
046
Celaka
"ALETA!!!"
.......
Herman masih memandang pintu rumahnya walaupun Aleta sudah menghilang sejak 10 menit lalu. Pria itu mengepalkan tangannya erat menahan geram. Dia tidak tega sebenarnya mengusir Aleta dari sana, tapi semua juga salah anak itu. Biar saja dia tahu bagaimana baiknya dia telah memberi anak itu makan dan tempat tinggal selama ini.
Vela menatap sang suami dengan pandangan aneh. Wanita itu tak habis pikir dengan jalan pikirannya yang begitu sempit. Kenapa harus diusir? Kenapa harus dengan kekerasan?
"Mas, kamu keterlaluan," kata Vela memecah diam di antara mereka.
Bibik yang ada di belakang sang tuan, kini undur diri. Sebenarnya dia sudah sedari tadi di sana, menyaksikan sang nona tersiksa. Bahkan dia melihat sendiri bagaimana Herman bersikap kepada Aleta sejak kecil.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Herman dingin.
Vela tersenyum lembut untuk membalas dinginnya sang suami. Harus dengan apa dia menyadarkan suaminya ini?
"Mas, mas cukup pintar untuk paham yang aku maksud."
Herman menatap tajam sang istri. Istri yang sebenarnya hanya ia jadikan ibu sambung untuk Aleta. Istri yang justru membuat Aleta semakin marah padanya.
"Kamu tidak ada hak untuk memberitahuku. Dia anakku, bukan anak kamu. Jadi, terserah aku mau kuapakan!"
Ada denyut sakit saat mendengar kalimat Herman. Dada Vela terasa nyeri. Dia sudah menganggap Aleta seperti anaknya sendiri. Tapi, Herman berkata seenaknya seperti itu.
"Aku memang bukan ibu kandungnya. Tapi aku juga perempuan, mas. Hatinya rapuh perlu dijaga. Aku yang hanya kamu lukai dengan kata saja tidak betah, apalagi Aleta yang kamu lukai semuanya."
"Aku gak tahu ya, mas. Kamu itu maunya apa, pengennya bagaimana? Aku nyerah, kita cerai saja," kata Vela dengan suara mulai serak.
Wanita itu memasuki kamarnya, sesegera mungkin berkemas untuk pergi.
Herman menatap wanita itu dari depan kamar. Dia tidak mencintai wanita itu, dia tidak sedikitpun pernah memerhatikan wanita itu, tapi kenapa dadanya sesak saat mendengar kata cerai dari mulutnya?
"Berhenti." Herman masuk ke dalam kamar. Tangannya memegang erat tangan Vela, menghentikan wanita itu yang sibuk berkemas.
Entah ada dorongan apa, tangannya mengusap air mata sang istri. Sadar atau tidak dia langsung memeluk Vela begitu erat. Dia tidak ingin kehilangan istri untuk kedua kalinya. Dia tidak mau.
"Jangan pergi. Maafkan aku."
......
Aleta berjalan menyusuri jalan dengan begitu pelan. Malam-malam begini dia harus kemana, dia pun tidak tahu. Yang jelas, kakinya memilih menjauh dari kawasan perumahan. Dia tidak mungkin ketempat Aksa lagi karena itu terlalu dekat dengan rumahnya.
Ponsel Aleta ada, dompetnya juga ada. Tapi dia enggan menggunakan keduanya dan lebih memilih terus berjalan.
"Harus kemana? Gak mungkin gue sewa hotel. Mahal."
"Gue gak mungkin ke rumah temen. Mereka gak boleh tahu."
Kaki Aleta akhirnya terus melangkah dan melangkah. Sebentar nama Elvan terlintas dalam pikirnya. Dia sebenarnya enggan, tapi entah kenapa tangannya tergerak mengambil ponselnya dan menghubungi Elvan.
Tut tut tut
Panggilannya tersambung namun tak jua diangkat.
Aleta tetap meneruskan langkahnya. Tangannya yang satu membawa tas, dan yang satu lagi masih berusaha menelpon Elvan.
Cewek itu akhirnya berhenti di dekat halte bus. Mungkin dia akan naik bus itu untuk menghemat biaya.
__ADS_1
"Angkat, Van. Gue gak tahu rumah lo," gumamnya kesal.
Akhirnya bus datang, Aleta langsung masuk tanpa ragu. Tangannya masih sibuk kembali menelpon Elvan. Di halte ketiga, Aleta memilih turun. Cewek itu merasa sudah cukup jauh dari rumahnya.
Kaki mungilnya melangkah ke warung makan sederhana di dekatnya. Mungkin mengganjal perutnya bisa membuat dirinya sedikit lebih kuat.
"Permisi ibu," panggil Aleta pada sang pemilik warung.
Ibu pemilik warung akhirnya keluar. "Eh ana cah ayu, mari duduk dulu nduk."
Aleta pun duduk di salah satu kursi. Dia tersenyum menatap ibu pemilik warung.
"Mau pesen apa?" tanya ibu itu ramah.
"Nasi goreng aja sama es teh, bu."
Ibu itu langsung membuatkan pesanan Aleta. Setelah matang, dia kembali dan ikut duduk di depan Aleta.
"Cah ayu, kok bawa tas mau kemana? Ini sudah malam loh."
Aleta memakan nasi gorengnya dengan perasaan yang juga bingung, bertanya pada dirinya sendiri mau kemana. Ya meski ini baru sehabis isya, tapi memang bisa dikatakan malam. Dan jam seperti ini akan sulit menemukan tempat bermalam.
