
007
Perhatian Elvan****
Jangan dulu percaya diri, bisa saja perhatian hanya karena kasihan.
.....
Elvan membawa Aleta menuju ruang kesehatan. Cowok itu langsung masuk tanpa menyapa penjaga UKS. Aleta yang di belakang hanya mampu tersenyum canggung kepada Bu Lis, penjaga UKS di SMA Angkasa Raya.
"Bu, obat buat memar di mana?" tanya Elvan sambil mengobrak abrik isi kotak obat.
Cowok itu tak merasa canggung seperti Aleta karena selain hukuman, UKS adalah temannya. Hampir setiap hari dirinya memasuki ruang berbau obat itu, bukan karena sering terluka, tapi karena ia ingin tidur.
"Bukan di situ, Van. Ada di rak salep," kata Bu Lis sambil menunjuk rak kecil yang tergantung di dekat jendela.
Elvan mengangguk singkat menuju rak yang dimaksud. Ia langsung mendudukan Aleta ke kursi di sebelah timbangan. Dengan sedikit berdebat cowok itu mulai mengecek luka milik Aleta.
"Bu, kalau memar ada luka dicuci terus dikompres atau gimana?" tanya Elvan masih dengan mengamati luka.
Elvan memang sering mendapat luka memar, robek, bahkan patah tulang. Tapi dirinya tak pernah mengobati lukanya sendiri. Jika hanya memar atau robekan kecil, ia lebih memilih mendiamkan luka tersebut sampai mengering sendiri.
Bu Lis mendekat ke tempat Aleta dan Elvan. Diamatinya luka pada lutut Aleta.
"Luka ini tidak hanya memar, ada sedikit luka terbuka ditengahnya. Sebaiknya jangan diberi salep itu. Cukup bersihkan dulu baru dikompres," saran Bu Lis yang langsung di laksanakan oleh Elvan.
Cowok itu bergegas mengambil semua keperluan. Aleta yang masih bingung hanya memerhatikan gerakan Elvan. Setelah siap, ia mulai membersihkan pasir dan debu halus yang menempel pada lutut Aleta.
"Gak usah, gue bisa sendiri," tolak Aleta saat Elvan membersihkan lukanya.
"Emang bisa bersihin luka gini? Gak usah ngeyel diem di situ," kata Elvan masih dengan mata fokus ke luka Aleta.
Wajahnya lucu jika sedang serius seperti sekarang. Tanpa sadar Aleta menarik sudut bibirnya. Memerhatikan Elvan yang begitu hati-hati saat membersihkan lukanya. Cewek itu sesekali menggigit bibirnya menahan perih jika kapas Elvan menyentuh lukanya.
Aleta masih memerhatikan Elvan, matanya mengikuti semua gerakan cowok di depannya ini. Lama-kelamaan jantung Aleta mulai bermasalah. Degup jantungnya semakin bertambah kencang.
"Kok jantung gue deg-degan gini ya?" batin Aleta memegangi dadanya yang bertambah sesak karena degup jantungnya semakin tidak teratur.
"Atau jangan-jangan gue punya penyakit jantung?" cemasnya masih dengan posisi sama dengan mata terfokus pada Elvan.
Bu Lis memerhatikan gerak anak didiknya dengan senyum kecil. Lucu. Adegan Aleta dan Elvan sangat mirip dengan adegan yang selama ini ia impikan, namun sayang tak pernah bisa terwujud hingga sekarang.
"Kalau sakit ngomong ya, Ta?" kata Elvan sambil menempelkan bungkusan es batu di sekitar luka memar Aleta. Aleta mengangguk pelan tanda menyetujui.
Elvan masih fokus dengan luka di lutut kanan Aleta. Luka milik Aleta ini tergolong luka kecil. Jika Elvan yang mengalami pasti cowok itu akan biasa saja, bahkan sedang asik bermain voli sekarang.
Namun, kali ini berbeda. Entahlah apa yang terjadi, tapi saat tahu lutut Aleta memar Elvan merasa sedikit iba. Ada rasa ingin mengobati di dalam hatinya.
