
044
Ingin Kembali
"Lo beneran jauhin gue ya, Van? Tapi salah gue juga, dua kali nyuruh lo ngejauh. Mungkin kita gak jodoh ya?"
......
Hari semakin berlalu, kedekatan Aleta dan Aksa semakin terlihat. Jika dulu mereka enggan berbicara di tempat yang banyak anak Angkasa Raya, kini keduanya tidak lagi berpikir ada yang melihat atau tidak. Tak jarang mereka makan berdua di kantin ataupun berangkat pulang bersama.
Semua tidak luput dari pengawasan Elvan. Cowok yang bergelar sebagai pacar sekaligus mantan pertama Aleta itu selalu memerhatikan sepasang sahabat yang ia yakini salah satunya menyimpan rasa.
Pikiran Elvan kembali menelisik di mana saat taruhan itu dimulai, tentang Aksa yang sinis, Aksa yang selalu ketus, dan Aksa yang begitu marah. Semua itu Elvan mengingatnya. Dan saat ini dia menemukan jawabnya.
Setiap malam saat Aksa tidak ikut mereka balapan liar atau turnamen senjata, itu karena Aksa memilih bersama Aleta. Semua yang Aksa lakukan itu demi Aleta.
"Bos, lo yakin gak mau bilang?" tanya Gavin saat menyadari Elvan yang tak jua berkedip menatap Aksa dan Aleta yang sedang menikmati makanan mereka.
Elvan mendesis, dia sampai merasa panas karena pertanyaan itu selalu muncul setiap hari. Memangnya salah jika Elvan memilih diam dan melihat Aleta bahagia? Salah bila ia ingin Aleta bahagia tanpa dirinya? Salah bila Elvan ingin menuruti apa kata Aleta? Salah?
"Gue capek jawabnya, Vin."
Gavin terkekeh pelan. "Gue juga capek lihat lo galau begitu tiap hari, bos."
Ditonjoknya bahu Gavin pelan. "Emang lo pinter bolak-balik omongan gue," katanya sambil terkekeh.
"Heleh, gak usah senyum lo, bos. Ngeri, kaya zombie," ledek Gavin.
Beberapa anak The Charmer tertawa melihat Elvan dan Gavin.
"Semprul lo, Vin!"
"Beneran tauk, bos!"
"Yang penting gue ganteng!"
"Apalah dayaku yang hanya remahan peyeknya Bu Yem," kata Gavin sok sedih.
Kembali anak-anak The Charmer menertawakan mereka berdua.
"Naik gunungnya besok ya Jum'at sore, Minggu balik," kata Rio.
"Jangan lupa, nanti malam siapin semua," ingat Kavin.
__ADS_1
"Siaplah."
....
"Sa, lo denger gak tadi Pak Obey bilang apa?" tanya Aleta di sela-sela ia menyuapkan nasi ke mulutnya.
Aksa menggeleng polos, mengaduk mie ayamnya pelan.
"Kaga, gue kan tidur, Leta."
Aleta mencibir Aksa. Lalu matanya kembali berbinar ceria. "Kata Pak Obey, kalau mau liat keindahan alam bisa liat sunlight."
Aksa mengernyitkan dahinya bingung. "Sunlight?"
Aleta mengubah wajahnya seserius mungkin. "Itu loh matahari terbenam."
Aksa tertawa lepas, cowok itu melempar cabai di depannya kepada Aleta. "Sunset, ****!"
Aleta ikut tertawa, matanya sampai berair. "Ya kan gue ngikutin Pak Obey," kata Aleta sambil tertawa.
"Kocak parah emang Pak Obey. Kemarin dia habis nangkep cicak kan di kelas sebelah?"
Aleta tertawa sambil mengangguk-angguk. "Iya bener, kemarinnya dia sibuk tanyain mamanya Dodi, anak 11 IPA 5."
"Mau dijadiin istri katanya," jawab Aleta.
"Bukannya mama Dodi sama Pak Obey masing-masing udah nikah?"
"Pak Obey bilang, gak papa jadi suami kedua. Ntar mama Dodi jadi istri kedua. Terus dia kompor-komporin si Dodi kalau bisa jodohin, nanti Dodi dikasih rumah."
"Bapak elo itu, Ta. Tobat gue."
Aleta menggeleng dan melempar sendok di depannya kepada Aksa. Keduanya tertawa keras terlihat bahagia.
