
Extra Part 001
London
Ketika pertama kali gue injak tanah ini, justru gue inget lo.
.....
London Heathrow adalah tempat yang kini Elvan injak. Pemuda itu telah sampai sedari 5 menit lalu bersama dengan sang mama. Wajahnya tersenyum tipis menatap lalu lalang berbagai macam orang. Hanya tipis karena pikirannya masih tertinggal di sana, di mana gadis itu masih dalam keadaan koma.
Sebenarnya dia ingin sekali menemui gadis itu untuk terakhir kali. Namun, dia tidak siap, dia takut akan melemah dan tidak jadi untuk pergi.
"Minum dulu, mobil jemputan akan tiba sebentar lagi," kata Dara mengulurkan segelas hot coffe kepada Elvan.
Laki-laki bersurai coklat susu itu pun mengangguk. Senyum tipisnya bertambah sedikit. "Iya."
Dara mendudukan diri di sebelah putra semata wayangnya. Wanita itu menatap Elvan dengan sendu.
"Maafin Mama sama Papa. Kamu jadi tersiksa begini."
Elvan menatap mamanya. Tangannya meraih tangan Dara. "Gak papa. Ini keputusan Elvan. Papa butuh Elvan, sedangkan Aleta ... dia punya banyak orang di sana."
Dara tersenyum tipis. "Semoga dia baik-baik saja. Setelah Papamu pulih, kamu bisa kembali ke sana."
"Iya, Elvan pasti akan kembali."
Dara mengangguk. Setelahnya Elvan melepas pegangan tangannya. Menyesap kembali hot coffe**-nya sambil menatap ke depan.
"Hal pertama yang gue rasa bukan kagum seperti impian gue. Gue jusru ngerasa rindu. Rindu lo."
.....
Rumah berlantai 3 dengan cat putih tulang tampak megah. Taman yang cukup luas dipenuhi rumput hijau dan bunga-bunga pun menambah keindahan rumah itu. Dara yang ada di samping Elvan tersenyum tipis mengetahui rumah mantan suaminya terlihat begitu terawat.
"Besar banget kan?" ucap Dara membuat Elvan tersenyum tipis. Entah kenapa rasanya dia tidak nyaman dengan suasana ini. Dia jadi mengingat bagaimana kejamnya dirinya kepada sang mama dan membela papanya. Padahal yang menikah lagi justru papanya.
__ADS_1
"Ma," lirih Elvan.
Dara menatap Elvan. "Maaf karena udah jahat sama Mama."
Dara tersenyum lalu meraih kepala Elvan sambil mengelusnya pelan. "Gak papa, sekarang pikirin masa depan aja ya?"
Elvan mengangguk setuju. Kemudian mereka melangkah bersamaan menuju pintuk. Bel dibunyikan, mungkin lebih dari tiga kali barulah merka dibukakan pintu.
Muncul wanita cantik berpakaian khas maid di depam mereka. Wanita berusia sekitar 30-an tahun. Wajahnya khas sekali orang eropa, dengan rambut pirang dan kulit putih pucat. Dia tersenyum sopan menyabut Dara dan Elvan. Mempersilahkan keduanya untuk masuk.
"Papa kamu ada di dalam kamarnya. Sengaja dirawat di rumah karena gak ada yang jaga kalu di rumah sakit."
Elvan serius mendengarkan. "Papa kamu butuh sekali dukungan kita, Van. Terlebih mama tiri kamu telah pergi dan mereka bercerai."
"Itu karma buat Papa, Ma. Salahnya yang menghianati Mama dan malah menuduh Mama."
Dara memukul bahu Elvan pelan. "Mulut kamu itu. Dulu kamu sangat membela Papa kamu. Jangan karena seperti ini, kamu terus menghakimi dia."
"Tapi Ma-"
"Diam dan jangan biarkan Papa kamu dengar sesuatu yang buruk. Ingat, Papa kamu masih drop."
.....
Krieet ... pintu besar berwarna coklat berkilau terbuka pelan. Tampaklah kamar megah dengan ranjang bersar di tengah. Kamar itu begitu rapi dengan penataan yang apik. Nakas, lemari, ataupun interior lain tampak pas dan begitu indah. Namun sayangnya, kamar itu bukan kamar biasa. Karena nyatanya ada sosok pria paruh baya terbaring di sana. Sosok kaku yang dipenuho dengan selang dan alat bantu napas. Sebenarnya, dia tersadar, hanya saja dia memang membutuhkan alat itu sebagai penopang hidup.
