
040
Pergi
"Ikut mama, tinggal dan merawat papa kamu. Di London."
.....
Malam cukup larut ketika Elvan sampai di rumahnya. Cowok itu masih muram mengingat Aleta yang harus dijauhinya. Bisakah? Elvan sendiri tidak tahu dirinya bisa atau tidak.
Krett ... Pintu rumahnya terbuka. Rumah ini tetap terang meskipun sangat sepi. Kakinya melangkah masuk, menguci pintu lalu berbalik menuju lantai dua.
"Van?" Panggilan yang sudah lebih dari dua minggu tidak didengarnya kembali ada. Mamanya sudah pulang ya?
Kali ini Elvan memilih berhenti. Dirinya tidak punya tenaga lebih untuk berdebat ataupun memaki mamanya itu.
"Sudah makan?"
Elvan berdeham pelan setelah itu melanjutkan langkahnya.
"Mama mau bicara. Bisa?" Elvan tetap melanjutkan langkahnya tak menggubris Dara yang mengajaknya berbicara.
"Tentang kita. Tentang papa kamu dan mama."
"Apa yang harus dibicarakan?" tanyanya dingin. Topik yang dibawakan mamanya berhasil membuatnya sedikit tertarik.
"Kesalahpahaman di antara kita." Dara berucap lirih. Ya, mungkin Elvan harus mendengarkannya kali ini. Dia cukup sulit kehilangan Aleta setelah kehilangan sang mama dan papanya yang dulu.
"Duduk di ruang tengah. Gue ganti baju dulu." Setelah berkata seperti Elvan melangkah memasuki kamarnya.
.....
"Jadi apa?" tanya Elvan ketika dirinya baru saja tiba di ruang tengah.
Dara tersenyum menatapnya. Senyum tipis namun tulus terpatri di bibirnya.
"Duduk sini, mama sudah membuatkan ini untukmu," kata Dara tulus, dia menyerahkan semangkuk roti kering berisi selai coklat.
Elvan menerimanya. Entah dorongan dari mana, Elvan menerima mangkuk itu.
"Mama sebenarnya tidak selingkuh."
Elvan diam, membiarkan sang mama yang baru saja memulai cerita namun suaranya telah serak.
"Papa kamu bohong. Bukan mama, tapi papa."
"Masa iya? Selama masih ada papa, lo emang sering kok ketemu cowok. Gue sama papa liat sendiri," jawabnya karena tak terima sang papa dituduh selingkuh.
"Enggak, sayang." Dara terisak.
"Mama gak selingkuh, yang kamu lihat sama papa itu pengacara mama."
Elvan terdiam memikirkan apa benar yang diucapkan mamanya?
"Bohong."
Dara menggeleng, menahan isakannya demi berbicara kembali.
__ADS_1
"Mama mau ceraikan papa saat itu, papa kamu selingkuh. Papa kamu menuduh mama selingkuh agar hak asuh kamu dia yang dapat."
"Bohong. Lo bohong kan?" tanya Elvan masih dengan nada tidak percaya. Papanya, orang yang paling dia kagumi dan ia bela selama 18 tahun ini justru yang bersalah?
"Enggak, Van. Kalau mama bohong, kamu sudah ada sama papa kamu. Orang-orang tahu papa yang selingkuh, tapi papa kamu sengaja tidak memberitahu kamu. Kamu dibuat benci sama mama."
Elvan memikirkan kembali perkataan Dara. Mamanya benar, hal asuh di menangkan Dara. Meskipun otak Elvan tidak seencer air, tapi dia tahu kalau perkataan sang mama tidak berbohong sekarang.
"Ma..."
Dara terkejut menatap Elvan yang sudah lama tidak memanggilnya dengan sebutan mama. Senyum cerak langsung terlukis di bibir Dara.
"Maaf," kata Elvan pelan kemudian memeluk mamanya erat. Dia benar-benar menyesal telah mengacuhkan sang mama selama ini.
Dara membalas pelukan Elvan. Wanita itu menepuk punggung Elvan dengan lembut. "Mama maafkan, ini bukan salah kamu. Tapi salah mama dan papa."
Hening sejenak melingkupi mereka. Elvan yang asik menikmati pelukan sang mama dan Dara yang tengah mengobati rindu atas Elvan.
"Jadi papa di mana?" tanya Elvan mencairkan suasana.
Dara terdiam, menimang apakah harus berbicara dengan Elvan? Apakah penting untuk Elvan tahu keadaan papanya?
"Ma?"
