Elvan

Elvan
048


__ADS_3

048


Dipercepat


"Seminggu lagi."


.....


Elvan akhirnya sampai di rumah hampir jam 12 malam. Kakinya melangkah tak enak kepada sang mama yang pasti khawatir menunggunya. Acara naik gunung pun mereka batalkan karena seharusnya pukul 9 malam tadi mereka sudah berkumpul dan berangkat menuju Merbabu.


"Dari mana, Van?" tanya Dara saat Elvan memasuki rumah.


Elvan mencari keberadaan mamanya, ternyata wanita itu duduk di kursi membelakanginya. Pantas saja dia tidak bertanya tentang keadaan Elvan. Terlebih penampilannya cukup kacau dan masih ada bercak darah di sekujur tubuhnya.


"Habis nungguin pacar, ma. Dia kecelakaan."


Dara langsung berdiri, menghadap Elvan dengan tatapan terkejut. Dia sungguh syok melihat Elvan yang penuh dengan bercak darah.


"Bagaimana bisa?" tanya Dara mendekati Elvan. Tangannya mencoba memegang Elvan, ingin memastikan sang putra tidak kenapa-kenapa.


"Pacar kamu gimana?"


Elvan mengembuskan napasnya perlahan sebelum menjawab. "Koma, ma."


Dara kembali terkejut. Dia merasa tidak tega kepada Elvan yang pasti sangat terpukul. Padahal dia juga harus berbicara hal penting dengan Elvan. Dan anak itu akan merasa semakin terpukul. Namun, bila tidak dibicarakan keadaan justru akan semakin memburuk.


"Van," panggil Dara pelan, mengelus pipi sang putra dengan noda darah di sana.


"Mama sebenarnya tidak tega berkata seperti ini, tapi nak, kamu harus memilih. Papa kamu semakin memburuk, kita harus segera ke sana. Papa rindu kamu katanya."


Elvan terdiam sesaat mencerna apa yang mamanya katakan. Dirinya benar-benar sulit jika seperti ini. Bimbang. Aleta koma, dia ingin selalu ada di dekat cewek itu. Tapi, papanya juga semakin memburuk. Dia tidak mungkin tega membiarkan papanya semakin tersiksa.


"Kapan ma?" tanya Elvan setelah kembali sadar. Suaranya serak karena ingin menangis.


Dara tersenyum lembut, dia mengerti keadaan Elvan. Sorot matanya terlihat jelas bahwa dia tidak rela untuk memilih salah satu diantaranya.


"Seminggu lagi."


Elvan mengangguk. Ya, setidaknya seminggu besok dia akan manfaatkan untuk bersama Aleta. Acara bersama teman-temannya akan dia batalkan semua. Dia harus ada untuk Aleta. Dia juga berharap, hadirnya akan membuat Aleta menjadi cepat pulih.


"Elvan mandi dulu, ma."


......


"Aksa, Om Herman beneran tidak mau ke sini?" tanya Papa Aksa.


Kini keluarga Aksa masih terduduk di kursi tunggu, menunggu Aleta yang entah diapakan lagi oleh dokter di ruang ICU.


Mama Aksa sedari tadi tak jua berhenti menangis. Bagaimanapun Aleta sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


"Katanya biar saja. Palingan juga cuma lecet." Aksa menjawab dengan nada datarnya.


Dia geram, sangat geram kepada Herman. Sedari dulu pria itu seperti tidak sayang terhadap Aleta. Hanya karena takdir tidak berpihak kepadanya, dia menyalahkan Aleta. Anak yang sangat disayangi almarhumah istrinya.

__ADS_1


"Kamu tidak mau mencoba bilang lagi kalau Aleta koma?"


Aksa mendengus. Bahkan Aleta pergi kemarin karena Herman berkata tidak apa, bila Aleta tiada. Jadi untuk apa?


"Aksa?" panggil mamanya pelan.


Aksa mendongak menatap wajah wanita yang paling dia sayang, dia melihat gurat sedih juga muka sembab milik sang mama.


"Mama butuh sesuatu?" tanya Aleta perhatian.


Mama Aksa menggeleng dengan senyum tipis di bibirnya. "Kamu sayang sama Aleta?"


Aksa mengangguk mantap menatap mama dan papanya. "Aleta sahabat Aksa ma, jelas Aksa sayang."


"Kamu tahu kan yang mama maksud?"


Aksa menghela napasnya pelan. Kenapa mamanya bertanya disaat seperti ini?


"Apa yang mama inginkan?" tanya Aksa cepat.