"Aku mau cari kontrakan, bu," jawab Aleta pelan.
"Walah-walah, uwes wengi loh. Kok ya enggak dari tadi siang?"
Aleta tersenyum canggung menatap ibu pemilik warung. Kalau dirinya tahu akan diusir seperti ini, pasti dia sudah mencari kontrakan dan sudah mendapatkannya sekarang.
"Pinten, bu?"
"Lima belas ribu, nduk," jawab ibu itu.
Kakinya kembali melangkah tak tentu arah. Mengikuti saja ke mana jalan ini akan membawanya seolah ada ujung di depan sana.
Aleta kembali menangis, dia akui dia salah karena telah kabur dan tidak pulang ke rumah. Tapi bisakah sang ayah berpikir bahwa Aleta seperti ini karenanya? Bisakah dia mengerti bahwa selama ini sikapnya membuat Aleta terluka? Bisakah ayahnya menghargai usaha Aleta agar membuat dirinya bangga?
Tidak. Jawabannya tidak bisa. Ayahnya tidak mungkin bisa menghargai dirinya.
Kaki Aleta berhenti melangkah saat tiba di depan sebuah cafe. Matanya memicing tajam menatap sesosok laki-laki di depan sana.
"Itu-- Elvan kan?" tanyanya pada diri sendiri.
Aleta tersenyum lebar, entah kenapa dia ingin meminta bantuan dari Elvan. Dia segera melangkah cepat mendekat. Senyumnya tak henti mengembang.
Tapi, kakinya mendadak kaku. Matanya melotot tak percaya. Elvan tiba-tiba saja memeluk gadis yang keluar dari cafe itu. Menggendongnya cepat menuju mobil.
Saat hendak memutar, Elvan tidak sengaja menatap Aleta. Cowok itu berkedip beberapa kali sampai akhirnya dia sadar itu benar-benar Aleta.
"Aleta?" gumamnya.
Kakinya mencoba mendekat, dia ingin pertanyaan kenapa cewek itu membawa tas cukup besar malam-malam begini?
"Aleta?" sapanya pelan seolah tidak percaya.
Aleta hanya tersenyum tipis, matanya mulai kembali berkaca.
"Mau kemana? Kenapa-"
"Mau pergi. Kembali ke lo lagi."
Elvan menatap Aleta tidak percaya. Apakah cewek itu salah minum? Kenapa berbicara seperti itu? Namun, jika seandainya benar pun dia akan senang.
__ADS_1
"Ta-"
"Tapi gak jadi. Lo udah ada cewek lagi."
Elvan kembali mengingat Megan yang ada di dalam mobil bersama Arkan dan juga Gavin.
"Kamu salah pa-"
"Jadi gue pergi," kata Aleta terus saja memotong ucapan Elvan.
Aleta mulai berbalik hendak melangkah menjauh, tapi tangannya dicekal Elvan begitu erat.
"Jangan pergi sebelum gue jelasin apa yang terjadi."
Aleta tertawa sumbang. Air matanya mengalir deras. Dia harus mendengarkan apa? Fakta bahwa Elvan bahagia dengan wanita lain?
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Lepas!" Aleta berusaha melepas cekalan Elvan.
"Gue bakalan lepas, tapi dengerin gue," pinta Elvan lembut. Matanya tidak bisa berhenti menatap Aleta yang sembab dan sedikit pucat.
"Lo sakit, Ta?" Aleta diam. Dia tidak berselera untuk menjawab pertanyaan Elvan.
Tangan Elvan yang bebas mengusap pipinya pelan. "Lo nangis, kenapa?"
Aleta tetap diam. Meresapi usapan lembut dari Elvan di pipinya. Entah kenapa dia merasa akan rindu dengan apa yang Elvan lakukan.
"Lepas, Van. Gue mau pergi," lirih Aleta.
Elvan benar-benar melepas cekalan tangannya, setelah itu dia memeluk Aleta cepat. Dia merasa takut kehilangan Aleta entah alasannya apa. Mungkin karena dirinya akan ke London?
"Gue bakalan rindu lo, Ta."
Aleta mengernyit bingung, tapi ia juga merasa akan rindu kepada Elvan. Mau tak mau, air matanya mengalir deras.
"Lepas, Van. Gue mau pergi," kata Aleta lagi.
"Mau kemana?"
"Cari kontrakan, lepas!"
Elvan memandang Aleta tidak percaya. Bukankah cewek ini memiliki rumah cukup besar? Lalu kenapa juga mencari kontrakannya malam-malam?
"Gue anterin," kata Elvan cepat. Kemudian cowok itu teringat bila ada Megan, Arkan, dan juga Gavin di mobilnya.
Aleta melihat keraguan di mata Elvan. Cewek itu berpikir bahwa Elvan mencemaskan perempuan di mobilnya itu.
"Gue sendiri aja," kata Aleta berhasil melepas diri dari Elvan.
Entah kejahatan apa yang Aleta lakukan, tapi tiba-tiba badannya terpental jauh karena mobil dari belakang Elvan menabraknya begitu saja.
"ALETA!!!"
......
- ana cah ayu \= ada anak cantik
- Cah ayu \= anak cantik
- Walah-walah, wes wengi loh \= Ya ampun, sudah malam loh
- Pinten \= berapa
__ADS_1