Dara mengambil udara sebanyak-banyaknya sebelum kembali menatap Elvan. Senyum manis dan tulus terlukis indah menghiasi wajah yang mulai menua, tapi tetap cantik.
"Ada di London."
"Jauh."
"Iya, papa kamu sakit keras. Istri mudanya pergi dengan laki-laki lain."
"Semenjak mama pergi dua bulan penuh kemarin."
"Mama kenapa gak bilang?" tanya Elvan serak. Bagaimana pun dia sayang dengan papanya. Dia tidak bisa membenci meskipun tahu bahwa dirinya dibohongi selama ini.
"Kamu bahkan tidak pernah mau berbicara dengan mama, Van."
Cowok itu terisak. Kembali menyesal akan hal bodoh yang ia lakukan.
"Berhubung kamu sudah mau berbicara sama mama, mama mau bilang sama kamu satu hal penting."
"Apa ma?" tanya Elvan serak.
"Ikut mama, tinggal dan merawat papa kamu. Di London."
.......
"Aksa?" panggil Aleta gemas saat Aksa tak jua membukakan pintu rumahnya.
"Aksa!" teriaknya kencang sambil menggedor pintu kencang.
Klek ... Muncul Aksa dengan wajah bangun tidur yang menyebalkan sekali untuk dilihat.
"Berisik, Ta."
Aleta melengos, cewek itu memilih mendorong Aksa dan masuk tanpa permisi. Dia mendudukkan diri dengan santai di sofa ruang tv, tangannya meraih remot kemudian memindah acara sesuai yang dia suka.
__ADS_1
"Gak sopan amat sih, Ta. Salam kek, atau apa kek," gerutu Aksa. Dia ikut duduk di sebelah Aleta.
"Bauk, Sa. Mandi sana!" perintah Aleta galak.
"Gue wangi ye! Lo kali ke sini belum mandi."
Aleta cemberut malas menatap Aksa.
"Gavin udah ke sini?" tanya Aleta mengalihkan topik pembicaraan.
Aksa menggeleng. Cowok itu langsung merebahkan diri dengan paha Aleta sebagai bantal.
"Minggir!" marah Aleta sambil mendorong kepala Aksa kasar.
"Gak mau. Gini aja bentar," tolak Aksa. Bahkan kepalanya tidak bergeser sedikitpun meski sudah didorong Aleta kuat.
"Sa, kalau ada Gavin gak enak ntar."
"Heleh, biarin. Kita kan sahabatan."
"Sa, orang tua lo ntar salah paham."
"Biarin, kan udah direstuin."
"Aksa!"
"Apa?"
Aleta langsung terdiam. Cewek itu cemberut tanpa mau menatap Aksa yang menyebalkan.
Aksa juga ikut diam. Dia tidak berminat untuk membujuk Aleta saat ini, yang penting Aleta tidak mengelak banyak untuk posisinya saat ini.
"Gue gak ikut The Charmer lagi."
Aleta langsung menunduk menatap Aksa. Matanya cukup menyiratkan keterkejutan serta rasa khawatir.
"Kenapa? Elvan ngeluarin lo?"
Aksa tersenyum lalu menggeleng pelan. "Gue sadar diri kok, Ta. Elvan kecewa sama gue yang bohongin dia soal kita."
"Tapi lo termasuk orang yang dia percaya, Sa."
"Masih ada Gavin kali, Ta. Gak usah khawatir sama Elvan."
Aleta mengembuskan napasnya kasar. Dia membuang muka agar tidak menatap Aksa lagi. Matanya mulai berkaca-kaca saat ini.
"Maaf karena gue, lo sama Elvan jadi hancur."
Aksa terduduk mengetahui Aleta yang hampir menangis. Suara cewek itu mulai serak saat ini.
"Bukan salah lo, tapi gue. Dari awal sahabatan sama Elvan, gue yang bohong. Gue bilang mama nyariin, mama gak bolehin gue keluar malem, padahal itu semua buat elo."
Tangis Aleta benar-benar pecah saat ini. Satu sisi dia merasa bahwa perjuangan Aksa memang patut dikatakan hebat demi dirinya. Terbesit rasa bersalah dalam hatinya karena telah menolak Aksa yang begitu baik. Di sisi lain, ia tidak enak kepada Elvan, dia dan Aksa sudah berbohong tentang status mereka.
Aksa beringsut mendekat dan mendekap Aleta erat. Dia ingin memberi sedikit ketenangan untuk Aleta.
"Jangan pernah ngerasa bersalah, Ta. Ini salah gue, bukan elo."
__ADS_1
.....