"Bawa Aleta pergi kalau memang Herman tidak menginginkannya."


.....


Pagi harinya Elvan langsung meluncur ke rumah Aleta. Cowok itu tahu bahwa Ayah Aleta belum jua ke rumah sakit untuk menjenguk sang putri. Aksa bilang, pria itu hatinya sekeras batu. Aksa bilang, pria itu begitu membenci Aleta.


Kini cowok itu telah berdiri di depan pintu rumah Aleta dengan baju yang bisa dikatakan cukup rapi. Noda darah milik Aleta semalam pun sudah hilang dari badannya.


Tok. Tok. Tok.


"Kamu kan-"


"Elvan tante, yang waktu itu jemput Aleta," potong Elvan cepat. Cowok itu mengulurkan tangannya menyalami Vela dengan sopan.


Vela pun menganggukan kepalanya mengerti. "Aletanya-"


"Saya tahu tante."


Vela meringis aneh menatap Elvan yang seolah tahu apa akan ia katakan.


"Lalu ... Kenapa kemari?" tanya Vela penasaran.


Elvan tersenyum sopan menatap wanita di depannya.


"Maaf ya tante, mungkin tante sama om sudah tahu kalau Aleta kecelakaan. Tapi, boleh saya bertemu sama ayahnya Aleta?" jelas Elvan begitu lancar.


Vela menatap Elvan dengan sedikit kagum. Laki-laki di depannya ini begitu berani meski baru pertama kali berbicara seperti ini dengan dirinya. Dia begitu bertanggung jawab, terlihat dari cara berbicaranya.


"Ada perlu apa? Soal kecelakaan itu, iya, saya dan suami saya memang belum sempat ke rumah sakit."


"Saya ada perlu dengan om," jawab Elvan.


Tiba-tiba dehaman keras terdengar dari belakang Vela. Tak lama kemudian muncul pria paruh baya yang bisa Elvan pastikan adalah Ayah Aleta.

__ADS_1


"Ada apa mencari saya?"


Elvan tersenyum sopan, tangannya berusaha menyalami Herman. Namun, Herman menepisnya cepat.


"Ada apa mencari saya?" tanya Herman lagi. Kali ini nadanya lebih dingin.


Elvan tersenyum, dia cukup mengerti kalau Herman adalah orang yang cukup dingin dan sedikit keras.


"Soal Aleta-"


"Buat apa lagi? Saya cukup tahu dia ada di rumah sakit, kecelakaan. Iya?"


"Iya om, tapi-"


"Apa? Dia mengemis padamu?"


"Tidak om, tapi-"


"Jika tidak penting silahkan pergi."


Elvan geram sendiri dengan Herman yang tidak membiarkan dirinya selesai berbicara.


"Apa seperti ini cara om berbicara dengan saya yang ingin memberi kabar om tentang Aleta?" tanyanya dingin.


"Saya tidak peduli." Herman memilih berbalik, sedangkan Vela menatap Elvan tidak enak.


"Aleta koma. Kecelakaannya bukan hanya lecet biasa. Apa om mau Aleta menyusul ibunya?"


Herman mendadak berhenti melangkah, Vela sendiri sudah menangis dengan kedua tangan menutup mulutnya.


"Jangan asal berbicara kamu!"


Elvan tersenyum sinis menatap pria paruh baya di depannya. "Saya tidak pernah asal saat berbicara sesuatu. Saya bukan om."


Herman mendelik tajam menatap Elvan yang begitu berani. Dia melangkah besar-besar mendekati Elvan.


"Jaga bicara kamu! Kamu siapa? Kamu tidak berhak lancang meskipun sering mengantar jemput anak saya!"


"Saya hanya ingin menyadarkan Anda yang tidak pernah menghargai Aleta. Anda ayah yang buruk karena tidak pernah bersyukur punya anak perempuan sehebat dia!"


Plak.


Herman menampar Elvan keras. Mata pria itu sudah memerah menahan amarah.


"Mas-"


"Diam Vela! Anak ini butuh diberi pelajaran!"


"Gak papa om tempar saya. Gak papa om gebukin saya di sini. Tapi, setelah itu om ke rumah sakit. Lihat kondisi Aleta yang begitu mengenaskan. Dia koma, om."


"Kamu-"


"Coba kalau semalam om tidak mengusirnya. Coba kalau dulu om tidak pernah menyiksanya. Coba kalau-- kalau om bisa menerima bahwa ibu Aleta sudah tiada. Om pasti bahagia. Om-"

__ADS_1


Bugh.


......


__ADS_2