Elvan

Elvan
036


__ADS_3

036


Waktu 2


"Gue ingin kembali."


......


Angin lembut menyentuh kulit Aleta, menciptakan rasa dingin yang menjalar halus bersama dengan desir aneh dalam hatinya. Rambutnya yang tergerai berterbangan seirama dengan embusan angin. Masih sangat pagi dan udara begitu dingin. Namun, kedua anak Adam itu tak menggigil sama sekali. Keduanya terdiam bisu menikmati semilir angin dan segarnya udara pagi.


"Gue ingin kembali." Suara berat namun sedikit bergetar memecah hening di antara keduanya.


Tanpa perlu menatap Aleta, Elvan mengatakan kalimatnya, "Kembali sama gue, Ta. Kita lanjutin apa yang baru kita mulai."


Aleta terdiam kaku. Mulutnya terasa dikunci rapat dan hati menjerit kata mau berkali-kali. Tapi, hatinya tak seiring otak yang berkata jangan. Dia adalah si pembuat Aksa sakit, dia yang ada di depan Aleta adalah si pembuat sakit hati, dia mematahkan semua harapan dan cinta yang baru saja Aleta bangun. Luka kemarin masih berdarah sama sekali belum menjamah obat, jika harus kembali kepada Elvan, dia harus apa untuk menutup luka itu?


"Tidak ada yang perlu terulang."


Elvan menoleh begitu cepat menatap wajah Aleta yang putih pucat tanpa ada polesan apapun.


"Beri gue sekali lagi, Ta. Gue rela apa aja buat lo!"


Sudut bibir Aleta terangkat membentuk senyum kecil, namun memuakkan bagi Elvan. Senyum remeh tak percaya kepadanya.


"Kalaupun gue kasih lo kesempatan, apa iya lo bisa jauh dari semua perempuan itu?" tanya Aleta tenang dengan wajah sebiasa mungkin.


Bukan tanpa sebab Aleta bertanya seperti itu. Bukan tanpa alasan dia berani menanyakan hal pribadi itu. Itu semua ada alasannya. Alasan yang membuat Aleta semakin yakin dengan keputusannya untuk berakhir.


Masih merekat jelas bahkan terbayang sampai saat ini obrolan Aksa dan seorang gadis bernama Kayana.


Kayana 04


13 Desember


Aksa, Elvan ke mana?


20.21


Ada apa?


20.25


Dia bilang akan balapan. Ini jadwalku menemaninya, tapi sampai sekarang belum datang.


20.26


Sm megan kali


20.27


Tp kan hari ini sama aku?


20.27


'Tapi kan hari ini sama aku?'


Satu kalimat yang jelas bahwa Elvan mengatur jadwal untuk bertemu dengan pacar-pacarannya. Dan tanggal itu adalah tiga hari setelah tanggal di mana dia dan Elvan meresmikan hubungan.


Elvan jahat. Setelah menjadikannya taruhan, laki-laki itu juga berbohong. Aleta pikir semua sikapnya itu murni dan nyata. Ia kira Elvan benar-benar jatuh cinta. Tapi, setelah ia yakin bahwa Elvan mencintainya dan ia telah berhasil menjatuhkan hati, justru fakta menyakitkan itu baru muncul.


Sakit hati yang Aleta rasa. Dibohongi dan dipermainkan bahkan oleh sahabatnya sendiri, Aksa. Ingin sekali Aleta marah, marah pada semua orang yang melukainya. Marah pada siapapun yang berhasil membuatnya terjatuh. Tapi lagi-lagi dia harus memendam perasaan itu. Dia hanya mampu diam dan merasakan sakitnya sendirian.


"Gak ada perempuan selain elo, Ta!"


Aleta tertawa sumbang. Menatap wajah Elvan yang begitu tampan terkena sinar sang mentari pagi. Mata coklat susu yang ia miliki menyala indah dengan rambut yang juga memantulkan cahaya terlihat berkilau. Aleta akui Elvan tampan, tapi tampan saja tidak dapat membuatnya mudah memberi kesempatan.


"Lalu siapa Kayana? Megan?"


......


Pikiran Elvan begitu kacau. Emosinya sedari tadi tak jua mereda karena satu kalimat tanya yang Aleta lontarkan beberapa jam lalu dan sialnya ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Dia justru membisu dengan dada berdebar kencang penuh rasa was-was.


"Lalu siapa Kayana? Megan?"


"Lalu siapa Kayana? Megan?"


"Lalu siapa Kayana? Megan?"


Elvan memejamkan matanya erat mencoba mengenyahkan kalimat Aleta yang terus terngiang di kepalanya.


"Gak bisa jawab 'kan?"


"Gue tahu mereka pacar lo. Lo belum putusin mereka ' kan?"


