
026
Taruhan Hendra
"Gue bakalan buktiin gue yang memang!"
......
Dua minggu sudah Aleta dan Elvan berpacaran. Sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja. Aleta merasa semakin hati semakin jatuh kepada Elvan, begituan sebaliknya. Namun, Elvan merasa tidak tenang karena selalu teringat ucapan Gavin dan juga merasa bersalah.
Hubungan keduanya belum diketahui orang tua masing-masing. Aleta yang tidak berani memberitahukan ayahnya dan juga Elvan yang malas bertemu ibunya.
"Halo?"
Elvan mengangkat telepon dari seseorang dengan nomor tidak dikenal. Awalnya, Elvan tidak menanggapi, tapi lama-lama si penelpon itu membuatnya geram.
"Haha halo. Denger-denger lo jadian sama pujaan gue?"
Sahutan dari seberang sana membuat Elvan mengangkat alis kirinya. Siapa yang menelponnya, dan apa tadi? Jadian dengan pujaan hatinya? Aleta dong!
"Siapa lo?" tanya Elvan dengan bibir mendesis sinis. Dia benar-benar merasa marah saat ada yang menyebut Aleta sebagai pujaan hati mereka.
"Wesst, santai bro. Gitu ae ngegas."
"Gue Hendra. Masih inget kan yang gue dan lo ucapin waktu turnamen kemarin?"
Elvan memutar bola matanya malas. Mau apa lagi dia?
"Hmm ... Terus?"
"Cuek amat, hahaha. Jadi gini, gue mau kita turnamen lagi," kata Hendra yang mendapat sorakan dari teman-temannya.
"Turnamen lagi? Ntar kalah lagi," ejek Elvan berhasil membuat Hendra menggeram marah.
"Gue bakalan buktiin gue yang memang!"
Elvan tertawa mengejek. Cowok itu melirik teman-temannya yang sedari tadi bertanya kenapa.
"Gue terima. Kalau gue menang, jangan hubungi gue lagi apalagi lo sentuh Aleta, awas aja!" ucap Elvan yang langsung membuat Gavin dan Aksa melotot tajam. Lagi-lagi Elvan menyangkut pautkan Aleta.
"Waaaa, gue sih gak masalah. Tapi kalau lo kalah lo harus putusin Aleta. Biar Aleta buat gue, hahaha."
Elvan mengepalkan tangan kirinya dengan kuat, sampai-sampai urat tangannya tercetak jelas bahkan buku jarinya memutih.
"Lo! Bangs*t!" maki Elvan lalu menutup teleponnya dengan cepat.
"Kenapa bos?" tanya Alam yang diangguki Rio dan Kavin.
"Turnamen sama anak Cempaka lagi," jawab Elvan sambil menjambak rambutnya frustrasi.
"Terus kenapa lo sebut nama Aleta?" tanya Gavin datar. Cowok itu mulai tidak suka dengan cara Elvan.
"Gue minta dia jauhin Aleta," jawab Elvan dengan nada lemah.
"Terus kenapa lo maki dia?" tanya Aksa yang ikut penasaran. Dalam hati dia sudah memaki Elvan yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
"Kalau kita kalah, gue harus putusin Aleta dan biarin dia deketin Aleta."
Jawaban yang diberikan Elvan berhasil membuat semua yang di sana tidak bergerak. Aksa, cowok itu telah dikuasai emosi. Rahangnya mengertat, bibir mengeram marah dengan mata mulai memerah.
"Setan lo, Van!" kesal Gavin yang lebih dulu berdiri dan memakai Elvan. Padahal Aksa sudah bersiap ingin mengajar Elvan.
"Kok lo gitu ke gue?" tanya Elvan tak terima. Kedua cowok itu berdiri berhadapan dan terhalang meja.
"Lo," tunjuk Gavin dengan mata memerah. "keterlaluan! Lo jadiin cewek cuma sebagai mainan."
Rio, Alam, Kavin, dan yang lainnya mulai berdiri di samping Gavin dan Elvan. Mereka bersiap ingin memisahkan keduanya.
