
025
Bucin
"Aku ngerasa jadi bucin deh, Ta."
.....
Hari ini Elvan terpaksa pulang larut karena balapan yang diadakan cukup menguras tenaga. Bagaimana tidak, sebelum dia datang ke area balap dia sempat berdebat kecil dengan Aleta.
Aleta sempat tidak setuju, tapi setelah dibujuk dan disuruh ikut Aleta juga menolak. Jadilah Elvan pergi dengan emosi penuh karena Aleta yang susah dimengerti.
klek
Elvan membuka pintu rumahnya dengan wajah kesalnya. Kali ini dia kalah balapan dan harus rela kehilangan uang yang lumayan jumlahnya.
Pemandangan pertama yang dia lihat hanya gelap. Kakinya melangkah menuju saklar lampu di sebelah kanannya.
"Dari mana kamu, Van?" Suara itu muncul bersamaan dengan lampu yang hidup.
Wajah Elvan semakin masam saat mendengar suara itu. Kenapa sih dia harus pulang sebelum Elvan?
Meski sempat terdiam Elvan tetap mengindahkan pertanyaan itu. Kaki panjangnya tetap melangkah menaiki tangga.
"Elvan, mama ngomong sama kamu!" Suara itu sedikit meninggi. Dara, Mama Elvan, sampai berdiri karena perlakuan Elvan kepadanya.
Sayangnya Elvan tetap melanjutkan jalannya tanpa menoleh sedikitpun. Semenjak mama dan papanya bercerai Elvan menjadi sangat membenci mamanya. Kabarnya, Papa Elvan menuntut cerai karena mama Elvan berselingkuh.
Dara melangkahkan kakinya mengikuti Elvan. Dilihatnya kamar Elvan yang sudah tertutup rapat. Kepalanya menunduk dalam. Ia menyesal telah melewatkan pertumbuhan Elvan. Bahkan ia lupa kapan terakhir mereka mengobrol. Ia juga lupa kapan terakhir masuk ke kamar putranya.
Tangan putihnya yang mulai sedikit keriputĀ terangkat hendak mengetuk pintu. Ingin rasanya dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, lagi-lagi tangan itu hanya menggantung di udara.
"Maafin mama, Van," gumamnya kemudian berbalik menuju kamarnya di lantai bawah.
.......
Elvan membanting tubuhnya dengan keras di atas kasur. Saat ini tidak ada niat untuk melepas maupun mengganti bajunya. Dia benar-benar malas, mood-nya semakin buruk.
"Arghhh!" Teriakan kesal Elvan terdengar menggema.
"Kenapa gini banget sih hidup gue? Sial!"
Elvan mengambil bantal untuk menutup kepalanya. Dia kembali menggeram marah setiap suara mamanya mengiang di kepala Elvan.
Suara panggilan dari ponselnya terdengar, dengan malas tangannya meraih saku jaket kirinya. Bantal yang tadi menutupi wajahnya sudah disingkirkan.
Gavin. Si penelpon yang berhasil membuatnya semakin kesal. Ibu jarinya menggeser tombol hijau dengan cepat.
"Kenapa?" tanyanya malas.
"Bos, tadi kalah ya?" tanya Gavin semangat.
Wajah Elvan seketika kembali mengeras.
"Lo apaan sih? Bikin gue makin bad mood," ucap Elvan ketus. Dengan kesal dan tanpa memperdulikan Gavin dia mengakhiri panggilannya.
Saat hendak memejamkan matanya, ponselnya kembali berbunyi.
"Argh ... si Gavin ganggu aja!" gerutunya tanpa melihat nama si penelpon, namun tangannya tetap menggeser tombol hijaunya.
"Kenapa lagi sih? Ganggu tau gak!" bentaknya saat telpon itu telah sampai ditelingganya.
"Ganggu ya? Ya udah sorry. Gue cuma mau pastiin lo sampe rumah." Suara Gavin kok jadi lembut? Mirip suara ...
__ADS_1
Elvan langsung melihat penselnya.
"Sial, Aleta!" makinya pelan.
Ponselnya kembali ia dekatkan ke telinga. "Ta, maaf tadi aku kira Gavin," katanya lembut. Dia takut Aletanya marah lagi.