Mata Elvan semakin kuat memejam, kedua tangannya mengepal erat mengingat setiap kalimat Aleta. Dia juga begitu ingat ekspresi dan pancaran sedih dari kedua mata Aleta.


"Jadi siapa yang pembohong?"


"Arrghhhh!"


"Kenapa malah begini sih?" teriaknya menggema di ruang kamarnya. Matanya membuka cepat menatap bayangan dirinya di cermin kamar.


"Cowok bodoh lo!" tuding Elvan pada bayangannya sendiri.


Bibir laki-laki itu melengkung menatap sinis pantulan itu. "Gak seharusnya lo jatuh cinta, tol*l!"


"Tol*l? Lo yang tol*l! Gak seharusnya lo bohong sana Aleta!"


Elvan terdiam menatap bayangannya yang seolah ikut berbicara, membalas setiap perkataannya dengan membalikan apa yang ia ucapkan.

__ADS_1


"Kalau lo jujur dari awal, Aleta gak akan pergi."


Cowok itu langsung menatap sang bayangan sinis. Pantulan dirinya sendiri saja mengejeknya, mungkinkah yang lain juga mengejeknya?


"Lo yang pembohong. Penghianat!"


"Gue bukan penghianat!" teriaknya menggema diiringi tangan yang mengepal erat.


Prank


Tangan Elvan berdarah. Cermin yang sedari tadi menertawakannya pecah. Cermin itu hancur dengan noda darah yang tertinggal. Cermin itu seperti hatinya saat ini, sangat mirip.


Tapi, Aleta jauh lebih sakit bukan?


"Gue emang nyakitin elo, Ta. Kasih tau gue caranya kembali," lirihnya memandang cermin yang pecah itu. Tangannya yang berdarah tidak ia rasakan, tak seberapa bukan dibandingkan dengan hatinya yang sakit? Ya, dia yang menyakiti dan ternyata dia juga tersakiti.


"Mereka pacar gue, tapi gue bakalan putusin mereka kalau lo mau balik."


......


"Lo ngelamun mulu deh, Ta!"


Aleta tersenyum tipis menatap Aksa yang terbaring lemas. Sahabatnya ini meskipun sakit tetap saja cerewet dan tidak bisa diam.


"Gue cuma laper kok, Sa," jawab Aleta lembut.


Aksa ikut tersenyum tipis. Meskipun Aleta tidak cerita, sebenarnya Aksa tahu apa yang cewek itu pikirkan.


"Lo ketemu Elvan ya?"


Aleta kembali tersenyum tipis, ia bangkit dan menjauh sedikit dari ranjang Aksa.


"Gue cari makan dulu ya? Lo sendiri gak apa-apa 'kan?"


Belum juga Aksa menjawab, Aleta sudah lebih dulu menghilang.


"Lo juga kecewa sama gue 'kan?" gumam Aksa menatap pintu ruangannya yang tertutup sempurna.


.....


"BOS!"


Teriakan Gavin berhasil membuat Elvan menghentikan langkahnya. Pagi ini adalah hari pertama mereka terkena hukuman libur.


"Bos, kumpul yu ah!"


Elvan bergumam malas tanpa menoleh kepada Gavin. Cowok si pemilik rambut cokelat susu itu lebih memilih meneruskan langkahnya.


Gavin dengan cepat ikut melangkah membuntuti Elvan yang entah akan ke mana.


"Bos, kita mau ke mana?"


Pertanyaan Gavin serta keberadaan cowok itu justru membuat Elvan berdecak malas.


"Kaya lo punya doi aja."


"Eh, ada bos!"


"Siapa?"


"Mantan bos!"


Sontak Elvan berhenti. Cowok itu langsung berbalik menatap Gavin tajam. Dipikirannya saat ini hanya Aleta.


"Maksud lo mantan gue?" tanyanya dingin kepada Gavin.


Gavin tersenyum jahil dengan alis naik turun menggoda Elvan. "Mantan bos 'kan banyak."


Seketika Elvan terdiam dan wajahnya kembali normal. Apalagi saat dia mengingat bahwa banyak mantannya yang mengejar-ngejar Gavin. Dia pikir Gavin suka Aleta. Oke, maafkan pikiran Elvan yang sedang kacau ini.


"Tangan lo kenapa?"


"Kepo!"


Bukannya tersinggung, Gavin justru tertawa puas menatap Elvan yang semakin menjauh.


Mereka berdua kini berada di daerah dekat taman kota. Motor mereka sengaja ditinggal di parkiran dekat taman. Dan karena Gavin adalah sahabat yang baik, jadilah cowok itu membuntuti Elvan yang entah akan kemana.


"Bos!"


