
Hari Minggu restoran begitu penuh. Nathan kembali berkutat dengan aktifitas di tempat kerjanya. Rio, Evan, dan Eric memilih meja makan dekat dapur. Tempat itu sebenarnya cocok untuk makan siang karyawan. Namun mereka tetap lahap menyantap menu restoran di sini. Evan lebih dahulu menyelesaikan tugas makan siangnya. Dia mulai duduk di samping westafel agar bisa ngobrol dengan Nathan. "Jadi tadi ngapain ke toko sepatu?" tanya Evan seketika.
Nathan menghentikan sejenak aktifitasnya. Dia bisa-bisanya lupa tentang sepatu Elsa. Bahkan tadi juga bertemu Elsa. Kenapa tak terpikirkan memberikan sepatunya segera. Nathan hanya memukul jidatnya. "Tak ada apa-apa."
"Lah kenapa pake mukul jidat segala." tanya Evan heran dengan aksi Nathan. "Aku baru ingat sesuatu. Tapi itu rahasiaku dengan mama." ucap Nathan sambil mengedipkan mata.
Evan geli melihat Nathan mengedipkan mata. "Dasar anak mama!"
"Jelas dong." sahut Nathan bangga.
Rio baru saja menyusul Evan menyelesaikan makan siangnya. Dia meneguk air putih sampai setengah gelas dan mulai bertanya, "Kenapa kamu gak cerita ke kita kalo udah jadian?"
"Jadian? Kita baru kencan kilat tadi." jelas Nathan sembari membersihkan wajan ukuran besar dengan raut yang menyenangkan.
"Jadi Elsa belum ditembak?!" ucap Rio mendelik kegirangan. Itu artinya dia masih punya kesempatan mendekati Elsa. "Aku bisa mendahului." ucap Rio seketika.
Nathan yang mendengar kata Rio sedikit menahan ledakan. Bisa-bisanya dia mau mendahului. Nathan mengalihkan amarahnya ke cucian pisau daging. "Oh begitu ya." Nathan mengangkat pisau dengan berlagak seperti tukang daging yang akan mencincang Rio.
"Wohohoooo. Santuy. Aku gak sungguh-sungguh." ucap Rio yang menyadari ada tanda peringatan dari Nathan.
Eric yang masih asik menikmati jus melonnya mulai mengomentari, "Tapi kalo dilihat dari foto-foto ini sepertinya Elsa juga menyukaimu." ucap Eric sembari mengamati foto di Instagram.
__ADS_1
Nathan kembali tersenyum. Sebenarnya dia berharap pekerjaannya segera selesai agar dia bisa memandang foto-foto tadi. Nyatanya sedari tadi peralatan yang kotor terus berdatangan.
Rio kembali mengambil smartphone di sakunya. Dia juga tertarik mengamati foto yang diambilnya tadi. Tampak sekali Rio berusaha tabah kalo dia harus menyaksikan pemandangan mereka lagi. Jiwa jomblonya menggelora. Dia benar-benar terluka karena kejombloan ini.
Postingan Rio yang di upload satu jam yang lalu sudah mendapat hampir seribu chat, ribuan like, dan komentar patah hati, best couple, bertanya tempat kencannya romantis sekali dan lainnya.
Namun bukan itu sisi menariknya. Rio berkali-kali mendapat pesan dari Instagram bisnis karena postingan foto Elsa dan Nathan. Well, Instagram Rio banyak yang menawari ENDORSE. Seperti mendapat undian di siang bolong. Nominalnya pun tak main-main untuk kalangan pelajar. Ada yang menyanggupi seratus ribu, tiga ribu, satu juta, lima juta bahkan ada yang sampai sepuluh juta. Kebanyakan mereka ingin endorse make up dan outfit. Rio lupa sejenak tentang foto-foto tadi. Dia sibuk membuka puluhan chat dari Instagram produk. Dia meneguk air putih lagi lalu duduk tanpa memperhatikan kursi.
"Aaaku kayaaaaa." teriak Rio yang sukses membuat kawanannya menoleh ke dirinya yang masih kurus.
"Kaya apa?" Evan mendekat khawatir Rio sedang demam tinggi.
Setelah kehabisan air, Rio meneguk jus melon Eric yang masih disruputnya. Dia menyerahkan smartphonenya ke Evan. Evan dan Eric melihat seksama smartphone Rio. Sesungguhnya Nathan juga penasaran dan ingin sekali melihat chat Rio tapi apalah daya dengan tugasnya.
