
042
Menyerah
"Berjuang itu perlu, tapi kalau dia gak mau diperjuangin, ya buat apa?"
.....
Sekolah cukup ramai saat Aleta dan Aksa tiba di sana. Banyak tatapan sinis menatap mereka yang turun dari mobil yang sama. Ya, memang sebelum ini tidak banyak yang tahu bahwa mereka itu cukup akrab bila di dalam kelas. Dan berita Aksa yang ditonjok habis oleh Elvan karena Aleta telah menyebar, jadilah banyak anak-anak Angkasa Raya yang menatap mereka sinis.
"Jangan digubris. Jalan santai." Aksa berbisik pelan kepada Aleta.
Aleta mengangguk patuh, berjalan beriringan menuju kelas mereka. Meskipun dalam hati dia merasa tidak nyaman. Terlebih banyak anak-anak yang menganggap Aksa buruk. Dia merasa bersalah. Elvan dan Aksa buruk karena dirinya.
"Ish ... ternyata dia juga bohong."
"Penghianat, euh."
"Gila, gue gak nyangka dia licik."
"Kasihan Elvan kalau gini."
"Genit banget dia. Udah punya Aksa, tapi mau juga sama Elvan."
"Udah punya Elvan, malah milih Aksa."
"Jangan di denger ya? Lo kuat," kata Aksa menyemangati Aleta. Tangannya merangkul pundak Aleta seolah memberi ketenangan.
"Hai," sapa Raina saat mereka baru saja memasuki kelas.
Aleta tersenyum tipis membalasnya.
"Sepi tauk gak ada lo sama Aksa. Gue digangguin mulu sama Doni," keluhnya pada Aleta.
Aleta tersenyum lagi, lalu melepas rangkulan Aksa dari pundaknya. Dia memilih duduk dan mengeluarkan buku-buku yang dibutuhkan.
"Soal omongan mereka, diemin aja. Mereka gak tau kan masalahnya gimana?"
Raina menepuk pundak Aleta dua kali. Seolah dirinya memberikan tenaganya untuk Aleta.
Aleta tersenyum lebat dan mengangguk senang. Kini dirinya dan Raina berpelukan.
"Thanks ya ... lo emang the best," bisik Aleta.
Aksa yang melihat itu menyenggol Doni pelan. Bukan tanpa sebab dia berlaku begitu. Itu karena Doni memandang keduanya penuh takjub.
__ADS_1
"Aleta gue ya," tekan Aksa sambil mendesis.
Doni mendengus sebal menatap Aksa. "Bukan. Raina."
.....
"Van, tadi Aleta berangkat sama Aksa." Rio duduk di sebelah Elvan yang sedang memakan gorengannya dengan santai, meskipun hatinya mendidih cemburu.
Elvan melirik sebentar kepada Rio, lalu kembali mengambil gorengan di depannya. Harus stay cool bukan? Tidak boleh kelihatan cemburu.
Kini mereka ada di warung Bu Yem. Warung belakang sekolah favoritnya anak The Charmer. Bel istirahat memang telah berbunyi, dan mereka memilih untuk nongkrong di sini daripada di kantin. Kalau di kantin susana terlalu ramai, terlebih mereka harus mengantre dan tidak dapat merokok.
"Biarin. Sebulan gue di sini cuma mau lihat Aleta bahagia," jawab Elvan tenang. Padahal dalam hatinya ingin berteriak marah. Panas sekali rasanya.
Gavin meletakkan gelas es tehnya pelan, menatap Elvan dengan pandangan heran. Dia tidak percaya Elvan menyerah begitu saja.
"Gak niat berjuang beneran bos? Lumayan loh, siapa tahu Aleta mau diajak LDR."
"Buat apa? Sama aja gue gak memiliki kalau gitu."
Alam mengangguk setuju. "LDR kalau lancar gak papa sih, cuma banyak-banyaknya juga selingkuh."
"Ntar pulang sekolah kumpul di markas pertama. Kita bahas susunan baru," kata Elvan penuh perintah.
"Bos kita udah bilang kalau-"
"Ya bos lah," jawab Gavin pelan.
Elvan mengembuskan napasnya kasar. Gemas sendiri mendengar jawaban Gavin. "Itu kalau ada gue, lah kalau gue gak ada gimana?"
