Elvan

Elvan
011


__ADS_3

011


Taruhan


"Gue yang akan menang."


.....


Sudah satu minggu Aleta menjalani hukumannya bersama dengan Elvan. Kini mereka sedang sibuk mengempel koridor kelas 12. Ah bukan mereka, tepatnya hanya Aleta. Karena nyatanya Elvan malah asik menggunakan tongkat pel sebagai mikrofon dan bernyanyi.


Urip rasah spaneng, raono kowe aku ayem


Urip rasah spaneng, raono kowe aku seneng


Tresnomu wis luntur, aku tak terimo mundur


Ketimbang nggawe atiku ajur


Elvan bernyanyi dengan sedikit berteriak, berhasil membuat Aleta menutup kedua telinganya. Memang sih suara Elvan cukup bagus untuk didengar, namun tetap saja Aleta dibuat dongkol.


Laambemu sing lamis gawe atiku keiris


Ra bakal aku-


"Heh hama! Ngepel yang bener. Ini kapan selesai kalau lo sok jadi penyanyi gitu?" bentak Aleta yang tak tahan lagi melihat tingkah Elvan.


Elvan yang ditegur justru semakin berteriak. Suaranya berhasil menggema di seluruh koridor yang menjadikan suasana sepi menjadi gaduh. Aleta yang benar-benar jengkel langsung berjalan mendekat dengan pel di tangannya.


Tresnomu koyo telo, anane mung nyereti


Isone gawe loro, lorone ning njero-


"Aduh!"


Nyanyian merdu Elvan terpaksa terhenti karena Aleta baru saja memukulkan tongkat pel itu ke kepala Elvan.


"Cepet kerja biar cepet kelar! Anak buah lo kan baru pada ngerjain yang di sebelah sana. Cepetan!" marah Aleta kepada Elvan. Sedangkan Elvan sibuk mengusap kepalanya yang sedikit ngilu.


"Cewek apaan sih lo, kok kenceng amat mukulnya?"


Aleta mendegus malas. Diajak ngomong apa jawabnya apa. Elvan-Elvan.


"Cewek kok kasar begitu. Mana ada yang mau," gerutu Elvan pelan karena tak mendapat respon dari Aleta.

__ADS_1


Aleta yang mendengar gerutuan kecil Elvan langsung melotot galak. Pelnya telah jatuh, dan kini kedua tangannya ia letakan di pinggang.


"Maksud lo apa?" tanya Aleta galak. "gue nih pinter, cantik, dan lemah lembut tauk!"


"Ck. Punya kaca gak sih? Orang badan pendek, item, galak, kasar, nyolot, dan ..." Elvan memutari tubuh Aleta sambil mengetuk-ngetukan telunjuknya ke dagu. "... ush, gak ada yang menarik," lanjutnya sambil mengendikkan bahunya cuek.


Aleta langsung menaikkan alis kirinya, dia bilang dirinya pendek? Kalau dibandingkan sama Elvan si iya, orang cowok itu setinggi pohon kelapa. Terus apa tadi item? Hey! Lihat Aletanya jangan pakai kaca mata hitam dong. Aleta jelas termasuk putih menggoda gitu.


"Katarak lo mah," jawab Aleta cuek malas berdebat. Cewek itu memungut pelnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.


Elvan yang dikatai hanya mampu tersenyum sinis. Yang ada cewek tengil itu yang katarak. Kalau cewek itu bermata normal, tidak mungkin mengejeknya. Secara semua gadis tergila-gila padanya, bahkan sampai ada nama untuk para pengagumnya.


"Ngepel yang bener," kata Elvan santai melewati Aleta. Sepatu cowok itu meninggalkan jejak yang cukup kotor.


"ELVAN!" teriak Aleta marah. Elvan yang mendengar langsung berlari menuju koridor kelas 11 menghindari nenek lampir yang akan marah.


.....


"Cowok kok bikin kesel! Katanya dikagumi banyak cewek. Playboy cap badak gitu kok dikagumi, apanya coba yang dikagumi? Mantan tersebar, pacar selusin, gebetan sedunia gitu. Hih amit-amit deh jadian sama tuh cowok," gumamnya Aleta yang kini baru mengepel setengah koridor kelas 12.


Saat ia melewati ruang kelas XII IPA 1, ia sempat berhenti. Aleta melihat bayangannya sendiri pada kaca jendela.


"Dia bilang gue pendek, item, dan gak menarik? Hey, nyatanya gue enggak gitu. Iya kan?"


"Ah ... dia katarak beneran deh kayaknya. Butuh gue bawain obat atau dioperasi aja?" tanyanya pada pantulan dirinya.


Setelah puas berbicara sendiri Aleta melanjutkan kegiatan mengepel yang sempat tertunda. Dalam hati ia sebenarnya memaki Elvan yang tak kunjung kembali.


"Ck. Ngepel satu koridor aja lama!" Elvan berdiri di ujung koridor dekat tangga sambil berkacak pinggang. Di belakangnya berdiri sembilan anak curut yang memegang alat kebersihan. Lagi-lagi Aksa membolos.