......
Aksa duduk dengan cemas, matanya selalu melirik ke arah pintu kelas. Pikirannya tak fokus kepada Bu Mira yang sedang menjelaskan materi di depan. Cowok itu masih memikirkan Aleta yang sedari tadi belum kembali ke kelas.
Plug.
Penghapus papan tulis itu mengenai dahi Aksa berhasil menyadarkannya.
__ADS_1
Bu Mira memandang cowok itu dengan galak. Ibarat singa ia sudah siap menerkam mangsanya. Karena Bu Mira tak pernah menyukai siswa seperti Aksa yang bisanya hanya membuat onar.
Aksa menatatap Bu Mira dengan senyum tiga jari. Ia segera berdiri mendekati guru bahasa Indonesia itu dengan dahi yang hitam akibat penghapus tadi. Bu Mira makin melotot tajam saat Aksa mendekat. Bingung kenapa anak ini justru maju ke depan.
"Bu, ibu gak perlu marah-marah ya, nakutin. Saya bisa keluar sendiri kok hehe," ucap Aksa sambil tersenyum konyol. Teman sekelasnya justru memandangnya bingung.
Dihukum kok senang?
Aksa berjalan menuju pintu tanpa menunggu jawaban dari Bu Mira. Tangan cowok itu sudah meraih gagang pintu hampir membukanya. Namun harus gagal karena
"Siapa yang bilang kamu mau saya hukum keluar kelas?" tanya Bu Mira galak.
Aksa mendesah pelan. Kemudian membalikan badannya menghadap Bu Mira. "Loh, biasanya 'kan gitu, bu," ucapnya dengan nada tak sabar.
"Kali ini beda. Dari tadi kamu cuma ngeluarin ke pintu, nyari siapa?"
"Ah, Bu Mira mah ... cuma tertarik aja sama pintunya kok. Soalnya bosen lihat Bu Mira terus," kata Aksa yang sukses mengundang gelak tawa satu kelas. Karena memang benar mereka harus rela bosan memandang Bu Mira. Dalam 5 hari mereka harus memandang Bu Mira selama 6 jam.
"Oh ... jadi bosen ya? Iya?"
"Bu Mira marah."
"Iya. Aduh Aksa kok bodoh sih malah bilang gitu."
Bisikan dari teman sekelas Aksa mulai terdengar membuat Bu Mira menjadi pusing dua kali lipat.
"DIAM!" teriak Bu Mira membuat semuanya menunduk diam.
Bu Mira mulai mengomel di depan kelas melupakan Aksa yang berdiri tanpa kepastian hukuman. Aksa mulai jengah, ia memilih keluar kelas dengan sangat berhati-hati. Baru saja pintu terbuka, cowok itu langsung berjengit kaget bersamaan dengan Aleta.
"Aksa!" ucap Aleta kaget.
"Mau kemana?" tanya Aleta seperti berbisik.
"Nyari elo lah. Takutnya diapa-apain sama Elvan," jawabnya pelan sambil menutup pintu.
"Oh. Lah kok keluar? Gue mau masuk," kata Aleta bingung.
"Jangan dulu, Bu Mira baru ngomel. Males ah. Toh lo udah diizinin kok."
"Iya gue udah. Lha elo 'kan belum," kata Aleta cemas. Cewek itu paling tidak suka jika Aksa membolos seperti sekarang.
"Gak apa-apa. Sekali doang," balas Aksa sambil menarik tangan Aleta menuju taman belakang.
"Sekali apanya, seminggu bisa nyampe tiga kali," sahut Aleta dengan nada sebal.
"Ya elah. Sekali sehari maksudnya."
"Serah ah serah," ucap Aleta pasrah.
Aksa memang suka membolos meski tak separah Elvan dan yang lain, tapi tetap saja tiga kali dalam lima hari sekolah itu sudah cukup banyak. Mending bolosnya keluar sekolah nongkrong atau apalah seperti cerita yang dibaca Aleta. Nah ini, dia bolos cuma ke lapangan voli yang udah tak terpakai di taman belakang. Main sampai bel sekolah tanda pulang berbunyi.