"Sabar, Vin. Kita semua ngerti kalau bos gak maksud gitu," kata Alam menenangkan, namun Gavin justru menangkis tangan Alam di bahunya.
"Lo belain dia? Lo tanya ke Aksa, apa pantes cewek sebaik itu dipermainkan?" teriak Gavin yang berhasil membuat Aksa tersentak. Bagaimana jika semua yang di sana tahu kebenarannya?
"Gue ngerti, makanya ayo kita bersatu lagi. Kompakin lagi biar bisa menang turnamen besok," kata Rio yang berdiri di sebelah Elvan. Cowok itu masih sempat merokok.
"Rio bener, Van, Vin, kalian gak boleh gini. Lo Van, harus usaha supaya pertahanan tim tetep stabil. Dan lo Vin, buat strategi sama Aksa yang paling bagus supaya kita menang." Kavin mulai berbicara. Dia sendiri sebenarnya gemas melihat Elvan dan kebiasaannya.
"Oke. Gue terima. Awas aja kalau kita kalah, Van. Gue yang bakalan kasih tau Aleta duluan!" ancaman Gavin sebelum dia memilih keluar dari warung. Aksa yang merasa tak enak jika di dalam sana juga memilih keluar.
......
"Lo harusnya gak seemosi itu, Vin," kata Aksa yang berhasil menyamai langkahnya dengan Gavin.
__ADS_1
Gavin mengusap wajahnya kasar. "Gue cuma gak mau lo yang kelepaskan lagi. Lo bisa buat mereka curiga."
Aksa menatap Gavin tak percaya. Ternyata Gavin melindunginya? Bagaimana bisa dia tahu jika Aksa sudah ingin meledak tadi?
"Ck. Gue kenal lo, Sa. Kita tiap ada tugas barengan. Lo lupa?" ucap Gavin seperti tau apa yang dipikirkan Aksa.
"Gue ngerti. Oh iya, sekarang jam berapa?" tanya Aksa kepada Gavin.
Gavin melihat pergelangan tangannya. "Hampir jam delapan malam. Lo mau pulang atau ke rumah Leta?"
"Gue pulang aja. Takut emosi gue lepas dan gak sengaja omongin yang sebenarnya."
"Oke," jawab Gavin pendek.
Aksa menepuk bahu Gavin pelan. "Thanks," ucapnya lalu berjalan menuju motornya.
Gavin memilih duduk saat Aksa telah benar-benar pergi. Cowok itu mulai menyalakan rokoknya dengan pematik.
"Setau gue Gavin gak doyan rokok," tegur Kavin yang berdiri di belakang Gavin dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Gue lagi pusing," jawab Gavin cuek lalu mendekatkan rokoknya ke mulut .
"Lo kenapa bela Aleta?" tanya Kavin yang kini telah duduk di sebelah Gavin.
Gavin mengepulkan asap rokoknya sebelum menjawab, "Gue gak suka cewek buat mainan."
"Tapi lo keliatan beda. Lo suka Aleta?" tanya Kavin lagi yang berhasil membuat Gavin menghentikan tangannya yang hendak mendekatkan rokoknya ke mulut.
"Kenapa? Bener?"
"Gue gak suka Aleta," ucap Gavin datar dan meneruskan aktivitasnya. Menggapai bahwa pertanyaan Kavin adalah angin lalu.
"Ck. Terus kenapa? Lo aneh tau gak."
"Lo gak perlu tau." Gavin berkata sambil menatap jalanan yang sepi.
"Oke, gue masuk dulu," kata Kavin menyerah. Sepertinya memang Gavin perlu waktu sendiri.
.......
Aleta melihat ponselnya dengan gelisah. Bibir bawahnya digigit dengan penuh cemas di matanya.
"Lo kemana sih, Van?" gumamnya sambil melihat layar ponselnya kembali.
Hama my love💞
Van, di mana?
20.02
Van, sibuk ya?
20.35
Van tumben belum kabarin aku. Ke mana?
20.44
Van, Elvan!
20.55
Ya udah, aku tidur ya van. Selamat malam.
