
032
Terungkap
Ternyata yang selama ini gue percaya justru penghianat terhebat."
-Adhitama Elvan Syahreza
......
"PENGHIANAT!" teriakan dari bawah sana terdengar dengan begitu jelas. Membuat keduanya menoleh bersamaan.
Elvan.
Cowok dengan kaos putih dan celana pendek berwarna hitam itu menatap keduanya nyalang penuh kemarahan. Dari jarak yang cukup jauh Aleta dapat melihat kebencian Elvan saat menatap mereka.
Aksa sendiri hanya mampu mematung sambil menatap Elvan. Secepat ini mereka tahu soal dia dan Aleta?
"Sa ..." lirih Aleta memanggil Aksa.
Cowok itu masih mematung di tempatnya. Matanya lekat menatap Elvan penuh rasa cemas. Sedangkan Elvan sudah gatal ingin segera memaki dan menonjok habis Aksa. Tanpa berkata apapun kepada Aleta, Aksa memilih turun.
Aleta tersentak kaget saat Aksa pergi begitu saja untuk turun. Dia yang hanya perempuan biasa, segera bergegas menuju kamar dan turun lewat tangga rumahnya. Semoga ayah dan mamanya sudah tidur.
...
"Bangs*t!" teriakan Elvan sekaligus suara pukulan terdengar keras saat Aleta sampai di pintu depan. Tangannya terulur cepat membuka pintu.
Di depannya dua cowok itu sedang beradu. Aksa sudah tergeletak dengan wajah memar. Di atasnya ada Elvan yang siap melayangkan pukulannya. Wajahnya pun juga sama memarnya, hanya saja Aksa lebih parah.
"PENGHIANAT! GUE SALAH APA, HAH?" gema suara Elvan membuat Aleta sendiri was-was, takut orang tuanya terbangun.
Kaki mungilnya berjalan mendekati keduanya. Matanya sudah memerah dengan air mata mengenang di pelupuk. Elvan marah, tapi dirinya juga masih kecewa.
"Van ..." lirihnya memanggil Elvan, berharap cowok itu menghentikan aksinya memukul Aksa yang sudah tergeletak lemah.
Elvan mendongak bersamaan dengan Aksa yang menatap Aleta sayu.
"Apa?" sahutnya cukup kasar. Namun tak membuat Aleta mundur. Cewek itu tetap mendekat. Bahunya berguncang menahan tangis.
"Udah, kasihan Aksa," katanya parau sambil memegang tangan Elvan yang telah terkepal di udara.
Elvan tak menatap Aleta balik. Matanya sibuk menatap Aksa yang begitu lemah.
"Kasihan?" tanyanya disertai hempasan tangan yang begitu kencang membuat Aleta terjembab jatuh.
"Kasihan kata lo?" tanyanya kembali dengan nada lebih tinggi. Elvan berdiri membiarkan Aksa tergeletak di bawah kakinya.
"Dia?" tanya Elvan lagi sebelum Aleta sempat menjawab. Tangan cowok itu mengarah tepat ke tubuh Aksa yang sudah penuh memar. "Peng-hia-nat!" katanya penuh tekanan.
Aleta menatap Elvan, kepalanya menggeleng berkali-kali. "Dia g-gak hianatin si-apa-pun!" lirihnya masih menatap Elvan.
Elvan menatap Aleta sinis. Seringainya semakin tercetak saat melihat Aleta merangkak mendekati Aksa.
"Lebih pilih dia?" Aleta lantas berhenti. Matanya menatap Elvan tak percaya.
"Dia sahabat gue!" katanya kini tanpa terbata. "Lo terlalu kejam, pikiran lo sempit!"
Elvan terkekeh begitu menyeramkan. "Seenggaknya gue gak bohong sama lo."
Mendengar jawaban Elvan, Aleta tertawa pelan. Tawa lirih membuat siapapun akan merasa iba disertai takut.
"Taruhan," ucap Aleta singkat.
Cewek itu berdiri mendekat kepada Elvan. Air matanya kembali mengalir.
"Lo taruhin gue, Van. Lebih kejam mana sama Aksa yang sembunyiin hubungan gue sama dia?"
