
015
Pendekatan 3
"Gue gak ganas. Gue jinak kalo sama lo. Percaya deh!"
....
Aleta berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya. Tidak seperti biasanya cewek itu berangkat dengan nafas memburu. Sepanjang koridor menuju kelas banyak beberapa siswa yang menatapnya kasihan. Ada juga beberapa yang menatap sinis dan ada juga memberinya senyum hangat bercampur heran.
Aleta tak memerdulikan itu semua. Cewek itu lebih memilih fokus untuk segera sampai ke kelasnya, 11 IPA 5. Bahkan kini mulutnya sudah mulai menggerutu pelan karena jalannya yang begitu lambat. Ingin rasanya ia berlari menggapai kelasnya dengan cepat. Namun ia masih tau malu dengan tidak membuat keributan pada pagi hari seperti sekarang.
"AKSA!!!" geramnya kesal saat ia tiba di depan pintu kelas sambil berkacak pinggang. Sedangkan yang dipanggil hanya menengok sebentar dengan roti isi yang masih bertengger di mulutnya.
Aleta berjalan cepat dengan wajah memerah seperti banteng. Cewek itu menggebrak meja keras membuat Aksa, Doni, dan Raina terlonjak kaget.
"Kenapa sih?" tanya Aksa yang masih dengan santai menggigit roti isinya.
"Kenapa semalem pergi? Bikin gue pusing pulang naik apa!" marah Aleta sambil menghentak-hentakan kakinya kesal.
"Lah?" Aksa menaikkan alis kirinya heran. "siapa suruh nyusul gue? Kan udah gue bilang di rumah aja," lanjutnya cuek, cowok itu sibuk menyalin jawaban milik Doni.
"Ish! Gue kan penasaran, Sa. Gue takut lo bohong. Masa pertandingan kaya begitu bisa sampe jam 11 malem!"
Aksa kembali menghentikan aktivitasnya. Cowok itu menatap Aleta dengan tatapan mengejek. "Bukannya lo udah tau ya kalau itu bener?"
"Ah? Enggak lah. Gue gak tau kalau itu bener. Gue gak tau lo pulang jam berapa," jawab Aleta spontan karena setiap ia mengingat kejadian tadi malam, cewek itu pasti akan membayangkan Elvan yang mengantarkannya pulang.
"Yakin?" tanya Aksa penuh dengan selidik.
Aleta menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban. Sedangkan Doni dan juga Raina memilih diam memerhatikan.
"Gue kira lo liat jam waktu sampai rumah. Ternyata enggak ya? Ah, pasti keasikan dibonceng Elvan," kata Aksa yang kini memilih berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. Moodnya hancur setiap ia mengingat kejadian semalam. Mulai dari taruhan Elvan, Aleta yang datang dan menuduhnya, dan yang terpenting, Aleta pulang dengan Elvan.
"Mau kemana lo, Sa?" teriak Aleta berhasil membuat Aksa menghentikan langkahnya saat Aksa selangkah lagi dapat keluar kelas.
__ADS_1
"Yang jelas jauh dari lo, Ta," lirihnya pelan tak dapat didengar, Aksa kembali melanjutkan langkah kakinya. Mungkin orang mengira ia hanya menghentikan langkah tanpa merespon.
Berpikir Aksa tak merespon, Aleta segera berlari kecil. Cewek itu tidak bermaksud membuat Aksa menjauhinya. Dia hanya ingin Aksa tidak gegabah dalam memilih keputusan.
Aleta berlari menyusul Aksa. Masa bodo dengan hari yang masih pagi. Cewek itu berusaha meraih pergelangan tangan kiri sahabatnya. Saat ia hendak meraihnya Aksa justru mempercepat langkahnya membuat Aleta hampir saja terjembab. Akhirnya cewek itu berhasil menggapainya, meski sempat gagal bahkan hampir terpeleset.
Aksa pun menghentikan langkahnya saat merasakan sentakan kecil pada pergelangan tangannya. Dengan pelan Aksa membalikkan badannya. Dilihatnya Aleta menatapnya dengan sorotan mata bersalah.
"Aksa ... maaf," lirihnya pelan sambil menunduk dalam. "gue benar-benar minta maaf Aksa, gue, gue gak maksud buat nuduh elo semalem. Gue ... Cuma gue gak suka lo berantem bahkan ngelukain orang lain. Aksa yang gue kenal enggak pernah main fisik," lanjutnya lirih masih dengan menunduk dalam.
Senyum tipis terbentuk pada sudut bibir cowok itu. Tangan kanannya mulai terangkat dan berhasil mengacak-acak pucuk rambut Aleta.
"Santai aja. Gue gak maksud buat lo sedih gini, Ta. Lo tau kenapa gue berantem bahkan bikin robek bibir Elvan karena apa?" tanyanya lembut dengan senyum merekah hatinya merasa senang karena cewek di depannya ini hanya mengkhawatirkannya semalam.
Sedangkan Aleta hanya menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Aksa. Dirinya memang tidak tahu apa alasan kedua cowok itu saling menonjok. Yang ia tahu hanya saat Aksa menarik kerah baju Elvan dengan tangan terangkat yang terkepalan erat siap memberi tinjuan dan sudut bibir Elvan yang telah robek mengeluarkan darah. Membuat otak cantiknya langsung berpikir bahwa Aksa yang salah.
"Sebenernya Elvan-"
"Aksa Aleta kenapa masih di luar kelas? Cepat masuk!" teriak Pak Toma dari ujung lorong membuat Aksa maupun Aleta melupakan kalimat Aksa yang sempat terpotong. Mereka lebih memilih lari memasuki kelasnya.