21.04
Aleta membaringkan tubuhnya dengan kasar. Sudut matanya mulai berkaca-kaca. Apa Elvan sakit? Atau malah sedang bersama perempuan lain?
Dering telpon milik Aleta berhasil membuatnya kembali terduduk. Dengan semangat, Aleta mengangkat telponnya tanpa melihat nama si penelpon.
"Halo, Van," katanya dengan nada ringan.
"Eh, sorry, Ta. Ini Sindy." Sahutan dari seberang berhasil membuat Aleta melotot tajam sekaligus malu.
Ternyata bukan Elvan.
"Iya, Sin kenapa?" tanya Aleta dengan nada lebih pelan dari yang tadi.
"Hehe, cuma mau nanya nih, anggaran OSIS yang buat pensi satu bulan lagi tuh mau ditargetkan berapa."
Aleta berpikir sejenak. Pensi ya? Kok dia sampai lupa sih.
__ADS_1
"Kalau gitu ambil aja target 60 juta, Sin. Ntar kita bagi buat datengin bintang tamu satu aja, terus sama buat properti, panggung, komsumsi, dan hadiahnya. Kita buat yang sederhana, tapi bagus," kata Aleta yang kini kembali membuka-buka buku anggaran pensi tahun kemarin.
"Emang gak kurang?" tanya Sindi ragu.
"Gue bakalan usahain itu nanti cukup. Kita undang bintang tamu dari band-nya Adit aja," kata Aleta memutuskan.
"Tapi, tiap hari kan kita ketemu Adit, Ta. Bosen tauk."
"Anggota band Adit kan gak cuma dari sekolah kita, Sin. Kan sekalian nanti bisa buat promosi tiket."
Sindi terdiam sejenak. "Oke, gue udah tulis. Besok sore kita jadi rapat kan?"
Aleta mengangguk mengiyakan. Sedetik kemudian Aleta menepuk jidatnya, kan Sindi telepon, mana tau kalau dia mengangguk.
"Iya," jawabnya.
"Oke, met malem, Ta. Sorry ganggu," kata Sindi sebelum mematikan telponnya.
Ting
Suara pesan masuk terdengar.
Hama my love💞
Maaf, Ta. Tadi baru kumpul. Anak-anak mau ada turnamen voli lagi.
21.30
Aku kangen nih, telpon ya?
21.31
Iya, telpon aja.
21.32
Panggilan masuk
"Hai," sapa Aleta riang.
"Hai juga. Kok belum tidur?" tanya Elvan di seberang sana.
"Nunggu kamu tauk," katanya sambil memanyunkan bibirnya.
"Haha, maaf deh. Sekarang tidur ya?" kata Elvan menggoda Aleta.
"Ish. Gak mau."
"Loh kan udah malem, Aleta sayang."
Aleta berdecak malas. "Aku marah."
Terdengar suara tawa Elvan. "Marah kenapa sih, gulanya aku?"
Aleta menyatukan alisnya bingung. "Gulanya kamu?" ulangnya tidak yakin.
"Iya, kamu kan manis."
Seketika pipi Aleta bersemu merah. Ah, Elvan ini selalu bisa membuatnya malu.
"Pasti pipinya merah ya?" tanya Elvan sambil tertawa renyah.
"Elvan ih!"
"Haha, maap-maap."
"Kamu masih kumpul?" tanya Aleta mengalihkan pembicaraan.
"Ah, iya nih. Biasa anak-anak pada main kartu sambil makan kacang."
"Oh, pulang jam?"
Elvan terdiam sejenak. "11 mungkin."
Aleta mengangguk-anggukan kepalanya. "Hoam. .. Aku tidur dulu deh ya,, ngantuk."
"Yah ... Padahal masih kangen," keluh Elvan, pasti cowok itu sedang manyun dengan wajah menyebalkan.
"Besok kan ketemu. Kamu jemput kan?" tanya Aleta.
"Iya dong. Aku besok ke sana jam 5 pagi. Ya udah sana tidur sana! Love you, my Aleta."
__ADS_1
"Love you too, my Elvan."
....