Elvan

Elvan
Extra part 002


__ADS_3

Extra part 002


London 2


Secantik apapun dia bila tidak cinta tidak akan membuat nahagia.


.....


Hampir tiga bulan Elvan tinggal di London, tapi tak sedetikpun dirinya melupakan Aleta. London yang ramai, yang indah, dan begitu memukau tak dapat mengalahkan Aleta di dalam otaknya. Elvan selalu saja bertanya apa kabarnya, apakah dia baik-baik saja, atau apakah dia sudah sadar?


Gavin bilang, Aleta sudah sadar dan dalam masa pemulihan. Hanya itu, tidak ada kabar lain yang dia dapat selain itu. Itu membuatnya frustrasi. Ratusan atau bahkan sudah ribuan kali dirinya bertanya tentang kapan Aleta sadar atau hal lain, namun Gavin menjawabnya seperlunya. Tak terbuka. Entah apa yang Gavin sembunyikan Elvan tidak tahu.


"Gimana kabarnya?" tanya Elvan yang kini sedang duduk di balkon kamar papanya. Pemuda itu baru saja melepas lelah karena menemani sang papa.


Orang di seberang sana berdeham sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Elvan.


"Baik. Dia habis selesai cek."


"Sama siapa?"


Cukup lama orang itu menjawab pertanyaannya. Entah apa yang membuat orang itu bersikap begitu.


"Ayahnya."


"Apa-"


"Elvan ..." Elvan menoleh ke dalam. Dia tak melanjutkan perkataannya.


"Sebentar," jawabnya. Setelah itu dia kembali berkata kepada orang di seberang sana.


"Nanti gue hubungi lagi."

__ADS_1


.....


"Ada apa, Ma?"


Elvan memasuki kamar papanya. Pemuda itu berjalan sambil memasukan ponsel ke kantung celananya.


Dara sang mama menatapnya dengan senyum tipis. "Papa cuma mau ngomong sebentar," kata Dara tersenyum lembut.


Elvan mengangguk, dia duduk di sebelah ranjang papanya. "Papa mau ngomong apa?" tanyanya lembut.


Sang papa tersenyum kemudian menatap Dara lama. Dara pun mengangguk mengerti, sedangkan Elvan masih menatap dalam diam. Tak lama kemudian, Dara memilih untuk keluar ruangan.


Antonio menatap putranya dengan wajah berbinar. Mata pria itu menatapnya penuh harap. "Papa mau kamu mengenalnya."


Elvan mengernyit bingung. "Siapa, Pa?"


Tuk. Tuk. Tuk. Suara sepatu heels mengetuk lantai terdengar nyaring. Elvan masih menatap papanya penuh tanya, sedangkan Antonio tersenyum kepadanya.


"Dia Clarisa. Papa harap kamu mau berhubungan baik dengannya."


......


Elvan tertawa pelan menatap jendela kamarnya. Hari sudah menggelap, namun tak segelap pandangan Elvan saat ini.


Tadi, saat papanya mengenalkan Clarisa, Elvan hanya mampu mengangguk kaku. Sebenarnya... dia ingin menolak, ingin menyangkal, pokoknya ingin agar niat papanya tak terlaksana. Tapi, setelah melihat raut harap dan mimik wajah yang begitu membuatnya tak tega, dia tidak jadi melakukan itu. Rasanya, hati kecil Elvan bergetar.


Elvan kembali tertawa hambar, pemuda itu masih tak menyangka dengan takdir tak menyenangkan ini. Dia telah jauh dari Aleta demi sang papa, tapi papanya justru membuatnya tak nyaman dengan nama Clarisa.


"Apa iya gue harus berhubungan baik sama Clarisa? Gue gak sanggup!"


Tangan Elvan kini bergerak lincah menuliskan sesuatu di layar ponselnya. Setelah itu, dia mengangkat ponselnya ke dekat telinga.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian sambungan terangkat. Pemuda itu langsung tersenyum lebar.


"Gimana kabarnya?"


"Dia baik. Udah bisa masuk sekolah lagi."


Napas Elvan berembus lega. "Syukurlah ... dia masih suka ngelamun?"


Orang di seberang sana terdiam lama.


"Enggak. Dia udah bisa ketawa."


Harusnya Elvan senang karena Aleta sudah bisa tertawa kembali. Tak terlalu memikirkannya yang pergi dan jauh di sini. Harusnya Elvam bersyukur karena Aleta dapat bahagia tanpa dirinya. Namun, nyatanya dia tidak senang dengan fakta itu. Rasanya dia seperti dilupakan. Rasnaya dia seperti tak berarti apapun. Hatinya berdenyut nyeri mengetahui fakta ini.


Mood-nya kembali down karena berita ini.


"Oke. Ba-bagus kalau gitu," katanya seperti tak ikhlas.


"Lo gak papa 'kan, bos?" tanya orang itu tampak khawatir.


"Gue gak papa." Elvan mengangguk. "Iya, gue gak papa."


"Dia masih cinta lo kok, santai aja."


Elvan tersenyum tipis. "Gue tahu. Udah dulu ya."


Tut. Elvan memutuskan teleponnya secara sepihak. Dia membanting ponsel itu sembarang sambil membuang napas kasar.


"Clarisa, gue gak mungkin bisa terima lo!"


"Aleta, jangan pernah lupain gue!"

__ADS_1


.....


__ADS_2