Elvan

Elvan
038


__ADS_3

038


Hendra


"Urusan lo, sama gue!"


......


Warung sederhana di pinggir jalanan yang cukup besar terlihat begitu penuh. Motor-motor khas milik anak muda berjejer rapi di sebelah kanan warung. Suara canda dan tawa dari mereka tak kalah bising dengan suara kendaraan yang berlalu lalang.


"Gila ya si Alam." Tawa Rio pecah menatap Alam yang sedang menggoda ibu-ibu salah satu pembeli di warung.


"Dia tu kesepian, Yo!" sahut Jeck ikut tertawa keras dan melempar kulit kacang ke wajah Rio.


"Usaha apa salahnya sih?" kesal Alam yang kini telah terduduk kembali di sebelah Kavin. Dia tadi sudah merayu-rayu ibu itu dengan sangat manis, tapi yang di dapat justru makian dan suara sinis dari ibu itu. Dasar, ibu-ibu.


"Yang salah tuh elo, usahain bini orang!"


Alam memandang Gavin semakin kesal. Salah terus perasaan.


"Gue tuh kan coba-coba, yang muda gak dapet ya mamah muda pun mau!"


"Sinting dia!"


Tawa ramai berderai menertawakan Alam yang gagal. Yang di tertawakan langsung mengambil gorengan dan memakannya rakus. Dia sangat-sangat kesal sekarang. Memang Alam kurang ganteng apa? Sampai ibu-ibu tadi menolaknya? Atau suaminya ganteng banget, kaya juga? Ah tapi kalau dibanding yang muda pasti kalah!


"Aduh, aden-aden ketawanya seru banget," sapa Buk Jum pemilik warung. Ia meletakkan beberapa gelas berisi pesanan milik The Charmer.


"Iya, buk. Si Alam kan tadi gangguin ibu yang tadi!" seru Gavin heboh membuat Buk Jum ikut tertawa.


"Aden Alam kan manis, cari yang masih muda dong!" goda Buk Jum mengundang gelak tawa teman-temannya. Lagi-lagi Alam berekspresi kesal. Kenapa aibnya disebar-sebar sih?


"Kalau ada yang mau sama saya, tapi muda, cantik, dan baik langsung deh, buk, saya nikahin!" ucapnya dengan nada kesal yang di sambut tawa renyah dari semuanya.


Di tengah keributan itu ada Elvan yang sedari tadi ikut tertawa, namun tidak bahagia. Tangannya sibuk membuka beberapa pesan yang ia dapat. Niat untuk tidak membalas sudah ada, niat untuk segera berkata putus kepada Megan dan beberapa pacar lain pun sudah ada. Tapi, bagaimana caranya? Bertemu langsung atau hanya lewat pesan saja?


"Kenapa, bos?" tanya Gavin berbisik. Matanya tak henti melirik tangan Elvan yang membuka pesan-pesan di ponselnya.


Elvan diam. Matanya kini menjelajah ke seluruh ruangan. Tidak ada Aksa. Salah satu orang kepercayaannya sudah tidak mungkin kembali bersama mereka. Dia berkhianat. Berbohong kepada Elvan. Dan Elvan tidak akan lagi menerimanya, dengan alasan apapun.


"Kangen Aksa ya, bos? Biasanya siang gini kan kumpul bareng."


Yang diajak berbicara justru menatap sinis. Meski kemarin dia sudah terlihat berbaikan dengan Aksa, tapi Elvan tidak serius. Dia tidak semudah itu menerima penghianatan. Dia masih sakit hati, apalagi Aleta beluk memaafkan dirinya.


Tangan Elvan kini bergerak lincah membalas satu-persatu pesan yang menurutnya penting. Dia mengabaikan semuanya. Entah itu tawa anggotanya, ataupun cerita panjang dari Gavin. Dia harus menyelesaikan urusannya demi Aleta. Demi kembali bersama Aleta.

__ADS_1


Drt ... Drt ... Drt ...


Suara getaran diiringi musik terdengar nyaring. Segera Elvan beranjak menjauh dari seluruh orang yang ada.


"Halo," sapanya datar dan terkesan dingin.


"Kenapa tiba-tiba minta putus, Van? Kamu bilang asal aku diam gak akan putus!"


