Elvan

Elvan
028


__ADS_3

028


Cemburunya Elvan


"Kenapa sih mau dipeluk-peluk sama Gavin?"


.....


Elvan menggerutu kesal sepanjang jalan. Ia sedang bersama Aleta saat ini. Eh, jangan lupakan The Charmer, karena mereka juga mengikuti Elvan dan Aleta. Mereka sedang menuju kantin sekolah.


Bibir Elvan manyun seperti anak kecil, sesekali matanya melirik tajam kearah Gavin. "Kenapa sih mau dipeluk-peluk sama Gavin?"


Aleta hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala. Berbeda dengan isi otaknya yang sedang memikirkan perkataan Gavin tadi. Elvan akan kembali turnamen dengan anak Cempaka Raya, ya dia tahu. Tapi kenapa Gavin menyampaikannya dengan cara seperti itu?


"Taaa!" rengek Elvan menggoyangkan tangan kanan Aleta.


"Hmm?"


"Jawab dong, kenapa mau dipeluk Gavin?" tanyanya lagi tak lupa melirik Gavin yang sedang tertawa tanpa suara.


"Itu kan refleks, cepet banget soalnya," jawab Aleta tenang.


Elvan mencubit pipi Aleta gemas. "Ya udah. Jangan diulang ya?"


Aleta mengangguk pelan sambil mengusap pipinya yang sedikit sakit.


"Udah, Ta, sabar aja. Si bos emang nyebelin," kata Gavin sambil terkikik geli.


Elvan langsung melotot tajam. Secepat kilat tangannya menutup telinga Aleta. "Jangan didengarin, ya," katanya berbisik.


Mereka telah sampai di kantin. Tempat favorit siswa terutama saat istirahat tiba. Hampir semua meja telah terus penuh kecuali meja pojok kanan. Mereka pun menuju meja tersebut dengan Gavin yang menjadi terdepan. Cowok itu berlari seperti anak kecil menerobos semua siswa yang ingin duduk.


"Minggir-minggir cowok ganteng mau lewat!" teriaknya menggelegar membuat semua siswa menepi karena tak mau tertabrak.


"Apa kata gue, mereka ngakuin gue ganteng," kata Gavin menatap teman-temannya penuh percaya diri.


Sedangkan yang lain hanya berdeham ataupun mengangguk mengiyakan.


Gavin sudah duduk di paling pojok, Elvan dan Aleta duduk tepat dihadapkan Gavin. Aksa, cowok itu sial sekali karena lagi-lagi duduk di sebelah Aleta. Sedangkan yang lain menyesuaikan diri.


"Mau pesan apa?" tanya Elvan lembut kepada Aleta.


"Ah, tumben baik banget lo, Van. Gue pesen bakso sama es jeruk ya." Bukan Aleta yang menjawab, tapi Gavin. Cowok itu suka sekali menggoda Elvan. Ya, meskipun kekesalannya karena tingkah Elvan kepada Aleta masih ada, namun ia tetap harus terlihat biasa saja agar Aleta tidak curiga.


Alam memukul kepala Gavin keras sampai-sampai Gavin terpentok meja.


"Sialan! Lo ngapain pukul gue?"


Alam bersikap seolah tak berdosa. Cowok itu mencomot gorengan di depannya. "Gue cuma nyadarin elu yang gak tau diri," jawabnya santai.


Gavin yang sebal langsung mengambil cabai yang ada dan memasukannya tepat di mulut Alam saat cowok itu hendak memakan gorengannya.


"Buft ... Gavin!"


"Apa?"


"Pedes!"


"Udah yang, diemin aja. Jadi kamu pesen apa?" tanya Elvan lembut mengabaikan Gavin dan Alam yang sedang berdebat.


Aleta meringis pelan saat melirik Gavin yang kini wajahnya penuh dengan kecap. "Aku pesen nasi goreng aja," jawabnya masih melirik Gavin.


"Minum?"


"Es teh."


Setelah mendengar jawaban dari Aleta, Elvan langsung beranjak dari kursi.

__ADS_1


"Lo pada mau pesen apa?" tanya Rio yang duduknya di paling ujung.


"Ayam geprek sama es teh."


"Mie ayam sama es jeruk."


"Nasi telur sama jus jeruk."


"Lo pesen apa, Sa?" tanya Rio menatap Aksa yang sedang melamun.


"Ha?" Aksa tersadar dari lamunannya.


"Gue tanya, lo pesen apa?"


"Oh ... Nasi goreng sama es teh," jawab Aksa pelan.


"Eh lo berdua!" tegur Rio melempar botol saus yang telah kosong kepada Alam dan Gavin yang masih asik berdebat.


"APA?" tanya mereka bersamaan.


"Mau pesen apa?" tanya Rio datar saat melihat wajah keduanya. Gavin yang sudah cemong dengan kecap rata di seluruh wajah. Dan Alam yang sudah cemong karena saus yang melekat di lehernya dan juga pipi.


"Bakso!" kata mereka berbarengan lagi.


"Minum?"


"Es jeruk."


"Es teh."


Sahut mereka bersamaan lagi.


"Oke, tapi lo berdua cuci dulu tuh wajah sama leher. Cemong. Jijik tau gak," kata Rio kemudian beranjak dari sana.


"Emang bener ya jijik?" tanya Alam kepada Aleta.


"Vin, ayok!" ajak Alam yang sudah berdiri dan mencengkram kerah belakang Gavin.


