
037
Amarah
"Jangan pernah pulang terlambat! Jangan pernah membuat saya malu!"
.....
Aleta baru saja sampai rumah. Gadis itu cukup lama menghabiskan waktunya di rumah Aksa karena merasa tidak enak dengan kedua orang tua laki-laki itu yang menawarkan makan malam bersama. Kakinya melangkah pelan melewati gerbang rumah yang tidak dikunci. Napas gadis itu terdengar berat, terlebih lampu ruang tamu rumahnya sudah terlihat mati. Aleta yakin sang ayah pasti akan marah.
Kret ... Suara pintur terbuka terdengar nyaring, sinar dari lampu teras rumah ikut masuk dan menciptakan banyangan Aleta. Dadanya seketika bergemuruh mendengar langkah sepatu yang semakin mendekat. Kakinya kaku dan keringat mulai mengucur deras. Aleta ingin lari, lalu segera menaiki tangga untuk masuk ke kamar atau malah lari untuk keluar rumah. Namun, tidak bisa. Sepatunya seolah merekat erat dengan lantai. Dirinya belum sepenuhnya masuk, tangan kirinya pun masih bertengger di pegangan pintu.
"Bagus!" seru suara berat si pemilik langkah sepatu yang semakin mendekat. Kedua tangan pria itu bertepuk menimbulkan bunyi nyaring.
Tap. Langkahnya terhenti tepat di ujung banyangan Aleta.
"A-ayah," sebut Aleta lirih menyerupai gumaman.
Herman berhenti bertepuk tangan. Tubuhnya terlihat samar-samar karena ruang itu cukup gelap. Aleta kembali bergetar saat hening menyelimuti keduanya.
"Kemana saja kamu?" tanya Herman keras.
Aleta menunduk dalam. Bibirnya benar-benar sulit berbicara. Dia takut.
"Kurang uang? Habis jual diri?" tanya ayahnya begitu sadis.
Aleta akui ayahnya membenci dirinya. Aleta terbiasa dengan kalimat pedas yang pria itu lontarkan setiap harinya. Aleta hanya diam saat sang ayah memilih untuk menikah lagi. Aleta pun hanya menangis bila ayahnya melakukan kekerasan fisik. Tapi, Aleta belum pernah merasakan maupun mendengarkan kalimat itu. Pertanyaan namun seperti hinaan.
Bibir Aleta bergetar pelan tak mampu menjawab apapun yang Herman tanyakan lagi. Telinganya seolah tuli.
"Kurang uang? Habis jual diri?"
Pertanyaan itu terus tergiang di kepalanya. Aleta bahkan tidak sadar bahwa kini sang ayah telah ada di depannya dengan tatapan geram. Gadis itu tetap diam mengepalkan kedua tangannya dengan tubuh mulai bergetar.
Dia tidak sehina itu. Aleta anak baik. Aleta anak yang penurut. Aleta berusaha membuat ayah dan ibunya bangga. Aleta tidak pernah nakal. Aleta selalu menjaga diri. Aleta tidak murahan. Aleta anak baik. Iya, Aleta anak baik. Aleta anak baik.
Plak. Tamparan keras mendarat di pipi kiri Aleta. Meninggalkan jejak merah dan sedikit rasa panas yang membuat gadis iti tersadar dari ketuliannya. Matanya mulai berkaca-kaca menatap sosok ayah yang berusaha ia hormati selama ini.
Ini bukan sekali dua kali pria itu menamparnya, jadi Aleta sudah biasa.
"A-Aleta an-nak ba-ik," katanya lirih dengan tangan kanan memegang pipinya yang kini terasa begitu ngilu.
Herman berdecak keras. Tangannya langsung meraih dagu Aleta kasar dengan mata memicing tajam.
"Jangan pernah pulang terlambat! Jangan pernah membuat saya malu!" tekannya pada Aleta lalu melepas cengkeramannya dengan kasar.
Pria itu berbalik meninggalkan Aleta yang mematung di depan pintu.
Tap. Langkahnya terhenti kembali tepat di ujung bayangan Aleta.
"Cepat masuk dan jangan pernah menangis di depan saya. Percuma."
