Elvan

Elvan
030


__ADS_3

030


Kecewa


Kamu dan warna abu-abu itu sangat cocok. Sama-sama tidak memberi kejelasan.


......


Aleta tidak marah ataupun benci. Dia hanya kecewa. Kecewa karena ternyata dia hanya sebuah bahan taruhan. Tapi kenapa perhatian dan kasih sayang Elvan begitu nyata? Cara dia menyatakan cinta begitu meyakinkan, seolah-olah dia memang mencintai Aleta. Bahkan raut wajahnya tadi nampak tidak rela.


Aleta mengusap air matanya kasar. Badannya sibuk mengemudi, tapi hati dan pikirannya tertinggal pada Elvan.


Cewek itu menghentikan mobilnya di tepi jalan dekat taman kota. Tanpa berniat keluar, jari lentiknya sibuk berkutat dengan ponselnya.


Elvan


Nama itu terus terngiang di dalam kepalanya. Ditambah nomor yang kini dia tulis pada panggilannya. Teratas, prioritas, dan terfavorit.


Aleta memilih turun setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dengan sisa air mata yang masih mengalir, ia berjalan perlahan menikmati sunyi dan dinginnya malam.


Aleta melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 12 tepat. Pantas saja sepi.


Tangannya kembali mengusap pipi dengan kasar, entah kenapa dia merasa kesal. Air matanya terus mengalir tidak mau berhenti.


"Gue bodoh banget," katanya sambil tertawa remeh.


"Bodoh! Kenapa sih harus percaya sama dia?" tanyanya pada diri sendiri. Dengan pelan ia mulai mendudukan diri pada salah kursi taman di dekat pohon.


"Gue salah apa, sih Van?" tanyanya lagi. Wajahnya kini tampak frustasi.


"Mbak?"


Sapaan itu menghentikan tangisan Aleta, ya walaupun masih sedikit sesegukan. Kepalanya menoleh tepat ke sebelah kiri di mana berdiri seorang wanita dengan baju seperti kebaya jaman dulu.


"Ada apa?" tanya Aleta masih dengan nada sesegukan. Wajahnya sedikit takut, karena pakaian wanita itu.


Wanita itu tersenyum simpul seolah tau apa yang sedang Aleta rasakan.


"Jangan nangis di sini mbak, bahaya," kata wanita itu membuat Aleta sedikit merinding.


"Bahaya?" tanya Aleta mengulang kata terakhir wanita itu.


Wanita tadi mengangguk lalu mendudukan diri di sebelah Aleta. "Di sini sepi, jadi lebih baik ke tempat lain."


Kini giliran Aleta yang hanya mengangguk singkat. Wajahnya yang kemerahan karena tangis yang tak kunjung reda justru semakin pucat.


Wanita tadi menoleh memperhatikan Aleta lekat, "Mbak nangis karena pacar?" tebaknya tepat.


Aleta hanya diam, cewek itu memilih memainkan layar ponselnya.


Wanita tadi tersenyum tipis. "Cowok itu hanya ada dua di dunia ini, mbak," katanya berhasil membuat Aleta menoleh.


Merasa tak ada respon lebih, wanita tadi melanjutkan ucapannya. "pertama, dia yang serius dan bertanggung jawab. Yang kedua, dia yang cuma suka main-main dan menganggap semuanya sepele. Saya pernah ada diposisi kamu. Tepatnya 2 tahun lalu."


Aleta termenung sejenak. Ia kembali mengingat Elvan. Elvan menjadikannya bahan taruhan, Elvan yang berpura-pura menyayanginya. Jadi, Elvan termasuk jenis cowok kedua?


Merasa wanita di sebelahnya cukup berpengalaman soal cinta membuat Aleta mengernyit bingung. "Umur mbak berapa?" tanya Aleta penasaran.


"24 tahun."


"Oh ..."


Wanita itu dan Aleta sama-sama diam.


"Kamu-" wanita tadi tidak jadi bertanya karena tubuh Aleta yang telah lemas hampir jatuh jika tidak ada pohon yang cukup besar di sebelahnya.


Dengan panik wanita tadi mengambil ponsel Aleta yang masih menyala. Tanpa pikir panjang, ia menekan nama teratas untuk ia telpon.


"Halo?" Terdengar suara laki-laki sedikit serak dari seberang sana.


Dengan tangan gemetar dan panik wanita itu langsung menjawab, "Ma- maaf, mas. Ini saya Jeni. Saya menemukan teman anda pingsan di Jl. Anggrek Selatan 3. Dan ini sepertinya karena teman anda menabra-"


Tut tut tut


Suara telpon terputus seketika terdengar. Dan pada saat yang bersamaan Jeni sadar, ia salah berbicara karena terlalu panik.


"Aduh gimana ini, tadi masnya mau ke sini gak ya?" gumam Jeni sambil mengembalikan ponsel Aleta ke dalam tas di pangkuan Aleta.

__ADS_1


.......


Setelah 20 menit menunggu, akhirnya terdengar deru mesin mobil berhenti tak jauh dari mereka.


