
012
Taruhan 2
"Gak usah pake fisik! Buktiin yang menang siapa!"
......
Aleta berjalan pelan menuju gerbang sekolahnya. Dia tidak peduli dengan koridor kelas 12 yang masih seperempat bagiannya kotor. Ia harus cepat pulang sebelum angkot terakhir lewat. Pr-nya menumpuk dan ia tak bisa mengerjakannya cepat. Biasanya Aksa akan membantunya, ah lebih tepatnya mereka akan berbagi tugas.
Meskipun Aleta dikenal dengan siswa teladan, ketua OSIS, dan siswa pintar ia tak luput dari kata malas. Makanya ia tak bisa mengerjakan pr terlalu banyak jika tidak dibantu. Sayangnya Aksa malam ini ada pertandingan. Ah, kadang dirinya sebal dengan Elvan yang membuat jadwal mepet. Kata Aksa tanding voli dimulai jam 7 dan ia tidak boleh menonton karena acara akan selesai jam 11, yang benar saja?
Setelah mandi Aleta segera membuka bukunya, ia akan datang ke pertandingan Aksa nanti jam 8. Ia curiga Aksa berbohong.
Dengan cepat Aleta mengerjakan tugas agar cepat selesai. Kakinya sudah gatal ingin pergi menonton Aksa. Karena memang hampir setiap pertandingan luar sekolah, Aksa tak memerbolehkan Aleta menonton. Cowok itu tentu saja tidak ingin teman-temannya curiga. Namun Aleta kan juga ingin melihat sahabatnya bertanding.
"Akhirnya selesai."
Jam setengah 8 Aleta berhasil menyelesaikan pr-nya. Cewek itu langsung bergegas mengganti pakaian dan mengambil tas kecilnya. Dengan tergesa-gesa Aleta menuruni tangga. Ia tak perlu takut ketahuan karena papanya sedang ada di luar kota.
Di sisi lain pertandingan voli berlangsung panas. Tak hanya pemainnya, tetapi juga para penonton. Score yang mereka dapat hanya berbeda tipis untuk pertandingan sesi kedua. Sesi pertama telah dimenangkan oleh tim SMA Cempaka Raya.
Elvan masih optimis meskipun saat ini tim mereka gagal pada sesi pertama. Dilihatnya seluruh anggota yang sudah mulai frustrasi karena kegagalan pada sesi sebelumnya.
"Semangat, ayo semangat dong! Inget masih ada satu sesi lagi setelah ini kalau kita menang!" teriak Elvan sampai otot di lehernya tercetak jelas. Ia tak akan membiarkan lawannya menang. Ia tak akan membiarkan cowok buaya itu mendekati Aleta.
Seluruh anggota mengangguk setuju, mereka mulai mengatur posisi lagi. Bola mulai dilambungkan oleh Sentra dan dengan cekatan Gavin memukulnya, bola itu terus melambung ke tim lawan lalu kembali sampai akhirnya Gavin berhasil mencetak point dengan men-smash bola tersebut.
"Gavin Lope deh!
"Yes! Gavin keren!"
Beberapa teriakan yang bersahutan itu mulai terdengar ketika Gavin berhasil men-smash bola yang diumpan Elvan. Sehingga poin saat ini 17 15 untuk tim Elvan. Mereka mulai bersemangat jangan sampai tim lawan menyusul.
"Semangat! Jangan sampai lengah, ayo ayo!" kata pendukung sekitar dengan musik yang saling bersahutan.
"Sial! Ayo semua semangat menangin turnamennya!" teriak Hendra marah.
"Ck. Sensi banget sih, bro!" ejek Elvan sambil tersenyum sinis.
"Apaan lo!"
__ADS_1
"Wee santai. Gue yang menang. Pasti!"
"Sok! Gue yang menang ketos lo buat gue!"
Elvan dan Hendra justru sibuk berdebat membuat penonton dan semua pemain berhenti. Mereka asik melihat sang ketua sedang berdebat. Namun beda dengan Gavin dan juga Rayhan. Mereka mendatangi sang ketuanya.
"Napa sih bos?" tanya Rayhan saat berhasil berdiri di samping Hendra.
"Dia songong," kata Hendra marah.
"Heh gue? Bukannya elo?" Kini Elvan tak hanya berbicara, tetapi tangannya berhasil mendorong Hendra dari belakang net.
Hendra yang didorongpun tak terima, cowok itu menerobos net, memasuki tempat SMA Angkasa Raya.
"Gak usah pake fisik! Buktiin yang menang siapa!" marahnya sambil meremas baju depan milik Elvan.
"Santai, Van. Jangan kebawa emosi. Lanjut ayoo!" kata Gavin menenangkan, namun Elvan sama sekali tak menggubrisnya. Dia justru memberi bogeman tepat di rahang milik Hendra. Semua penonton bersorak heboh.
Aksa yang melihat itu menjadi jengah. Ia benci perkelahian sepele seperti ini. Cowok itu mendekat, memegang kerah belakang baju Elvan. Ia hanya menahan agar bosnya tidak semakin menghabisi Hendra.
"Gak akan selesai kalau lo kayak gini," kata Aksa santai, kemudian menarik kerah Elvan hingga cowok itu berdiri.
"Apa yang lo permasalahin?" tanya Aksa masih dengan nada santai.
"Wah, lo suka sama Aleta dong?" tanya Hendra sambil menarik ujung bibirnya yang robek.
"Ngomong apa lo? Gue gak suka sama tuh cewek!" jawab Elvan yang kini lebih keras meronta.
Aksa memegang bahu Elvan kuat, kemudian cowok itu berkata dengan nada sinis. "Kalau emang lo gak suka lo gak mungkin bogem dia cuma karena dia mau deketin Aleta."
