
035
*Waktu
"Bisa ngomong sebentar*?"
......
"Lari gak bikin masalah selesai. Sini, gue jelasin sesuatu." Aksa berkata begitu ringan seolah tak terjadi apa-apa di antara dirinya dan Elvan. Dia memaksakan senyum tipis di bibir agar terlihat baik-baik saja.
"Apa?"
"Tentang Aleta. Dan taruhan lo."
Mendengar perkataan Aksa, Elvan langsung membalikkan badannya menghadap Aksa. Laki-laki dengan rambut secokelat susu itu kini melangkah mendekat bak terkena sihir karena perkataan Aksa.
"Apa yang mau lo jelasin? Tentang lo yang nusuk gue dari belakang? Atau tentang lo yang udah ngasih tahu Aleta semuanya?" Pertanyaan yang lebih mengarah kepada tuduhan itu ditujukan untuk Aksa. Wajah lebamnya tak mampu menutup ekspresi terluka milik Aksa yang dituduh hingga sebegitu parahnya.
Ya, Aksa akui ia salah karena telah menyembunyikan hubungannya dengan Aleta. Ia juga salah karena dia tidak mau jujur tentang perasaannya kepada Elvan dan bersaing secara sehat. Ia juga tahu bahwa ia telah berbohong dengan alasan mamanya padahal hanya untuk menemui Aleta. Tapi, dia tidak pernah menusuk Elvan, dia tidak pernah meminta Aleta untuk memutuskan Elvan apalagi membocorkan soal taruhan itu. Tidak. Dia tidak pernah.
"Aleta sayang gue." Bukan jawaban ataupun sanggahan yang Aksa berikan kepada Elvan, namun perkataan yang mampu membuat Elvan kembali mengepalkan tangannya begitu erat. "Tapi dia cinta elo, Van."
Elvan menatap tajam Aksa, bibirnya berkedut ingin meremehkan apa yang Aksa ucapkan.
"Kalau dia cinta gue, gak mungkin dia tinggalin gue."
"Dia tinggalin elo karena dia rasa lo cuma main-main."
"Awalnya iya, tapi lo harusnya sadar dong ini, saat ini gue serius."
"Lo gak serius, Van. Gak pernah," ucap Aksa begitu pelan yang justru membuat Elvan mendekat dan mencengkeram kerah baju rumah sakit milik Aksa.
Gavin langsung mencegah, meski sulit ia harus bisa memisahkan mereka. Ini juga karena dirinya yang memaksa Elvan untuk kemari. Andai ia tidak memaksa Elvan, mungkin Aksa sudah tertidur lelap saat ini.
"Bos, jangan main kasar!" peringat Gavin kepada Elvan.
"Gak bisa! Si brengs*k ini udah ngeremehin gue!"
Aksa justru tersenyum sinis melihat Elvan yang begitu emosi. Tidak ada wajah takut walaupun Elvan telah mencengkeram kerahnya begitu erat.
"Lo yang brengs*k kalau lo lupa."
Gavin langsung melotot tajam menatap Aksa yang semakin memancing emosi milik Elvan. Dia itu tidak tahu apa kalau bisa saja nyawanya hilang detik ini juga!
"LEPAS, VIN! BIAR GUE BUNUH INI ANAK!"
__ADS_1
"Bos, Aleta bakalan marah kalau lo bunuh dia!"
"Gue gak peduli, gue mau anak ini mati. MATI!"
"Bunuh gue, Van. Ayo!" tantang Aksa begitu berani. Entah di mana otaknya karena bisa seberani ini. Padahal dia tahu bahwa Elvan tidak akan main-main. Dia juga tahu bahwa semuanya bisa saja menjadi lebih rumit karena ini.
"NANTANG BANGET! LO PUNYA APA HAH?"
Elvan semakin mencengkeram kerah milik Aksa dan berhasil membuat Aksa sedikit sulit untuk bernapas.
"Gu-e huh,... e-mang gak pu-nya huh ... apa-apa. Ta-pi gu-e benar-benar sayang A-le-ta huh."
Aksa sedikit tersendat-sedat saat berkata karena napasnya mulai habis. Apalagi saat ini Elvan berhasil mencekiknya erat dengan mata melotot tajam tepat ke manik mata Aksa yang kini hanya terlihat sedikit lensa matanya.
"VAN! LEPAS!" Gavin berteriak heboh dengan tangan yang tak berhenti menarik Elvan agar melepaskan cengkeramannya.
"Gak akan," kata Elvan datar memperhatikan Aksa yang semakin kehilangan napas.
Bugh
Tubuh Aksa terjatuh begitu keras saat cengkeraman pada kerahnya dilepaskan oleh Elvan. Aksa yang kini begitu lemah dengan mata yang semakin menyipit dan akhirnya terpejam tak sadarkan diri.
"BOS! AKSA!"
