat tubuh Elsa begitu cantik. Dia begitu terpesona melihat aksi Elsa yang berusaha mengambil merica.


"Ini kak." ucap Elsa sembari menyerahkan merica itu ke Nathan.


Nathan menerimanya dan menaburkan ke sayur sop. "Lima belas menit lagi akan matang."


Elsa melihat ke arah jam yang sedang menunjukkan pukul 3.30 WIB. Dia akan mengingat untuk mematikan kompor pukul 3.45 WIB.


Sedari tadi Nathan memandang Elsa yang melihat jam. Kenapa semua tampak indah bersama Elsa. Nathan sudah tak sabar lagi untuk segera mengungkapkan perasaannya ke Elsa. Oke, sekarang.

__ADS_1


__ADS_2