Elvan

Elvan
009


__ADS_3

Antara Elvan dan Aksa


"Beneran lo suka sama Aleta?"


....


"Jadi bener lo suka Aleta?" tanya Aksa sekali lagi dengan nada lebih tegas dan juga sinis.


Sebenernya cowok itu cemburu melihat Elvan yang menarik Aleta begitu saja, apalagi Elvan mengobati luka Aleta. Hati cowok itu berdenyut nyeri, iri, sakit, marah semuanya jadi satu. Namun ia tak bisa apa-apa. Elvan pemimpinnya, jika ia mencari masalah geng mereka bisa berantakan.


Elvan berdehem kaku, cowok itu sebenarnya juga bingung bila ditanya mengenai perasaan. Pasalnya setiap ia pacaran atau dekat dengan seseorang itu hanya karena wajah atau hanya kasihan. Ia belum pernah merasa denyutan aneh seperti yang ia rasakan saat bersama Aleta.


"Gue gak suka sama cewek sok perfect kaya dia. Ketos dan sok baik gitu? Ih ... bukan level gue," jawab Elvan sesantai mungkin, walaupun nyatanya hati dan pikirannya sibuk berdebat tentang apa yang ia ucapkan.


"Yakin? Dia ... Lumayan cantik lho, body-nya juga lumayan, pinter, baik pula," ucap Aksa.


Cowok itu belum yakin jika Elvan tidak memiliki rasa apapun. Karena setahunya Elvan itu jarang peduli dengan cewek. Apalagi kalau dia tidak dekat sama sekali dengan Elvan.


"Yakin. Kok lo kayak kenal dia banget sih?"


Elvan menatap Aksa penuh selidik membuat suasana menjadi sedikit panas. Ia hanya berpikir tumben sekali Aksa peduli masalah cewek yang ia dekati.


Melihat suasana menjadi panas, Gavin mulai angkat bicara sebelum Rio si mulut cabe itu yang berbicara.


"Lo gak tau atau gimana, Sa? Beberapa hari yang lalu Elvan sama Aleta ngelakuin taruhan. Kalau sampai mereka saling jatuh cinta, atau hanya cinta sepihak akan ada konsekuensinya," ucap Gavin pelan agar Elvan tidak semakin panas karena ia tahu sebenarnya Elvan sedikit aneh.


"Kapan? Gue gak denger. Padahal gue sekelas sama tuh cewek," kata Aksa kaget, hati cowok itu langsung berdenyut sakit.


Aleta kenapa tidak menyeritakan kejadian ini? Kenapa ia tidak tahu jika ada taruhan di antara mereka? Atau jangan-jangan Elvan mempunyai rencana membuat Aleta kalah?


"Terus lo harus tau? Pacar bukan. Siapa-siapanya juga bukan," kata Rio tajam.


Yayaya mereka bersebelas sudah hampir satu setengah tahun bersahabat atau lebih tepatnya menjadi geng, namun tak ada yang tahu jika Aksa dan Aleta bersahabat sejak kecil. Bukan tanpa alasan Aksa melakukan itu. Ia tidak ingin Aleta dalam bahaya, ia tahu siapa teman-temannya. Playboy kelas kakap. Ya meskipun ada Kavin dan dirinya yang tidak pernah memiliki pacar.


"Ya kan kalian temen gue. Masa cuma gue yang gak tau masalah si bos."


"Oke, sorry bro, kalau kita gak ngasih tau," ucap Elvan sambil merangkul bahu Aksa ala cowok.


Aksa hanya mengangguk sebagai respon.


"Gue balik deh, udah sore takut mama nyariin," pamit Aksa yang lekas berdiri menyalami seluruh anggota dengan salaman khas mereka.

__ADS_1


"Anak mama lo!" kata Gavin jengkel. Belum jadi dirinya membahas strategi bersama Aksa sudah pulang duluan.


"Maaf ye, nanti kita bahas strategi lewat WhatsApp."


"Gegara lo minta bahas strategi di WhatsApp, gue jadi ketinggalan jaman tau gak!"


"Hehe mending sih cuma ketinggalan jaman, tapi cewek lo banyak. Lha gue?" Kini Alam yang berbicara. Cowok asal Maluku itu cukup manis, namun tak terlalu banyak siswi yang menggemarinya seperti yang lain. Mungkin karena cowok itu lebih sering menjadi cadangan karena memang kemampuan volinya masih kurang, dia hanya pandai bermain pedang saat turnamen senjata.


"Ribut amat. Jangan lupa ya Sa, besok minggu depan turnamen. Jam 2 siang," kata Elvan datar karena dirinya memang sedang asik membalas pesan dari beberapa pacar dan penggemarnya.


......


Aleta mendengus kesal. Cewek itu memukul kepalanya beberapa kali. Ia merasa marah karena otaknya terus saja memikirkan Elvan. Sudah berulang kali ia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan memikirkan pelajaran atau urusan OSIS. Tapi tetap saja otak cantiknya kembali membayangkan kejadian di UKS tadi, ditambah dengan mereka yang menghabiskan waktu sore untuk membersihkan lingkungan sekolah bersama.


"Beg* beg* beg*, ayolah berhenti mikirin si biang onar!" gerutunya kesal sambil memukul-mukul kepalanya.


"Lo gak boleh kalah, Ta. Inget!"