"Gak apa-apa. Gue matiin ya?"
"Eh, jangan!" ucapnya sambil sedikit berteriak. Mungkin Aleta sekarang sedang menjauhkan ponselnya.
"Kan gue ganggu. Gak apa-apa kok. Lagian ... hoamm ... gue ngantuk," jawab Aleta membuat Elvan memajukan bibirnya.
"Ta ... Kangen."
Seketika hening. Aleta tidak mengucapkan sepatah katapun setelah mendengar itu.
Elvan kembali mengecek panggilannya.
Masih terhubung kok.
"Ta, udah tidur ya?" tanyanya sambil melirik jendela kamarnya. Tidak ada apa-apa di sana, dia hanya ingin meliriknya saja.
"Ha? Belum kok."
"Terus kenapa diem?"
Dahi Elvan mengernyit bingung. "Hey, kok ketawa?"
"Ha? Abis lucu."
Elvan semakin mengernyitkan dahinya. "Lucu? Apanya?"
"Haha ... gak. Gak jadi," jawab Aleta masih sambil tertawa.
"Ta, kamu gak kesurupan kan?" tanya Elvan khawatir, tapi justru membuat Aleta semakin keras tertawa. Elvan semakin dibuatnya bingung.
Elvan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasa bingungnya kini makin bertambah karena ucapan Aleta. Benar, kenapa dia bilang kangen duluan? Biasanya pacar-pacarnya yanh akan merengek karena kangen.
"Aku ngerasa jadi bucin deh, Ta."
"Kenapa emang?"
Elvan mengacak-acak rambutnya. Kenapa dia senyaman ini hanya karena telpon dengan Aleta? Padahal tadi mood-nya tadi cukup buruk. Dan sekarang mood-nya menjadi lebih baik
"Ya, itu. Baru tadi ketemu udah kangen," kata Elvan sedikit malu.
Tidak ada jawaban dari Aleta membuat Elvan berpikir Aleta menunggunya berkata sesuatu. Elvan pikir mungkin ini saatnya dia memberi tahu Aleta yang sejujurnya. Seperti kata Gavin, lebih baik secepatnya memberi tahu Aleta. Meskipun Gavin kadang begitu ketus dan suka memojokan dirinya, tapi Gavin jugalah orang yang sangat peduli kepada dirinya.
"Ta ... beneran deh, baru kali ini gue sayang sama cewek bisa jadi bucin. Tapi maaf, gue mau jujur ya, Ta. Daripada kita makin jauh gue malah makin nyakitin elo. Sebenarnya, gue itu awalnya deketin elo gara-gara gue gak ikhlas anak Angkasa jadian sama anak Cempaka."
"Ta, kamu marah ya?"
"Ya udah, Gak apa-apa. Gue matiin ya, Ta. Udah malem. Selamat tidur."
Bib
Panggilan terputus.
Elvan mengusap wajahnya kasar. Ah, bodohnya dia karena berkata jujur! Pasti Aleta marah. Dan besok dia pasti akan menjauh.
.........
SMA Angkasa Raya terlihat lebih sepi pagi ini, tidak seperti biasanya saat Elvan berangkat siswa-siswi banyak yang berlalu lalang. Dilihatnya jam dipergelangan tangannya, pukul 6.30 terlalu pagi. Pantas saja sepi, dia berangkat terlalu pagi.
__ADS_1
Kakinya melangkah lebar-lebar menuju kelasnya. Bukan karena khawatir kepada Aleta kok, tapi dia belum mengerjakan pr untuk mata pelajaran pertama hari ini.
"Heh, liat pr matematika dong!" teriaknya setelah sampai di depan pintu kelas. Badannya sedikit menjorok ke dalam melihat kelas yang baru terisi tiga orang saja.
"Ha? Bukannya gak ada pr ya?" tanya seorang siswa di pojok belakang kelas.
Siswi yang ada di depannya seketika menoleh dan berkata, "Lo pikun?"
"Lah emang kenapa?" tanyanya polos.
"Kita ada pr, halaman 200, 5 soal. Lupa?"
Seketika cowok dengan kaca mata kotak itu melotot kaget. "******! Lupa ngerjain gue." teriaknya sambil menepuk jidat, "minjem ya?" pintanya dengan nada memelas.
