
019
Keanehan Elvan dan Aleta
Aleta dan Elvan duduk bersama menghadap seorang dokter cantik dengan name tag Maya. Dokter berusia sekitar 35 tahun itu memandang mereka berganti.
Ya, turnamen senjata telah berakhir satu jam yang lalu karena adanya sirine polisi yang sedang berpatroli. Jika dilihat dari anggota yang terluka, jelas Angkasa Raya yang akan menang. Banyak anggota Mekar yang babak belum bahkan tersayat senjata tajam.
Kembali lagi kepada Elvan dan Aleta. Mereka benar-benar ke dokter setelah turnamen senjata usai. Mereka ke rumah sakit dengan keluhan yang mereka rasakan. Dan di sini lah mereka, ruang Dr. Maya sebagai dokter ahli jantung.
"Jadi apa keluhan kalian?" tanya dokter Maya tenang.
"Jantung suka berdebar berlebih," jawab keduanya serempak.
"Disertai perut geli mulai gitu, bu," lanjut Elvan yang berbicara penuh antusias.
Dokter Maya mengernyit bengong. Kedua pasiennya ini masuk secara bersamaan dan memiliki gejala sama? Dan apa tadi? Jantung sakit dan perut mulai geli?
"Oke, coba dari kamu." Dokter Maya menunjuk Aleta. "ceritakan keluhan kamu terlebih dahulu."
Aleta mengambil nafas sejenak. Ia berniat menyampaikan semua yang ia rasa. Aleta sangat penasaran dengan sakit di jantungnya.
"Jadi, akhir-akhir ini jantung saya suka deg-degan, dok. Terus berdebar berlebihan diiringi rasa gemetar gimana gitu, bahkan sampai nyeri sakit, dok."
Dokter Maya hanya mengangguk mendengarkan. "Lanjutkan!" katanya tenang.
"Nah, anehnya itu gejala cuma datang kalau dekat dia, dok!" ucap Aleta ngegas sambil menunjuk Elvan yang juga menganggukkan kepala.
"Apa mungkin dia penyebab penyakit jantung saya, dok?"
Dokter Maya kembali melongo dengan tampang bingung, kemudian tersenyum tipis tidak mengiyakan pertanyaan Aleta. Dokter Maya beralih menghadap Elvan. "Coba kamu jelaskan keluhan kamu."
"Nah, kalau saya ya, bu. Hampir sama kok, cuma ada tambahan mulas sama geli gitu. Dan anehnya, saya suka sama rasanya, bu."
"Lalu?"
"Sama, bu. Sakitnya cuma kalau dekat dia. Sering-seringnya mulas campur deg-degan," ucap Elvan sambil memegang perut dan dadanya.
"Menurut kamu, kamu sakit apa?" tanya Dokter Maya menatap Aleta.
"Sakit jantung, dok."
"Kalau kamu?" kini ia bertanya kepada Elvan.
"Awalnya saya sempat berpikir jatuh cinta, bu. Tapi gak mungkin!!" jawab Elvan dengan tangan bersedekap dan mengeleng-gelengkan kepala.
"Sepertinya kalian membuang waktu saya," ucap dokter Maya dengan senyum tipis.
"Anak muda jaman sekarang itu memang aneh. Suka tapi bilang tidak. Dan sayang tidak mau mengakui. Cinta tapi menyakiti."
Aleta dan Elvan kini saling berhadapan dan mengernyit bingung. Bukankah mereka di sini untuk mengetahui penyakit mereka? Kenapa dokter di depannya justru menjelaskan soal perasaan?
Dokter Maya terkekeh pelan saat menatap kedua anak remaja di depannya itu. "Kalian lucu, sudah saya akan bilang intinya. Tidak ada sakit apapun. Gejala yang kalian alami wajar bagi seorang yang sedang feeling in love."
"Tapi dok-"
"Sudah, kalian boleh keluar. Kasihan pasien yang sedang mengantri," kata dokter Maya menunjuk pintu keluar.
Dengan lesu Aleta bangkit diikuti Elvan yang memandang cewek itu sebal.
'Masa iya gue jatuh cinta sama ni cewek!'
Setelah mereka keluar, dokter Maya tertawa geli dan geleng-geleng kepala heran. "Anak jaman sekarang."
.......
"Gue gak habis pikir sama itu dokter! Masa gue ngeluh sakit malah dibilang jatuh cinta?!" omel Aleta saat mereka telah keluar dari lobi rumah sakit.
