Elvan

Elvan
020


__ADS_3

Cemburu


Gue gak tahu apa yang gue rasa. Tapi yang jelas gue gak suka liat lo deket sama dia.


~Aleta Quenby Elvina


.....


"Lo sama Aksa ada hubungan apa?" tanya Elvan yang berhasil membuat Aleta dan Aksa menegang bersamaan.


Aleta yang terlebih dulu sadar langsung tersenyum canggung. Dengan sedikit melirik Aksa, Aleta mulai berkata, "Hanya teman sekelas. Mm memang kenapa? Kita, eh maksudnya gue sama Aksa ... aneh ya?"


Elvan yang melihat tingkah Aleta semakin curiga. Matanya tak henti memerhatikan Aksa dan Aleta bergantian.


"Gue heran aja. Lo sekelas sama Aksa 2 tahun, tapi diem-dieman setiap ketemu," balas Elvan yang diangguki beberapa temannya.


"Lo bener bos, mereka kaya gak saling kenal." Alam menanggapi dengan heboh.


"Gue sama dia emang gak akrab. Hanya sekadar tau," jawab Aksa agar teman-temannya tidak curiga.


Elvan yang mendengar jawaban Aksa hanya cuek. Kini cowok itu kembali fokus kepada Aleta yang mengaduk-aduk siomainya dengan kesal.


"Kalau gak lo makan mending buat gue. Daripada lo aduk-aduk gitu," ucap Elvan sambil menarik piring siomainya.


Aleta melotot tajam. Dengan kasar direbutnya kembali piring itu.


"Ini punya gue!" tunjuknya pada piring siomai.


"Lo jangan sembarangan ambil. Beli sendiri!" Teriakan Aleta berhasil membuat Elvan melongo. Sedangkan teman-temannya sibuk menahan tawa.


"Beli sendiri kenapa sih bos. Biasanya kalau dikasih aja sok gak mau," cibir Gavin yang berhasil mendapat pelototan tajam dari Elvan.


"Lagian, cuma siomai harga enam ribu kok gak mampu beli." Alam berkata sambil terkekeh pelan.


"Tuh denger! Beli sendiri sana!" perintah Aleta galak sambil memasukkan siomai ke dalam mulut.


Dengan malas Elvan bangkit menuju abang penjual siomai yang masih sepi antrean.


"Mang, somai enam porsi ya. Bawa ke meja sana," ucap Elvan sambil menunjuk meja yang di tempatinya.


"Siap, den. Bayar ke bibi ya kaya biasa."


"Siap, mang!"


Setelah membayar Elvan kembali duduk, cowok itu masih sibuk memerhatikan Aleta yang memakan siomai dengan malas-malasan.


"Lo kenapa sih?" tanya Elvan penasaran.


"Males deket sama lo. Pindah sana!"


"Ealah, ditemenin cowok ganteng kok sensi," bukan Elvan yang menjawab, tapi Rio.


"Tuh denger. Gue ini ganteng, harusnya lo bersyukur gue temenin."


Aleta yang mendengar ucapan Elvan semakin malas. Ia memilih berdiri dengan kasar dan meninggalkan meja dengan perasaan kesal.


"Heh mau kemana?" tanya Elvan sedikit berteriak.


Aleta kembalikan badan cepat ia berkata tak kalah nyaring saat berteriak, "Yang jelas jauh dari elo!"


Aksa dan Gavin yang mendengar langsung tertawa heboh. Keduanya merasa senang karena Aleta tidak mudah luluh dengan sikap Elvan.


"Ngapain ketawa?" Elvan menatap Aksa dan Gavin dengan tajam. "seneng gue gagal?"


Aksa yang mendengar memilih diam, sedangkan Gavin menggelengkan kepala cepat dengan tampang sok polos.


"Enggak bos, kita cuma menambah iman," jawab Gavin dengan jari membentuk huruf v.


"Nambah iman?" ucap Rio memastikan dia tidak salah dengar. Gavin mengangguk singkat.


"Kok bisa?"


"Kan ketawa itu ibadah," jawab Gavin yang berhasil membuat Kavin mendelik jengkel.


"Bukan ketawa beg*!" Rio menoyor kepala Gavin keras. Gavin mengelus kepalanya kasar.


"Bener kok, gue kemarin habis berangkat pengajian!"


"Bukan ketawa, tapi senyum!" Alam berkata sambil melempar gorengan yang setengahnya telah ia makan.

__ADS_1


"Kan sama aja," ucap Gavin masih kukuh dengan apa yang ia ucapkan.


"Udah biarin aja sih, biar dia bahagia," kata Elvan yang sudah bosan dan penggal mendengar perdebatan sepele dari teman-temannya.


"Tuh denger!" Gavin berteriak sambil menunjuk Elvan bangga, namun semua yang ada di sana tidak menanggapi sama sekali.


................