Elvan terdiam. Menatap mata Aleta yang memerah. Kenapa? Kenapa lagi dan lagi dia yang menciptakan tangisan ini? Bolehkah dia memeluk cewek ini? Mantannya?
Aleta membuang mukanya kasar. Menatap Aksa yang kini terbatuk begitu mengenaskan.
"Pergi, Van. Gue makin benci sama elo," kata Aleta datar dengan tangan mengarah ke jalan.
Tanpa menunggu jawaban Elvan, Aleta berbalik mendekati Aksa. Langkahnya berhasil menciptakan goresan yang begitu dalam di hati Elvan. Cowok itu tertawa tanpa suara, begitu sakit, dadanya perih terhimpit.
__ADS_1
"Gue akan pergi. Sesuai yang lo mau. Selamat tinggal," ucapan Elvan membuat Aleta cepat-cepat menoleh. Matanya menatap Elvan yang semakin menjauh.
Selamat tinggal.
Selamat tinggal.
Kata itu terus tergiang di kepalanya. Apakah ini artinya?
........
SMA Angkasa Raya terlihat heboh pagi ini. Semua warga sekolah berkumpul di lapangan utama. Teriakan riuh dan juga jeritan histeris terdengar begitu memekakan telinga.
"Brengs*k lo, Van!" makian dari Gavin terdengar nyaring. Dia mengabaikan sekitarnya yang sudah begitu ramai.
Elvan terkekeh ringan, wajah memarnya tak menghalangi sikap tengilnya. "Gue emang brengs*k dari dulu."
"Tapi, ini Aksa, Van! Lo bikin dia sekarat!"
Riuh sekitar mereka abaikan. Dengan gamblang Gavin membicarakan masalah ini. Tangannya begitu kuat mencengkram kerah seragam milik Elvan.
"Dia penghianat," kata Elvan santai kemudian melepas tangan Gavin begitu kasar.
"Van, kita sahabatnya. Masalah gini aja-"
Bugh
Bogeman metah Elvan layangan begitu saja ke wajah mulus Gavin. Cowok dengan wajah imutnya itu terhuyung sambil memegang bekas tonjokan Elvan. Perih.
Mata Gavin menatap Elvan nyalang. "Bangk* lo, Van!"
"Lo terlalu banyak omong. Bikin pegel," balas Elvan santai.
Gavin meludah, darah yang keluar dari sudut bibirnya ikut terbuang. "Gue serius. Jangan karena Aleta, kita kayak gini."
Bukannya menjawab, Elvan justru berbalik membelah kerumunan dan keluar dengan santainya. Mau tak mau Gavin mengikuti Elvan dengan raut muka kesalnya.
"Kita belum selesai, Van."
"Bodo."
"Bodo."
Gavin yang kemas memilih berhenti. Otak gantengnya berpikir sejenak. Kira-kira apa yang membuat Elvan berhenti berkata bodo?
"Van!" panggil Gavin mengejar Elvan. Cowok yang dikejar tak menghiraukan.
"Kita udah lama sahabatan. Kali cuma gara-gara cewek lo kayak gini sama Aksa?"
"Bodo."
"Van, kita nanti kurang anggota."
"Bodo."
"Van, Aleta gak berangkat sekolah."
"Bodo."
"Aleta nemenin Aksa."
"Bo-apa?" tanya Elvan langsung berbalik menatap Gavin.
Gavin menyeringai jenaka. Alisnya terangkat naik turun. "Ck. Aleta nemenin Aksa."
Jawaban Gavin membuat Elvan mengeram pelan. "Sialan! Tau gitu gue aja yang bonyok!"
Gavin terkekeh pelan. "Siapa suruh lo hajar Aksa begitu."
"Gue emosi, tol*l!" seru Elvan menoyor kepala Gavin kasar.
"Sialan lu bos. Sakit!"
"Wahaha sorry. Bibir lo jadi memar."
Gavin memberengut kesal, "Jadi bengkak sebelah, gak seksi lagi bibir gue."
__ADS_1
"Elvan! Gavin!"
