Elvan

Elvan
051


__ADS_3

051


Sadar


"Aleta sadar!"


....


Herman menunduk merenung memikirkan reaksi sang putri saat tersadar. Akankah Aleta bahagia bersamanya? Apakah Aleta akan memaafkannya atau Aleta justru akan membencinya? Tidak-tidak. Herman tidak boleh berpikiran buruk. Yang terpenting adalah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Ia yakin Aleta pasti memaafkan dirinya.


Mata Herman menatap Aleta sendu, rambutnya kembali diremas pelan. Penyesalan itu masih ada di lubuk hatinya. Rasa bersalah itu semakin membesar saat menatap tubuh putrinya terbaring lemah.


Remasa pada rambutnya pelahan mengendur, pria paruh baya itu mendekati kaca bening yang memerlihatkan putrinya di dalam sana. Matanya memicing tajam seperti melihat pergerakan, seketika ia menjadi terkejut bukan main.


Tangan Aleta bergerak!


Meski dari jarak yang cukup jauh, Herman dapat melihat gerakan itu. Gerakan kecil dari jari-jemari putrinya.


Dengan cepat, pria paruh baya itu berlari mencari dokter. Langkahnya panik dan senang bukan main. Dokter pun segera masuk dengan diikuti beberapa suster guna memeriksa keadaan Aleta.


Herman kembali duduk, kedua tangannya saling menggosok cemas. Semoga ini pertanda baik. Semoga saja Aleta sadar.


"Om, kenapa banyak dokter di ruang Aleta?" tanya Aksa yang baru saja tiba. Cowok itu masih mengenakan seragam sekolah dan juga tas ransel di punggungnya. Wajahnya panik bukan main saat baru sampai sudah melihat Aleta dikerubungi seperti itu.


Herman mendongak menatap Aksa dengan senyum. "Aleta sadar!"


Deg.


Aksa justru mematung kaku. Aleta sadar, harusnya dia senang. Aleta sadar, harusnya dia merasa lega. Tapi semua itu justru menjadikan dirinya dalam situasi sulit. Kenapa baru sekarang?


Elvan. Haruskah dia menghubungi cowok itu? Haruslah dia berkata bahwa Aleta telah sadar?


Cukup lama Aksa bergelut dengan pikirannya. Saat dirinya tersadar, kini Herman telah berdiri dan berbicara dengan dokter di depannya.


"Jadi sudah lewat masa kritisnya, dok?" tanya Herman.


Dokter itu mengangguk dan tersenyum tipis. "Iya, tinggal menunggu dia sadar dari obat bius yang kami berikan. Bapak bisa urus administrasinya agar putri bapak segera dipindah ke ruang rawat."


Itu yang Aksa dengar. Setelah itu Herman berterima kasih dan dokter tadi pamit undur diri.

__ADS_1


"Om urus administrasi dulu, kamu di sini jagain Aleta."


Aksa belum sempat menjawab, namun Herman telah lebih dulu pergi menuju bagian administrasi. Aksa kembali linglung menatap Aleta di dalam sana. Dia masih bertanya-tanya, kenapa cewek itu sadar saat Elvan telah pergi?


.....


Saat ini Elvan dan mamanya sudah duduk manis di dalam mobil menuju bandara. Di belakang mobil yang membawa Elvan, seluruh The Charmer mengikutinya untuk melepas Elvan pergi. Mereka sebenarnya cukup kecewa karena tidak jadi naik gunung sebagai tanda perpisahan. Tapi ya mau bagaimana? Ini demi Aleta, calon bu bos mereka besok. Toh nyawa Aleta lebih penting daripada acara naik gunung mereka.


Dalam perjalanan perasaan Elvan kembali bimbang. Entah kenapa Elvan merasakan sesuatu agar dirinya kembali lagi ke rumah sakit. Dia merasa bahwa kepergiannya harusnya bukan sekarang. Namun, itu tidak mungkin, kini dirinya dalam perjalanan menuju bandara. Dia tidak mungkin meminta mamanya membatalkan ini semua. Jika dirinya meminta untuk putar balik, mamanya pasti kecewa atas keputusannya yang berubah-ubah.


"Kenapa nak?" tanya Dara saat melihat gurat cemas di wajah Elvan. Wanita itu tersenyum lembut menatap putranya.


"Enggak, Elvan khawatir sama papa," kata Elvan berkilah, ya meskipun tidak sepenuhnya dirinya berbohong.


Dara tersenyum, ibu tidak mungkin bisa mudah untuk di bohongi. Dia tahu apa yang Elvan rasa. Putranya sedang merasa bimbang. Tapi ini keputusan Elvan sendiri untuk memilih bersamanya ke London. Tiket pun sudah dipesan dan tidak mungkin dibatalkan. Saat seperti inilah Elvan harus bertanggung jawab atas apa yang dia putuskan. Membuktikan bahwa dia adalah laki-laki sejati, bukan hanya berkata tanpa bukti.


"Kamu harus bertanggung jawab sama keputusan kamu, sayang," kata Dara lembut.


Elvan mengangguk mengerti. "Iya ma."


....