Elvan kembali berdecak. Wajahnya sudah tertekuk seribu lapis.


"APA LAGI SIH?" tanyanya ngegas tidak bisa santai.


Gavin menyengir lebar menatap Elvan. Matanya menyipit tanpa rasa bersalah.


"Kita mau ke mana?"


Lagi dan lagi Elvan mendengus menatap Gavin malas.


"Gak tau," jawab Elvan cuek dan memilih meneruskan langkahnya.


Gavin mengejar langkah Elvan. Cowok itu cemberut.


"Gue gak mau ya kalo diajak tanpa tujuan."


"Siapa yang ngajak?"


"Hehehe.. gak ada sih, bos."

__ADS_1


.......



Kantin yang satu ini adalah kantin paling tenang dibandingkan dengan kantin-kantin yang lain. Lihat saja buktinya, Aleta yang sedang duduk memakan makanannya terlihat begitu nyaman karena meja yang muat untuk empat orang dia duduki sendirian. Lihat juga stan dan warung yang ada di sana, tidak ada yang mengantre.


Aleta mendengus pelan menatap semangkuk soto ayam yang kini ada di depannya. Nafsu makannya sebenarnya tidak ada. Dia kemari hanya untuk menghindari pertanyaan Aksa dan juga Aksa sendiri. Hatinya masih sakit mengingat semua yang Aksa lakukan, ya walaupun tidak separah Elvan.


"Kenapa gak nyoba balikan sih, Ta?" suara Raina tiba-tiba terdengar. Gadis dengan baju flanel birunya itu kini terduduk menghadap Aleta yang menatapnya tidak suka.


"Sekali brengs*k, ya tetep brengs*k."


Riana tersenyum, senyum tipis pertanda dia begitu mengerti perasaan Aleta. Ya, mereka sama-sama perempuan jadi dia pasti tahu apa yang Aleta rasakan. Hanya saja, jika dia menjadi Aleta dia tetap akan merasa senang dikejar-kejar oleh sosok bernama Elvan.


"Yang preman aja bisa jadi ustadz lo, Ta," ucap Raina dengan nada menggoda. Sebenarnya dia tahu bahwa Aleta dan Elvan memang saling mencintai. Makanya, dia mencoba membujuk. Ah, ngomong-ngomong soal Elvan dia jadi ingat Gavin yang tadi berlari mengejar cowok itu.


"Ya kalau udah sadar sih belah gunung jadi seribu juga bisa."


"Eh, ngomong-ngomong gue tadi ketemu dua curut itu," kata Raina seenaknya mengganti topik pembicaraan mereka.


"Curut? Tikus? Di got depan rumah sakit pasti!" Sahut Aleta semangat. Cewek itu terlihat sumringah saat membahas curut.


Riana berdecak. Aleta ini memang suka dengan tikus, apalagi tikus putih. Dia punya lima di rumah. Tapi, kalau tikus got, curut, atau tikus yang besar dan hitam dia tidak suka memelihara. Melainkan dikejar, lalu dibuang sejauh mungkin.


"Bukan!" Rania melempar kacang yang ada di depannya, "curut itu si Gavin sama bosnya."


Aleta langsung mendengus malas. Tangannya dengan cepat menyendok sotonya lalu di masukan ke mulut begitu saja.


"Tangan Elvan sakit."


Cewek itu berhenti menyendok. Matanya menatap terpaku pada Raina yang tidak jua melanjutkan perkataannya. Namun, detik berikutnya Aleta berdiri tanpa kata dan meninggalkan Rania begitu saja.


"Heh, Al mau kemana?" tanya Rania heran kemudian menyusul Aleta yang berjalan begitu cepat.


.....


"Gue gak ngerti deh, bos?" ucap Gavin frustasi menatap Elvan yang diam bak pohon mangga yang ada di sebelah kanannya.


Gavin mendengus setelah lima menit tak jua mendapat respon dari Elvan. Cowok dengan wajah imutnya itu memilih berbaring menatap rimbunnya pepohonan di depannya.


"Gue seneng sih tempatnya, bos. Tapi kalau didiemin elo begini rasanya horor," gumam Gavin yang tak menyerah membujuk Elvan berbicara.


Elvan menatap Gavin sekilas , alu menunduk lesu.


"Gue ngerasa tol*l."


"Ya! Bos emang tol*l!" sahut Gavin begitu polos membuat Elvan mendengus sekaligus setuju.


Elvan menatap tangannya yang terluka dengan nanar, "Tangan gue emang sakit, tapi hati gue lebih sakit, Vin."


Gavin terkekeh lalu mengambil posisi berbaring miring bertumpu pada siku kirinya menghadap Elvan.


"Ya ... tanpa lo bilang juga anak kecil tahu lo patah hati."


