Elvan

Elvan
050


__ADS_3

050


Sampai Jumpa


"Gue akan rindu lo. Ingat, gue akan kembali."


.....


Hari ini tepat di mana Elvan akan pergi ke London bersama sang mama. Keduanya telah membawa koper dan beberapa barang yang memang diperlukan selama ada di London. Sebelum mereka berangkat ke bandara, Elvan lebih dulu meminta agar mamanya melihat Aleta. Selain itu, dirinya juga ingin kembali menikmati wajah cantik Aleta sebelum dirinya benar-benar pergi.


"Siang Pak Herman," sapa Dara saat tiba di depan ruang ICU. Tak lupa dirinya mengulurkan tangan ramah. Menyapa calon besan yang semoga saja terjadi.


Di sana hanya ada Herman yang menunggu Aleta. Aksa dan teman-temannya jelas sedang ada di sekolah. Kedua orang tua Aksa juga sedang bekerja. Dan Vela, dia baru saja pulang untuk mandi dan membeli makan untuk dirinya dan Herman.


"Siang juga. Anda ibunya Elvan?" sapa Herman yang berdiri menyambut uluran tangan Dara. Dara pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Herman.


Elvan ikut berjabat tangan Herman setelah itu. Cowok itu tersenyum ramah kepada Herman, begitu pun sebaliknya.


"Iya, saya Dara. Ngomong-ngomong putri anda bagaimana?"


Herman menatap Aleta sekilas, lalu tersenyum tipis menatap Dara.


"Belum sadarkan diri."


"Boleh saya masuk?"


"Boleh."


Setelah itu Dara memasuki ruang Aleta, meninggalkan Elvan bersama Herman di luar ruangan. Keduanya menatap Dara yang menghilang di balik pintu.


"Duduk, Van."


Elvan mengangguk, cowok itu mengambil tempat duduk di samping Herman. Keduanya saling menunduk, entah memikirkan apa.


"Jadi berangkat?" tanya Herman akhirnya kepada Elvan. Pria itu sebenarnya cukup tak rela jika anak muda di sebelahnya ini pergi. Elvan adalah harapannya agar sang putri dapat sadar.


"Jadi, om. Meskipun berat, ini demi papa saya. Aleta di sini masih ada om, tante, Aksa, temen-temen lainnya. Sedangkan papa saya hanya sendiri di sana."


Herman mengangguk, mendukung keputusan Elvan. Dia tersenyum lembut menatap Elvan yang memberi kesan bertanggung jawab. "Ya, keputusanmu tepat. Ini memang berat, bahkan om pun tidak rela kamu pergi. Apa lagi Aleta."

__ADS_1


Elvan mengangguk dengan senyum, setelah itu terdiam menatap mananya bersama Aleta.


"Mau masuk?" tanya Herman seolah tahu jika Elvan ingin bertemu sang putri.


"Tidak." Elvan menggeleng, senyum tipis jelas terlukis di bibirnya. Dia berubah pikiran saat menatap mamanya yang sedang terduduk manis mengelus kepala Aleta yang berlapis perban.


"Saya ingin menikmatinya dari jauh. Seperti ini." Herman mengangguk. Ya, bila Elvan masuk ke dalam sana, bisa dipastikan cowok itu tidak akan tega untuk pergi.


Dilihatnya Dara mulai beranjak dari dalam sana. Keduanya langsung berdiri menyambut Dara dengan senyum


"Masuk, nak," kata Dara lembut menepuk bahu Elvan dengan sayang.


Elvan menggeleng. Cowok itu memilih menyalami Herman lalu memeluk pria paruh baya itu. Tanda bahwa sebentar lagi mereka benar-benar akan berpisah.


"Jangan sakiti Aleta lagi ya, om. Saya titip Aleta. Om harus kuat menunggu Aleta sadar. Saya ... pamit ya, om?"


Herman membalas pelukan Elvan. Pria itu mengangguk dan menangis haru. Ternyata banyak yang begitu menyayangi putrinya. Betapa bodohnya dia tidak bisa melihat berapa berharganya Aleta sedari dulu. Dia benar-benar menyesal.


"Pasti om akan jaga. Kamu baik-baik di sana. Kembali jika kamu ingin bersama anak saya."


Setelah itu pelukan mereka terlepas. Dara pun menjabat tangan Herman sebagai tanpa pamit.


"Kami pamit ya," kata Dara sopan.


