
052
Tidak Rela
....
Ruangan Aleta kembali sepi, kini tinggal dirinya dan Aksa di dalam sana. Keduanya saling tatap, seolah menyelami rasa melalui mata.
Aleta membuang muka, memutus kontak matanya dengan Aksa. Kini, pikirannya melayang memikirkan Elvan yang tidak datang. Kira-kira kemana cowok itu?
"Lo bingung ya, nyariin Elvan?" tanya Aksa memberanikan diri memecah keheningan di antara keduanya. Cowok itu cukup peka jika sahabatnya ini sedang memikirkan sesuatu.
Aleta menatap Aksa sebentar, kemudian menggeleng pelan karena kepalanya masih sakit.
Bohong.
Aleta berbohong.
Aleta enggan berkata iya kepada Aksa. Rasa gengsinya begitu besar mengalahkan rasa penasarannya.
"Yakin?" Aleta terdiam tidak menjawab.
"Kalau lo nyari dia bilang aja."
"Iya."
"Iya apa?"
Aleta mendengus menatap Aksa. "Iya, gue nyariin Elvan."
Aksa langsung terkekeh pelan. Menatap Aleta dengan tatapan heran. "Kemarin dia ada, tapi lo gak mau ketemu. Sekarang dia gak ada, lo nyariin."
"Gue malam itu memang berencana minta maaf, Sa."
"Oh bagus dong, lo berdua baikan?" tanya Aksa yang entah kini merasa sedikit tidak enak.
"Belum. Gue malah lihat dia pelukan sama Megan. Dia gendong Megan ke mobil."
"Lo salah paham," kata Aksa berhasil membuat Aleta menatapnya dengan dahi tertekuk.
"Maksudnya?"
"Dia titip ini," kata Aksa memberikan sesuatu yang Elvan titipkan saat itu. Dua benda yang sedari kemarin dia simpan di dalam tas ranselnya.
Aleta menerima kedua benda itu. Matanya berkilat bingung menatap Aksa untuk meminta penjelasan. Untuk apa Elvan memberikan kedua benda ini?"
"Maksudnya apa?" tanya Aleta pelan. Matanya sudah berkaca-kaca, firasatnya tidak enak. Ini semacam benda perpisahan.
"Aleta, jangan nangis. Gue gak mau bilang kalau lo belum apa-apa udah nangis," ucap Aksa lembut. Cowok itu mengusap pelupuk mata Aleta yang mulai membendung air mata.
"Elvan minta maaf sama lo karena dia gak bisa ketemu lo langsung. Elvan juga minta maaf atas semua yang dia lakuin. Dia udah pergi, Elvan nyusul papanya ke London bareng mamanya."
"Hiks," tangis Aleta pecah juga. Cewek itu memeluk kedua benda yang Elvan berikan dengan erat. Menyesal karena telah berkata tidak jadi kembali kepada Elvan.
"Elvan jahat, Sa. Hiks."
Aksa mendekat, memeluk Aleta seolah memberi sandaran agar Aleta sadar bahwa dirinya tidak sendiri. Masih ada Aksa yang akan setia menemani Aleta. Masih ada Aksa yang siap menjadi apapun yang Aleta minta.
"Hiks, gue belum bilang kalau gue maafin dia! Gue belum sempet bilang kalau gue cemburu sama dia malam itu! Gue belum bilang kalau-- kalau gue rindu. Gue pengen Elvan di sini, Sa!"
Tangis Aleta pecah. Mungkin dada Aksa sudah mulai basah. Hati cewek itu benar-benar terluka. Dia juga merasa bersalah kepada Elvan terlebih setelah melihat kedua benda yang Elvan berikan.
Bolehkah Tuhan memertemukan mereka kembali? Bolehkah Aleta minta agar Elvan tidak melupakannya?