Elvan berjalan menyusuri koridor kelas 12 dengan santai. Koridor itu nampak ramai karena saat ini seluruh penghuni sekolah sedang menikmati istirahat kedua. Cowok itu berbelok menuju kelas XII IPS 2.


Di ujung kelas, seorang siswa dengan pakaian yang sedikit ketat melambaikan tangan sambil tersenyum manis. Dia Megan. Masih ingat kan?


Elvan membalas lambaian tangan Megan dengan senyum andalannya. Ia berjalan mendekati Megan.


"Jadi ke taman?" tanya Elvan sambil bertumpu pada meja di depan Megan.


Megan tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan.


"Oke, yang mana?"


"Taman belakang aja, bekas lapangan voli itu," usul Megan yang disetujui oleh Elvan.


Keduanya berjalan beriringan menuju taman belakang sambil bersendau gurau. Saat akan berbelok melewati koridor kelas XI, Elvan lebih dulu menarik Megan agar memutar arah. Masih ingatkan jika Elvan pernah bilang kepada Aleta jika sudah memutuskan semua pacarnya?


Megan yang sedikit heran tetap diam dan tetap melanjutkan jalannya mengikuti Elvan.


Mereka berhenti tepat di timur lapangan voli, di bawah pohon mangga yang sedang berbuah.


"Duduk!" perintah Elvan yang telah terlebih dahulu duduk. Megan memilih duduk di sebelah kiri Elvan. Pandangannya tak lepas dari wajah Elvan yang terkesan datar, namun tetap tampan.


"Yang, semenjak habis turnamen voli kita jarang keluar bareng, kenapa?" tanya Megan penasaran karena pada malam itu dia tidak ikut, Megan lebih memilih langsung berada di arena balap.


"Gue ada misi. Dan lo juga tau gue sibuk bagi waktu kan, cewek gue gak cuma satu sayang."


Megan menghela nafas kasar, jujur saja dia cemburu. Dia juga ingin dijadikan satu-satunya. Namun, keadaan yang memaksanya harus rela membagi Elvan dengan yang lain.


"Sesibuk itu?" tanya Megan sambil memanyunkan bibirnya sebal. Elvan yang melihat tingkah Megan hanya melirik sekilas. Namun, setelah itu dia memeluk Megan erat. Dia tidak pernah tega melihat seorang perempuan marah ataupun menangis karena dia.


Jauh di sisi kanan Elvan, di bawah lorong koridor kelas XI Aleta berdiri mematung dengan Aksa di sebelahnya. Tawanya seketika berhenti. Apa yang dia lihat di sana berhasil membuat nyeri dalam dadanya. Rasanya ada sesuatu yang menghimpit, tapi entah apa.


"Ta, kok berhenti?" tanya Aksa heran sambil menatap Aleta yang terdiam.


"Kita--kita ke kantin aja deh," putus Aleta yang langsung berbalik tanpa menunggu jawaban dari Aksa.


Cowok itu terpaksa sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Aleta.


"Kenapa gak jadi? Padahal ya, ada mangga muda di sana. Kan daripada lo nyolong punya Pak Praja."


Aleta mendengus kesal sambil melirik Aksa. "Nyolong, nyolong apaan?"


Aksa sedikit kaget sebelum tersenyum polos dan berkata, "Eh, nyuri maksudnya."


Setelah itu Aleta tidak menanggapi apa yang Aksa ucapkan. Dalam otaknya sekarang hanya ada satu yang ia pikirkan, yaitu rasa sesak yang ia rasakan sekarang.


"Gue gak tau apa yang gue rasa, tapi yang jelas gue gak suka liat dia sama cewek itu. Semua sesak ini gara-gara si hama dekat sama pacarnya."


............


"Aleta!" teriakan kencang beriringan dengan deru motor terdengar nyaring membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh bersamaan ke sumber suara.


Aleta yang tadinya hendak melangkah menuju gerbang terpaksa berhenti dan membalikkan badan.


Dia tahu ini suara siapa.


Pemilik suara tadi mendekat dengan kecepatan motor pelan seolah menikmati terkikisnya jarak antara dia dan Aleta.


"Disuruh nunggu bentar tuh sama si bos," ucap Gavin yang berhasil membuat lipatan pada dahi Aleta.


"Kenapa harus nunggu dia? Gue gak butuh dia," jawab Aleta ketus.


"Eh, gue kan cuma bilang suruh nunggu si bos, bukan lo butuh si bos?" Gavin sedikit heran dengan Aleta, cewek ini sedikit ajaib jika diajak berbicara karena nanti dia akan menjawab dengan hal yang tidak berkaitan.


"Aish ... susah ngomong sama lo! Serahlah, gue pulang!" ucap Aleta kesal sambil menghentakkan kakinya. Dengan cepat ia berbalik, namun sayangnya tangan kirinya ada yang menahan.


