
039
Penolakan
"Jangan bahas apapun soal kita, Van. Semuanya sudah berakhir."
.......
"Urusan lo sama gue, Hen!"
Suara itu berhasil membuat keduanya diam dan menatap si pemilik suara terkejut.
Elvan. Cowok itu yang berteriak, dari kejauhan langsung mengegas motornya agar sesegera mungkin mendekat kepada Aleta dan Hendra.
Matanya memerah dan nyalang menatap laki-laki yang berani menyentuh Aleta-nya. Cowok si pemilik mata secokelat susu itu turun setelah melepas helm-nya kasar.
"Lepasin dia!" perintah Elvan keras. Kedua tangannya terkepal erat menahan geram.
"Kenapa harus dia?" batin Aleta antara bersyukur dan juga menyesal.
"Weh, lo siapanya? Oh, mantan kan?" ejek Hendra tajam. Cowok itu masih dalam keadaan duduk di motor dan mencekal tangan Alena semakin erat.
"Bangs*t! Lo waktu itu udah kalah, jauhin dia!"
"Denger kan lo, Ta? Dia ta-ru-han," kata Hendra sengaja bersuara keras melirik Elvan.
Aleta menunduk diam. Entah apa yang harus dia lakukan dan apa yang dia rasakan. Tangannya masih dicengkeram Hendra, sedangkan jalan agar dia terlepas hanya Elvan.
"Sialan lo! Lepasin dia!"
"Gimana kalau kita tanya dia mau ikut siapa," tawar Hendra begitu percaya diri seolah Aleta akan memilih dirinya.
Elvan tersenyum mengejek menatap Hendra yang telah berdiri di samping Aleta-nya. Cewek itu terlihat diam dan sedikit takut. Elvan semakin gemas ingin segera menghajar Hendra saat ini.
"Terserah lo, tapi jangan marah kalau lo gak dipilih!" Tantang Elvan percaya diri. Dia yakin, bahkan sangat yakin bila Aleta akan memilihnya. Toh Aleta tidak mungkin memilih Hendra yang sama sekali tidak dikenalnya, terlebih Hendra berpenampilan berandalan, jauh lebih berandalan daripada dirinya.
Hendra langsung tersenyum menatap Aleta. Cewek itu menunduk dengan wajah cemas. Apa lagi yang mereka lakukan? Taruhan?
"Lo dengerkan dia bilang setuju?" tanya Hendra dengan nada mengejek Elvan.
"Pilih gue atau Elvan?"
Aleta menatap Elvan lama. Dia tidak mendengar ocehan Hendra. Dia tidak tahu harus pilih yang mana, bukan karena keduanya sama-sama baik, justru keduanya adalah pilihan yang buruk. Kenapa bukan Aksa saja yang datang? Atau setidaknya Gavin? Atau siapa pun kecuali Elvan.
"Ta?" Aleta tersentak kaget padahal Hendra hanya menyentuh bahunya pelan.
"Gue gak pilih," katanya menatap Elvan dan Hendra bergantian.
"Gak bisa dong," tolak Hendra menyolek dagu Aleta pelan.
"Hendra, jangan pernah sentuh cewek gue!" teriak Elvan keras. Cowok itu melangkah besar-besar mendekati keduanya. Hendra keterlaluan.
"Lo ceweknya emang?" tanya Hendra begitu mengejek Elvan.
__ADS_1
Aleta menggeleng, dia memang bukan ceweknya Elvan kan?
"Lepas!" sentak Elvan keras kemudian menarik Aleta ke belakang punggungnya dengan cepat.
"Brengs*k! Dia ketemu gue duluan!"
"Dia cewek gue!"
Elvan semakin mengeratkan cengkeraman tangannya agar Aleta tidak kemana-mana.
"Dia bilang bukan cewek lo!"
"Jangan bergerak dan nolak sedikitpun, Aleta!" desis Elvan begitu tajam. Ini perintah, bukan sekadar peringatan.
Aleta terdiam. Ya, bukan tanpa sebab Elvan mendesis seperti tadi, itu semua karena dirinya. Aleta benar-benar tidak bisa berdekatan dengan Elvan lagi, makanya dia berusaha melepas tangan Elvan.
"Bro, balapan gimana?" tanya Hendra kalem.
Elvan tersenyum miring. Jika dulu dia akan berkata ya demi apapun, kali ini dia akan berkata tidak demi Aleta.
"Gak sudi. Lo jauhin Aleta."
Hendra tertawa renyah menatap Aleta yang bersembunyi di punggung lebar milik Elvan. Cewek itu terlihat cantik ketika ketakutan.
"Gue aja belum jadi kenalan, eh udah di suruh ngejauh."
"Bodo!" kata Elvan keras. Tanpa permisi cowok itu berlalu dan membawa Aleta pergi.
"Naik, lo gak mau kan dianeh-anehin sama Hendra?" Aleta mengangguk dan naik ke motor Elvan dengan cepat. Ini karena dia lelah, dia tidak ingin berdebat dengan siapapun, setidaknya hari ini saja.
.....
Elvan dan Aleta sama-sama terdiam, keduanya menatap lurus pada lampu-lampu kota yang terlihat kemerlip seperti bintang di atasnya. Mereka duduk pada rerumputan di atas bukit.
"Ta, are you okey?" tanya Elvan lembut. Cowok itu menatap Aleta dalam.
"Bukan urusan lo, Van," jawab Aleta pelan, bahkan menyerupai gumaman. Mungkin jika suasana tidak sesunyi ini Elvan tidak akan mendengarnya.