Elvan memutar bola matanya malas. Kan dia yang mau nyontek, kok mereka yang ribut?
"Gue juga liat!" kata Elvan menggeser kasar cowok berkacamata yang sedang ngebut menulis rumus.
"Ya udah. Sini," ucapnya dengan menggeser pantatnya.
"HALOOO ELVAN!" teriakan nyaring milik Megan berhasil membuat Elvan mendongak.
Kenapa si Megan harus datang sih? Kan pr-nya belum selesai.
Megan mendekati Elvan dengan senyum mengembang. Matanya melirik Gaga siswa berkacamata itu agar pindah tempat. Dengan terpaksa Gaga harus pindah, padahal pr-nya belum selesai.
"Kamu pacaran sama Aleta, bener?" tanyanya lembut, tapi terdengar seperti desisan tak suka.
"Hmm," jawab Elvan sambil terus menyalin angka-angka pada buku di depannya.
"Kok gak putusin aku?" tanyanya penasaran.
Elvan langsung berhenti menulis. Matanya menatap Megan dengan kilat marah. "Emang mau aku putusin?"
Megan langsung menggelengkan kepalanya cepat. Siapa sih yang mau diputusin Elvan? Elvan itu terlalu perfect, sayang kan kalau diputusin?
"Ya udah diem. Tutup mulut lemes kamu. Jangan bilang apapun ke Aleta!" bisik Elvan tepat di telinga Megan yang hanya ditanggapi anggukan cepat dari si cewek. Dia benar-benar sedikit ngeri dengan bisikan Elvan.
"Aku ke kelas dulu. Maaf ganggu," katanya cepat karena takut Elvan marah.
Setelah kepergian Megan, Elvan kembali melanjutkan menyalin pr-nya yang belum selesai. Namun, lagi-lagi tertunda.
"Van, dicariin Aleta tuh di depan," ucap Gavin yang dengan santainya duduk dan mengeluarkan bukunya. Dia pasti juga berniat menyalin jawaban.
Elvan menoleh ke pintu kelasnya. Di sana berdiri seorang cewek dengan pakaian serba rapi dengan senyum mengembang. Siapa lagi kalau bukan Aleta? Cewek itu tersenyum manis sambil membawa kotak bekal yang ia dekap dalam pelukannya.
Elvan segera berdiri dan berjalan mendekati Aleta. Senyum di wajah Elvan mengembang menyambut Aleta, berbeda sekali saat bersama Megan tadi. Tapi seketika senyum Elvan memudar mengingat ucapannya semalam. Aleta kenapa tersenyum manis? Dia memaafkan Elvan?
"Ngapain ke sini?" tanya Elvan lembut.
Aleta tersenyum, senyumnya bertambah lebar. "Aku bawain kamu bekal," katanya sambil mengulurkan bekalnya, "maaf ya aku ketiduran, jadi kamu ngomong apa aku gak denger," lanjutnya sambil menyengir lebar.
Elvan mengembuskan nafasnya lega. "Syukurlah," ucapnya tanpa sadar.
"Ha? Emang kenapa si?" tanya Aleta bingung.
"Eh, enggak kok. Enggak," jawab Elvan sambil mengambil kotak bekalnya cepat. "Makasih ya, Aleta sayang."
Aleta mengangguk dengan pipi bersemu merah. "Aku, ya udah aku ke-kelas du-lu," katanya lalu berlari sambil memegang dadanya. Lagi-lagi jantungnya berulah karena Elvan.
Elvan yang masih berdiri menatap Aleta dikagetkan dengan tepukan ringan dipundaknya. "Harusnya lo gak gini ke dia. Akhiri atau jujur secepatnya, bos," kata Gavin lalu melewati Elvan begitu saja.
Sudah Elvan bilang kan, Gavin itu bisa begitu peduli kepadanya, tapi juga bisa menjadi begitu sinis saat dirinya melakukan kesalahan.
__ADS_1
Ya, harusnya dia jujur secepatnya. Namun, dia tidak sanggup bila Aleta marah atau kecewa kepadanya lalu meminta putus. Elvan sepertinya tidak akan sanggup.
..........