Eric yang mencium-cium aroma fulus mulai menasihati Rio. "Ingat! Itu berkat perintah ane nyuruh kamu foto Nathan. Pembagian fifty fifty." ucap Eric sambil mendorong kecil pundak Rio.
Evan berganti menasihati Rio. "Ingat! Kita sempat cegah kamu ngrusak moment Nathan sama Elsa. Jadi kamu bisa leluasa foto-foto mereka. Bagi juga sama kita-kita."
Rio mengacak rambutnya dengan kedua tangan agar kelihatan semakin menjiwai stressnya. Kenapa bisa bagi-bagi sih? Gak cukup apa ditraktir Aqua satu-satu, gerutunya dalam hati.
Joe tiba-tiba datang dari belakang mulai menyahuti obrolan meski dia belum paham. "Ingat! Kamu gak sendiri." ucap Joe sambil senyum-senyum gak jelas mirip Nathan tadi sebelum pegang dandang dan kawan-kawan.
__ADS_1
Sontak membuat Rio makin ingin makan kawanannya tanpa ampun. "Oke, masalahnya Nathan dan Elsa belum jadian." jelas Rio meluapkan kekesalan.
"Apa hubungannya sama mereka belum jadian?" tanya Evan bingung.
"Eh, bambang! Bisnis endorse ini karena modelnya Nathan sama Elsa. Fotonya juga mesra pula. Kalo aku yang foto sambil bawa produk endorse yang ada gak laku. Coba kalo Nathan sama Elsa yang foto sambil bawa produk, pasti banyak pake banget yang tertarik." jelas Rio gamblang ces plong.
Nathan yang hendak istirahat sejenak langsung meninggalkan mereka. Bisa-bisanya berfikir hubungan Elsa dan dirinya akan dijadikan endorse.
Mereka mengamati Nathan yang berlalu ke suatu tempat mulai menumpahkan marahnya ke Rio. "Eh, bawang goreng. Jangan numbalin Elsa dan Nathan! Nathan tulus sama Elsa malah dibuat kesempatan." ucap Eric sambil berusaha menyikut wajahnya.
"Lah kalian tadi mikir apa minta bagi-bagi?" teriak Rio mengingatkan mereka. Seketika mereka tersadar. Endorse yang menggiurkan memang karena foto Nathan dan Elsa. Akhirnya mereka hanya sedikit tertarik ke endorse. Sedikit mereka seperti berat emas 1 ons. Itu ukuran yang sangat sedikit daripada sekarung beras.
"Baiklah. Kita harus tuuluuss membantu Nathan biar segera jadian. Urusan bisnis endorse jalan atau tidak, yang penting kita baaantuuu Nathan." ucap Evan yang berusaha tak tergoda endorse.
"Oke. Kita mulai atur strategi cara menyatukan Elsa dan Nathan." ucap Eric yang menyadari pikirannya. "Kita mulai dari customer yang ngasih harga tawaran termahal. Tapi ingat! Kita harus tuuuluuus membantu Nathan jadian sama Elsa." ucap Eric menekankan untuk tulus.
"Benar. Kita harus tuuuluuus." ucap Rio sambil menarik nafas dalam-dalam.
Joe yang belum mengerti arah endorse mulai bertanya-tanya, "Kenapa kalian seperti gak tulus?"
Rio memegang pundak Joe dan menatap dalam-dalam retina Joe. "Yang penting kamu tulus." ucap Rio mantap seperti mengucap akad.
__ADS_1
Joe menatap kaumnya dengan heran. Tanpa diminta mereka pun, sudah pasti Joe akan membantu menyatukan Elsa dan Nathan karena hatinya sedang berbunga-bunga hari ini.
Nathan kembali mengenakan celemeknya dan memulai lagi mencuci piring. Rio, Evan, dan Eric tak punya kekuatan memandang Nathan. Lagi-lagi, Joe masih kebingungan melihat kumpulannya yang hari ini seperti domba. Endorse, tulus, menyatukan. Apa-apaan semua. Joe lebih baik memesan kopi untuk mengingat kembali kebersamaan Loretta dan dirinya. Dia mulai tersenyum sendiri tak peduli dengan mereka.