"Eh eh ... Iya lepas, bangs*t!" kata Gavin yang ikut berdiri dan memukul tangan Alam.


Yang lain hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.


...........


Bel pulang sekolah telah berbunyi 1 jam yang lalu. Namun, Elvan dan Aleta masih belum beranjak dari lapangan basket. Keduanya duduk berduaan memandang The Charmer tanding dengan anak kelas 12.


"Ta?"


"Hmm?"


Elvan menatap Aleta lama. Cowok itu menatap penuh cemas.


"Tadi, Gavin ngomong apa waktu lo dipeluk?" tanyanya sedikit ragu. Karena dia sebenarnya ingin bertanya saat di kantin tadi, tapi keadaan tidak mendukung.


Aleta mengalihkan pandangannya. Matanya menatap tepat di manik mata coklat susu milik Elvan. Pancaran cemas dan juga khawatir tercetak jelas di sana.


"Memang kenapa?"


Elvan menggerakkan bola matanya tak beraturan. Cowok itu sedang berpikir apa alasan yang tepat untuk ia berikan kepada Aleta. "Aku ... khawatir kamu ditembak dia," katanya kemudian.


Aleta menyatukan alisnya heran. Seketika tawanya meledak karena perkataan Elvan. Cowok itu sepertinya salah makan tadi!


"Ada-ada aja. Dia cuma kasih tau kamu mau turnamen sama anak Cempaka." Aleta masih tertawa pelan.


Elvan menghembuskan nafas lega. Saking leganya, Aleta dapat mendengar jelas.


"Kamu kenapa sih, Van? Cemas gitu." tanyanya heran.

__ADS_1


Elvan tersenyum simpul. Tangan kanannya mulai terangkat dan mengusap pucuk kepala Aleta dengan lembut. "Gak apa-apa."


"Ya udah, kita pulang ya," ajak Aleta yang malas berdebat karena keanehan Elvan.


Cowok itu mengangguk setuju. Tangannya langsung meraih tasnya dan tas Aleta. "Yuk."


"Van, sebenernya kenapa sih harus ada turnamen sama Cempaka lagi?"


Aleta bertanya dengan sedikit berteriak. Kini mereka sedang di jalan menuju rumah Aleta.


"Gak ada apa-apa, sayang. Emang mau turnamen lagi aja," jawabnya sambil menatap Aleta dari spion.


"Tapi ... kenapa Gavin sampe segitunya?" tanya Aleta lagi.


Elvan terdiam. Otaknya berputar mencari alasan yang tepat.


"Van?" panggil Aleta pelan sambil menepuk punggung Elvan.


"Eh ... Dia tuh capek turnamen, makanya dia begitu," kata Elvan sedikit ragu.


Aleta mengeryit tidak percaya. Masa sih cuma karena capek Gavin jadi seperti itu? Tapi ... ah sudah lah, Elvan tidak mungkin berbohong kan?


"Sudah sampai," ucap Elvan memberi tahu kekasihnya yang telah terdiam cukup lama.


Sayangnya, Aleta tetap terdiam.


Elvan yang gemas terpaksa menyetandarkan motornya. Dia turun dari motor dan berdiri tepat di sebelah Aleta.


"Kalau cewek lagi ngelamun lucu ya. Jelek," kata Elvan terkekeh geli. Cowok itu tidak menyadari jika ucapannya terdengar oleh Aleta. Tapi, Aleta memilih diam. Dia ingin mendengar Elvan lebih lama.


"Ah, kalau diam gini lebih manis sih. Cewek gue nih," katanya lagi. Sekarang tangan Elvan terletak di dagu dan berlagak seperti menilai.


"Bener-bener beda sama pacar gue sebelumnya. Kok bisa sih gue jatuh ke cewek ini?" katanya lagi tanpa sadar.


Aleta langsung menoleh kearah Elvan membuat cowok itu kaget bukan main.


"Eh!" kata Elvan kaget.


"Ulang sekali lagi," kata Aleta sok galak.


"A-apa yang diulang?"


"Yang kamu bilang barusan."


"Lah ... aku gak bilang apa-apa!" kilahnya cepat. Matanya melirik kesegala penjuru menandakan dia sedang berbohong.


"Whahaha," gelak tawa Aleta berhasil membuat Elvan kembali terkejut.


"Ta? Kamu ... gak apa-apa kan?" tanyanya ragu. Tangan cowok itu berusaha meraih pundak kiri Aleta.


Aleta langsung turun dari motor sebelum Elvan berhasil meraihnya. "Jelas aku gak papa, Van. Whahaha."


"Terus ... itu-" tunjuk Elvan tepat di wajah Aleta. "-kenapa ketawa?"


Elvan mengernyit bingung saat Aleta kembali tertawa.


"Haduh, capek juga ketawa," kata Aleta masih dengan tawanya.


"Aku gak kenapa-napa, Van. Cuma, kamu lucu aja. Ngomong sendiri."


"Yang bener?" tanyanya masih dengan sedikit takut.


Aleta mengangguk mantap. Dengan cepat ia melepas helmnya dan menyerahkan kepada Elvan.


"Makasih tumpangannya sayang," katanya sambil mencubit pipi Elvan gemas. Sedetik kemudian, cewek itu berlari memasuki rumah sambil tertawa.


"Maaf, Van. Abis gemes!" katanya dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


.....


__ADS_2