"Gue nyesel. Kalau boleh milih gue pengen gak jatuh cinta aja," kata Elvan lirih memandang Gavin.


Gavin langsung terduduk dan memegang kedua bahu Elvan dramatis. "Sadar, bos! Tanpa cinta kita bukan apa-apa."


Elvan menatap wajah Gavin penuh seringai. Seringai putus asa dan juga menyesal yang begitu ketara.


"Kira-kira Aleta mau gak bali sama gue?"


Kedua tangan Gavin langsung melemas seketika. Tangannya yang memegang bahu Elvan terlepas detik itu juga.


"Bos, jangan berharap sama apa yang udah kita rusak. Seperti kaca bos, ketika udah pecah dan kita satuin setiap kepingnya mereka gak akan membentuk satu bayangan utuh, melainkan banyak bayangan. Ya justru itu semakin membuat kita sadar betapa hancur nya dia, kan?"


......


Hari ini tepat di mana Aksa diperbolehkan pulang. Dan hari ini pula bertepatan dengan libur mendadak Gavin dan Elvan yang keempat hari.


Aksa, Gavin, dan Elvan berkumpul dalam satu tempat menunggu satu-satunya perempuan di antara mereka. Dia sedang mengurus administrasi dan dokter.


Kedua orang tua Aksa sudah datang sejak sehari setelah Elvan hampir membuat Aksa mati di tempat. Keduanya kini sedang duduk manis menunggu apa yang akan anak-anak muda itu lakukan.


"Tante, saya sudah melunasi administrasinya sesuai yang tante dan om minta. Dan ya, dokter akan memeriksa Aksa terlebih dahulu."


Aleta tersenyum manis setelah menjelaskan apa yang menjadi tugasnya. Gadis itu kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Mama Aksa yang terkesan ramah.


"Terima kasih ya, Al. Gak tahu deh tante kalau gak ada kamu. Apalagi si Aksa itu bandel!" kata Mama Aksa gemas, sedangkan sang papa justru tersenyum menanggapi perkataan sang istri.


"Om itu seneng Aksa ada sahabat kaya kamu. Tapi, om lebih seneng kalau kalian jalani hubungan lebih."


Seketika suasana mendadak hening. Aleta gugup dan cukup terkejut karena nyatanya perkataan Papanya Aksa tak pernah ia pikirkan. Iya sih Aksa pernah menembaknya, menyatakan cinta dengan begitu percaya diri, tapi untuk ucapan itu tak pernah dia banyangkan.


Di sisi lain, tepat di belakang tembok yang Alet duduki Elvan dan Gavin saling terdiam mendengar percakapan ketiga orang di seberang sana. Namun, mata keduanya tak lepas menatap Aksa yang sedang berbaring dengan begitu santai, padahal sang dokter sedang menyuntikan sesuatu di lengan kanannya.


"Lo kalah, bos," bisik Gavin pelan membuat Elvan tertegun seketika.


Laki-laki pemilik rambut secoklat susu itu kini terdiam kaku menatap ke depan dengan kosong. Papanya entah kemana Elvan kini tidak pernah tahu. Yang Elvan tahu hanya papanya menikah lagi, sedangkan sang mama? Dia saja tidak pernah akur, lalu siapa yang akan meminang Aleta kelak? Dia sendiri? Tidak, itu tidak mungkin. Ayah Aleta pasti menolaknya.


"Bos!" Elvan langsung tersentak kaget menatap Gavin di depannya yang telah berdiri di sebelah Aksa. Meski wajahnya tak bersahabat menatap Aksa, Elvan tetap berdiri dan mengikuti mereka berdua untuk keluar ruangan.


"Udah selesai? Beneran boleh pulang 'kan kamu, Sa?" tanya sang mama begitu cepat setelah tahu anaknya keluar dari ruang rawatnya.


Aksa tersenyum singkat menatap sang mama lalu mengangguk. Kemudian matanya beralih menatap Aleta yang kini menatap kosong tanpa semangat. Tangannya tidak mampu diam ketika melihat sahabatnya melamun. Tanpa peduli dengan Elvan, laki-laki itu menarik tangan Aleta cepat dan memeluknya erat.


"Trust me, semua bakalan baik-baik aja. Don't worry, Ta."


Aksa memeluk Aleta erat penuh kasih sayang. Kedua orang tua Aksa tersenyum simpul dan berharap keduanya bersatu. Sedangkan Gavin sibuk menutup kedua mata Elvan bak orang tua yang melarang anaknya menonton adegan berkelahi di film.

__ADS_1


"Bangs*t!" umpat Elvan pelan tanpa berusaha menyingkirkan tangan Gavin.


......


__ADS_2