
022
Jemputan
"Ini salah satu cara biar lo percaya."
.....
Pagi ini Elvan kembali menjemput Aleta. Kini mereka telah diperjalanan. Sedari tadi Elvan terus saja tersenyum menatap spion motornya dan juga tangan yang melingkar di perutnya secara bergantian. Dia jadi merasa aneh, kenapa rasa bahagia dan debar aneh itu semakin terasa? Tidak, dia tidak boleh luluh bukan? Ini hanya cara agar dirinya berhasil memiliki Aleta sesuai taruhan.
Plak.
"Gak usah senyum-senyum!" marah Aleta setelag tangannya memukul helm Elvan dengan cukup keras.
"Gak boleh emang? Senyum gue tuh banyak yang suka," jawab Elvan dengan begitu percaya diri.
Aleta sudah tidak melingkarkan tangannya pada perut Elvan. Kini tangannya berpegangan pada besi motor yang ada di belakang jok.
"Lo tuh boncengan sama gue kaya anak kecil," ejek Elvan.
Aleta mendengus, menatap helm Elvan dengan penuh amarah.
"Lo nyebelin!" teriak Aleta cukup kencang, karena nyatanya saat ini beberapa orang di jalan telah memandang dirinya heran.
"Gue tuh ngangenin sih lebih tepatnya, bukan nyebelin."
"Van, kalau cuma debat mending turun."
"Enak aja, harus sampe sekolah. Anak ganteng ini, penuh tanggung jawab!"
Akhirnya Aleta memilih diam. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan bibir yang telah manyun sempurna.
"Sampe," ucap Elvan bangga. Cowok itu segera turun dan melepas helmnya sendiri. Setelah itu, dia melepas helm Aleta, di mana cewek itu masih setia duduk di atas motor Elvan.
"Ngapain sih?" tanya Aleta sedikit risih saat tangan Elvan telah menyentuh kaitan helmnya.
"Mau lepas helm lo," jawab Elvan polos. Tangannya masih sibuk berusaha melepas kaitan helm.
Dada Aleta mendadak bergemuruh hebat saat tangan Elvan tak sengaja menyentuh dagunya. Perasaan apa ini? Apa benar ini yang namanya jatuh cinta?
"Ta, udah selesai," kata Elvan yang berhasil membuat Aleta sedikit gelagapan.
Aleta segera turun dari motor Elvan. Gadis itu sedikit tergesa, sampai tak sengaja kakinya tersandung oleh kakinya yang lain.
Bugh. Aleta jatuh tersungkur. Cewek itu tidak merasakan sakit sama sekali karena dia jatuh bersamaan dengan Elvan. Alias, dia jatuh menimpa Elvan. Cowok itu meringis ngilu meratapi badannya yang lumayan sakit.
"Ceroboh banget sih, Ta."
Aleta menyengir lebar menatap Elvan yang ada di bawahnya. Dia tak juga berdiri, justru malah sibuk menatap Elvan yang meringis ngilu namun tetap terlihat menggemaskan.
__ADS_1
"Ta, minggir!" perintah Elvan dengan sedikit pelan.
Aleta langsung tersadar, cepat-cepat dia berdiri dan merapikan penampilan. Tepat saat matanya menatap motor Elvan, dia tersadar bahwa banyak siswa Angkasa Raya yang telah berkumpul menyaksikan dirinya dan Elvan. Malu.
"Lo gak nolongin gue sih?" tanya Elvan yang telah berhasil berdiri. Kedua tangan Elvan bertengger pada pinggang, meratapi rasa nyeri di bagian belakang badannya.
"Gue--gue lupa," jawab Aleta menyengir lebar.
"Gue anter UKS ya?" tanya Aleta lagi. Elvan pun mengangguk sebagai jawaban. Keduanya berjalan menuju ke UKS, mengabaikan tatapan heran dari siswa SMA Angkasa Raya. Dan dari semua banyak orang, ada Aksa yang menatap Aleta sendu, juga Megan yang menatap keduanya dengan penuh rasa cemburu.
.....
"Lo tiduran aja ya, gue juga gak tau mau diapain itu punggung lo."
"Pijitin ya? Ini juga karena tolongin elo," pinta Elvan.
Keduanya kini ada di dalam ruang UKS yang tumben sekali sepi. Elvan kini tengah berbaring, sedangkan Aleta berdiri di sebelah ranjang.
Aleta mendengus menatap Elvan yang begitu manja. Cowok itu menggenggam tangannya erat dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa suruh lo nolongin gue?" tanya Aleta dengan nada heran.
Elvan menyengir lebar. Matanya berbinar ceria menatap Aleta. "Ini salah satu cara bikin lo percaya. Gue kau bikin lo percaya."
Aleta cukup tertegun dengan jawaban Elvan. Hatinya sedikit tersentuh, bahkan hampir luluh dengan sikap yang Elvan berikan. Mungkin benar, ini adalah cinta.