Setelah itu Herman benar-benar pergi meninggalkan Aleta.
........
"Pipi lo kenapa?" tanya Raina saat Aleta baru saja mendudukan diri di kursi.
"Kepeleset."
Doni yang ada di belakang Raina berdecak meremehkan.
"Gobl*k banget sih, Ta, sampe kepeleset!"
Riana berbalik memandang Doni tajam.
"Mulut lo! Dia itu pinter, justru lo yang gobl*k kali!"
__ADS_1
"Mulut lo, mulut lo! Gue ini bukan gobl*k, tapi gak pernah paham!"
"Anak siapa sih lo?
"Bonyok!"
"Idih, pantesan!"
"Kenapa?"
"Lo suka bikin ribut!"
Doni terdiam menatap Raina yang kini menjulurkan lidahnya mengejek. Apa hubungannya antara bonyok sama bikin ribut?
"Kan, ini bukti lo gobl*k, Don!" ejek Raina dengan tawa menggelegar. Gadis itu mengabaikan penghuni kelasnya juga Aleta. Bahkan Riana saja tidak tahu jika Aleta telah tertidur.
"Apa sih?"
"Bonyok kan babak belur!" jawab Riana tertawa puas. Sedangkan Doni memerah marah.
"Ini lo lebih gobl*k daripada gue sama Aleta."
Setelah itu Doni menggebrak mejanya kuat dan memilih keluar. Kalau tetap di dalam pasti dia bukan hanya gobl*k, tapi juga gila, stress.
.....
Ruang keluarga yang harusnya ceria kini terasa hening. Sepasang suami istri yang seharusnya terlihat mesra meski hanya menonton berita justru terlihat dingin. Tv yang harusnya menyala untuk menimbulkan gelak tawa dimatikan. Keduanya saling diam dengan perasaan yang berkecamuk.
Vela menatap Herman yang sibuk memainkan tabletnya. Bibirnya sebenarnya gatal ingin bertanya kejadian tadi malam.
"Bicara." Herman berkata seolah tahu bahwa Vela ingin membicarakan sesuatu.
"Boleh?"
"Hmm."
"Semalam mas ribut ya sama Aleta?" tanyanya pelan dan hati-hati.
Herman langsung mematikan tablet yang dia pegang. Matanya langsung menatap Vela tajam seolah ingin membunuh.
"Dia keluyuran. Aku cuma gak mau dia sampai jadi anak gak bener."
Wanita setengah baya itu tersenyum. Mencoba tersenyum maklum. "Tapi bukan dengan kekerasan, mas. Aleta itu perempuan, masih kecil."
"Dia tidak boleh menjadi seperti ibunya. Bodoh." Herman berucap tajam.
"Apa yang bodoh mas?" tanya Vela heran. "Apa yang kamu anggap bodoh? Seorang ibu menyelamatkan anaknya itu wajar!"
Herman geram menatap Vela yang mencoba menyalahkan dirinya. Tidak. Dia adalah kebenaran dan Aleta adalah kesalahan. Mira, ibu kandung Aleta adalah sebuah kebodohan.
"Dia seharusnya tetap hidup bersama saya!" sentak Herman dingin mengabaikan perasaan Vela yang ikut tercabik. Hati Herman belum sepenuhnya untuk dirinya.
"Mas, Aleta lebih berharga bagi Mbak Mira," kata Vela pelan mencoba memberi pengertian.
Herman geram. Matanya melotot tajam.
"Mira lebih berharga! Harusnya Mira memikirkan saya! Saya yang akan sakit kehilangan dia!"
"Lalu mas pikir gak akan sakit kehilangan Aleta?"
"Mas bisa jamin gak akan terpuruk bila Aleta meninggal saat itu juga?"
"Mas yakin Mbak Mira akan bahagia jika Aleta yang tertabrak mobil saat itu?"
Herman diam. Mulutnya terkunci rapat dengan otak yang memutar mencerna apa yang Vela katakan. Iya, apa benar jika Aleta yang meninggal dia tidak akan sedih? Apa benar jika Mira masih hidup namun Aleta meninggal Mira akan bahagia?
