Elvan

Elvan
043


__ADS_3

043


Susunan Baru


"Rapat pertama dengan anggota baru dimulai."


.....


Elvan terpaksa melangkah di koridor milik anak 11 IPA. Cowok dengan rambut berantakan itu terlihat sedikit menggerutu karena Pak Andre, guru pembimbing OSIS-nya Angkasa Raya menyuruhnya untuk memanggilkan Aleta. Ingin rasanya dia menolak, tapi pelototan mata Pak Andre lebih membuatnya takut.


"Kok Elvan ke sini?"


"Mau minta maaf kali."


"Mau tonjok Aksa lagi mungkin."


Elvan mendengus malas mendengar bisik-bisik tetangga dari beberapa siswa yang ia lewati. Memang kalau dia ke sini harus menonjol Aksa dulu? Enggak kan?


Tap. Kaki panjangnya berhenti tepat pada pintu kelas milik Aleta. Mulutnya bergumam kecil memilih masuk atau tidak. Entah kenapa, tiba-tiba jantungnya berdetak cepat, keringat dingin juga mulai bermunculan di dahinya. Mungkinkah ini karena dia ingin bertemu Aleta?


"Di sini, Van? Ada apa?"


Sial. Maki Elvan dalam hati. Kenapa sih harus ada yang bertanya seperti ini kepadanya? Dia benar-benar belum menyiapkan apapun untuk masuk ke dalam ruangan itu.


"Van?"


"Eh, gue--gue disuruh Pak Andre."


Doni mengangguk mengerti. Dia langsung menatap ke dalam dan berteriak kencang.


"Ta, ada yang cariin!"


Setelah itu Doni melewati Elvan tanpa santai. Berbeda sekali dengan Elvan yang semakin gugup dan dilanda rasa gemetar. Akankah Aleta memakainya lagi? Atau justru menamparnya?


"Ada apa?" tanya Aleta ramah.


Elvan melongo menatap Aleta yang terkesan ramah, bahkan sorot matanya begitu ceria.


"Gue-- gue cuma-- cuma-" sial! Kenapa sih susah banget ngomongnya?


"Cuma apa? Gue gak punya banyak waktu," kata Aleta sedikit heran.


Salah jika kalian pikir Aleta telah memaafkan Elvan. Kalian juga salah bila Aleta biasa saja kepada Elvan. Dan Kalian juga salah bila berpikir Aleta bahagia.


Itu semua bohong. Dada Aleta sedari tadi bergemuruh. Tangannya juga telah mengepal erat menahan amarah dan juga rasa rindu. Entah kenapa, setelah Elvan mengantarnya pulang, Aleta merasa ada yang hilang. Setelah Elvan berkata akan menjauh, Aleta benar-benar merasa kosong.


Dia ingin memeluk Elvan. Dia juga ingin memaki cowok di depannya ini. Dia ingin mengatakan bahwa dia banyak masalah, punya beban, dan butuh dukungan. Tapi, semuanya hanya dalam hati, angan, dan pikiran. Nyatanya, cewek itu tetap diam menunggu Elvan yang masih sibuk menggaruk tengkuknya gugup.


"Gue-- gue cuma disuruh Pak Andre buat bilang kalau lo disuruh ke ruang OSIS sekarang!" ucapnya begitu cepat dengan mata terpejam erat.


Aleta memicingkan matanya heran. Kedua alisnya tertekuk hampir menyatu menatap Elvan.


"Boleh diulang? Gue gak denger dengan jelas."


Bohong.


Aleta berbohong.


Gadis itu sebenenya mendengar dan mengerti apa yang Elvan katakan, tapi dia berbohong. Dia ingin mendengar Elvan kembali bersuara, entah karena apa.


"Ehem, gue disuruh Pak Andre buat-- buat bilang kalau lo disuruh ke ruang OSIS sekarang," ulang Elvan dengan nada sedikit tenang.


Wajah cowok itu mendadak menjadi wajah terkejut saat menemukan senyum tipis di bibir Aleta. Jantungnya kembali berdegup kencang mengetahui Aleta kembali tersenyum untuknya.


"Owh, makasih," ucap Aleta berusaha cuek, meski bibirnya tetap melengkung tipis.