"Mau ke mana?" itu bukan suara Gavin, melainkan suara Elvan. Jika kalian bertanya Gavin sedang apa sekarang, cowok itu lebih memilih menguap lebar melihat adegan drama dari Elvan. Ingin rasanya dia membuat bosnya itu bonyok.


Aleta tidak berbalik dan juga tidak menjawab. Ia hanya terdiam sambil memandang pergelangan tangannya yang sedang ditahan oleh Elvan.


"Kenapa jantung gue bermasalah lagi? Tapi kali ini ada rasa sakit di setiap detak?" batin Aleta heran.

__ADS_1


"Gue mau ajak lo jalan. Mau kan?"


Tak ada jawaban dari Aleta. Cewek itu masih saja meresapi setiap detak yang terasa semakin kuat.


"Bos, gue pulang duluan ya?" pamit Gavin sambil melambailan tangannya girang. Elvan hanya berdeham mengiyakan.


Elvan menyentak tangan Aleta kuat agar cewek itu berbalik menatap dirinya. Dengan sedikit ringisan Aleta tersadar.


"Sakit!" marah Aleta sambil melotot tajam.


Elvan mengangkat ujung bibirnya sedikit. "Lo ngelamun. Kenapa?"


"Bukan urusan elo lah!"


"Gue ajak lo jalan. Lo bengong."


Kali ini Aleta tidak marah. Mata cewek itu kembali kosong mengingat kejadian tadi siang. Setelah menarik napas dan mengembuskannya pelan, Aleta kembali menatap Elvan.


"Bukannya lo belum putus dari pacar lo? Atau semua pacar lo?" pertanyaan Aleta berhasil membuat Elvan mengernyit bingung.


"Kok jadi bahas pacar, putus?"


"Lo kemarin bilang udah putus dari semua pacar lo karena lo suka sama gue."


Cowok itu terkekeh geli. "Iya emang udah suka, tapi belum cinta."


"Bulshit."  Aleta mencibir dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.


"Loh kok songong sih? Gue beneran loh ... Perlu gue tembak sekarang?" Elvan tak terima, ya walaupun sebenarnya Aleta memang benar.


"Gue liat lo di bawah pohon mangga," ucap Aleta tanpa memandang Elvan. Bahkan dia dan Elvan tidak peduli jika sekarang sudah pukul 4 sore.


"Ck. Cemburu nih?" goda Elvan sambil mencolek dagu Aleta cepat.


"Kagak! Lo pelukan di bawah pohon mangga padahal gue mau metik mangga tadi," kilah Aleta dengan nada sedikit sewot.


Elvan menunjuk wajah Aleta sambil tersenyum menyebalkan. "Alah ... Cemburu kan? Ngaku aja deh."


"Gue B aja. Lo pelukan juga sama dia kan?"


Elvan sedikit menegang. Ternyata Aleta melihatnya sedang berpelukan dengan Megan.


"O-oh itu, g-gue tadi ... tadi gue putusin dia, iya putusin dia, makanya dia peluk gue buat terakhir kali gitu."


Aleta tidak percaya. Masa iya Elvan benar-benar memutuskan pacarnya? Namun entah kenapa sebagian hatinya bersorak lega.


Menyadari gadis di depannya masih curiga, Elvan segera mengalihkan pembicaraan. "Gimana? Mau gak jalan sama gue?"


Dilihatnya jam pada pergelangan tangannya, pukul 4 lebih 15 menit.


"Sorry, tapi udah Sore banget. Gue harus pulang," tolak Aleta karena memang benar.


Coba saja dia tidak melakukan hukuman dari Pak Toma, pasti dia akan terima asalkan jalan yang dimaksud berhubungan dengan makanan.


"Oh ... Oke, gue anter lo balik aja deh."


"Eh gak usah. Gue bisa sendiri," tolak Aleta sambil melepaskan tangan Elvan yang masih setia menahannya.


"Tap-"


"Elvan!!"


Panggilan nyaring dari arah gerbang berhasil menghentikan keduanya. Secara bersamaan mereka menoleh kesumber suara.


Di ujung sana, berdiri seorang cewek dengan seragam SMA Nusa. Cewek dengan rambut abu-abu sebahu. Cewek itu berlari mendekat dan langsung memeluk Elvan. Elvan sedikit tersentak kaget, namun ia tetap membalas pelukan dari cewek itu.


Lagi, hari ini Aleta berhasil mendapatkan rasa sesak itu. Dua kali. Dan penyebabnya masih sama, melihat Elvan bersama cewek lain.


"Dia siapa?" tanya Aleta heran.


Cewek berambut sebahu di depannya langsung melepas pelukannya dengan Elvan. Dengan angkuh ia mengulurkan tangannya kepada Aleta.


"Kenalin pacarnya Elvan, Karin."


Elvan yang mendengar langsung menepuk jidatnya keras.


"Oh pacar?" tanya Aleta sambil melirik Elvan sinis. "jadi belum putus ya?"


............

__ADS_1


__ADS_2