"Sa, gue sayang Elvan. Gue cinta sama dia. Kenapa dia malah pergi? Katanya dia juga sayang sama gue, Sa. Katanya di juga cinta sama gue. Mana? Elvan kenapa pergi?"
Aksa ikut merasakan perih. Entah karena ungkapan cinta Aleta untuk Elvan atau karena melihat cewek yang dia sayangi terluka. Yang jelas dalam kehidupan nyata, ini bukan akhir hidupnya dengan Elvan. Tapi dalam cerita, ini adalah akhir kisahnya dengan Elvan.
__ADS_1
Elvan. Laki-laki itu tidak mungkin Aleta lupakan. Laki-laki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta sekaligus terluka. Pacar dan mantan pertamanya.
......
"Hai." Suara berat mengalun memyadarkan Aleta yang sibuk menatap jendela ruang rawatnya dengan kosong. Cewek itu masih mendekap erat sepucuk surat juga kotak kecil berwarna hitam. Benda pemberian Elvan.
Sejak dua hari lalu, di mana Aksa memberikan benda itu, dia menjadi banyak melamun. Terlebih, ponsel Elvan mati tak dapat dihubungi. Dia kecewa juga kesal karena Elvan tidak berpamit padanya. Dia juga tidak tahu apakah cowok itu akan kembali atau tidak.
"Hai?" sapa suara berat itu sekali lagi.
Aleta tersenyum, tangannya melepas dekapan erat pada benda pemberian Elvan. "Ada apa?" tanya Aleta serak, sebelah tangannya mengusap sudut matanya yang berair.
"Menjenguk. Apalagi?"
Cowok itu meletakan bunga di pangkuan Aleta, lalu duduk begitu saja di kursi sebelah ranjang cewek itu. Dia tersenyum lembut.
"Makasih," ucap Aleta tulus. Dia meletakan sepucuk surat dan kotak hitam itu di atas nakas, setelah itu mengambil bunga di pangkuannya.
"Sama-sama."
"Wangi," kata Aleta saat menyium wangi bunga itu.
"Kaya kamu."
"Gombal!"
"Beneran Aleta!"
"Marco!"
"Apa?"
"Ish!"
Marco terkekeh pelan menatap Aleta yang saat ini memanyunkan bibir. Memangnya semua cewek selalu ngambek ya kalau diajak bercanda? Tapi imut juga sih.
Aleta yang duduk bersandar di ranjang yang di naikan pun mengembuskan napasnya pelan. "Masih lama. Apalagi yang bagian tulang selangka."
"Sabar, pasti sembuh." Marco mengusak pucuk kepala Aleta lembut.
"Harus sih."
"Iya harus, sama kaya hati kamu."
Aleta langsung menatap Marco terkejut. Marco, cowok itu sudah sejak kemarin menjenguknya sendirian tanpa The Charmer. Dia membawa bunga, buah, atau makanan yang memang bagus untuk kesehatannya. Aksa saja sampai heran dengan sikap Marco yang notabenya baru mengenal dirinya saat kemarin itu. Dia terlalu baik jika dianggap sekadar ingin berteman.
"Maksudnya?"
"Bukan rahasia lagi soal Elvan dan lo bagi anak-anak The Charmer."
"Iya sih, lalu ... kenapa kamu tetap mendekat?"
Marco langsung menunjuk dirinya sendiri dengan sebelah alis diangkat. "Gue?"
Aleta mengangguk mengiyakan.
"Gue mendekat bukan bermaksud merebut kok. Tapi bermaksud menyembuhkan. Itu bukan kesalahan, right?"
"Lo gak ada yang punya. Kalau kita dekat gak masalah kan? Ya, mungkin sahabatan dulu?"
"Marco-"
"No, don't say anything."
Klek ... Pintu terbuka menampilkan Aksa yang tersenyum lebar membawa sterofom yang pastinya berisi makanan untuk Aleta. Cowok itu tidak terkejut mendapati Marco di sana. Dia sudah menduga bahwa Marco pasti akan berkunjung.