"Aleta?" panggilan panik yang terdengar bersamaan dengan suara pintu mobil yang tertutup keras.


Jeni yang semakin bingung langsung berteriak, "Di sini, mas!" katanya tak peduli entah itu teman dari cewek di depannya ini atau bukan.


Mendengar teriakan itu Elvan langsung berlari mencari sumber suara. Napasnya terengah-engah saat tiba di depan Jeni dan Aleta. Wajah lelahnya terturupi rasa panik yang luar biasa.


"Mbak. Kok gak kenapa-kenapa?" tanya Elvan dengan nada heran.


Jeni yang ditanya mengusap kepalanya pelan sambil menyengir tanpa dosa. "Maaf, mas. Tadi salah ngomong karena panik."


Elvan melotot tajam mengetahui jawaban Jeni yang terkesan bodoh. Wajahnya yang merah semakin merah.


"Mbak!" panggilnya keras membuat Jeni sedikit tersentak, "lo udah bikin gue khawatir. Gue kira dia bener-bener kecelakaan!" marahnya dengan nafas tak teratur.


"Minggir!" perintah Elvan mendorong Jeni agar berdiri dari bangku taman. Dengan sekali sentak, Elvan berhasil menggendong Aleta.


Elvan membawa Aleta pergi tanpa mengucap terima kasih ataupun kalimat lainnya.


"Lo kenapa, Ta?" gumam cowok itu memperhatikan wajah Aleta yang pucat.


Elvan sampai di depan mobilnya bersamaan dengan datangnya mobil Gavin.


Gavin, Aksa, Alam, dan Rio keluar secara bersamaan.


"Parah gak, bos?" tanya Gavin yang kini telah berdiri di belakang Elvan yang sedang mendudukan Aleta dalam mobilnya.


Sebelum menjawab pertanyaan Gavin, Elvan terlebih dulu menutup pintu mobil.


"Dia pingsan. Yang telpon tadi ngaco ngomongnya."


Aksa yang tadinya datar untuk menyembunyikan perasaannya langsung membuang napas lega.


"Sukur deh," jawab Gavin sambil melirik Elvan dan Aksa bergantian.


"Kita bawa dia ke rumah sakit aja," saran Alam.


"Tumben lo pinter!" sahut Rio menepuk bahu Alam kasar. Sedangkan Alam langsung melotot tak terima.


"Udah!" sentak Elvan menggagalkan rencana Gavin. Cowok itu berlari menuju pintu kanan mobil.


"Gue bawa Aleta ke rumah sakit terdekat. Kalian pulang atau ikut?" tanya Elvan.


"Ikut!" sahut Gavin dan Aksa bersaman. Dan bagi kalian jangan tanyakan Alam dan Rio, mereka masih sibuk berdebat.


Elvan menaikkan alis kirinya heran. Namun, cowok itu segera memasang ekspresi datar. Tanpa mengucap apapun, Elvan memasuki mobil. Selisih 5 detik, ia kembali menampakkan kepalanya.


"Gue cari kunci mobil Aleta bentar," katanya kembali masuk ke dalam mobil.


Gavin dan Aksa menunggu dalam posisi bersebelahan.


"Dia gak apa-apa," kata Gavin seolah mengerti kekhawatiran Aksa.


Aksa menoleh ke arah Alam dan Rio yang kini sibuk saling memiting lalu kembali menatap Gavin.


"Gue tau. Tapi hati dia kenapa-napa," balas Aksa dengan sedikit eraman.


Gavin memerhatikan Elvan yang masih sibuk mencari kunci mobil Aleta, lalu menatap Aksa lekat.


"Kita sama-sama tau apa sebab dan akibatnya. Elvan beneran sayang sama Aleta. Dan gue rasa ini gak akan lama."


Aksa membuang mukanya kasar. Hatinya berteriak tidak setuju dengan kalimat terakhir Gavin.


"Woy!" teriak Elvan sedikit keras berhasil membuat semuanya menoleh. Dengan asal Elvan melempar kunci mobil Aleta kepada Aksa.


"Lo bawa mobil Aleta, Sa!" katanya mutlak lalu masuk dan menutup pintu mobil.


Gavin menepuk kepala bagian belakang milik Elvan dengan keras. "Cepetan! Gue suruh Alam nemenin lo, takut kesambet," kata Gavin sambil terkekeh pelan.


........


Mobil Elvan telah tiba di rumah sakit terdekat diikuti Aksa dan Gavin. Tanpa menunggu teman-temannya keluar, Elvan telah lebih dulu menggendong Aleta menuju ruang UGD yang terletak di depan rumah sakit sebelah selatan. Langkahnya cepat bahkan sedikit berlari.


"Sus! Tolong pacar sayang!" teriaknya kencang saat kaki panjang berlapis sepatu berwarna abu-abu itu menginjak ujung lantai keramik.

__ADS_1


"Baik, cepat!" kata sang suster membawa brankar mendekati Elvan bersama kedua temannya.


Elvan langsung meletakkan Aleta di brankar tanpa pikir panjang. "Buruan, sus!" ucapnya yang lebih mirip dengan perintah.