"Mungkin emang bener lo suka sama gue," cuek Elvan. Cowok itu asik mengunyah permen karet dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Ih,, ogah!" teriak Aleta sambil bergidik ngeri. "kalau gue sampe suka sama elo, mau gimana masa depannya?"
"Ck. Masa depan sama gue itu cerah. Kita lulus, nikah, punya anak terus berdua sampe tua."
"Gila! Gue masih mau masuk universitas nomor 1 di Indonesia. Lo malah ngajak nikah."
Elvan memutar bola matanya malas. Berdebat, selalu saja berdebat setiap dekat dengan ketos yang ada sebelahnya saat ini.
"Heh, serah deh. Intinya gue gak percaya sama tu dokter. Tau gini, gue gak mau buang-buang bensin," kata Elvan sambil menggunakan helmnya.
Setelah itu, ia menyerahkan helm kepada Aleta. "Pakai. Gue anter pulang sekalian."
Motor Elvan melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalan kota yang mulai ramai saat sore seperti sekarang. Sesekali mata Elvan melirik ke spion motornya. Ia sedikit tersenyum saat melihat wajah masa milik Aleta.
"Mau makan dulu gak?" tanya Elvan sedikit berteriak, namun sayang Aleta tidak bisa mendengar dengan jelas. Terpaksa cewek itu mencondongkan tubuh ke depan, sampai dagunya menempel pada bahu kiri milik Elvan.
"Lo ngomong apa? Gue gak denger."
"Gue tanya, lo mau makan dulu enggak?" ulangnya dengan teriakan lebih keras.
"Oh,, Enggak. Pulang aja, udah telat ini."
"Oke."
.......
Kelas 11 IPA 5 terlihat gaduh karena jam ke 6 ini sedang kosong. Hampir seluruh penghuni kelas ribut dan sibuk bercerita dan berteriak sana sini sambil bernyanyi. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Aleta. Cewek itu justru sedang asik memerhatikan papan tulis dengan bertumpu pada kedua telapak tangannya yang menempel di pipi.
Aleta mengabaikan Aksa yang mengajaknya mengobrol dengan Raina dan juga Doni. Dia masih memikirkan perkataan dokter Maya tentang gejala yang dia alami adalah jatuh cinta.
"Ta?" panggil Raina yang merasa ada yang aneh dari Aleta.
"Ta?!" Kini giliran Doni yang memanggil Aleta. Namun sama saja, tidak ada pergerakan. Cewek itu justru semakin mengernyit dan hanyut dalam hanyalannya sendiri.
Karena gemas, Aksa mengambil botol minum milik Aleta dan membukanya dengan mudah. Ditumpahkan sedikit isinya ke telapak tangannya, setelah itu ia siramkan ke wajah Aleta dengan kasar.
Aleta langsung berkedip kaget. Matanya melotot tajam kepada Aksa yang kini ada di depannya. "Lo semprot gue pake ludah?"
"Jadi bener?" tanya Aleta galak.
"Enggak!" kata Aksa melotot dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. "nih, pake air ini," lanjutnya sambil menunjukkan botol minum milik Aleta.
Aleta justru semakin marah. Wajahnya sudah merah siap meledak. "Itu tuh air minum, Aksa, bukan buat dibuang-buang!!"
"Salah sendiri tadi ngelamun. Iya kan, Ra, Don?" jawab Aksa tak mau kalah.
"Gue marah!" kata Aleta, lalu beranjak dari tempat duduknya.
Aksa langsung panik. Walaupun Aleta itu terkenal murid teladan dan kesayangan guru, tapi kalau marah bikin pusing Aksa.
"Mau kemana?" tanya Aksa yang ikut berdiri mengejar Aleta.
"Ke kantin makan. Laper," kata Aleta cuek.
Aksa semakin panik. Bisa panjang urusannya. "Gue traktir deh. Tapi jangan marah yah?" bujuk Aksa yang kini berusaha menyamai langkah Aleta.
"Yakin?" tanya Aleta masih cuek dan tetap berjalan.
"Beneran, Aleta cantik!" ucap Aksa sambil mencondongkan badannya meyakinkan.
"Ya udah, jangan nyesel ya?"
....
"Tau begini gue gak mau traktir elo deh, Ta!" ucap Aksa dengan nada menyesal.
Bagaimana tidak menyesal, Aleta memesan tidak hanya satu porsi makanan, tetapi tiga porsi makanan. Nasi goreng, gulai ayam tambah lontong, dan siomai dengan saus kacang. Oh jangan lupakan dua gelas es teh di atas mejanya.
