Elvan

Elvan
045


__ADS_3

045


Pengusiran


"Bawa barangmu, pergi sana! Pergi dari rumah saya."


.....


Aksa dan Aleta asik bersendau gurau di ruang tv. Keduanya bercerita tentang masa lalu di mana dulu sering melakukan kejahilan yang membuat orang lain kesal. Mereka hanya berdua di sana karena mama dan papa Aksa pergi ke Singapura dua hari yang lalu dan kemungkinan kembali besok pagi.


"Gue inget lo yang suka masukin sampah ke saku orang lain loh, Sa," kata Aleta sambil memakan keripik kentang di depannya.


Aksa tertawa lepas mengingat dirinya dulu. Aksa yang pertama kali mengenal Aleta karena gagal memasukan sampah ke dalam saku cewek itu. Ia justru menggunakan sampahnya untuk bersalaman.


Dulu, saat Aleta baru pertama masuk di kelas 4 SD Bangun Baru, ia mendapat begitu banyak teman. Tak jarang anak laki-laki yang berusaha mendekatinya meski dulu usia mereka masih sekita 10 tahun. Saat di kantin, Aleta dan beberapa temannya asik duduk sambil makan dan bercerita kenapa Aleta pindah ke sana. Aksa, si anak dengan badan sedikit kurus itu melihatnya. Tangannya yang membawa permen ia amati cukup lama sampai-sampai ada sebuah ideh di kepala kecilnya. Ya, salam perkenalan dengan cara memasukan sampah ke saku seragam Aleta. Kebetulan, sekolah mereka rok anak perempuan mempunyai saku di kiri dan kanan.


Aksa kecil berjalan dengan begitu percaya diri, setelah sampai di dekan Aleta, dia berpura-pura ikut duduk di sebelah Aleta.


"Kalian pada apa?" tanyanya sok asik. Aksa kecil mulai melirik Aleta yang lama menatap dirinya.


"Kamu mau tau aja sih, Sa!" sahut seorang anak perempuan berkucir dua.


Aksa mengabaikannya, cowok itu justru tertarik saling pandang dengan Aleta.


"Kenapa lihatin aku begitu?" tanya Aksa mengernyitkan dahi bingung. Tangannya meremas bungkus permen dengan erat.


"Kita kenalan, aku belum kenal kamu," kata Aleta mengulurkan tangannya.


"Oh, Aksa." Aksa menjabat tangan Aleta cepat.


Aleta tertawa kecil melihat Aksa yang gugup serta merasakan sesuatu di antara tangan mereka. Ada bunyi sreg sreg saat dirinya menggerakkan tangan.


Aleta pun melepas jabatan tangannya, dan sebiji bungkus bekas permen terjatuh di lantai.


"Aksa, sampah kamu jatuh," kata Aleta menahan tawa. Entah apa yang lucu, tapi yang jelas dia tertawa.


Aksa terkejut dan cepat-cepat mengambil sampah di dekat kakinya. Dan mulai saat itu, kemana pun Aleta, pasti Aksa akan mengikutinya. Aksa suka tawa Aleta.


"Gue juga inget deh, Ta. Lo dulu yang nyuruh gue ambil mangga di tempat Pak Praja."


Aleta tertawa, dia membenarkan apa yang Aksa katakan.


"Gue suka mangga madu punya Pak Praja, Sa. Walaupun mentah tetep manis."


Aksa melirik sebal kepada Aleta.


"Lo suka, orang tinggal makan. Lha gue yang suruh manjat pager buat ambil mangganya. Terus kalau ketahuan lo pergi duluan, gue ditinggal," gerutu Aksa.


Aleta masih tertawa apalagi bayangan Aksa saat mengambil mangga saat mereka kelas 8 SMP.

__ADS_1


Saat itu jalan perumahan lumayan sepi. Ya, karena jam segini adalah jam-jam orang untuk tidur siang atau bekerja. Aksa dan Aleta yang baru pulang sekolah dengan berjalan kaki juga sibuk bersendau gurau.


Keduanya telah berencana akan mampir sebentar ke rumah Pak Praja karena sedang musim mangga.


"Lo manjat, gue di bawah ya!" kata Aleta yang disetujui Aksa.


Cowok itu segera melempar tasnya di dekat Aleta, lalu memanjat pagar dengan mudah. Tangannya sibuk memilih beberapa mangga dan melemparnya ke bawah.


"Aksa!" panggil suara berat, khas pria dewasa.


Aleta yang menyadarinya langsung lari, sembunyi di balik tempat sampah terdekat.


Aksa cengengesan menatap Pak Praja yang ada di bawahnya. Kepalanya baru saja menengok kepada Aleta, tapi ia tidak mendapati gadis itu di tempat.


Aksa menelan ludahnya kasar, Aleta itu sungguh menyebalkan. Kalau begini cuma dia yang kena marah!


"Turun kamu! Ngapain di sana?"