"Lo sama gue masih berstatus teman, Ta. Setidaknya biarin gue seperti Aksa, gue-- gue udah putusin semuanya. Blokir semuanya. Demi lo. Lo mau kan?"
Aleta diam, matanya menatap Elvan yang ada di sebelahnya. Malam cukup gelap, bahkan wajah mereka nyaris tak terlihat satu sama lain, tapi Aleta dapat melihat Elvan walaupun sedikit samar.
"Jangan bahas apapun soal kita, Van. Semuanya sudah berakhir."
"Ta, gue beneran sayang sama lo. Gue gak maksa buat kita balikan, kita mulai dari awal PDKT-an. Tapi seenggaknya izinin gue seperti Aksa."
"Aksa dan Elvan berbeda."
"Gue-"
"Aksa penuh perhatian cuma sama gue, Aksa penuh pengertian cuma sama gue, Aksa selalu ada cuma buat gue. Dari tiga itu aja lo gak punya, Van."
"Ta-"
__ADS_1
"Lo juga suka ingkar janji, Van. Mulut lo buaya."
"Mak-"
"Katanya udah putusin semua pacar, nyatanya? Enggak. Ck, untung gue gak jadi tembak lo waktu itu."
"Al-"
"Lo juga bilang mau jauhin gue, mana? Lo kembali deketin gue kan? Bahkan lo ngajak balikan. Cih, gak bisa pegang omongan lo sendiri kan? Terus sekarang lo bilang udah putusin semuanya? Hih, gue gak yakin."
"Ta-"
"Men- hmmp-"
Elvan gemas. Laki-laki itu menutup mulut Aleta dengan telapak tangannya. Matanya menatap tajam namun penuh sorot kecewa dan tak percaya. Aleta yang sopan, anggun, manis sudah tidak ada. Cewek di depannya ini seperti tidak memiliki perasaan. Dengan mudah dia berkata dan memaki Elvan seperti itu.
Iya, Elvan mengakui bahwa dia salah dulu telah berbohong. Elvan mengakui dulu pernah ingkar janji. Elvan juga mengakui jika dia tidak bisa memegang omongannya sendiri. Ini semua ada alasannya, Aleta.
"Gue akui gue salah. Gue minta maaf. Gue akui gue bohong. Gue minta maaf. Gue akui gue tetep deketin lo dan gue gak akan minta maaf untuk yang satu ini, Ta."
"Lo boleh hina gue, bandingin gue sama Aksa, Gavin, atau seluruh laki-laki di bumi ini. Boleh. Boleh banget. Tapi please, percaya gue beneran udah berubah."
Elvan melepas tangannya, dia merasa cukup untuk berbicara kepada Aleta. Kini cowok itu terdiam menatap Aleta dalam.
"Jauhin gue, Van. Gue bakalan bahagia tanpa Elvan. Gue bakalan gak sedih tanpa Elvan. Elvan itu berengs*k. Cinta pertama Aleta dan yang paling mengecewakan."
"Jangan. Gue gak akan sanggup," kata Elvan lirih. Cowok itu benar-benar tidak akan bisa jika Aleta memintanya pergi.
"Jauhin gue, Van. Gue sakit tiap lihat lo!" teriak Aleta geram.
"Enggak, Ta! Gue gak bisa!" Elvan juga ikut berteriak. Bagaimana lagi agar Aleta percaya dengan Elvan dan mau memberikan kesempatan? Setidaknya hanya sekadar sahabat bukan sebagai pacar.
"Elvan! Gue benci sama lo, lo ngerti gak sih? Gue gak suka ada di dekat lo!"
"Ta! Gue bisa bikin lo bahagia, kita-"
"Cukup, Van! Gue gak sudi ada dalam satu hubungan lagi sama lo, apapun bentuknya gue gak sudi!"
"Kita belum nyoba, Ta. Kita coba ya, tiga bulan aja?" tawar Elvan berusaha sabar.
Aleta berdiri membiarkan Elvan mendongak mentapnya. Tangan gadis itu menunjuk-nujuk wajah Elvan tanpa rasa bersalah ataupun berpikir tentang kesopanan.
"Punya telinga kan lo, Van? Gak denger gue bilang cukup? Punya otak juga kan lo? Gak bisa mikir kalau gue kesiksa karena elo?" tanya Aleta mulai serak.
Elvan akhirnya ikut berdiri. Cowok itu mengeraskan wajahnya menahan emosi. Egonya tergores, harga dirinya terjatuh, dan emosinha meluap. Sabar, Elvan selalu merapalkan kata itu berkali-kali dalam hati. Dia tidak boleh kasar terlebih dengan Aleta. Aleta-nya, mungkin.
"Oke. Gue bakalan jauhin lo. Turutin semua. Tapi dengan satu syarat," kata Elvan dingin. Bukan, dia bukan ingin marah. Dia hanya sedikit terluka. Ah tidak-tidak, dia sangat terluka.
Aleta menatap Elvan tajam. Entah karena hatinya tidak rela atau karena Elvan yang mengajukan sebuah syarat. Intinya, dada Aleta terasa sesak.
"Apa? Aneh-aneh aja. Tau gini gue mending sama Hen-"
"Gue anter lo pulang. Itu nyaratnya," potong Elvan cepat.
__ADS_1
Cukup dengan makian Aleta, cukup dengan keputusannya, dan cukup dengan kebodohannya dia merasa seemosional ini. Cukup. Tidak perlu ada kata Hendra untuk berangan-angan ataupun cowok lainnya.
.....