Dan Aleta tidak menyukai itu. Sahabatnya yang dulu kalem, nurut, tertib menjadi seperti sekarang yang nakal, suka bolos, pakai baju sembarangan. Sungguh jauh dari penampilan Aleta sebagai murid teladan.
Mereka sampai di taman belakang. Sepi tak ada satupun geng Aksa di sana. Aksa mengajak Aleta untuk duduk di bawah pohon mangga dekat dengan gudang.
__ADS_1
"Tumben sendiri bolosnya, Sa? Biasanya satu geng?" tanya Aleta penasaran. Ia kira Aksa ada janji dengan teman-temannya.
"Hari ini 'kan hari Kamis. Mana ada yang bolos sih," kata Aksa yang sedang memejamkan matanya menikmati semilir angin. Sebenarnya Aksa sendiri juga tak mungkin mengajak Aleta saat ada teman-temannya.
Aleta menatap Aksa lekat. Sebenarnya ia masih penasaran dengan apa yang diucapkan cowok itu semalam.
"Sa?" panggil Aleta pelan.
"Hmm,"
"Ih Aksa mau diajak ngomong cuma hmm doang," kesal Aleta mencubit lengan Aksa.
"Ish, iya Aleta mau ngomong apa?" kata Aksa kesal namun tetap memejamkan matanya.
"Dahi lo item."
Aksa mendengus kesal. "Kalau cuma mau ngomong gitu, mending gak usah."
Aleta tertawa lepas. Wajahnya memerah menatap Aksa yang cemberut dengan dahi berwarna hitam.
"Kena omel Bu Mira pasti," kata Alera di sela tawanya.
"Idih, iya. Nyariin lo."
Mendengar jawaban Aksa, Aleta terdiam. Dia menjadi ingat pernyataan Aksa semalam.
"Sa, boleh gue tanya sesuatu?"
Aksa masik memberengut enggan menatap Aleta. Tangannya sebenarnya gatal ingin menggosok dahinya, tapi ya percuma, nanti justru akan semakin rata warna hitamnya.
"Boleh," jawab Aksa kemudian.
"Em ... Soal tadi malem-"
Aleta berucap pelan dengan sedikit ragu, sedangkan Aksa langsung meng
hadap Aleta kaget, tapi buru-buru ia menetralkannya.
"Hehe gak perlu tegang gitu. Aku ... Eh maksudnya gue mau tanya, lo ... serius suka sama gue?" tanya Aleta menatap Aksa penuh selidik takut cowok di depannya ini hanya bercanda.
Aksa yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Jantungnya lagi-lagi berdegup cepat saat manik matanya bertemu dengan manik mata milik Aleta.
"Ah itu ... i-iya gue gak serius lah," jawab Aksa sedikit gugup.
"Aksa gak bercanda 'kan?" tanya Aleta lagi masih berusaha mencari kebohongan di manik mata Aksa.
"E-enggak. Gue beneran. Gu-gue 'kan sayang sama elo."
"Sa?" panggil Aleta. Cewek itu memilih menghadap ke lapangan voli. Melihat rerumputan yang asik bergoyang bersama angin.
"Kenapa sih?" Aksa mengikuti arah pandang Aleta. Mungkin cewek ini cuma iseng menanyakan hal tadi.
Sementara itu Aleta masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Benarkah Aksa memiliki perasaan lebih? Bukankah selama ini tak ada sesuatu yang spesial dari dirinya yang bisa memikat cowok? Oh abaikan. Aleta itu pintar soal pelajar, tapi soal hati nol besar.
Aleta mengalihkan pandangannya kepada sahabat kecilnya itu. Cewek itu masih tidak percaya. Aksa sahabatnya suka ah bukan, tapi sayang sama dia lebih dari sahabat? Beneran?
__ADS_1
"Sa, kalau misal gue juga sayang sama elo gimana?"
......