Aksa menurut. Cowok itu segera turun. Tapi memilih turun ke luar pagar. Setelah sampai dia bergegas mengambil tas dan lari secepat mungkin, mengabaikan Pak Praja yang berteriak memanggil namanya.


"Itu anak mau di kasih mangga mateng kok malah pergi."


Aleta tertawa keras. Dia mendengar gerutuan Pak Praja saat itu. Dan karena penolakan itu, Aksa dan Aleta semakin tidak berani meminta. Mereka sampai sekarang masih saja memilih mengambil mangga Pak Praja tanpa izin.


Tok.Tok.Tok.


Aleta dan Aksa saling pandang. Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?


"Siapa?" tanya Aksa sebelum akhirnya cowok itu terkejut bukan main.


Dia langsung menengok di mana Aleta sedang asik menonton tv.


"Om-"


"Mana Aleta?" potong suara berat namun dingin di depannya.


"Al-aletanya ada om, saya panggilkan." Aksa berbalik, memberitahu Aleta bahwa sang ayah datang kemari.


Cewek cukup terkejut, keripiknya ia letakan asal dan cepat-cepat berdiri. Dia ingin kembali lari, tapi tidak mungkin.


"A-yah?" sapa Aleta kikuk.


Herman menatap tajam, sorot matanya langsung menghunus tepat ke jantung Aleta.


Aksa juga setia di belakang Aleta. Cowok itu memandang Aleta dan Herman penuh cemas.


Herman meraih tangan Aleta cepat. Begitu dapat, pria itu langsung menyeret Aleta tanpa perasaan.


"Pulang! Sampai kapan kamu mau numpang di rumah orang, sedangkan rumah sendiri begitu besar?" marah Herman kepada Aleta.

__ADS_1


Aksa ingin menahan, menolong Aleta agar tidak terkena marah. Tapi, dia tahu Aleta seperti apa. Cewek itu bahkan pernah menyuruhnya untuk berjanji agar tidak ikut campur tentang ayahnya. Alasan Aleta tentu saja demi keselamatannya, karena Herman itu tangannya begitu ringan.


Brak. Pintu rumah terbuka keras. Aleta di dorong begitu saja sampai jatuh tersungkur di lantai.


Vela, yang menyaksikan itu hanya mampu diam. Dia tidak berhak atas ini karena Aleta tidak pernah mau ia sentuh barang sedikit.


"Mau jadi apa kamu heh? Mau jadi apa, tidak pulang berhari-hari?"


Aleta hanya menunduk dalam. Berusaha agar dirinya tidak menangis.


"Sudah bisa mencari uang sendiri memangnya?"


"Aku- aku begini karena ayah," jawab Aleta pelan.


Herman menggeram marah, entah dia marah karena kesal atau khawatir.


"Tidak pantas kamu menyalahkan ayah, Aleta!" bentak Herman. Pria itu maju mendekat, setiap langkahnya mampu menghantarkan Aleta ke dalam lubang ketakutan.


"Ayah tidak pernah ingin Aleta! Lalu untuk apa ayah mencari saat Aleta tidak di rumah?"


"Kamu, ayah malu punya anak seperti kamu! Ayah membiayai kamu sekolah karena ingin kamu menggantikan ayah mengurus perusahaan. Lalu kamu malah kabur? Tidak berterima kasih sudah ayah beri makan kamu berbelas-belas tahun?"


"Bunuh Aleta, yah!" kata gadis itu sadar.


Herman terkekeh sinis.


"Inginku begitu. Kamu mati biar tidak merepotkan."


"Mau mati kamu? Mau kabur lagi?" tanya Herman kemudian.


Pria itu berjongkok di depan Aleta. Tangannya menggapai dagu Aleta kasar.


"Bik! Bereskan barang bocah ini. Cepat!"


Vela yang mendengar itu terkejut bukan main. Wanita itu berusaha mendekat, ingin menyelamatkan Aleta. Tapi, Herman lebih dulu sadar dan mendelik tajam.


Pria itu lantas berdiri. Memasuki kamar Aleta menyusul sang bibik.


Cepat-cepat Vela mendekati Aleta yang menunduk. "Aleta, pergi sekarang. Jangan sampai kamu diusir ayah kamu. Pergi."


Tapi Aleta bergeming. Otaknya serasa kosong. Dia akan pasrah apapun yang terjadi.


Bugh. Satu tas besar baru saja dilempar dan terjatuh tepat di depan Aleta. Suara langkah kaki Herman yang semakin mendekat juga terdengar nyaring.


"Bawa barangmu, pergi sana! Pergi dari rumah saya."


Tanpa berkata Aleta meraih tas itu. Air matanya sudah mengalir deras sedari tadi. Dia harus ke mana?


Kakinya melangkah pelan keluar rumahnya tanpa meninggalkan kata. Dia rindu ibunya. Mungkin benar, kalau dulu dirinya yang tiada semua akan bahagia. Dia juga akan bahagia di sana tanpa harus merasakan luka. Tanpa harus merasakan kecewa. Harusnya dia yang di sana, di posisi almarhumah ibunya.

__ADS_1


......


__ADS_2