"Mending gue kerja. Daripada elo? Leha-leha doang!"


"Udah abaikan dia itu guys. Cepet lanjut nanti malem kita kan tanding," kata Elvan yang langsung dipatuhi anggotanya.


Elvan duduk di atas kursi taman milik kelas 12 IPA 2. Cowok itu sibuk mengamati seluruh anggotanya dan juga Aleta. Kalau dilihat-lihat Aleta itu memang tidak terlalu pendek, cukup tinggi jika dibandingkan dengan yang lain. Kulit cewek itu memang tidak seputih susu, tetapi cukup bisa dikatakan putih. Leher jenjang dan kucir kuda milik Aleta menambah kesan lucu dan menggemaskan. Ya, sebenarnya Aleta itu cantik, memang dasat Elvan saja yang tidak mau mengakui.


Elvan menggeleng pelan. Ia tidak boleh memikirkan cewek itu. Cewek sok baik dan sok oke. Ih ... bukan tipenya, bahkan jauh!


"Ta, diliatin si bos tuh!" ucap Alam sedikit berbisik.


"Gak usah ngibul, dosa!" ketus Aleta yang masih sibuk mengempel.


"Serius, liat deh sampe ileran gitu." Kini Gavin juga ikut andil membisiki Aleta.

__ADS_1


"Minggir deh! Lo berdua kayak setan penghasut. Nanti kalau gue khilaf gimana?" marah Aleta yang malas berurusan dengan curut-curut peliharaan Elvan.


Alam langsung pergi takut Aleta menyihirnya menjadi kodok, sedangkan Gavin tetap disana. Cowok itu berniat menggoda Aleta agar cewek itu kalah dalam taruhan kemarin. Memang salah satu sifat Gavin yang paling melekat adalah, kelabilan.


"Lo gak tertarik sama Elvan? Ganteng lho," tanya Gavin yang kini ikut menggerakan pelnya seirama dengan milik Aleta.


"Gue, tertarik ma dia? Hih, mending Aksa kemana-mana!"


"Lah, lo gak tau sih Aksa kayak gimana. Manja tauk!"


Aleta yang tak terima Aksa dibilang manja terpaksa menghentikan lagi gerakan pelnya. Kalau begini kapan selesai?


"Siapa bilang? Orang Aksa tuh baik. Lebih baik daripada bos lo itu!"


"Terserah. Lanjut ngepel gih, gak kelar-kelar masa," ucap Gavin langsung meninggalkan Aleta. Dia gagal menggoda cewek itu.


"Kenapa dia?" tanya Elvan dengan alis kiri yang terangkat.


Sebenarnya Elvan malas berdekatan dengan cewek di depannya ini, tapi dia penasaran apa yang Alam dan Gavin bicarakan kepadanya, sampai-sampa wajah cewek itu memerah.


"Gak penting," jawab Aleta.


Cewek itu mengangkat embernya menuju kran. Ia membalas ember yang sudah tak berair itu. Setelah itu, ia berjalan cepat menuju gudang sekolah meletakan peralatan yang ia ambil tadi.


.......


GOR kampus Pelita ramai penuh dengan anak-anak muda dari SMA Angkasa Raya dan juga SMA Cempaka Raya. Beberapa muda mudi telah siap dengan beberapa alat penyemangat. Meski pertandingan voli kali ini diadakan malam hari, mereka tetap semangat mendukung dengan anggota seadanya.


Tim Elvan telah siap dengan seragam berwarna hitam putih. Mereka mulai pemanasan dengan saling mengoper bola voli secara bergantian. Elvan berpasangan dengan Alam, Gavin dengan Kavin, Rio dengan Bram, Aksa dengan Arkan, dan Roy dengan Reyhan.


Di sisi lain ada Hendra dan teman-temannya. Tak jauh beda apa yang mereka lakukan dengan tim Elvan. Namun Hendra sempat memandang sengit tim Elvan. Ia yang akan menang kali ini.


"Van, ini inti dulu kan?" tanya Gavin sambil menangkap dan mengoper bola kepada Gavin.


"Yap, sesuai strategi lo kan?"


"Eh iya hehe lupa gue."


Pemanasan selesai. Kini tim inti siap bermain dengan sorak sorai dari masing-masing pendukung. Elvan bersiap sebagai tosser, Gavin dan Kavin menempati posisi spiker, Rio dan Aksa sebagai libero, dan Alam sebagai server.


Sebelum permainan dimulai kedua tim saling berjabat tangan. Saat tiba giliran Elvan dan Hendra saling menjabat, Hendra mendekatkan bibirnya ke telinga Elvan.


"Ketos lo cantik. Kalau gue menang, ketos sekolah lo boleh gue deketin. Kalau gue kalah, lo yang harus deketin dia," bisikan Hendra pelan namun mampu membuat Elvan tersenyum sinis.

__ADS_1


"Gue yang akan menang," balas Elvan sengit melepas jabatan tangan mereka dengan kasar.


......


__ADS_2