Suara Megan terdengar parau. Elvan sudah tahu jika cewek itu pasti menangis.


"Kewajiban."


"Van, gue sayang lo!" kata Megan tegas dengan suara yang semakin serak.


Ini alasan kenapa Elvan akhirnya memutuskan lewat pesan. Karena dia tidak ingin cewek-cewek iti menangis di depannya.


"Gue juga sayang, tapi sayang Aleta."


"Van-"


"Gue gak ada waktu Megan! Udah cukup."


"Van-"


"Sorry ya, lo gue blok. Thanks."


Akhirnya dua puluh menit berlalu untuk menyelesaikan urusan hubungan. Cowok itu kembali memasuki warung yang kini semakin berantakan. Kulit-kulit kacang yang tersebar serta puntung rokok yang menumpuk.


"Gue cabut!" Hanya itu yang ingin Elvan ucapkan. Dan setelahnya dia benar-benar meninggalkan warung.


"Dia kenapa?" tanya Alam heran.


"Berjuang," jawab Gavin disertai kekehan seolah itu lucu.


......


Aleta melangkah mundur dengan tubuh semakin bergetar. Laki-laki di depannya adalah laki-laki yang sama dengan orang yang memertaruhkan dirinya.


"Jangan," cicit Aleta takut semakin mundur.


Hendra justru tertawa keras menatap Aleta, cewek incarannya yang ketakutan. Akhirnya setelah lama ia ingin melihat Aleta juga tercapai, tanpa Elvan pula. Cewek di depannya ini memang paling terbaik, bodoh sekali Elvan melepasnya.


"Kenapa? Bukannya lo udah putus dari Elvan?"


Aleta terdiam kaku. Kakinya yang tadinya terus melangkah mundur, berhenti begitu saja.

__ADS_1


"Wah bener ya?" seru Hendra mendekati Aleta.


"Gue suka banget sama lo." Senyum Hendra mengembang. Dia berusaha mendekat kepada Aleta.


"Pergi!" teriak Aleta yang masih setia memundurkan langkahnya takut-takut.


Hendra tertawa keras. Menurutnya Aleta yang ketakutan justru terlihat menggemaskan. Rasanya ingin dia bungkus dan bawa pulang.


"Habis nangis ya?" tanya Hendra lembut, bahkan begitu lembut. Benar-benar berhasil membuat Aleta semakin takut.


"Mau gue peluk? Lo udah di peluk sama siapa aja?"


Aleta tidak menjawab. Kakinya yang gemetar takut berusaha ia kuatkan. Bagiamana pun ini tempat sepi. Dia harus segera menjauh dari cowok yang ada di depannya ini.


Aleta berlari berbalik arah sekencang mungkin. Keputusannya untuk tidak membawa kendaraan adalah kesalahan besar yang ia sesali saat ini.


"Heh!" Hendra berteriak panik. Cowok itu segera menunggangi motornya mengejar Aleta. Jelas cewek itu akan tertangkap.


"Ta!" sentaknya kasar meraih tangan Aleta. Aleta hampir jatuh karenanya.


"Lepas!"


"Ikut gue, Ta. Gue gak akan jahatin elo," kata Hendra berupaya lembut agar Aleta tidak takut.


"Gue gak kenal sama lo! Lepas!"


"Makanya kita kenalan!"


"Gue gak sudi! Cowok kaya lo sama aja brengs*knya sama Elvan!"


"Gue gak pernah pacaran!"


Aleta terdiam sejenak. Dia tahu maksud Hendra berkata seperti itu. Dia ingin menunjukan bahwa Elvan jauh lebuh brengs*k daripada dirinya.


"Taruhan. Hal paling brengs*k lo!"


"Ikut gue, Ta. Nurut atau gue kasarin?"


"Lepas!"


Hendra dan Aleta terus saja beradu mulut. Wajah Aleta yang sembab terlihat takut dan kesal secara bersamaan.


"Urusan lo sama gue, Hen!"


Suara itu berhasil membuat keduanya diam dan menatap si pemilik suara terkejut. Namun Hendra juga menyeringai secara bersamaan.

__ADS_1


......


__ADS_2