Dara dan Elvan pum berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Langkah Elvan terkesan berat dan enggan. Namun, Dara berusaha menguatkan sang putra. Dirangkulnya bahu Elvan agar pemuda itu tetap kokoh saat berjalan. Ini demi papanya, apapun yang pria itu dulu lakukan sudah Dara maafkan. Yang penting Papa Elvan selamat dan Elvan dapat merasakan kasih sayang papanya setelah sekian lama.


Saat di lobi rumah sakit Elvan sempat berhenti, ia bertemu dengan Aksa yang baru saja pulang sekolah. Aksa masih berseragam lengkap dengan tas yang bertengger di bahu kirinya. Elvan langsung memeluk Aksa sebagai tanda perpisahan.


"Jaga Aleta, ya?" kata Elvan.


Aksa menepuk punggung Elvan keras. Matanya memanas, dia tidak siap kehilangan sahabat brengs*knya itu. Dan sialnya dia baru kemarin tau bahwa Elvan akan pergi. Benar-benar membuat Aksa kalang kabut.


"Tanpa lo suruh juga gue jaga, beg*!" kata Aksa serak. Entah kenapa dia tidak rela, padahal bila Elvan pergi, maka Aleta bisa bersamanya.


Elvan melepas pelukannya. Cowok itu mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya, kemudian memberikannya pada Aksa.


"Titip buat Aleta kalau sadar. Sampai jumpa," pamit Elvan memeluk Aksa sekali lagi lalu memilih pergi.


"Kasih sendiri, Van!" teriaknya cukup keras dan berhasil memicu perhatian.

__ADS_1


Elvan berhenti, kembali melangkah mendekati Aksa. Cowok itu tersenyum lalu menepuk pundak Aksa dua kali.


"Kalau gue bisa, gue gak akan jadi cupu begini. Gue titip." Setelah itu Elvan benar-benar pergi. Menghilang tertelan kumpulan perawat yang mulai memasuki lobi karena ada pasien kecelakaan.


Tanpa Elvan sadari, saat langkahnya keluar dari rumah sakit, saat itu pula tangan Aleta mulai bergerak seolah ingin mencegah cowok itu pergi.


.....


Di luar rumah sakit sudah banyak anak The Charmer yang menunggunya untuk mengantarnya ke bandara. Semua tak terkecuali. Mereka semua merasa sedih akan kehilangan bos yang cukup hebat. Meski ada kemungkinan Elvan akan kembali, tetap saja Elvan saat ini memilih pergi.


"Jadi beneran bos?" tanya Gavin saat Elvan dan Dara telah sampai di parkiran rumah sakit.


Anak-anak The Charmer memang sengaja mengepung mobil yang akan membawa Elvan menuju bandara. Semuanya kini berkumpul menjadi satu di depan Elvan dan Dara.


"Jadi."


Semuanya mendesah kecewa. Dalam pikiran mereka sempat terbesit bahwa Elvan akan membatalkan keberangkatannya setelah melihat kondisi Aleta yang tak jua membaik. Tapi ternyata salah. Cowok itu tetap memilih pergi, meninggalkan sedih di hati setiap orang.


"Bos, hati-hati," kata Kavin dengan senyum tulus.


Elvan mengangguk dan tersenyum, kemudian menghadap sang mama. "Mama masuk dulu. Elvan ada perlu sama anak-anak."


Dara pun mengangguk patuh lalu tersenyum lembut kemudia memasuki mobil dengan anggun.


"Gue harap lo beneran bikin The Charmer jadi yang terbaik di sini. Jangan pernah takut taruhan, Vin. Gue harap lo sedikit berani," katanya memeluk Gavin dan Kavin erat.


"Makasih ya, Vin. Lo udah jadi kacung gue yang setia!" candanya pada Gavin.


Cowok berwajah imut itu tersenyum dan menonjok bahu Elvan kencang. "Sialan. Gue ini sahabat terbaik!"


Ketiganya melepas pelukan ala cowok mereka. Kini giliran Elvan menatap Arkan dengan senyum menggoda.


"Kalau suka sama Megan bilang, Kan."


Arkan salah tingkah, sedangkan anggota lainnya bersorak heboh.


"Dia pasti mau."


"Buat kalian terutama Alam sama Gavin, jangan kurangin tuh otak miring kalian. Gue bakalan kangen!"

__ADS_1


"Udah takut mellow. Yang pasti, bikin kita tetep kompak! Gue masuk dulu."


.....


__ADS_2