Elvan hanya mematung, benar juga. Kenapa ia harus mempermasalahkan ini? Dia tidak suka dengan Aleta kan? Iya kan?
Hendra tersenyum makin lebar. Ia mendengar kalimat dan juga nada yang keluar dari mulut Aksa. Ia dapat menyimpulkan cowok itu menyukainya.
"Dia gak mungkin suka sama ketos lo ..." kata Hendra yang kini telah berdiri. "... dia cuma gak terima kalau dia kalah turnamen ini. Toh tuh cewek udah kita jadiin taruhan. Siapa yang menang, dia yang bakalan deketin tuh cewek," lanjutnya dengan seringai. Ia yakin sebentar lagi Aksa akan marah.
"Sial! Bener lo jadiin Aleta taruhan?" tanya Gavin dan Aksa berbarengan.
Beberapa anggota dan penonton yang tahu siapa itu Aleta menatap Elvan tak percaya. Elvan tak membicarakan ini dengan anggota tim sebelum bertanding.
Elvan hanya tersenyum singkat sebagai jawaban. Aksa yang memang berdiri di dekat Elvan langsung memukul wajahnya hingga tersungkur. Diikuti pekikan dari beberapa penonton cewek. Sedangkan Gavin dan yang lainnya memilih diam. Jika Aksa sudah bermain fisik, berarti memang Elvan keterlaluan.
__ADS_1
"Tega lo, Van! Aleta gak salah apa-apa!" katanya sambil berjalan mendekati Elvan yang kini sibuk mengusap sudut bibirnya yang robek. Ia tak terima Aleta sahabat sekaligus cewek yang ia sayangi dijadikan barang taruhan oleh Elvan yang tidak mengenalnya.
"Ck. Cuma main-main," jawab Elvan yang kini berhasil berdiri.
"Tapi gak gini caranya!"
"Lo gak tau apa-apa, Sa! Lo mending diem!"
"Bangs*t! Gila lo, gila!" umpat Aksa yang kini langsung memberikan pukulannya ke sisi wajah Elvan yang satunya.
Aksa masih belum puas, cowok itu menarik kerah depan milik Elvan, tangannya telah terkepal erat siap mendaratkan pukulannya.
"AKSA!!" teriak Aleta yang berhasil membuat tubuh Aksa dan juga Elvan mematung di tempat. Sedangkan Hendra menyeringai penuh, sebentar lagi akan ada peperangan.
Aleta berjalan cepat, cewek itu mendorong Aksa agar beralih dari atas Elvan. Ia masih ingat jika di depan teman-teman Aksa, Aksa selalu berkata, 'Jangan bersikap seolah-olah kita udah akrab lama. Bersikap selayaknya temen sekelas, oke? Gue gak mau lo kenapa-kenapa."
Aleta berkacak pinggang, matanya menatap tajam Elvan dan juga Aksa secara bergantian. Suasana yang tadinya riuh kini menjadi hening, semua orang menatap Aleta penasaran. Sedangkan Aksa, cowok itu sebenarnya gatal ingin bertanya apa yang Aleta lakukan di sini.
"Kalian apa-apaan? Mencoreng nama baik sekolah! Bertarung dengan satu tim? Gak pantes!"
"Dan lo, Van!" Aleta menunjuk Elvan yang masih terduduk. "ngapain berantem sama Aksa?"
"Ck. Bawel! Ini urusan cowok. Pergi sana!" usir Rio yang gemas melihat Aleta.
"Diem!" bentak Aleta kepada Rio.
"Aksa jelasin!" pinta Aleta tajam, sedangkan Aksa hanya menatap cewek itu dalam.
Karena tak mendapatkan sedikitpun jawaban, Aleta memilih menolong Elvan untuk berdiri.
"Katanya ketua. Katanya jagoan. Sok-sokan. Ini dibogem Aksa aja kalah," gerutunya kesal meskipun begitu, ia tetap masih membantu Elvan untuk berdiri.
Aksa yang menyaksikan itu langsung merasakan nyeri diulu hatinya. Aksa membela Aleta, tapi kenapa cewek itu justru berbuat baik kepada Elvan? Ya memang dia tidak memberitahu Aleta sekarang, ia tidak mau semua orang akan mengetahui apa yang ia sembunyikan.
Aleta melihat luka memar dengan sedikit luka dikedua sudut bibir Elvan, cewek itu menarik bibirnya ikut merasa nyeri. Setelah itu, ia menatap Aksa yang berjarak satu meter di depannya. Tak ada luka di wajah cowok itu, masih mulus dan tampan. Dan dari semua yang ia lihat, ada satu kesimpulan kecil yang terlintas di kepalanya.
"Harusnya lo gak main kasar, Sa. Dia ketua lo. Gak seharusnya lo berkelahi sama dia. Pasti lo yang mulai kan?" tuduh Aleta yang menatap Aksa tak percaya.
Aksa hanya mampu diam, dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada situasi seperti ini. Aksa memilih pergi meninggalkan lapangan itu dengan hati yang semakin sakit, perutnya serasa ditimpa batu. Nyeri dan juga perih.
"Seharusnya lo gak nuduh dia," kata Gavin yang tak menyangka Aleta akan menuduh Aksa hanya karena luka yang didapatkan Elvan.
__ADS_1
Memang cowok itu ingin Elvan menang dipertaruhannya dengan Aleta, tapi ia juga tak ingin hanya karena Aleta geng mereka hancur. Karena tanpa disadari oleh siapapun Gavin tahu Aksa menyimpan rasa untuk Aleta.
........