__ADS_1


Elvan mengangguk kaku, dengan tidak rela dia meninggalkan Aleta. Dia tidak boleh lemah hanya karena senyum bukan? Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjauhi Aleta. Membuat Aleta bahagia tanpa dirinya. Toh dirinya harus pergi, benar-benar pergi dalam arti sebenarnya.


.....


"Muka lo asem amat bos!" tegur Gavin saat Elvan baru saja memasuki markas pertama milik The Charmer. Markas ini ada di dekat rumah Elvan. Barang-barang di dalamnya jelas lebih lengkap dan lebih berbahaya daripada yang ada di rooftop sekolah. Siapapun yang memasuki markas itu pasti dibuat ngeri sendiri, terutama pada bagian ruang senjata.


Elvan mendudukkan diri di tempat biasanya singgah. Matanya memicing memerhatikan satu-persatu anak buahnya yang telah berkumpul.


"Sesuatu janji gue, gue bawa dua orang buat gantiin gue dan Aksa yang keluar. Mereka bakalan mulai tugas dari sekarang."


Elvan menepuk tangannya sebanyak dua kali, setelah itu muncul dua pemuda yang bisa dibilang cukup tampan dari pintu masuk ruang rapat.


Satu laki-laki berbaju merah dengan jaket kulit hitam melekat di tubuhnya. Alisnya menukik tajam dengan mata yang memandang penuh intimidasi. Rambutnya cepak berwarna pirang asli. Yang satu lagi, laki-laki dengan baju putih polos dilapisi boomber marun. Wajahnya terkesan imut, namun berhasil membuat siapapun takut saat menghadapinya.


"Kenalin, yang yang baju merah itu Axel dan yang baju putih itu Marco. Mereka resmi masuk anggota kita sekarang."


Semuanya bertepuk tangan meriah dan mengucap selamat datang kepada keduanya.


Elvan pun berdiri, memersilahkan kedua anggota baru mereka untuk duduk di ujung lain meja.


"Rapat pertama dengan anggota baru dimulai," kata Elvan tegas.


"Sebagai ketua, gue pimpin kalian rapat sekarang. Sesuai apa yang gue bilang, hari ini kita bahas susun baru geng kita. Sebelum itu, gue mau Gavin bacain susunan kita yang dulu."


Gavin mengangguk mengerti, cowok itu berdiri menenteng spidol dan mulai melukis skema organisasi mereka.


"Elvan adalah satu-satunya ketua," kata Gavin sambil memberi kotak pada nama Elvan. Dia melukis garis ke bawah dengan dua cabang.


"Wakil ketua dari Elvan yaitu Aksa. Yang sekarang bukan lagi anggota kita."


Gavin mengisi lagi kotak di seberang nama Aksa. "Sebagia partner dan tangan kanan si bos saat Aksa tidak ada atau bisa disebut wakil ketua dua adalah Gavin."


"Sekretaris yang mengurus segala hal semacam bener, spanduk, atau ide tulisan untuk turnamen yaitu Arkan dan Bram."


"Seksi keamanan Jeksa, Seksi kebersihan Roy, Seksi konsumsi Reyhan, dan terakhir Seksi kerohanian Kavin."


"Untuk sususan bisa digantikan satu sama lain sesuai kebutuhan."


Setelah membacakan dan menuliskan skemanya, Gavin kembali duduk. Elvan menepuk tangannya dua kali, kemudian mulai berbicara kembali.


"Kita akan ganti strukturdengan ketua menjadi ketua umum dan ketua bagian. Wakil ketuanya satu, dan yang lain sama. Setuju?"


Rio mengangkat tangannya, menandakan dirinya ingin menanyakan sesuatu. "Kenapa harus ketua umum dan ketua bagian? Selama ini kita udah oke-oke aja sama struktir wakil ketua ada dua."


"Ada lagi?" tanya Elvan memastikan. Sedangkan anggota lain menggeleng serempak.


"Gini, buat semua ya gue jelasinnya. Jadi, ketua umum dan ketua bagian sengaja gue bentuk karena gue tahu, kalian bakalan kesulitan kalau jadi ketua. Meskipun wakil kalian dua, kalian tetap akan bingung dalam mengatur semuanya."


"Ketua umum bakalan mengurus tentang balapan dan turnamen senjata. Ketua bagian, dia bakalan mengurus tentang turnamen voli, futsal, dan yang lainnya."