......
Kaki panjangnya melangkah begitu santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Mulutnya tak henti mengunyah permen karet, bahkan sesekali cowok itu membuat gelembung-gelembung kecil.
Sepanjang koridor ia melangkah banyak cewek berbaris dan melambaikan tangannya dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Jika saja cowok itu tidak sedang menjalankan misi, mungkin saat ini ia lebih memilih mojok dengan salah satu dari mereka.
"Aleta ada?" tanya Elvan kepada cewek yang bersandar sedikit modis dengan rambut ikal berwarna cokelat kehitaman saat kakinya telah menginjak lantai tepat di depan pintu kelas XI IPA 5.
Cewek yang ditanyainya justru tersenyum manis dan bergelayut manja pada lengan kanannya sambil berkata, "Kenapa nyari ketos itu sih? Mending sama aku aja?"
Elvan sebenarnya ingin sekali menerima tawaran cewek di sampingnya, namun ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Ia harus fokus pada Aleta sekarang.
Akhirnya, dengan terpaksa Elvan menyingkirkan tangan cewek itu. Tepat saat ia terlepas dari si cewek, Aleta muncul dari dalam kelasnya bersama temannya yang berpenampilan tidak jauh beda dari Aleta.
"Eh Aleta. Ke kantin bareng yuk!" ajaknya sambil merapikan seragamnya meskipun tetap terlihat berantakan. Kesan berandalan dan urakan jelas terlihat pada dirinya.
__ADS_1
Aleta mengernyit bingung saat Elvan bersikap berbeda. Aleta tidak begitu yakin jika di depannya ini adalah Elvan, ketua ekstra voli dan juga ketua geng The Charmer. Cowok itu kan sangat tidak menghargai Aleta sebagai ketua OSIS. Dia cowok yang paling suka menejelek-jelekan Aleta.
"Lo ... Ngajak gue?" tanya Aleta ragu sambil menunjuk dirinya sendiri.
Elvan mengangguk mantap. Cowok itu secepat kilat meraih tangan Aleta dan menggandengnya menuju kantin. Sedangkan Aleta hanya mampu melotot tak percaya. Kaget dengan perlakuan Elvan kepadanya.
"Lepas ih. Gue gak mau ya digandeng sama cowok playboy! Nanti pacar lo yang sejuta itu ngerubutin gue!" teriak Aleta sambil meronta minta dilepas. Sayangnya Elvan tetap diam dan masih setia menggengam tangan Aleta.
"Santai. Cewek gue udah gue putusin. Semua malah," kata Elvan menoleh ke belakang sambil tersenyum manis.
"Bohong! Lo pasti jebak gue biar cewek dan fans lo itu nyerang gue!"
Elvan mendadak berhenti, membuat Aleta menabrak bahu kanan milik cowok itu. Elvan tersenyum manis menatap Aleta yang sibuk mengusap keningnya. Tidak tinggal diam, Elvan juga ikut mengusap kening Aleta. Tangan kanan cowok melepas genggamannya pada tangan Aleta dan memindahkannya kepundak kiri milik cewek itu.
Dengan tiupan lembut, Elvan mampu membuat Aleta mematung menatap wajah tegas nan tampan milik cowok itu. Sedangkan Elvan hanya tersenyum manis saat merasa dirinya sedang diperhatikan. Kini kedua tangannya berada pada bahu milik Aleta.
"Gue serius. Kan gue udah ngelakuin sesuai taruhan kita. Gue suka sama lo. Gue tertarik. Jadi gue putusin semua pacar gue dan jajarannya," ucap Elvan dengan senyuman lembut meyakinkan.
Aleta terperangah. Detak jantungnya seketika meningkat. Bahkan kini mulutnya tak bisa terkatup rapat. Dirinya benar-benar tidak percaya jika Elvan memutuskan seluruh pacarnya, bahkan gebetannya demi Aleta. Sesuai taruhan itu? Yang benar?
"Gue serius. Gak usah melongo gitu. Nanti kemasukan lalat," kata Elvan sambil mengatupkan mulut Aleta yang telah terbuka.
Aleta seketika tersadar. Cewek itu cepat-cepat melepas diri dari kukungan tangan Elvan. Aleta mundur dua langkah, menjauh dari jangkauan Elvan.
"Gue gak percaya! Gue yakin lo pasti ada apa-apanya kan!" sahut Aleta sambil menunjuk Elvan dan menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Elvan hanya terkekeh sinis. Ternyata menaklukkan cewek di depannya ini cukup sulit. Bahkan mengucapkan hal termanis yang ada di dunia tetap tidak mempan.
Elvan melangkahkan kaki mendekati Aleta. Semakin cowok itu melangkah ke depan, semakin jauh pula Aleta melangkah ke belakang.
"Lo takut sama gue? Gue ganteng lho ... gak akan gigit?" tanya Elvan menaikkan alis kirinya sambil terus melangkah.
"Jelas! L-lo kan buaya! Kadal! Eh playboy!" jawab Aleta semakin mundur.
"Gue gak ganas. Gue jinak kalo sama lo. Percaya deh!" yakin Elvan yang kini telah berhasil merenggut tubuh ramping milik Aleta. Memeluk cewek itu dan mendekatkan mulutnya ke telinga milik Aleta.
__ADS_1
"Gue yakin. Sebentar lagi lo juga bakalan suka sama gue."
.......