"Ta, lo gak pulang?" tanya Aksa kemudian.
Aleta menggeleng, menyeruput es tehnya lalu mengambil tisu. "Buat apa? Ayah gak butuh."
Aksa menghela napasnya kasar. Dia bingung harus apa untuk urusan yang satu ini. Sudah ada sekita empat hari, Aleta menginap di rumahnya. Bukan karena enggan, tapi dia takut kalau cewek di depannya justru semakin mendapat masalah.
"Ta, gimana pun lo sama bokap lo butuh komunikasi."
Aleta tertawa sumbang, saat menoleh ke pojok kanan kantin matanya bertemu dengan mata Elvan. Sesegera mungkin cewek itu mengalihkan pandangnya. Jantungnya berdetak kencang sekarang. Ada setitik rasa rindu yang berbisik di telinganya. Kenapa disaat dirinya ingin melupa justru ia merindu? Kenapa disaat Elvan benar-benar menjauh dia justru ingin dekat?
__ADS_1
"Ta?" panggil Aksa, menyadarkan dirinya dari angan yang dia ciptakan.
"Ya?"
"Masalah lo sama Elvan, lo beneran rela dia gak balik sama lo?"
Aleta diam sejenak. Matanya melirik Elvan yang sedang berbincang dengan teman-temannya. Cukup lama dia di posisi itu, sampai Elvan menatapnya kembali dia baru tersadar.
"Lo juga rela gak ikut The Charmer lagi?" tanya Aleta balik. Mencoba menghindar untuk menjawab pertanyaan Aksa.
Aleta ragu untuk menjawab rela, tapi dia juga tidak yakin untuk berkata tak rela.
Aksa tersenyum, cowok itu cukup mengerti dengan pertanyaan Aleta. Seolah apa yang Aleta pikirkan dapat ia baca.
"Jawaban kita sama, itu maksud lo kan?"
Aleta tersenyum lalu mengangguk membenarkan perkataan Aksa. Ya, Aksa sangat mengenal dirinya. Sulit berbohong pada cowok itu, bahkan tentang hal sekecil apapun. Dan Aleta harap Aksa tidak menyakitinya sama seperti Elvan. Aleta harap, Aksa bisa menjaga dirinya karena hanya cowok itu yang dapat ia percaya. Setidaknya untuk saat ini.
......
"Aksa, tungguin!"
Bugh.
Aleta jatuh tersungkur saat berlari mengejar Aksa yang sengaja mendahuluinya ke parkiran. Cowok itu menggodanya, kalau Aleta telat 5 menit saja setelah Aksa sampai parkiran, dia akan Aksa tinggal pulang.
"Hati-hati," suara berat itu menyapanya. Si pemilik suara mengulurkan tangannya tepat di depan wajah Aleta.
Aleta meringis, matanya menatap si pengulur tangan dengan ragu. Dia hafal siapa pemilik suara serta tangan di depannya. Ini membuatnya sedikit bingung. Ingin menerima namun enggan, tidak menerima pun tidak sopan.
Akhirnya, dengan hati berdebar kencang, Aleta menerima uluran tangan Elvan. Gadis itu tersenyum tulus dan berucap terima kasih. Tapi, lagi-lagi Elvan memilih meninggalkannya. Tanpa balas kata sama-sama atau hanya sekadar anggukan. Aleta tidak mendapatkannya.
Entah kenapa, Aleta merasa hatinya sedikit ngilu saat ini. Bukankah ini yang Aleta mau? Ini yang Aleta ingin? Tapi kenapa terasa begitu berat?
"Lo beneran jauhin gue ya, Van? Tapi salah gue juga, dua kali nyuruh lo ngejauh. Mungkin kita gak jodoh ya?" gumam Aleta.
Di sisi lain, Elvan berjalan dengan setengah hati meninggalkan Aleta. Dia ingin sekali tinggal lebih lama di sana, bertanya apakah Aleta terluka. Bertanya tentang apa kabarnya selama mereka tidak bersama. Dan dia ingin tahu apakah Aleta bahagia tanpa dirinya. Namun, semua itu dia kubur dalam-dalam.
"Gue harap, tiga minggu ke depan lo tetep bahagia ya, Ta? Biar gue lega saat tinggalin lo."
"Jangan pernah menyesal karena kita berjauhan ya, Ta? Karena gue akan lebih menyesal udah nurutin permintaan lo."
......
__ADS_1