Sial. Ternyata suara Pak Toma kembali menyapa mereka.
Gavin menyengir lebar sambil sedikit mengadu kesakitan, sedangkan Elvan menatap sang guru dengan alis berkerut.
"Pagi-pagi bikin keributan! Ke ruangan saya, SEKARANG!" perintah Pak Toma yang langsung diangguki Gavin.
....
Ruang Pak Toma sepi sekali, bagaikan tempat pemakaman umum. Padahal di dalam sana ada 3 orang laki-laki, ah salah ... tapi 2 orang laki-laki dan 1 orang aki-aki, ups.
Ketiganya hanya terdiam. Pak Toma yang sibuk mengusap kumisnya serta Gavin dan Elvan yang sibuk saling melotot bermain mata.
"Kalian itu seperti tidak memiliki pekerjaan!" kata Pak Toma menatap keduanya.
"Kami memang belum bekerja, Pak!" jawab Gavin yang langsung dilempari buku oleh Pak Toma.
"Sembrono! Saya ini guru kamu!"
"Kami juga tidak bilang kalau bapak tukang kebun." Kini gantian Elvan yang menjawab. Bukan mendapat buku atau lemparan buku, tapi cowok itu mendapat siaraman air teh milik Pak Toma.
"Dikasih nasihat itu mendengarkan, bukan menyahut dengan jawaban nyeleneh kalian!" semprot Pak Toma dengan tubuh condong ke depan.
Gavin yang sibuk mengusap dahinya hanya mengangguk pasrah. Lain dengan Elvan, cowok itu sudah memaki dengan suara pelan karena baju seragamnya yang sudah berubah warna.
"Kenapa kalian ribut?" tanya Pak Toma sambil menggerakkan kumisnya dengan mulut.
Gavin yang hendak menjawab mengikuti gaya Pak Toma. Mulutnya digerakkan agar berkedut-kedut.
"Kami hanya bercanda, Pak."
Pak Toma yang merasa dilecehkan langsung mengambil sepidol permanen miliknya. Elvan dan Gavin sama-sama menatap Pak Toma bingung.
Pak Toma kembali mencondongkan badannya ke depan. Tangan kirinya terangkat menahan kepala Gavin, dan tangan kanannya membubuhkan gambar kumis di atas bibir Gavin.
Elvan yang memperhatikan langsung tertawa lepas. "******! Siapa suruh kurang ajar!"
Gavin yang sadar atas apa yang dilakukan Pak Toma langsung melotot tajam.
"Bapak menodai saya!" teriaknya begitu kencang. Teriakan Gavin berhasil memicu tawa Elvan yang semakin menggelegar.
Brak
Ruang Pak Toma terbuka begitu kasar. Elvan dan Gavin yang membelakangi pintu langsung berbalik menatap sumber suara.
Di sana berdiri beberapa guru dan staf karyawan. "Pak Toma apakan murid-muridnya?" tanya salah satu dari mereka.
Spontan Gavin dan Elvan menyeringai jahil.
"Kami disiksa!" kata Elvan lantang.
"Saya dinodai, Pak, Bu," kata Gavin lirih dengan menahan geli.
Pak Toma yang mendengar jawaban nyeleneh dari keduanya langsung berdiri memutari meja. Wajahnya panik bukan main, takut semua salah paham.
"Bukan! Bukan begitu, Pak, Bu."
Guru dan karyawan yang berdiri di depan pintu saling memandang.
"Kalau begitu jangan ditutup pintunya pak," kata salah satu guru yang akhirnya diangguki oleh Pak Toma.
Setelah semuanya pergi, Pak Roma menatap Elvan dan Gavin yang asik bertos ria.
"Puas kalian?" tanyanya yang langsung diangguki Gavin dan Elvan.
"Sangat!"
"Keluar kalian. Saya skors kalian selama satu minggu!"
Bukannya takut, keduanya hanya mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju.
"Makasih, Pak," kata Elvan riang. "Liburan!" teriak keduanya membuat dada Pak Toma sesak seketika.
Bisa-bisanya punya murid seperti mereka.
__ADS_1
......