Elvan

Elvan
047


__ADS_3

047


Keraguan


.......


"ALETA!!!"


Elvan menjerit memanggil nama Aleta begitu keras. Gavin dan Arkan langsung ikut keluar dan melihat Aleta yang berguling jauh di depan sana. Mobil yang menabraknya lari begitu saja, meninggalkan mereka dan beberapa orang yang melihatnya penuh amarah. Tak sedikit yang mengejar mobil si penabrak, namun berbeda dengan Elvan, Gavin, dan Arkan.


Dengan cepat kilat Elvan berlari berusaha meraih badan Aleta yang masih berguling. Gadis itu terlempar cukup jauh, menyisakan jejak darah di setiap gulingannya. Elvan masih berusaha mengejar Aleta, hingga cewek itu berhenti berguling menabrak trotoar jalan. Darahnya bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Segera saja dia meraih tubuh rapuh Aleta. Elvan menangis menatap cewek yang ia cintai terluka. Dengan hati-hati dia mengangkat tubuh mungil itu menuju mobilnya dengan cepat. Dia tidak ingin bertanya apakah gadis itu baik-baik saja, karena justru akan memakan waktu cukup lama dan membahayakan nyawa Aleta.


Wajahnya yang panik begitu ketara. Gavin dan Arkan segera membukakan pintu belakang di mana Megan telah ditidurkan di bagian paling belakang mobil. Gavin menyetir mobilnya dengan cepat, di sampingnya ada Arkan yang ikut cemas.


"Kuat, Ta. Jangan merem," kata Elvan bergetar. Air matanya tidak dapat terbendung. Dia tidak tega melihat Aleta yang begitu mengenaskan.


"V-van-"


"Jangan ngomong, gue gak mau lo kenapa-kenapa. Diem ya, tapi jangan merem."


"Vin cepetan, Aleta darahnya banyak banget!"


Gavin mengangguk. Dia juga dapat merasakan betapa khawatirnya Elvan.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit terdekat. Dengan cepat Arkan membukakan pintu dan membantu mengangkat Aleta. Gavin mamanggil suster. Dalam waktu cepat Aleta telah masuk ke ruang UGD.


"Sabar bos. Dia pasti baik-baik aja. Berdoa," kata Gavin menepuk punggung Elvan menguatkan.


Arkan sendiri memilih menuju mobil, membawa Megan pulang ke rumahnya setelah itu ke rumah sakit secepatnya.


Elvan terduduk lemas, benar-benar lemas. Bajunya bersimbah darah, tubuhnya pun penuh darah milik Aleta. Dia semakin meragu tentang keputusannya untuk ke London.


......


Sudah satu jam Aleta di dalam sana. Namun, belum ada dokter ataupun suster yang keluar. Hari semakin larut, tapi tak membuat Elvan beranjak. Cowok itu masih terduduk lemas dengan darah Aleta yang mulai mengering di baju juga tubuhnya. Padangannya kosong mengarah pada pintu UGD yang setia menutup.


Gavin dan Arkan memandang Elvan iba, mereka yang hanya teman Aleta saja dapat merasakan bagaimana khawatirnya jika gadis itu kenapa-kenapa. Apalagi Elvan, cowok yang benar-benar cinta kepada gadis lemah di dalam sana.


"Udah hubungi Aksa?" tanya Arkan kepada Gavin.


Gavin menggeleng, melirik Elvan sebentar lalu menggeleng lagi.


"Kita hubungi, biar Aksa yang hubungi keluarga Aleta."


Gavin pun mengangguk setuju. Dengan cepat dirinya menelpon Aksa.


"Hai, kenapa bro?"


Gavin menghela napasnya berat. Matanya sekali lagi melirik Elvan yang memegang kedua kepalanya erat.


"Aleta kecelakaan."


"Bohong! Dia baru aja pulang sama bokapnya!" teriak Aksa tidak percaya. Cowok itu menggeram, merasakan sesuatu yang tidak mengenakan.

__ADS_1


"Hubungi keluarga Aleta. Dia masih di UGD dari sejam yang lalu. Alamat rumah sakit, gue sms."


Setelah itu sambungan terputus. Gavin mengangguk kepada Arkan menandakan misi berhasil. Kini keduanya mengapit Elvan, menatap cowok itu penuh prihatin.


"Bos, makan yu? Tadi sebelum jemput Megan lo gak makan," ajak Gavin pelan.


"Aleta gak bakalan kenapa-kenapa kan?" tanya Elvan serak. Tanggapan yang berbeda dari pertanyaan Gavin.


Gavin dan Arkan kembali saling pandang. Keduanya bermain kode seolah bertanya harus menjawab apa. Arkan menaikkan kedua bahunya, sedangkan Gavin geleng-geleng kepala. Bagaimana pun mereka bertiga memang tidak ada yang tahu Aleta akan seperti apa setelah ini.


"Dia bakalan marah kalau lo gak makan gini," kata Arkan akhirnya, dia lebih memilih ikut membujuk Elvan daripada menjawab pertanyaan cowok itu.


"Bersihin diri dulu bos, yuk!" Gavin berusaha meraih tangan Elvan seperti mengajak anak TK.


Elvan menggeleng, matanya masih setia menatap pintu UGD dengan sendu. Kapan pintu itu terbuka? Semoga saja kabar bahagia.


"Enggak, gue gak mau. Gue mah nunggu Aleta ada kepastian."


"Bos-"


"Ini salah gue, Vin. Dia dari tadi di sebelah gue. Kenapa gue bisa kecolongan dan dia malah ketabrak?"


"Bos, ini takdir bukan salah lo."


"Ini salah gue. Harusnya gue bisa jagain raga dia setelah gue lukain hatinya."


