
049
Harapan
"Ta, bangun ... cegah gue buat pergi."
.....
Elvan dan Vela sama-sama terkejut menatap Herman. Pria itu tiba-tiba saja bersimpuh di depan Elvan. Matanya berkaca dan kedua tangan meremas rambutnya dengan kesal.
"Om-"
"Kamu benar. Saya tidak bisa bersyukur. Kamu benar. Saya tidak pernah berpikir sebelum berbicara. Kamu benar dan saya yang salah."
Vela mencoba mendekat dan berjongkok memeluk Herman dari samping. Wanita paruh baya itu juga menangis, terlebih menangis haru karena Herman akhirnya tersadar.
"Mas, jangan begini. Sekarang kita ke rumah sakit," ucap Vela dengan suara serak.
Elvan ikut berjongkok menatap sepasang suami istri itu dengan senyum. "Om, saya tidak bisa menjaga Aleta. Saya mohon om jaga dia. Om, saya yakin om orang tua yang hebat. Saya sudah menyakiti Aleta dan membuatnya menangis. Om, pukul saya agar saya merasa lega. Saya-- saya belum mendapatkan maaf dari Aleta om."
Keduanya mendongak menatap Elvan dengan sisa tenaga yang mereka punya. Vela kembali tersenyum tipis menatap Elvan yang begitu berani. Firasatnya benar, pemuda di depannya ini bertanggung jawab.
"Berdiri kamu," kata Herman dengan dingin meskipun suaranya sedikit bergetar.
Bugh. Pukulan itu mendarat tepat di pipi kiri Elvan. Cowok itu sampai tersungkur karena pukulan Herman yang cukup kuat.
"Itu karena kamu membuat Aleta menangis."
Herman kembali meraih Elvan. Pria itu menatap Elvan tajam penuh emosi.
Bugh. Sekali lagi Herman memukul Elvan di tempat yang sama.
"Itu untuk kamu yang tidak menjaga Aleta."
__ADS_1
Herman kembali berdiri, sedangkan Elvan mengusap bekas pukulan Herman.
Herman masih menatap Elvan dan Vela yang terkejut dengan aksi keduanya hanya berdiam di tepatnya tadi.
"Sekarang giliran kamu," kata Herman melunak. Pria itu membantu Elvan berdiri tegak di depannya. "Pukul saya sebanyak yang kamu mampu. Buat pria tua ini sadar dan merasakan sakit yang sama. Pukul!"
Vela kembali memicingkan matanya terkejut. Wanita paruh baya itu menggeleng kepada Elvan seolah memberi tanda agar Elvan tidak memukul Herman.
Bugh. Elvan benar-benar memukul Herman di tempat yang sama saat pria itu memukulnya.
"Itu untuk semua perbuatan om. Sekarang mari kita kerumah sakit," ucap Elvan tenang.
"Kita obati dulu luka kalian," sahut Vela dengan nada bergetar tidak percaya.
Herman dan Elvan menggeleng tidak setuju. "Nanti saja, lebih baik kita temani Aleta."
Vela akhirnya mengangguk menurut kepada Herman. Mereka pun akhirnya menuju rumah sakit dengan kendaraannya masing-masing.
.......
Di dalam sana ada gadis yang mereka nanti agar segera bangun. Ini adalah hari ketiga di mana Aleta di rawat. Dia masih tertidur lelap seolah enggan terbangun dari tidur panjangnya. Satu-persatu dari mereka telah masuk, namun tidak ada yang berhasil membuat Aleta tersadar.
Setiap hari Elvan selalu mengunjungi Aleta. Tidak ada yang terlewat terlebih dia harus pergi ke London empat hari lagi. Setiap jam besuk di buka, Elvan akan selalu masuk demi berbicara dengan cewek itu. Dia benar-benar berat menghadapi ini. Di satu sisi dia ingin menanti Aleta bangun dan tersenyum untuknya, tapi di sisi lain dia harus mendukung agar papanya bisa segera sembuh. Dia sungguh benci dengan permainan takdir untuknya. Dia akui jika dirinya banyak dosa dan salah, tapi kenapa harus diberi cobaan seperti ini?