"Setuju? Paham?" tanya Elvan.


"Paham bos."


"Oke kita lanjut." Elvan mulai menggambar kembali skema baru di sebelah skama lama. "Gue gak akan voting buat nentuin ini. Yang gue pilih berarti gue anggap mampu."


Tidak ada yang mengelak, semua diam memerhatikan Elvan.


"Ketua umum, gue kasih tugas ini buat Gavin, lo bisa jadi ketua plus yang bikin strategi. Semua aturan grup lo bisa bahas sama ketua bagian."


Gavin mengangguk mantap. Ya, dia harus siap dengan tugas ini. Selama menjadi tangan kanan Elvan, dia cukup mengerti dan belajar banyak dengan cowok itu. Memang, menjadi ketua dan mengatur tiga kegiatan sekaligus itu cukup membuat pusing. Belum lagi membagi tugas ini dan itu saat turnamen.


"Ketua bagian, ini gue serahin buat Kavin. Lo stay cool, tapi jeli. Gue suka cara lo, dan biar lo gak main hp mulu."


Kavin pun setuju. Dia mengangguk mantap mencoba menerima. Elvan percaya padanya, jadi tidak boleh membuatnya kecewa.

__ADS_1


"Wakil ketua gue serahin buat Alam. Mau kan lo, Lam?" tanya Elvan.


Alam mengacungkan jempolnya tanda setuju.


"Sekertarisnya Bram sama Reyhan. Bendaharanya Rio sama Arkan."


"Seksi konsumsi dan perlengkapan umum, Jeksa. Seksi kebersihan dan kerohanian, Roy. Seksi kelengkapan senjata, Marco. Seksi keamanan, Axel."


"Okey, selesai."


Semuanya bertepuk tangan.


"Kali ini gue mau tanya, lo semua ada yang mau tuker posisi atau apa gak?" tanya Elvan mencoba meminta pendapat.


"Gue rasa gak perlu, mereka memang cocok ada di posisi masing-masing, bos," komentar Gavin.


"Ya, Axel dan Marco dengan gue tempat7in sebagai seksi karena mereka baru. Susunan ini bisa ro rombak dua tahun sekali, Vin."


Akhirnya Elvan kembali duduk. Semuanya kembali menatap Elvan sendu. Semakin hari, semakin dekat pula hari keberangkatan Elvan untuk ke London.


"Muka lo pada biasa aja, kita bahas buat naik gunungnya," kata Elvan sambil terkekeh pelan.


Berat memang meninggalkan anak-anak ini, apalagi seluruh harinya berwarna-warni karena mereka.


"Bos, kita mau pelukan boleh gak?" tanya Gavin pelan.


Elvan tertawa renyah menatap Gavin. Tidak habis pikir dengan Gavin yang begitu sensitif terhadapnya.


"Boleh, tapi ntar di bandara. Sekarang bahas buat ke gunungnya."


"Jeksa, lo harus data masing-masing mereka buat bawa alat lengkap."


Jeksa mengangguk.


"Kita sewa tenda satu gede apa sewa tenda tiga ukuran sedang?" tanya Elvan lagi.


Kini Bram dan Reyhan memulai tugas mereka sebagai sekertaris, mencatat apa yang Elvan katakan.


"Gue pikir tenda satu gede itu berat buat yang bawa deh bos, kita sewa yang sedang aja," saran Gavin.


Kavin mengangguk setuju. "Lagian kalau gede takut gak ada tempat di sana."


"Okey, tiga tenda sedang," ulang Elvan.


"Biaya kalian masuk kawasan dan transportasi biar gue tanggung," kata Elvan lagi.


"Biaya konsumsi dan kebutuhan pribadi bayar sendiri."


"Mau naik ke mana ini?" tanya Arkan.


Semuanya sibuk berpikir. Memikirkan tempat tercocok yang akan mereka pilih.


"Sumbing."


"Merbabu aja."


"Ke Bromo aja."


"Kita ke Merbabu aja, gak terlalu jauh juga gak terlalu susah medannya," usul Rio.


"Okey, Merbabu." Mereka semua akhirnya setuju.


"Rapat selesai, kita ke area balap sekarang."


......

__ADS_1


__ADS_2