"Mas, Aleta sangat mirip dengan Mbak Mira. Harusnya kamu bersyukur karena bisa melihat Mbak Mira sekaligus kamu sendiri dalam dirinya. Mas punya anak yang hebat."
__ADS_1
"Saya tetap akan membenci Aleta. Saya tidak akan menangis bila dia kenapa-kenapa bahkan meninggal sekalipun saat itu."
Prang.
Keduanya langsung menoleh menatap Aleta yang masih menggunakan seragamnya di dekat guci besar yang telah rata dengan lantai. Vela buru-buru menghampiri Aleta, sedangkan Herman hanya menatap putrinya datar.
Biarkan saja, biar anak itu menyusul ibunya.
"Aleta!" panggil Vela tergesa saat sang gadis memilih berlari keluar rumahnya.
"Mas!" teriaknya nyaring menatap Herman dengan geram.
"Apa?" sahutnya enteng. Pria itu berdiri santai dengan tablet di tangannya.
"Kejar! Minta maaf!"
Herman mendengus. Pria itu berdecak kemudian berbalik menuju ruang kerjanya.
"Bik bereskan!" perintahnya kemudian menutup ruang kerjanya dengan keras.
"Permisi, bu." Vela langsung menggeser tubuhnya. Hatinya was-was memikirkan Aleta yang berlari dengan air mata berlinang di pupuknya.
"Semoga baik-baik saja."
.......
Aleta berlari secepat mungkin meninggalkan rumahnya. Dia tidak peduli jika akan jalan kaki atau naik apapun itu. Yang dia pedulikan adalah rasa sakit di hatinya. Semalam ayahnya bilang dia jual diri dan juga menamparnya, sekarang ayahnya bilang dia tidak akan sedih bila Aleta yang meninggal saat itu. Aleta tidak habis pikir dengan pria itu, pria yang orang sebut sebagai ayahnya.
Gadis itu berlari dan terus berlari menyusuri jalan yang siang ini cukup ramai. Tatapan aneh yang orang berikan kepadanya ia abaikan. Kalian dari orang yang tak sengaja dua tabrak ia anggap sebagai angin.
Air mata tak henti jatuh dan mengalir deras. Dia ingin ke rumah Aksa, tapi tidak. Aksa masih sakit, Aleta tidak boleh membuat pemuda itu semakin khawatir.
"Ayah jahat," gumamnya berulang kali sambil mengusap wajahnya kasar.
Sudah cukup jauh Aleta berlari, pegal di kakinya juga telah terasa. Namun, Aleta tidak ingin berhenti. Jalan yang sepi ini justru memberi dia kesempatan untuk menangis sesuka hati.
"Ibu, Aleta rindu." Aleta mendongak menatap daun yang menutup pandangannya kepada langin. Air matanya semakin deras, nafasnya pun mulai sesegukan.
"Aleta ikut ibu, ya?" tanya entah kepada siapa.
Brum ... Brum ... Brum ...
Deru motor terdengar cukup jauh, nampaknya ini motor pertama yang qkan Aleta temui di sepanjang jalan ini. Tapi, dia tidak peduli. Kakinya kembali melangkah menunduk lesu, kedua tangannya memegang tali tas yang menemani perjalanannya.
Harus ke mana dia sekarang? Akan berhenti berjalan di mana? Entahlah, itu belum dia pikirkan sama sekali.
Brum ...
Motor yang semakin mendekat tadi berhenti tepat di depan Aleta. Ban motornya nyaris menyentuh kaki cewek itu.
"Sendiri aja?" sapa si pemilik motor yang masih duduk manis di atas motornya. Motor yang sama dengan para penggemar balapan liar.
Aleta mendongak, air matanya masih berjatuhan dan kini tubuhnya mulai membunyikan alarm tanda bahaya.
"Si-siapa?"
Si pemilik motor membuka helmnya pelan, kepalanya menggeleng mengibaskan rambutnya yang hitam dan sedikit panjang.
"L-lo-"
"Hendra." Cowok itu tersenyum miring sembari turun dari motornya.
"Gue Hendra. Anak Cempaka Raya."
......
__ADS_1