Bukannya panik seperti Gavin, Elvan justru tersenyum miring menatap tubuh Aksa yang telah memejam erat tanpa pergerakan. Gavin yang panik langsung memencet tombol di dekat ranjang Aksa dan tak berselang lama beberapa suster dan dokter masuk.
Akhirnya Gavin dan Elvan keluar ruangan. Wajah mereka berdua tampak begitu bertentangan. Gavin yang berwajah cemas bahkan telinga laki-laki itu sudah memerah menandakan ketakutan, sedangkan Elvan masih setia dengan wajah datar tanpa rasa bersalah.
"Lo gila ya, bos." Gavin menatap Elvan yang masih saja berwajah datar. "Itu kalau sampai Aksa kenapa-kenapa siapa yang tanggung jawab? Apa yang akan gue bilang ke Aleta? Mikir gak sih bos, tindakan lo bisa bikin Aleta makin benci!"
"Bac*t banget sih. Dia cuma pingsan. Gue sama sekali gak teken bagian yang bikin dia mati."
Gavin menggeram kesal menatap Elvan yang masih saja santai. "Tapi-"
"Lo lebih bagus kalau diem. Kalau lo beneran khawatir berdoa. Gak usah marah-marah ke gue."
.........
"Aksa gimana?" Pertanyaan meluncur dari sesosok gadis cantik dengan baju santai dan rambut kuncir kudanya. Wajahnya benar-benar panik dengan gurat khawatir begitu kelihatan.
"Baik."
Gavin langsung menyikut Elvan yang bersikap dingin kepada Aleta.
"Maaf ya, tapi dia baru ditangani dokter," jawab Gavin membetulkan ucapan Elvan.
__ADS_1
Aleta mengangguk ramah menatap Gavin tanpa repot melihat Elvan. Cewek itu langsung mengambil duduk di dekat Gavin dengan wajah menunduk dalam. Perasaannya kacau meratapi keadaan Aksa yang menjadi hancur seperti sekarang hanya karena dirinya. Bibir manisnya bergetar dan bergumam tak jelas dengan sesekali mengigit kuku jarinya dengan risau.
Elvan menoleh menatap Aleta yang ada di sebelah Gavin. Matanya tak bisa berbohong kalau dia juga khawatir, tapi dengan keadaan gadisnya itu. Kalau Aksa mah mau mati juga bukan urusan dia. Bahkan jika itu satu-satunya cara agar Aleta berbalik lagi untuknya dia akan lakukan.
"Dia tadi cuma pingsan, Ta."
Aleta tersenyum simpul menatap Gavin yang tiba-tiba berkata seperti itu. Matanya yang menyipit tak sengaja bersitubruk dengan mata cokelat susu milik Elvan. Senyumnya luntur berganti dengan raut sendu, sedih, dan kecewa.
Elvan berdiri secepat kilat menimbulkan tanda tanya besar untuk Aleta maupun Gavin.
"Bisa ngomong sebentar?" Suara berat Elvan mengalun menimbulkan getar halus di tubuh Aleta. Jujur dia rindu, meski belum lama mereka bersama, tapi rasa ini begitu tahan lama. Meski cowok itu menggunakan dia sebagai taruhan dia tetap saja mencintainya. Cinta? Kadang Aleta tidak bisa percaya dengan apa yang ia rasa.
"Boleh."
Eh, jawaban itu bukan dari Aleta. Namun itu milik Gavin, cowok yang kini memberikan cengiran khas miliknya dan menatap Elvan begitu konyol.
"Vin,..."
Gavin tersenyum semakin lebar dengan tangan membentuk huruf V. Cowok itu sepertinya sengaja menggoda Elvan yang tadinya begitu dingin, kini malah ingin berduaan dengan Aleta.
"Ta?" panggil Elvan pelan sambil berjalan mendekati Aleta. Cowok itu berdiri tepat memerhatikan Aleta yang sama sekali tak melihatnya, wajahnya datar karena menahan geram.
"Boleh ngomong sebentar?" Elvan mengulang pertanyaannya dengan nada yang masih terdengar datar.
Aleta mendongak menatap Elvan yang juga menatapnya. Wajah sembabnya terkesan keras enggan untuk berlama-lama.
"Sepagi ini gak usah bikin masalah."
"Gue hanya minta waktu lo dua puluh menit."
"Aksa masih di dalam."
Elvan mendengus kasar menatap Gavin yang tersenyum lebar dengan tangan bersandar pada sandaran kursi.
"Lima belas menit."
"Gak bisa."
"Sepuluh menit."
"Lima menit. Fix!" putus Aleta mantap dan langsung berdiri meninggalkan Elvan yang belum juga berkedip. Dia masih tidak percaya Aleta mau berbicara berdua lagi dengannya. Lima menit, iya walaupun hanya lima menit.
"Kejar bos!"
Seketika Elvan langsung tersadar dan berlari menyusul Aleta yang semakin terlihat kecil di depan sana.
__ADS_1
.........