Elvan

Elvan
041


__ADS_3

041


Pergi 2


"Jangan pernah bilang Aleta ataupun Aksa soal kepindahan gue ya?"


.......


"Lo gak pulang, Ta?" tanya Aksa yang heran karena Aleta tak jua pulang, padahal jam telah menunjukan pukul 10 malam. Tidak biasanya cewek itu pulang dari rumahnya lebih dari jam 9.


Aleta menggeleng, kepalanya kini menyender di bahu Aksa. Wajahnya sendu menatap depan dengan kosong. "Gue gak pernah dibutuhin sama ayah, Sa."


Aksa tahu bahwa hubungan Aleta dan sang ayah memang kurang baik, semenjak 7 tahun lalu pun sudah ada pertengkaran kecil yang Aksa lihat setiap dia berkunjung ke rumah Aleta. Herman, ayah Aleta itu tidak segan-segan memarahai Aleta di depan orang lain. Bahkan kalimat kasar yang dia punya pun tetap ia lontarkan tanpa berpikir Aleta akan malu.


"Tapi Ta, bokap lo pasti tetep sedih kalau lo gak mau pulang. Lo sama ibu lo mirip loh, kalau dia udah kehilangan ibu lo, masa lo mau ninggalin bokap lo?"


Aksa mengusap surai rambut Aleta pelan, penuh sayang. Inilah alasan Aksa tidak suka Elvan memertaruhkan Aleta saat itu, ini alasan kenapa dia selalu sinis memandang Elvan yang bersikap manis kepada Aleta. Elvan pasti menyakiti Aleta, padahal Aleta sendiri sudah cukup tersakiti karena sang ayah. Tapi ingin melarang pun Aksa tidak bisa.


"Sa, gue pengen mati."


"Hust, mulut lo kalau ngomong yang bener, Ta."


Aleta menangis, air matanya berhasil membasahi bahu Aksa.


"Gue--gak pernah--bisa--bahagiain--ayah."


Aksa tersenyum tipis, tangannya meraih kedua bahu Aleta agar menatap wajahnya. Cowok itu benar-benar ingin membuat Aleta bahagia, tanpa ada air mata lagi.


"Jangan mikir gitu dong. Lo tuh udah hebat banget selama ini, Ta."


"Pulang ya, Ta? Kalau lo gak pulang, nanti bokap lo marah. Kalau marah, nanti gak restuin kita gimana?"


Aksa berhasil membuat Aleta sedikit terkekeh kecil. "Siapa yang mau sama lo, Sa?"


Aksa tersenyum, menarik Aleta agar jatuh kepelukannya. Tangannya mendekap erat seolah enggan lepas, dia sayang Aleta. Andai bisa, dia akan membawa Aleta pergi. Tapi, mereka masih anak remaja. Belum memiliki apapun untuk hidup ke depannya. Dia tidak mungkin membawa Aleta kekehidupan yang lebih hancur daripada sekarang.


"Gue sayang lo, Ta."


"Gue juga sayang Aksa."


.....


Suasana di warung Bu Yem cukup riuh karena berita yang Elvan sampaikan. Gavin, Rio, Alam, Kavin, Arkan, Jecksa, Boy, Bram, dan Reyhan menatap bos mereka tidak percaya.

__ADS_1


"Bos, jangan ngibul deh! Ini Aksa udah keluar dari grup, dia bakalan tingalin The Charmer. Sekarang, lo bilang mau ke London. Terus The Charmer bakalan jadi apa?" Rio menatap sengit Elvan yang sibuk meminum kopi pahitnya tanpa selera.


"Bos, jangan tinggalin kita. Masa beneran mau ke London?" Kini Gavin yang merenggek. Dia benar-benar tidak rela Elvan akan pergi, sedangkan Aleta saja belum memaafkan laki-laki itu.


"Gue mau rawat bokap." Elvan menjawab datar. Meskipun begitu, sorot matanya sendu. Dia pun juga berpikir bagaimana mengatakannya dengan Aleta? Tapi apakah penting untuk cewek itu tahu? Bukankah--


"Gak bisa diundur pas udah lulus apa bos? Setahun lagi kan?" tanya Alam juga ikut tak rela. Cowok asal Maluku itu menatap sendu gorengan di depannya. Ingin sekali memakan si gorengan, tapi nafsu makannya hilang karena si bos akan pergi.


"Gue gak bisa, bokap bener-bener butuh gue."