"Masuk nak, om sama tante tunggu di luar," kata Herman kepada Elvan. Menyadarkan Elvan yang sedari tadi melamun memikirkan jalan hidupnya.
Bukan tanpa sebab Herman menyuruh Elvan masuk ke ruangan itu. Ini semua karena kemarin, saat satu persatu menjenguk Aleta, hanya pada Elvan Aleta merespon. Meski respon itu hanya kecil dan belum mampu membuat Aleta tersadar. Setidaknya itu cukup baik dan sangat berarti. Mungkin ini salah satu petunjuk bahwa Aleta memang membutuhkan Elvan. Mereka hanya tinggal menunggu respon yang lebih baik dari Aleta, dan Elvan berdoa semoga Aleta sadar sebelum hari Jumat esok.
Aksa yang melihat Herman begitu mendukung Elvan hanya mampu tersenyum kecut. Dia sahabat Aleta selama tujuh tahun ini, Herman mengenal keluarganya bahkan mereka tergolong dekat. Namun, kenapa justru restu itu untuk Elvan? Sedangkan kedua orang tuanya telah merestui Aksa untuk bersama Aleta.
Aksa juga hanya mampu meratapi nasibnya yang sama sekali tidak membantu Aleta berdamai dengan ayahnya. Padahal mereka sudah 7 tahun bersama, sedangkan Elvan yang baru beberapa bulan ini sudah berhasil membuat Herman mendapat luka memar di pipi juga menangis di dalam sana. Dia benar-benar kalah.
"Duluan ya?" pamit Elvan sebelum memasuki ruangan ICU. Cowok itu menepuk punggung Aksa dua kali. Aksa tersenyum masam, sedikit tidak ikhlas sebenarnya.
__ADS_1
Kini Elvan terlah berdiri di sebelah Aleta menggunakan baju yang telah di tentukan rumah sakit untuk masuk ke ruang ICU. Matanya tak bisa lepas menatap gadis cantik yang kini penuh perban, alat bantu hidup, dan juga berwajah pucat. Air matanya kembali mengalir, dia ingin menggantikan Aleta.
Tangannya meraih tangan Aleta lembut, dikecupnya tangan halus itu penuh sayang. Ada sedikit rasa gemetar pada diri Elvan. Dia takut, benar-benar takut kehilangan cewek di depannya ini.
"Hai, apa kabar?" sapa Elvan seolah Aleta mampu mendengar dirinya. Elvan mengusap matanya kasar.
"Gak capek tidur terus? Nanti kalau lo bangun terus pusing gimana?"
Elvan terkekeh pelan. Menertawakan dirinya yang begitu bodoh.
"Ta, bangun yu ... Lo gak mau apa lihat gue sebelum gue berangkat ke London?"
Elvan mengecup jemari Aleta satu persatu, dia tidak peduli bila kedua orang tua Aleta melihatnya. Dia tidak peduli bila teman-temannya menyaksikan kebucinannya. Dia hanya ingin melihat Aleta terbangun sekarang.
"Ta, bangun ... cegah gue buat pergi."
"Ta, mending lo marah sama gue. Maki gue atau tampar gue aja. Tapi, lo harus bangun, Ta."
Aleta tetap diam, sedangkan Elvan memandang kaca tembus pandang itu dengan sendu. Di sana semua orang menatapnya penuh cemas dan harapan, padahal dia sendiri juga berharap begitu besar.
Alat-alat penyongsong kehidupan berbunyi, mengisi ruang hening itu agar tidak terkesan sepi. Elvan kembali meneteskan air matanya saat menatap Aleta.
Tangan Elvan mengelus rambut Aleta sayang. Rambut yang biasanya indah tergerai itu kini tertutup perban.
"Lo tau gak, gue kemarin udah cerita sebenernya, tapi gue mau cerita lagi."
"Bokap lo di luar sana. Nunggu lo bangun, Ta. Dia mau minta maaf sama lo, lo seneng kan?"
Elvan menghela napasnya pelan, dia tidak tahu harus melakukan apa lagi agar Aleta mau membuka matanya.
"Gue bakalan pergi, Ta. Bangun."
.......
__ADS_1