"Udah lama?" tanya Aksa meletakan sterofomnya di samping surat dan kotak hitam dari Elvan.
__ADS_1
"Lumayan lah."
"Pulang gih!" usir Aksa tanpa melihat Marco. Cowok itu masih sibuk menyiapkan makanan untuk Aleta. Cewek itu memang sedikit sulit makan makanan rumah sakit.
"Ogah, ninggalin lo sama Aleta berduaan sama aja biarin setan masuk ke sini."
"Jadi lo milih jadi setannya?"
"Eh, ya elo dong! Kan gue dulu di sini."
"Jangan gitu!"
"Kenapa? Lo yang mulai, Sa."
"Marco!"
"Aksa!"
"Kalian diam bisa?"
Keduanya langsung terdiam. Menunduk dan mencari kesibukan masing-masing tanpa menoleh sedikitpun kepada Aleta.
"Lo pulang aja, Co. Habis ini gue juga mau tidur, lo mau berduaan sama Aksa?" ucap Aleta.
Marco menggeleng. Tangannya langsung meraih tangan Aleta untuk berjabat tangan. "Besok gue balik lagi!"
Klek.
"Lo mau deket sama dia?" tanya Aksa mendekat membawa sterofom berisi bunur ayam pesanan Aleta.
Aleta hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan dari Aksa.
"Lo baru aja patah karena anak The Charmer. Jangan sampe keulang lagi," kata Aksa dingin sambil menyiapkan sesendok bubur kepada Aleta.
"Gue juga cuma mau temenan aja sama dia. Ya ... kaya sama lo, lo juga anak The Charmer."
Aksa kembali menyuapkan bubur ayam ke mulut Aleta. Cowok itu sebenernya sedikit kesal saat Aleta dengan mudah menerima Marco untuk mendekati dirinya.
"Gue kan beda, Ta. Pengecualian," tekannya tajam menatap Aleta.
"Idih, lo juga cowok yang bisa khilaf kapan aja tauk!"
"Tapi gue beda, gue bakalan jagain lo, Ta."
"Kalau gitu biarin Marco mendekat, gue bakalan sembuhin luka gue dengan adanya kalian."
Aksa meraih gelas air putih di nakas, memberikannya kepada Aleta dengan pelan. "Lo tau kan kalau Elvan sayang sama lo? Dia cinta sama lo. Dan dia akan kembali. Lo ... gak mau nunggu?"
Aleta memberikan gelas yang sudah kosong kepada Aksa. Cewek itu tersenyum kecut menatap lurus ke depan.
"Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu akan menyakiti diri sendiri," katanya pelan.
"Dia pasti kembali, Ta."
"Tapi tidak tahu kapan. Kalau misal gue nunggu bahkan sampai 20 tahun, dan ternyata dia tidak kembali, gimana? Atau kalau gue nunggu dan udah sekian lama, tapi saat dia kembali udah bawa istri gimana?"
Aksa diam. Dia tidak bisa menjawab apa yang Aleta tanyakan. Cewek itu mempunyai ketakutan tersendiri akan kesetiaan. Dia takut bahwa perubahan Elvan yang cukup mencintainya hanya sementara. Dia hanya tidak ingin jatuh dan terluka sendiri karena sebuah harapan.
"Lalu?" tanya Aksa kemudian. Dia lebih memilih balik bertanya daripada harus menjawab pertanyaan Aleta.
"Gue akan berdamai dengan masa lalu. Ikhlaskan kepergian Elvan, dan bakalan maju buat masa depan."
"Soal perasaan gue buat Elvan ... gue gak akan hilangkan itu, Sa. Tapi biar waktu yang menjawab, biar waktu yang menentukan, masih adakah rasa ini saat dia kembali. Jika memang jodoh, pasti, pasti dia dan gue bakalan menjadi kita lagi."
.......
-END-
__ADS_1