"Bos, terus Aleta-"


"Dia bakalan bahagia. Dia bakalan senang tanpa gue. Itu yang dia bilang," potong Elvan cepat. Gavin menjadi sungkan untuk bertanya lebih lanjut.


"Bos, kita-- kita ikut aja." Akhirnya Kavin berbicara. Cowok itu seolah mengerti bila Elvan mungkin lebih baik bertemu papanya daripada mengurusi cinta Aleta yang tak mungkin kembali sama. Bukankah kedua orang tua lebih penting dari apapun?


Gavin menghela napasnya, antara lega dan juga tidak tega. Lega karena masih ada Aksa untuk Aleta, tapi juga tidak tega bila Elvan tidak mendapatkan cinta Aleta. Dia bingung, benar-benar bingung.


"Kalau dia jodoh gue, bakalan ketemu lagi kok. Kalian tenang aja," kata Elvan sebiasa mungkin. Kini senyumnya terpatri lebar entah untuk alasan apa.


Tidak ada yang menjawab apa yang Elvan katakan. Mereka mampu merasakan rasa sedih dan tidak rela Elvan, meski dirinya tersenyum lebar.


"Kalian juga jangan khawatir, gue bakalan tunjuk ketua baru dan cariin anggota baru."


"Aduh den, kok pada ditekuk gini wajahnya? Nih, Ibu bikinkan tempe mendoan. Dimakan ya." Bu Yem membawa sepiring penuh berisi gorengan yang masih panas.


"Ditaruh aja, bu. Makasih ya," ucap Elvan ramah, kemudian tangannya mencomot satu.


"Gak usah alay deh, kita tuh jagoan. Jangan nangis. Jijay."


"Si elo tuh, kita beneran gak bisa kehilangan lo," kata Reyhan marah.


"Lo tuh baik, Van. Semoga jodoh deh lo sana Aleta," kini Boy ikut menimbrung.


"Ya, lagian cocok mereka. Semoga jodoh deh."


"Semoga aja si Aksa sama Aleta gak jadian pas lo balik."


"Mulut lo itu loh, Yo. Sama si bos kok doain jelek!" sungut Alam kepada Rio.


Rio berdecak pelan kemudian menatap Elvan. "Kemungkinan baik emang perlu diharapkan, cuma harus realita. Kemungkinan terburuk juga bisa terjadi."


Elvan mengangkat sudut bibirnya tipis. Rio benar, kemungkinan terburuk pasti ada. Kalaupun Aleta akhirnya bersama Aksa ya mau bagaimana, mungkin mereka bukan jodoh.

__ADS_1


"Kalau mereka jadian ya udah. Toh emang bahagianya Aleta bukan sama gue. Itu yang dia bilang."


"Bos-"


"Gue oke, itu bakalan gue anggap sebagai karma karena udah jahat sama dia."


"Elvan bener, Vin. Gak usah terlalu dipikir deh."


Gavin menggelengkan kepalanya tidak terima.


"Bukan gitu. Gue mau tanya kapan si bos pindah."


Elvan mengangguk. "Baru dicariin suratnya. Terus ngurus juga di sana. Mungkin sebulan lagi."


"Kita naik gunung yuk bos, buat perpisahan."


"Boleh," kata Elvan setuju.


Semuanya bersorak senang. Ya setidaknya mereka masih bisa menghabiskan waktu bersama sebulan ini. Mereka tidak akan pernah lupa dengan Elvan, dia ketua terhebat bagi mereka.


"Vin, jaga anak-anak yang bener loh!" kata Elvan keras. Gavin mengangguk setuju.


"Kavin ... jangan Gavin ya? Dia suka tol*l mode akut!"


Anak-anak mengangguk setuju, Kavin juga tertawa keras, sedangkan Gavin memberengut marah menatap semuanya.


"Gini-gini kita menang karena otak gue ya!"


"Sombonh amat!" sorak Alam, cowok itu melempar cabai lalap kepada Gavin.


"Tuh ambil cabenya, mayan!"


"Lo pikir gue pakboy?" marah Gavin.


Alam tertawa keras diikuti yang lainnya.


Sedangkan Elvan hanya diam menatap anak-anak The Charmer. Setelah tawa mereka mereda barulah Elvan kembali berbicara.


"Dengerin gue, ini penting."


"Apa bos?"


"Jangan pernah bilang Aleta ataupun Aksa soal kepindahan gue ya?"

__ADS_1


.....


__ADS_2