Semuanya terdiam. Saling lirik dan saling pandang. Iya, kalau Elvan tidak ada siapa yang akan memimpin? Kalau misal ada turnamen siapa yang akan membagi tugas mereka?
"Gak bisa jawab kan? Udah nurut aja," ucap Elvan lagi.
Cowok itu kini sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang dia lakukan, tapi yang jelas wajahnya tampak begitu serius.
Kini semua anggota juga mulai mengendur, mereka telah asik kembali dengan kegiatan masing-masing. Entah itu makan gorengan, minum kopi atau es teh, ataupun merokok dan mengobrol santai.
"Gue udah siapin dua anggota baru. Gue gak mau Aksa masuk lagi ke The Charmer."
"Kenapa gak mau bos? Gue sebenernya bingung juga kalau partner bikin strategi gak ada gini," kata Gavin.
Elvan tersenyum. Wajahnya menatap penuh arti. "Biar dia jagain Aleta, gue gak mau Aleta ketemu cowok kaya gue lagi."
"Bos, lo tuh baik," sahut Alam mengangguk seolah setuju dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Gue emang baik, karena bisa jaga fisik Aleta. Tapi gue gak baik buat hatinya. Dan gue takut, dia ketemu sama yang lebih brengsek dari gue."
"Soal cewek nih bos, gue kemarin di telepon sama sih Megan." Elvan menatap Arkan dengan wajah penuh penasaran.
"Kenapa?"
Arkan ragu, cowok itu mulai menatap satu persatu anggota The Charmer.
"Dia bilang lo putusin dia."
"Gue juga dihubungin sama Sera, katanya diputusin si bos." Jeksa ikut menyahut.
"Gue-"
"Udah lo pada diem. Gue emang putusin semua," jelas Elvan cepat. Dia tidak tahan mendengar satu persatu dari mereka membuat laporan tentang mantan-mantannya.
"Bos, serius?" tanya Gavin heran.
Elvan mengangguk. Dia serius, tidak main-main. Dia ingin berubah menjadi lebih baik daripada yang dulu.
"Gue mau berubah. Jadi lebih baik, buat pacar gue besok. Gue mau kalau Aleta balik sama gue, dia lebih nyaman dan percaya sama gue. Ini salah gue karena bohong soal putusnya gue sama pacar-pacar gue. Gue jahat banget sama dia, udah gue taruhin masih gue bohongin."
"Dia juga bohongin lo soal Aksa kali bos," kata Rio mengingatkan.
Elvan mengangguk setuju. "Iya emang, tapi gue mulai sadar kalau itu dilakuin Aksa buat lindungin Aleta. Kita ini berandal, berengs*k, playboy, dia pasti takut Aleta kenapa-kenapa."
"Van ... Cinta tuh butuh diperjuangin," kata Kavin ikut nimbrung. Ya, meskipun tangannya masih asik dengan game di ponselnya.
"Iya loh, Van. Lagian Aleta juga cinta sama elo." Kini Boy ikut berkata seolah mendukung Kavin.
"Masih ada sebulan bos kalau mau," sahut Alam.
"Gue bantu bos," ucap Gavin.
Elvan geleng-geleng kepala menatap seluruh anak buahnya. Dia memang ingin, tapi dia tidak yakin. Jadi, lebih baik ia merelakan Aleta.
"Berjuang itu perlu, tapi kalau dia gak mau diperjuangin, ya buat apa?"
"Ibarat gue mau beli rumah, gue tawar sampe harga termahal kalau yang punya gak mau ya gak akan bisa gue beli."
Semuanya mendadak terdiam. Seluruh dukungan dan keyakinan yang mereka punya untuk membantu Elvan, lenyap sudah.
Elvan benar, kalau tidak mau diperjuangin, buat apa? Kalau dia tidak pernah menganggap yang kita lakukan untuk memerjuangkannya, untuk apa?
Berjuang itu perlu, tapi lebih perlu lagi menjaga hati kita sendiri agar tidak terluka karena terlalu memaksakan diri. Ditolak ya sudah, terima saja. Jangan memaksa, karena ujungnya justru menyakiti diri sendiri.
__ADS_1
.....