2 hari kemudian


"Kenapa dia di sini, yah?" tanya Aleta dingin. Dia dan sang ayah sudah berbaikan sejak 6 jam lalu, sebelum dirinya kembali tertidur.


"Dia istri ayah,"jawabnya singkat.


"Aleta gak suka sama dia."


"Aleta harus menerima, Mama Vela baik sama kita. Ayah butuh pendamping, sayang. Ayah akan jauh lebih terpukul jika kemarin Mama Vela tidak di samping ayah, mendukung ayah agar berdamai dengan kamu."


"Aleta sayang ibu," lirihnya sambil terisak pelan. Herman pun memeluk putrinya erat, sedangkan Vela tetap duduk diam di sofa. Dia cukup mengerti bila Aleta belum menerima dirinya sebagai ibu sambung.


"Ayah juga rindu ibu, tapi kita sekarang ada Mama Vela. Dia pasti bisa menjadi ibu yang baik buat Aleta."


"Tapi-"


"Ayah sayang sama Mama Vela, ayah juga sayang Aleta. Aleta sayang ayah?"

__ADS_1


Aleta mengangguk pelan dalam pelukan Herman. Gadis itu terisak saat mendengar ayahnya menyayanginya.


"Terima Mama Vela, ya?"


Akhirnya Aleta mengangguk dan bergumam iya dengan nada serak.


Herman pun melepas dekapan mereka. Pria itu pamit akan ke kantin sebentar.


Vela tersenyum menatap Aleta yang menatapnya dalam diam. Wanita itu beranjak dan mendekati gadis itu.


"Mau makan sesuatu?" tanya Vela lembut. Hatinya senang bukan main saat Aleta tidak menilai saat dirinya mendekat.


Aleta menggeleng pelan.


"Mau minum?" Aleta kembali menggeleng.


"Aleta mau tidur," katanya pelan. Dia langsung memejamkan matanya erat tanpa permisi.


Meskipun Aleta terkesan dingin, Vela tetap tersenyum. Dia cukup mengerti bahwa Aleta belum sepenuhnya menerima dirinya.


......


Aleta terbangun dari tidurnya saat matahari mulai turun. Gadis itu sedikit kebingungan saat tidak mendapati siapapun di ruangan itu. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Karena saat ini pintu kamarnya terbuka, menampilkan satu persatu teman-temannya memasuki ruang rawatnya.


Kini dengan badan nyeri dan pegal-pegal, Aleta berbaring mentap satu persatu anak The Charmer dan juga Doni serta Raina. Ini pertama kalinya dia dijenguk oleh teman-temannya. Meskipun The Charmer bulan teman dekat, tapi mereka adalah teman Elvan, teman Aksa juga. Namhn, Aleta sekit kecewa. Matanya menelisik mencari keberadaan Elvan yang tidak terlihat. Dia jadi berpikir bahwa Elvan enggan menjenguknya.


Aksa mulai berjalan mendekati ranjang gadis itu. Di seberangnya Raina berdiri membawa satu paket buah. Aksa dan yang lain cukup mengerti bahwa gadis itu mencari Elvan. Namun, untuk saat ini lebih baik mereka diam. Tak ada satupun yang berani membahas tentang Elvan. Aksa pun berpikir begitu. Tidak perlu menjelaskan ini itu dulu karena di sini begitu banyak orang. Tidak mungkin dirinya membiarkan Aleta menangis di depan mereka semua.


"Cepet sembuh ya, Ta. Lo bikin gue sama Arkan kelimpungan ngadepin si bos yang nangis!" canda Gavin kepada Aleta. Cowok berwajah imut itu tersenyum manis. Di sampingnya berdiri Marco yang membawa satu paket buah juga bunga segar. Itu semua hasil patungan mereka bersebelas.


Candaan Gavin tidak membuat Aleta tertawa lepas seperti yang lainnya. Di benaknya justru memikirkan Elvan yang menangisi dirinya dengan takjub, bukan lelocon. Elvan, cowok playboy yang pernah menjadikan dirinya taruhan itu menangis? Cowok yang ia nilai tidak benar-benar mencintai dirinya itu menangis?


"Lo harus tau Ta, si bos tiap hari datang ke sini. Bolos sekolah coba!" kata Gavin melebih-lebihkan. Padahal kan Elvan memang sudah bukan murid Angkasa Raya mulai Senin itu. Tapi, semuanya tetap bersorak mendukung Gavin, kecuali Marco. Cowok itu justru menatap wajah Aleta lama, tanpa siapa pun sadari.


Setelah itu, mereka mengobrol santai dan mengucapkan doa agar Aleta cepat sembuh. Tepat pukul lima sore, anak-anak pamit pulang kecuali Aksa.


"Pamit kita, ya?" kata Gavin mewakilkan.


Kemudian satu persatu dari mereka berjabat tangan dengan Aleta. Hingga akhirnya tangannya bersentuhan dengan Marco. Aleta mendongak menatap tangan yang sudah cukup lama berjabat dengannya.

__ADS_1


Marco tersenyum, mengabaikan Aksa yang sudah mendelik tak suka. "Gue Marco, anggota baru The Charmer. Salam kenal ya!"


......


__ADS_2