"Siapa suruh lo buang air minum gue," sahut Aleta sambil memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
__ADS_1
"Ya kan buat sadarin elo, gue takutnya lo kesurupan."
"Enak aja kesurupan. Jangan sampe deh." Aleta mengetuk-ngetukkan genggaman tangannya kemeja berkali-kali.
"Ta?" panggil Aksa yang sedari tadi hanya mampu memandang Aleta yang makan penuh minat.
"Hmmm?"
"Lo habis apa tiga porsi gini?" tanya Aksa sambil mengusap perutnya pelan.
"Habislah. Kenapa? Laper juga?"
"Iya, minta seporsi yang ini ya?" Aksa menunjuk satu porsi gulai ayam dengan lontong dan sambal.
Aleta langsung mengambil piring yang ditunjuk Aksa lalu memakannya rakus. "Gawk bowleh!"
"Astagah!!! Pelit amat sih, Ta. Amat aja gak pelit," gerutu Aksa kesal. Uangnya kan mubazir kalau dipakai beli satu porsi lagi. Kan harusnya bisa digunakan selama 3 hari, jadi habis gara-gara Aleta.
"Beli sendiri, duit lo kan banyak," kata Aleta masih santai memakan makanannya.
"Mubazir, Ta. Mending punya lo satu deh."
"Jadi cowok kok pelit. Sana jauh-jauh," ejek Aleta sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Aksa menatap Aleta sinis. "Kalau gue pelit, siapa yang bayar tu makanan?" tanyanya melirik Aleta.
Aleta justru acuh, masih makan makanannya dengan tenang. Sedangkan Aksa kini sudah mulai was-was karena sudah hampir waktunya istirahat. Aleta yang masih sibuk makan mendadak berhenti. "Takut ya keliatan anak The Charmer kalau baru sama gue?" tanya Aleta pelan.
Aksa hanya diam. Walau sebenarnya memang iya. Dia masih belum siap berkata yang sebenarnya. Dia masih tidak ingin Aleta tertarik ke dalam dunianya yang sekarang.
"Lo boleh balik ke kelas. Asal bayar dulu ini." kata Aleta dengan senyum manis menunjuk makanannya.
"Tapi-"
"Gak apa-apa, Sa. Gue ngerti." potong Aleta cepat.
"Oke, gue bayar dan langsung ke kelas ya?" pamit Aksa lalu mengacak-acak rambut Aleta gemas.
Aksa pun membayar makanan Aleta dengan sedikit tak rela. "Bu, ini ya uangnya."
"Iya, den. Makasih"
"Sama-sama, bu."
"Lo abis ke kantin ngapain?" suara Elvan berhasil membuat Aksa menegang. Dengan perlahan Aksa membalikan badan menghadap Elvan dan beberapa temannya.
"Abis bayar makan gue. Kelas gue kan kosong," jawab Aksa setenang mungkin.
Elvan melirik Aleta yang sedang asik makan sendiri dengan tiga piring di depannya, tetapi dua piring telah kosong.
"Aleta makan sendiri?" tanya Elvan dingin penuh selidik.
"Ah? Iya, dia makan sendiri," jawab Aksa sedikit gelagapan di awal. Elvan semakin mengernyitkan dahinya.
"Tiga porsi abis sendiri?" tanya Elvan sekali lagi sambil menaikkan alis kanannya.
"Mana gue tau, tanya sendiri sana. Lo kan mau pdkt?" ucap Aksa kesal.
"Oke."
Elvan memilih berlalu meninggalkan Aksa dan teman-temannya, ia menuju ke meja Aleta.
"Lo makan sendiri segini banyak?" tanya Elvan sambil mendudukan diri di depan Aleta.
Aleta mendongakkan kepalanya menatap Elvan malas. Nafsu makannya seketika hilang. "Harusnya habis. Gara-gara elo, gue kenyang," jawab Aleta lalu menyerupai es teh manisnya.
Aksa dan beberapa teman lainnya mendekat dan memilih duduk di meja sebelah meja yang Aleta duduki. Elvan menatap Aksa dan Aleta bergantian. Cowok itu heran, bagaimana bisa teman satu kelas tapi tidak menyapa sama sekali?
"Ta?" panggil Elvan berhasil membuat Aleta melihatnya kembali.
__ADS_1
"Lo sama Aksa ada hubungan apa?" tanya Elvan yang berhasil membuat Aleta dan Aksa menegang bersamaan.
........