"Pulang sekolah sama gue ya? Mau gue tunjukin sesuatu."
.....
Bukan tanpa sebab keduanya saling diam, ini semua karena pertanyaan Aksa yang berhasil membuat Aleta bungkam, ragu untuk menjawabnya dengan jujur tau tidak.
"Jadi lo beneran gak mau cerita?" tanya Aksa memecah keheningan diantara mereka.
Aleta masih menatap langit malam tanpa berkedip, napasnya terdengar kasar. Sebelum menjawab pertanyaan Aksa, ia memilih menejamkan matanya sebentar.
"Gue bukan gak mau cerita. Tapi gue tau lo gak akan suka."
Aksa mengernyitkan dahinya, kemudian bertanya lembut. "Gue cuma tanya kenapa pulang telat? Jam tujuh baru sampe rumah. Dari mana?"
Aleta menghembuskan nafasnya pelan. Ditatapnya Aksa dengan senyum paksa. "Kalau gue jujur lo jangan marah ya?"
Aksa yang mengerti langsung mengangguk mengiyakan, ia tahu pasti Aleta merasa sedikit terintimidasi.
"Gue ... Lo beneran jangan marah ya, Sa?"
Aksa kembali mengangguk. Cowok itu meraih kedua tangan Aleta untuk digenggamnya.
"Gue gak akan marah, asal lo jujur," kata Aksa lembut.
__ADS_1
Aleta mengangguk singkat. Dengan sedikit senyum ia mulai membuka mulutnya untuk bercerita.
"Gue tadi diajak Elvan pergi." Aleta sengaja memotong ucapannya. Ia memilih untuk melihat ekspresi Aksa. Bisa dilihatnya wajah Aksa yang mulai mengeras.
"Kalau lo marah, gue gak lanjut ceritanya," kata Aleta dengan suara lirih.
"Gue gak akan marah. Lanjut." Suara lembut Aksa terdengar, ia masih ingin mendengar kelanjutan ceritanya.
"Jadi, gue diajak pergi ke danau. Di sana sepi, tapi indah banget. Gue rasa belum ada yang ke sana deh."
Aksa memilih diam walaupun Aleta sengaja menjeda ucapannya.
"Gue sempet dipaksa ke sananya, dan gue gak mau. Tapi pas gue sampe sana, sumpah gue gak peduli di situ ada siapa, yang jelas gue seneng banget. Lari ke sana sini sambil muter-muter."
"Ada yang dia lakuin ke elo selain ngajak lo ke sana?" tanya Aksa penasaran. Sepertinya Elvan memiliki rencana untuk menembak Aleta.
"Ada," jawab Aleta semangat. Rasa khawatir dan ragu ya hilang jika mengingat Elvan.
"Apa?"
"Dia nyanyi lagu keren banget. Dia ngajak gue ke tengah danau dan mentik bunga teratai warna pink. Unyu banget!"
Aksa memilih diam. Wajahnya masih intens menatap Aleta yang begitu bersemangat bercerita. Sepertinya sahabatnya ini mulai jatuh cinta kepada Elvan. Dan dia tidak rela jika sampai Elvan menyakiti Aleta.
"Nah, setelah gue sampe tengah danau. Lo tau gak?" Aksa menggeleng pelan.
"Dia ngeluarin coklat! Dan setelah itu-" Aleta memilih menggantung kalimatnya lagi.
Cewek itu menatap Aksa dengan sinar mata yang kembali redup.
"Loh, kenapa berhenti?" tanya Aksa bingung.
"Gue takut lo marah, Sa. Gue takut lo sama Elvan jadi gak akur," jelas Aleta yang membuat dada Aksa bergetar hebat. Jantungnya mulai berdetak kencang. Sepertinya Aleta telah disakiti Elvan.
"Lo diapain Elvan? Lo dicium dia? Lo dipeluk paksa dia? Atau lo dipegang-pegang?" tanya Aksa lagi dengan raut wajah yang nampak panik. Sangat panik.
Aleta menggeleng pelan. Tangannya yang di genggam Aksa, ia lepas dan beralih memeluk Aksa erat.
"Maaf, Sa," ucapnya lirih. Sedangkan Aksa bingung sendiri. Kedua tangan cowok itu membalas pelukan Aleta.
"Lo diapain Elvan, Ta?"
"Elvan nembak gue ... hiks." Aleta berkata dengan nada seraknya. Hatinya merasa sakit, ia telah melukai sahabatnya. Sahabat yang dari kecil bersama dirinya.
Jantung Aksa kembali berdegup kacau. Pikirannya melayang tentang segala penolakan Aleta dan berujung Elvan mengamuk.
"Trus lo kenapa nangis? Elvan kasar ya gara-gara lo tolak?"
Aleta menggeleng pelan. "Gue minta maaf karena gue pernah nolak elo, Sa. Dan ... Maaf, gue terima dia."
__ADS_1
......