Elvan yang baru 5 langkah ikut mendorong brankar telah dicegah oleh dokter yang menjaga.


"Maaf, dek. Biarkan kami menangani pasien. Adek bisa tunggu di luar," kata dokter wanita itu dengan lembut yang langsung masuk tanpa menunggu menjawabnya.


"Dok, aya mau lihat, gak akan ganggu!" teriaknya sambil menggedor pintu UGD yang sengaja dikunci oleh dokter tadi.


Gavin, Aksa, Alam, dan Rio datang bersamaan. Raut wajah Aksa terlihat seribu kali lebih khawatir daripada Gavin, Alam, dan Rio.


"Gimana?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Aksa yang terlihat sangat khawatir.


Elvan yang tak kalah khawatirnya tidak menyadari bahwa Aksa sangat-sangat cemas saat ini.


"Belum tau. Dokter baru periksa Aleta." Elvan menjawab dengan gelengan pelan.


Pintu UGD terbuka, menampilkan dokter wanita yang sempat menghalangi Elvan tadi. Wajah manisnya tersenyum hangat menatap kumpulan pemuda di depannya.


"Keluarga pasien?" sapanya lembut membuat Elvan terlebih dahulu mendekat. Menciptakan rasa kesal dan sesak di dada Aksa.


"Saya pacarnya, dok."


Dokter itu tersenyum tipis. "Apa tidak ada orang tuanya?"


Elvan menatap Gavin dan yang lain sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


"Baiklah, pacar anda telah sadarkan diri. Aleta bukan?" Elvan menganggukan kepalanya pelan. "dia hanya terlalu banyak menangis dan berpikir keras. Sebaiknya dijaga pola makan dan juga perasaannya," lanjut dokter itu diiringi dengan senyum penuh makna.


"Boleh saya menjenguknya?" tanya Elvan dengan binar mata jauh lebih ceria karena mengetahui Aletanya tidak apa-apa.


"Boleh. Bahkan pasien sudah boleh pulang. Kamu bisa ke ruangan saya mengambil resep obat dan menembusnya di apotik rumah sakit," kata dokter itu ramah, kemudian berlalu begitu saja.


"Gue yang ambil resepnya. Lo masuk aja!" potong Aksa cepat saat Elvan hendak mengikuti dokter tadi.


Elvan mengangguk singkat, lalu mendorong pintu UGD yang berada tepat di sebelahnya.


......


Elvan memasuki ruang UGD yang membentuk 6 bilik-bilik kecil berukuran 3x2 meter dan dipisahkan oleh berwarna hijau panjang.


Kakinya melangkah perlahan mencari bilik yang ditempati oleh Aleta. Bibirnya terangkat tipis saat melihat Aleta yang sedang mengobrol dengan suster di sebelahnya.


Langkah Elvan semakin memelan saat dirinya kembali mengingat air mata dan kalimat putus dari Aleta. Ingatan itu kembali berputar membuat Elvan menghentikan langkahnya.


Ragu.


Satu kata yang sekarang ia rasakan. Dirinya ragu untuk mendekati Aleta. Padahal jarak mereka hanya sekitar 4 meter, namun Aleta maupun sang suster belum menyadari keberadaan Elvan.


Cowok itu menggelengkan kepalanya pelan. "Gue harus tetep ke sana. Gue harus jelasin yang sebenarnya sama Aleta. Gue gak mau kehilangan dia," gumamnya mantap.


Aleta yang mendengar suara langkah kaki langsung menoleh, bibirnya yang dari tadi tersenyum dan berbicara kepada suster langsung terkatup rapat. Jadi, ini cowok ganteng yang kata sang suster menggendongnya dengan wajah panik setengah mati? Aleta kira, cowok itu malaikat pengganti Elvan. Tapi, ternyata bukan. Ia terlalu bermimpi bukan?


"Ta." Suara halus Elvan menyapanya. Suster yang tadi di sebelahnya langsung pamit undur diri.


Aleta gugup. Hatinya kembali merasa nyeri. Jantungnya kembali bergemuruh mengingat kejadian beberapa jam lalu.


"Ta, aku-"


"Cukup!" potong Aleta membuat Elvan yang sedari tadi menunduk ragu langsung mendongakkan kepalanya.


"Tapi, Ta-"


Aleta membuang mukanya kasar, "Gak ada tapi ataupun alasan lain. Makasih udah bantu gue. Sekarang lo pergi."


Elvan semakin menatap Aleta tak percaya. Senyum remeh terlukis jelas dibibirnya.


"Lo gak mau dengerin gue jelasin?"


Aleta hanya diam tak menjawab.


"Tapi, aku itu-"


"Gue bilang Cu-kup. CUKUP, VAN!" bentak Aleta kesal.


Senyum remeh Elvan berganti dengan senyuman sendu. Ternyata benar kata orang, hati wanita itu seperti gelas. Kalau sudah pecah, gak bisa utuh lagi.

__ADS_1


"Oke. Gue pergi."


.......


__ADS_2