"Lo gak boleh suka sama si hama, playboy, dan cowok macam dia. Inget anak lo besok."


"Tapi kenapa cowok itu jadi baik ya?"


"Duh jantung diem dong jangan cepet-cepet!"


Suara ketukan itu berhasil membungkam Aleta dengan seluruh gerutuannya. Tanpa pikir panjang Aleta bergegas berlari menuju pintu balkon. Dia tau siapa itu dan semoga dengan kehadiran Aksa pikirannya dapat teralihkan.


Pintu balkon terbuka menampakan wajah Aksa yang penuh keringat, namun masih mampu menampilkan senyum termanisnya.


"Aksa kok keringetan gitu?" tanya Aleta heran. Biasanya cowok itu tidak berpeluh sedikitpun saat memanjat rumahnya.


"Hehe iya. Abis tadi lari dari rumah ke sini," jawab Aksa dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ngapain lari sih. Orang cuma jarak empat rumah."


"Telat tauk, biasanya kan jam segini kita udah nongkrong cantik di balkon."


"Ck. Terserah deh."


Aleta memilih melewati Aksa, cewek itu segera mengambil duduk di ujung balkon. Aksa menyusulnya cepat. Cowok itu sudah siap dengan buku sketsa yang ia bawa di dalam tas kecil di punggungnya.


"Hari ini gue pengen lukis elo, Ta. Entar kita gunain bintang buat latar belakang gimana?" tanya Aksa penuh antusias membuat Aleta mendelik tak terima.

__ADS_1


Aleta tidak suka dengan yang namanya berfoto, difoto, ataupun dia menjadi objek lukisan orang. Dia sangat malu jika melihat dirinya sendiri kecuali jika ia sedang bercermin. Bukan malu karena jelek, tapi dia memang tidak suka.


"Gak mau."


"Alah, Ta ... Ayolah, yayayaya?" bujuk Aksa sambil menaik turunkan kedua alisnya. Namun lagi-lagi Aleta mendengus kesal.


"Aksa ... gue gak mau!" kata Aleta melipat kedua tangannya di depan dada sambil memanyunkan bibirnya.


"Ih ya udah gue gak mau temenan lagi sama Aleta," kata Aksa beranjak dari posisinya pura-pura marah.


Aleta yang tak pernah bisa jika Aksa marah padanya, terpaksa ikut berdiri dan menarik tangan Aksa cepat.


"Oke-oke gue mau. Tapi inget gambar yang bagus. Awas klo gue jadi jelek."  Aleta akhirnya mengalah.


"Bagus!" kata Aksa semangat langsung mengatur posisi duduk Aleta agar seusai dengan yang ia inginkan.


.....


Elvan menggeram kesal. Dia sudah berjam-jam duduk menunggu Megan yang sedang memilih baju. Dan yang lebih membosankan adalah, ia tidak boleh merokok karena di sepanjang tiang terdapat rambu dilarang merokok di tempat itu. Sebenarnya Elvan sangat ingin menolak ajakan Megan. Tapi mau gimana lagi, ia tidak tega melihat Megan yang hampir menangis di depan umum, ia malu.


Yayaya, Elvan memang playboy dengan rayuan dan juga gombalan yang setumpuk. Ia juga kerap memutuskan pacar atau memberikan harapan palsu kepada cewek. Tapi Elvan tak pernah suka jika ia dikira jahat, jadi terpaksa ia mengalah kepada Megan.


Diliriknya jam tangan hitam yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Pukul 19.30. Dan pada pukul 21.00 Elvan harus sampai ke area balap bersama Karin. Huh, mungkin ia akan sedikit terlambat kali ini.


Elvan mengeluarkan ponselnya cepat, ada sekitar 120 pesan dari 20 nomor berbeda. Dua diantaranya adalah pesan dari Gavin dan Rio. Dan sisanya, pesan dari beberapa cewek yang sedang dekat dengannya.


Tangan besarnya mulai menuliskan satu persatu balasan. Ia mulai asik dengan kegiatannya sendiri sampai tak menyadari jika Megan telah keluar dari toko dengan membawa 5 kantong belanja. Elvan tidak tahu betapa repotnya Megan membawa kantong-kantong itu. Ia tetap asik dengan ponselnya, bahkan sampai tertawa sendiri karena membaca gombalan receh dari adik kelasnya.


"Sayang!" bentak Megan manja saat tiba di depan Elvan. Dijatuhkannya semua kantong belanjaan dan tangannya dengan cepat merampas ponsel milik Elvan.


"Ash, ganggu! Kenapa sih?" bentak Elvan kesal dengan sikap Megan.


Nyali Megan seketika menciut. Niatnya untuk memarahi Elvan terpaksa ia urungkan.


"Kita pulang yuk, Van. Gue udah selesai," cicitnya pelan sambil menundukan kepala dalam-dalam.


Elvan mendengus sebal. Segera ia rampas kembali ponselnya dan dengan cepat ia membawa kantong belanjaan milik Megan menuju mobil. Cowok itu meninggalkan Megan sendirian di belakang sana.


"Ish ... Dasar cowok bunglon, playboy asem!" maki Megan yang menyusul langkah Elvan dengan sedikit menghentak-hentakan kakinya kesal.


"Buru, atau gue tinggal!" teriak Elvan dengan suara dingin membuat Megan mempercepat jalannya bahkan ia sampai berlari.

__ADS_1


.......


__ADS_2