Elvan bersama Dara mematung di depan pintu besar. Keduanya menatap sendu, terlebih Elvan. Pemuda itu tak dapat mengeluarkan kata-katanya. Di depan sana, Papanya sedang dalam keadaan parah. Papanya terlihat begitu lemah. Sama seperti Aleta.
"Gue harap apa yang gue putuskan adalah yang terbaik."
"Masuk, nak." Dara menegur Elvan. Elvan pun mengangguk dan melangkah mendekat ke ranjang diikuti Dara. Pemuda itu menatap sentu pria paruh baya di depannya.
Sudah lama dia tidak bertemu dengan papanya- Antonio. Papa yang selalu dia rindu bahkan menjadi alasannya untuk membenci Dara. Elvan sebenarnya juga kesal dengan pria di depannya itu. Rasanya ingin menyalahkan dan bertanya tentang Antonio yang menuduh Dara berselingkuh. Rasanya dia ingin bertanya kenapa semua itu bisa terjadi dengan keluargannya. Tapi, semua itu harus dipendamnya dalam-dalam. Harus dia simpan rapat dan tidak mungkin dia utarakan.
"El-vvvan?" panggil pria itu sedikit susah.
__ADS_1
Elvan meringis pilu menatap Antonio. Matanya juga berkaca karena merasa tak tega. Papanya dulu begitu gagah dan tegap bila berdiri depannya. Tampan juga berkarisma tinggil. Namun sekarang, papanya terlihat kurus, pipinya tidur, kulit mulai mengeriput, dan tubuh yang ringkih.
"Ppa?" panggil Elvan merespon.
Sudut bibir Antonio melengkung tipis menatap putranya. Kedua tangannya dengan susah payah terangkat memberi kode agar Elvan memeluknya.
Elvan sempat tertegun sebentar, pemuda itu menatap Dara guna meminya persetujuan. Senyum tipis pun Dara berikan untuk sang putra, meski nyatanya senyum itu diiringi dengan jatuhnya air mata.
Elvan langsung menyambut pelukan sang papa. Pemuda itu memeluk Antonio penuh rindu.
"Ka-mmu ... suddah, bes-ar." Antonio memuji dengan suara bergetar.
Elvan tak tahan. Matanya tak sanggup membendung cairan bening itu. "Elvan datang buat Papa."
Dengan pelan Antonio menepuk punggung Elvan. Pria itu juga menangis saking rindunya dengan sang putra. "Pppa-pa min-ta ma-af, ppa-"
Elvan melepas pelukannya. Menatap papanya yang kini menatapnya bingung.
"Papa sama Mama gak perlu minta maaf ke Elvan. Elvan yang harusnya minta maaf karena sempat benci ke kalian. Bahkan Elvan pernah jadi brengs*k karena terlalu membenci."
Elvan mengambil napas dalam. Pemuda iti mengusap sudut mata Papanya dengan senyum tipis. "Papa, walaupun kita jauh Elvan selalu inget sama Papa."
Elvan kemudia berdiri mendejat kepada Dara. Tangannya meraih tangan Dara kemudian menciumnya pelan. "Maafin Elvan karena selalu bikin Mama sakit hati. Elvan terlalu kekanakan dan gak gisa berpikir dewasa."
Dara menangis. Mengangguk pelan lalu memeluk putranya erat. Diciuminya pucuk kepala Elvan berkali-kali.
"Gimanapun kamu, kamu tetap anak Papa sama Mama. Mama udah maafin semuanya Sayang."
"Makasih, Ma."
Beberapa menit Elvan memeluk Mamanya hingga akhirnya pemuda itu melepas pelukannya. Diusapnya kedua sudut mata Dara dengan lembut. Tangannya kemudian menggenggam satu tangan Dara dan membawa wanita itu mendekati Antonio.
"Kita bantu Papa sembuh sama-sama, Ma."
Dara tersenyum dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kita bantu Papa sama-sama."
....