"Bos, jangan salahin diri sendiri bos."


"Ar, gue gak mau pergi. Mau di sini."


Akhirnya Arkan mengangguk, berusaha memberi kode kepada Gavin agar berhenti. Mereka tidak bisa memaksa Elvan lagi, takutnya justru akan terjadi keributan karena mereka bertiga.


Beberapa menit berlalu dengan hening. Aleta masih belum ada kejelasan.


Tiba-tiba saja dari lobi rumah sakit muncul satu korban kecelakaan lagi. Korban itu cukup parah karena darahnya juga kemana-mana, bajunya sobek sana sini. Korban tadi juga dimasukan ke UGD tempat yang sama dengan Aleta. Beberapa dokter dan suster pun segera memasuki ruangan untuk membantu.


Tak berselang lama, Aksa juga datang bersama dengan kedua orang tuanya. Mereka berlari panik menghampiri Elvan yang masih kacau dengan noda darah di seluruh tubuhnya.


"Gimana Aleta?" tanya Aksa cemas.


"Bagaimana bisa kecelakaan?" tanya Mama Aksa tak kalah cemas. Kebetulan, orang tua Aksa baru saja tiba di bandara setelah Aleta pulang tadi.


"Tertabrak mobil tante, mobil itu kabur. Kami tidak sempat melihat platnya karena yang terpenting nyawa Aleta," jelas Gavin berusaha tenang.


"Sudah hampir satu setengah jam Aleta di dalam sana, Sa."


Aksa memandang Arkan terkejut. Satu setengah jam di dalam sana? Kenapa bisa?


Akhirnya dokter dan suster ada yang keluar juga. Sontak semuanya berdiri. Papa Aksa segera mendekat menanyakan keadaan Aleta.


"Bagaimana dok dengan anak kami?"


"Maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi luka di kepalanya cukup dalam dan mengakibatkan pendarahan. Nyawanya tidak bisa kami tolong."

__ADS_1


Deg.


Elvan merasa dunianya hancur berkeping-keping. Tubuhnya melemas dengan air mata semakin deras. Perkataan dokter yang sudah sedari tadi dia coba enyahkan justru timbul. Dia benci ini. Dia benci. Dia belum siap kehilangan Aleta.


Elvan belum bisa mendapatkan maaf dari Aleta. Elvan belum sempat menyatakan betapa cintanya dirinya kepada Aleta. Elvan belum jadi berkata bahwa seluruh pacarnya telah dia putuskan, bahkan ada buktinya. Dia belum sempat membuat Aleta bahagia dan menebus semua kesalahannya. Tapi kenapa justru Aleta lebih dulu pergi?


Harusnya Elvan yang meninggalkan Aleta untuk pergi ke London. Harusnya Aleta yang menangis menyesal karena tidak memberi kesempatan kepada Elvan. Harusnya bukan Elvan yang merasa kehilangan!


"Van," panggil Gavin mencoba menyadarkan Elvan.


Gavin telah panik melihat Elvan yang meluruh begitu saja saat mendengar dokter di depannya sedang berbicara. Cowok itu terlihat kacau dengan air mata tak henti mengalir. Bahkan dipanggil berkali-kali pun tak menyahut.


"Aleta, Vin!"


"Aleta gue!"


Lirihnya membuat Gavin kelimpungan. Dengan dibantu Arkan, Elvan di dudukan di kursi tunggu. Gavin mulai memijit kening Elvan yang mungkin sedikit pusing. Sedangkan Arkan langsung berlari menuju kantin, mencoba mencari air minum.


"Kenapa sih, gue harus kehilangan Aleta sebelum gue nikahin dia?" katanya serak masih dengan air mata yang mengucur.


"Bos, yang sabar ya? Jangan begini," tenang Gavin.


"Gimana gue bisa tenang, Vin? Aleta gue, Aleta-"


"Aleta udah di pindah di ruang ICU. Dia koma," terang Aksa tenang, meskipun nada seramnya masih ada.


Elvan terdiam. Matanya berkedip-kedip mencoba meresapi perkataan Aksa. Dia tidak salah dengar kan? Lalu kenapa dokter tadi-


"Dokter kira bokap gue keluarga pasien yang baru aja masuk. Aleta selamat, ada beberapa luka juga tulang retak di tubuhnya. Tapi dia selamat, cuma ya dia koma. Lo ngerti kan maksudnya koma?"


Elvan mengangguk, meskipun kondisi Aleta tidak baik, setidaknya ini lebih baik daripada Aletanya benar-benar pergi meninggalkan dirinya. Dia tidak ingin Aletanya meninggalkan dirinya lebih dulu. Tidak boleh.


"Mandi sana, gue jijik lihat muka sama badan lo begitu."


Elvan mendengus meski dengan air mata yang masih sedikit keluar.


"Gue gini juga karena darah Aleta, Sa."


"Pulang sana, besok balik lagi jaga dia."


Elvan akhirnya mengangguk setuju. Cowok itu sudah berdiri dan melangkah pergi. Tapi ia berbalik lagi menghampiri Aksa.


"Aleta bilang mau cari kontrakan. Bokapnya juga gak ke sini. Mereka baru ada masalah?" tanyanya pada Aksa.


Aksa mengembuskan napasnya pelan, dia sebenarnya enggan bercerita masalah Aleta kepada Elvan. Tapi mungkin hanya dia yang bisa membantu masalah ini.


"Aleta diusir. Gue sempet ke sana sebelum ke rumah sakit. Bokapnya marah."


Elvan pun mengangguk. Cowok itu menepuk pundak Aksa tiga kali, sebelum ia pergi.


"Jagain Aleta ya, gue titip dia baik-baik."


......

__ADS_1


__ADS_2